“Apa yang paling kau nikmati di dunia ini?” Tanya istriku malam itu. Nafasnya tak lagi memburu dan wajahnya terlihat cerah bahagia. Aku bilang, ”Bersenggama.” Dia bertanya lagi, “Selain itu?” Aku jawab, ”Makan dan minum yang enak.” “Terus?”
“Berjalan-jalan, nonton, ngobrol di kafe, melihat pemandangan gunung; pantai; danau … kadang kupikir dipijat, cukur rambut, bulu ketiak dan uban dicabuti istri, bahkan berak; kencing; atau kentut juga pekerjaan yang nikmat. Itu sebabnya aku suka nongkrong di atas wc, menyegerakan berak meski sebenarnya masih bisa kutahan.”
“Terus?” Tanyanya lagi
“Apa ya?” Aku bingung.
“Kamu tidak suka menulis?”
Aku menjawab jujur, ”Tidak.”
Dia kaget, “Tapi kamu terus-terusan menulis.”
“Ya, bagiku itu kebutuhan. Sama seperti, harus makan dan minum biarpun menunya tidak enak, membaca, berolahraga. Itu semua kebutuhan agar pikiran dan tubuhku sehat.”
“Kupikir kamu senang bicara tentang kelamin,” katanya.
Aku tertawa. 
“Apa lagi yang bisa kuceritakan selain apa yang kuketahui dan kupikirkan?” Aku balik bertanya.
Lantas ia berkata, “Mau kau ceritakan lebih jauh soal senggama?”
“Itu pekerjaan paling nikmat di dunia. Itu salah satu sebab aku percaya keajaiban.”
“Banyak orang tidak menyukai senggama.”
Aku terdiam lama, kemudian mengangguk. Lantas berkata, “Tetapi tidak ada orang yang tidak suka orgasme.” 
Aku kemudian bilang padanya, “Sebenarnya cita-citaku yang terbesar adalah menjadi raja babi hutan yang tinggal di hutan perawan. Pamanku yang pemburu pernah bilang, raja babi hutan bisa bertubuh seukuran kerbau muda. Kekar dan bertaring panjang. Ia juga bisa menentukan babi betina mana yang akan mendampinginya. Aku tidak bertanya pada pamanku, apakah raja babi hutan itu menganut monogami atau poligami karena aku telanjur punya imajinasi, hanya akan memilih satu babi betina yang paling menarik dan karismatik.”
“Mengapa kau memilih jadi raja babi hutan bukannya singa atau gajah?” Tanya istriku.
Aku ceritakan padanya, semula aku memang pernah berkeinginan menjadi raja singa. Lagipula raja singa konon bisa berhubungan seks puluhan kali dalam sehari. Sedangkan menjadi raja gajah tidak pernah ada dalam pikiranku. Tetapi keinginan menjadi raja singa kuhentikan dengan berbagai alasan. Mulai dari kesan namanya yang tidak menarik: “raja singa” atau tepatnya “rajasinga”, seolah aku pelanggan di rumah bordil, hingga kualitas yang lebih penting dibanding kuantitas.
Istriku bertanya lagi, “Ada apa dengan kualitas raja babi hutan?”
Aku katakan, dari cerita humor yang kubaca, seekor babi sekali mengalami ejakulasi bisa merasakan nikmatnya hingga 30 menit; setengah jam. Sesuatu yang luar biasa mengingat manusia paling hanya bisa merasakan nikmatnya orgasme dalam hitungan detik. Aku bahkan sulit membayangkan bagaimana indahnya tampang wajah babi yang sedang orgasme selama setengah jam. Mungkin mimiknya seperti seseorang yang sedang menyimpan sejuta rencana jail; mungkin gerak tubuh besarnya, akan menggelinjang ke sana ke sini.
“Mengapa pula kau harus tinggal di hutan perawan?” Tanyanya.
Aku bilang, aku tak ingin kedamaianku diganggu para pemburu atau perusak hutan. Hidup sebagai babi yang tak berakal tentu membuatku akan terganggu dengan manusia-manusia cerdas yang mampu menjadikan benda apa pun sebagai senjata untuk menghabisi riwayatku.
“Bukankah babi bertampang menjijikkan?” Tanyanya lagi.
Aku tertawa lagi. 
“Jika aku menjadi raja babi hutan, tentulah aku merasa sebagai makhluk tertampan di dunia. Jika kamu yang menjadi betinanya tentu kamu akan merasa sangat cemburu jika ada babi betina lain yang merayuku. Sebaliknya kamu tentu tenang-tenang saja kalaupun ada seorang top model dunia menari-nari, merayuku dengan melepas pakaian dalamnya satu per satu. Mungkin kamu malah berpikir, siapa makhluk paling menjjikkan itu?” kataku.
Ia tertawa. 
“Iya ya, tentu babi akan merasa dirinyalah yang paling tampan atau cantik di dunia,” katanya memahami pikiranku.
Istriku lalu bercerita tentang keluarga babi. Keluarga itu keluarga kecil. Terdiri dari Pak Babi, Bu Babi, dan Nak Babi. Suatu hari mereka akan makan siang tetapi Nak Babi belum datang. Nak Babi memang suka keluyuran. Ketika Nak Babi datang, Pak Babi bertanya.
“Dari mana saja, kamu? Kok mukamu pucat?”
“Ih, mau muntah aku. Jijik sekali. Aku tadi berpapasan dengan manusia di pinggir hutan dekat kampung…” 
Bu Babi segera menyela, “Sudah, sudah. Jangan cerita yang jorok-jorok kalau mau makan siang.”
Sementara Pak Babi sudah muntah-muntah.
Aku terbahak-bahak mendengar cerita istriku. 
“Apakah kamu mau menjadi babi betina itu?” Tanyaku setelah tawaku mereda.
Gantian istriku yang terbahak-bahak. 
Ia mengatakan, tatanan penilaiannya tentang perempuan cantik dan menarik akan langsung berubah. Mungkin besok, ketika bangun pagi, ia akan melihat perempuan-perempuan langsing bukanlah perempuan yang menarik.
“Mungkin, mulai besok, aku akan berhati-hati terhadap teman perempuanmu yang obesitas. Mungkin, mulai besok, aku akan makan apa saja dan sebanyak-banyaknya. Persiapan menjadi ratu babi,” katanya.
Aku mengangguk, membayangkan, kami berdiam dalam sebuah hutan yang perawan. Sehat sentosa dan awet muda karena segala kebutuhan dicukupi tanaman yang bebas pestisida. Sangat awas dengan segala macam bahaya yang mengancam karena telah kenyang makan pengalaman. Sementara manusia-manusia yang selalu menjadi pemusnah, tak pernah berani memasuki hutan seluas jutaan hektar yang menjadi hutan larangan.
“Tetapi hutan mana yang kini masih perawan?” Tanya istriku.
Aku tak mampu menjawabnya. Senyumku pun hilang.

Awal Februari 2010