Beberapa hari lalu saya mengikuti kelas listening. Tema yang diangkat adalah tentang Socrates, filusuf Yunani yang memilih untuk minum racun untuk mempertahankan pendapatnya.

Salah satu ajaran Socrates yang sangat membekas adalah tentang berfikir rasional dan logis. Socrates tidak pernah “mengajari’ siswanya, melainkan dia bertanya dan terus bertanya pada siswanya sampai si penanya menemukan jawabannya sendiri dari pertanyaan-pertanyaan beruntun tadi. Satu lagi, Socrates berani menyangkal ajaran agama yang dianut oleh masyarakat Athena saat itu, karena menurutnya agama yang dianut saat itu salah, karena tidak sesuai dengan logika dan rasionalitas yang dianut oleh Socrates. Oleh karena “kekurangajaran”nya itu terhadap agama, Socrates harus dihukum. Dia diberi pilihan untuk mendekam dipenjara atau minum racun. Murid-murid Socrates memintanya untuk memilih dipenjara saja agar nanti mereka bisa menyogok sipir penjara yang akan membiarkan Socrates lari. Tapi Socrates menolaknya, karena itu bertentangan dengan rasionalitas dan logika yang selama ini dia ajarkan pada muridnya. Akhirnya, Socratespun memilih untuk mati.

Kemarin, saya mengunjungi Oasis room, ruangan yang disediakan bagi setiap penganut agama di Flinders university ini. Kami menyebutnya dengan religious room. Setiap mahasiswa yang mempunyai keyakinan; Buddhist, Kisten, islam, Yahudi, Baha’I, Hindu boleh menggunakan ruangan ini untuk setiap aktivitas beragama mereka.

Diruangan ini saya menemukan buku yang berjudul “the complete idiot’s guide to understanding buddhism”. Salah satu hal yang menarik hati saya adalah apa yang ditulis oleh Gary Gach (si pengarang) tentang perkataan Sidharta Gautama. Kata Sidharta “ jangan percaya suatu ajaran hanya karena kamu mendengarnya dari seseorang yang kamu anggap suci atau karena kata-kata itu muncul di kitab yang dianggap suci, atau karena semua teman-temanmu atau tetanggamu mempercayainya. Tapi dimanapun kamu menemukannya dan menganalisa kata-kata itu dan kamu menemukan bahwa kata-kata itu benar, maka terimalah dia dan praktekkan dalam kehidupanmu sehari-hari”.

apa yang disampaikan Buddha ini persis sama dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, bahwa jangan menjadi pengikut buta atau ta'lid buta.

Subhanallah…. Betapa luas ilmuMu ya Allah. Kata-kata yang diucapkan oleh Buddha, mengandung pengertian yang sama dengan ajaran Socrates dan Muhammad. Padahal ketiga manusia ini berasal dari zaman yang berbeda dan berasal dari negara yang berbeda pula. Saat itu belum ada telepon,fax atau internet dimana seseorang bisa mendapatkan informasi dengan sedemikian cepatnya. Lalu dari manakah benang merah pemikiran Buddha, Muhammad dan Socrates terjadi?. 

Maka, apa yang dikatakan John Campbell tentang the hero’s journey terjadi juga pada Socrates dan Buddha. ‘if all religion are true,then all religion are right’,katanya.

Pertanyaanya : beranikah saya men’challenge’ agama saya sendiri seperti apa yang dikatakan Buddha dan diajarkan oleh Socrates?

note: terima kasih untuk Kaukus Musara Gayo, yg mengingatkan saya tentang ucapan Muhammad.