SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT

Revitalisasi PKI

Akibat peristiwa Madiun, PKI hancur lebur, saya perhatikan kaum kiri sudah terkena gerakan provokasi pemerintahan Hatta. Setelah peristiwa Madiun usai, saya mendapat laporan bahwa memang ada pertemuan rahasia antara:Sukarno,Hatta, Sukiman, Moh. Natsir, Moh. Roem dan Sukamto (Kepala Polisi) dengan delegasi Amerika Serikat: Gerald Hopkins dan Merle Cochran. di Sarangan pada tanggal 21 Juli 1948. Rupanya bagi sebagian orang menyebut pertemuan ini adalah ‘red drive proporsal’ atau AS mau bantu Indonesia untuk melawan agresi Belanda,asalkan kelompok merah di bersihkan, rupanya pihak AS sudah membaca bahwa “Stalin’s gank” sudah ada di Indonesia dan sedang membangun kekuatan, AS tidak mau kecolongan Indonesia akan di jadikan negara ‘Sovyet’. Bagi mereka lebih baik menekan Belanda daripada harus menyerahkan Indonesia ke genggaman Kominis.

Dan Sukarno-Hatta dinilai jauh dari pikiran kominis. Kabarnya Sukarno agak enggan menerima usul AS, dan meninggalkan ruang pertemuan tatkala delegasi Indonesia dan AS masih sibuk berunding, tapi apa mau dikata Sukarno di tahun 1945-1949 lumpuh secara politik, akibat dominasi Hatta dan Sjahrir. Dan sedjarah membuktikan bahwa setelah pertemuan di Sarangan, TNI Siliwangi dan Corps Militair dibawah komando Hatta membantai orang-orang kiri di Madiun.

Saya, Lukman dan Setiadjid berhasil lolos dari operasi penangkapan terhadap ‘orang-orang kiri’ sementara Wikana hilang tak jelas rimbanya. Saya pun menggelandang dari sudut Djakarta ke sudut Djakarta lainnja, dari Priok sampai wilayah perkebunan dekat Depok. Di Priok saya berkenalan dengan Sjamsul Qamar bin Mubaidah, dia orang Arab bekas anggota PAI (Persatoean Arab Indonesia), Sjamsul Qamar bagi sebagian orang dikenaL dengan nama Sjam Kamarruzaman. Di Priok ia adalah ketua SBKP (Serikat Buruh Pelabuhan dan Kapal).

Saya dan Lukman tetap memiliki api perdjuangan membangkitkan PKI kembali, tjita-tjita kami sudah bulat, PKI harus di djauhkan dari orang-orang jang selalu memberontak seperti: Wikana, Musso atau Semaun. PKI harus sadar bahwa orang-orang Bordjuis adalah kenjataan politik dan perdjuangan sendjata tidaklah mungkin ketjuali adanya penguasaan terhadap Angkatan Darat.

Setelah kedjadian Madiun, banyak orang tidak mau lagi berhubungan dengan PKI, orang-orang ex Digul yang dulu di buang Belanda akibat terlibat pemberontakan 1926 bahkan kerap mentjemooh PKI, saya merasa kurang senang dengan keadaan ini, apalagi saya melihat PKI hanya merupakan sayap kecil dari gerakan Sosialis. Dan saya sering merenung tentang kegagalan PKI selama ini, saya inget di sebuah daerah persembunyian saya di wilayah Tanah Abang, di sebuah rumah kontrakan ketjil jang kumuh dan djorok, saya mendapat inspirasi, bahwa revolusinja PKI di Indonesia adalah revolusi dua tahap,

pertama revolusi demokrasi bordjuis, disinilah kekuatan PKI di udji apakah PKI di dukung rakjat atau tidak, pada tahap ini kita bisa melihat djumlah kekuatan kita sebenarnya, djangan kita terdjebak pada subjektivitas, menganggap diri kita kuat, menganggap orang lain musti ikut dengan kita dan gampang dipengaruhi. Kita mau tidak mau harus bersama gerakan bordjuis untuk ikut dalam perdjuangan mereka, perdjuangan Nasionalisme.

Tahap kedua adalah setelah kita menguasai parlemen, setelah revolusi bordjuis kita kelar dan kita tahu beberapa kekuatan kita, barulah kita melakukan gerakan revolusi kaum buruh dan tani, kalau perlu mereka di persendjatai. Djadi kesimpulanku djangan buru-burulah kita angkat sendjata. Hal ini saja sampaikan pada M.H Lukman, Njoto, Sudisman dan Njono mereka setudju. Masalahnja saya harus menjingkirkan dulu elemen tua PKI jang sedikit mengganggu yaitu: Alimin dan Tan Ling Djie.

Sjam Kamarruzaman

Banjak ahli sedjarah baik orang Indonesia maupun asing jang mempertanjakan siapa Sjam?, bahkan dibilang Sjam adalah ‘mata rantai yang hilang’ dalam peristiwa G 30 S atau Gestok 1965. Baiklah saya ceritakan Sjam adalah seorang pria keturunan Arab, kulitnja hitam tidak seperti pria keturunan Arab lainnya yang rata-rata berkulit putih bersih, namun wajahnya sangat terlihat arab,dengan hidung mancungnya dan bibir yang tebal, waktu jaman revolusi perawakan Sjam kurus, tingginya sedang sadja tidak setinggi orang-orang Arab pada umumnya.

Pada djaman Djepang ia adalah intelijen Komisaris Polisi Mudigdo (kelak Kompol Mudigdo adalah mertua saya, karena anaknya dokter Tanti yang akrab dipanggil ‘Bolle’ saya nikahi). Aktivitas politik Sjam pertama kali terlihat adalah sebagai orang yang sering mengundjungi lingkaran diskusi Pathok. Sjam bukan anggota aktif Pathok, tapi wajahnya tjukup dikenal bagi kalangan anggota Pathok. Kelompok Pathok adalah sebuah lingkaran intelektual di Djogjakarta yang memperdjuangkan kemerdekaan Indonesia, di djaman revolusi kelompok ini sangat berperanan dalam aktivitas tempur maupun politik, apalagi setelah ibukota RI dipindah ke Djogjakarta.

Sjam sangat dekat banjak kalangan, ia dikabarkan adalah orang PSI, karena kedekatannya dengan orang-orang PSI, tapi ia djuga tentara aktif, ia dekat dengan perwira-perwira dari Djawa Tengah seperti : Suharto (kelak orang inilah sebagai penjebab utama kehantjuran PKI di Indonesia), lewat Sjam pula saya kenal dengan Suharto, jang akrab saya panggil Mas Harto. Sjam adalah orang jang lihai dia mampu berdiri di banjak tempat itulah jang saya butuhkan, saya tidak mau lagi PKI terdjerembab dalam aksi provokasi pihak luar.

Seperti peristiwa Madiun, ini dikarenakan FDR dan PKI tidak melihat memang ada usaha pembantaian terhadap orang kiri melalui skenario red drive proporsal, sebabnja apa? Sebabnja PKI tidak punja informan, Sjam bahkan tahu bahwa ada perundingan rahasia di Sarangan, dia djuga banjak tahu bahwa ada skenario Sukiman untuk membantai PKI di kemudian hari, dan ini terbukti benar pada razia Agustus 1951.Tentang Sjam jang terlibat peristiwa Gestok 1965 bersama saya, baiklah akan saya tjeritakan di belakang agar tjerita ini mendjadi runtut adanja.

PKI dibawah kepemimpinan Saya

Setelah peristiwa Madiun, kami terpaksa tidak muntjul ke permukaan , pergerakan perdjuangan otomatis dikuasai Sukarno, Hatta dan Sjahrir. Kawan-kawan saya banyak yang di pendjara, di Djakarta pendjara Tjipinang penuh dengan PKI. Pada tahun 1951 Sukarno mau merehabilitir PKI asalkan tidak mengulangi ‘pemberontakan’ seperti di Madiun, walaupun kami menolak kata ‘pemberontakan’, karena itu memang provokasi Hatta dan Nasution, kami turut sadja kemauan Sukarno.

Di tahun itu pula diadakan kongres PKI, dan PKI berhasil melakukan re-organisasi dengan mendirikan Comite Central dan Biro Chusus, Sekretaris Djenderal (sebutan ketua untuk PKI) terpilih Tan Ling Djie, tokoh tua ini memang intelektual, latar belakangnya wartawan, tapi ia orang kurang revolusioner, kurang berani. Saya, M.H Lukman,Njoto dan Sudisman tinggal tunggu waktu untuk menjingkirkan ini orang.

Tahun 1954 lewat kongres CC PKI, susunan kepengurusan PKI berhasil kita rebut dari tangan Tan Ling Djie, dan orang-orang tua matjem Alimin sudah kita singkirkan, biarlah mereka mengenang keindahan perdjuangan masa lalu, tapi hari ini dan esok milik kami, kaum mudanya Indonesia.

Susunan CC- PKI hasil kongres 1954 adalah sebagai berikut:

Sekdjen PKI : Dipa Nusantara Aidit

Deputy Sekdjen I : M.H Lukman
Deputy Sekdjen II : Njoto

Anggota :

1. Sudisman
2. Sakirman
3. Jusuf Adjitorop
4. Peris Pardede
5. Karel Supit
6. Djoko Sudjono
7. Achmad Sumadi.

Di bulan Meret 1954, itulah kami mulai start berdjuang dari awal, anggota PKI kami hanja 8.000 (delapan ribu) orang, setelah kami pegang kendali dan kami lalui liwat kerdja keras dengan mengenalkan program partai, anggota kami berdjumlah 1.000.000 (satu juta) orang, dan massa pendukung kami. Dari onderbouw kami seperti Barisan Tani Indonesia (BTI) anggotanya di tahun 1955 berjumlah 3.300.000 (tiga juta tiga ratus ribu) orang, dulu di awal-awal BTI terbentuk anggotanya hanya 360.000 (tiga ratus enem puluh ribu) orang, Pemuda Rakjat gantinja Pesindo anggotanya di tahun 1955 sekitar 700.000 (tujuh ratus ribu) orang. Surat kabar kami ‘Harian Rakjat’ memiliki tiras paling besar di Indonesia djumlahnja sekitar 55.000 (lima puluh lima ribu) eksemplar, di bawah kepemimpinan kami kaum muda kominis, PKI mendjadi partei raksasa, bukan partei ketjil seperti mainan Madiun tahun 1948, kamilah pemilik masa depan Indonesia yang berdjuang untuk menghilangkan penindasan kaum kaya, kaum kapitalis, komprador-komprador Amerika Serikat dan Inggris, kapitalis birokrat (pedjabat jang korup) itulah musuh kami. Kawan kami adalah kaum djelata, kaum jang dihinakan, veteran-veteran tua yang dilupakan, anak-anak djalanan, kaum miskin dan kaum yang haknja diambil.

Tak terasa meraksasanja partei kami mengundang ketjemburuan dari partei lain, PNI dan Masjumi enggan memasukkan anggota kami duduk di kabinet mereka, PSI partei ketjil malah banjak memasukkan orang-orangnja. Tapi kami diam sadja wilayah kami bukan mengurusi kabinet jang djatuh bangun, kami harus berkonsentrasi pada perdjuangan ke bawah, membela kaum djelata itu mata pokok kami, bukan berpolitiek lalu main korupsi….bukan…. sama sekali bukan.

Mengapa Fokus Kami Langsung Ke Massa Rakjat

Kami tidak akan langsung mau main ke dalam struktur pemerintahan di kabinet, atau bertarung langsung dengan elite-elite politiek lawan kami, kami memilih menghindari mereka dulu dengan alasan, Partei kami bukan Partei Bordjuis, kami tidak mau terdjebak ke dalam lingkaran pergaulan Bordjuis, kami harus djaga djarak, kami djuga masih melihat banjak persoalan rakjat djelata jang musti kami bantu selesaikan. Kegiatan kami berpusat pada pemogokan massal kaum buruh, berpusat pada perbaikan kondisi hidup massa rakjat, membangun pemahaman konsep-konsep perdjuangan PKI di kalangan rakjat banjak, membina hubungan dengan seluruh jaringan intelektual muda baik dari kalangan sipil maupun militair, kami pertjaja pada mereka atas lojalitas mereka terhadap negara, atas dedikasi mereka kepada bangsa dan negara.

Tahun 1955 kami menuai hasil atas kerdja keras kami, dalam pemilu partai kami masuk nomor urutan empat di bawah PNI, Masjumi dan NU. Kami kaum mudanja PKI dapet sorotan luas, ditengah-tengah gemebjar kemenangan kami, kami tetep sederhana tetep bekerdja keras, karena kami jakin dengan begitu rakjat masih pertjaja dengan kami. Suatu sore di tahun 1956 jang saja lupa di bulan apa,kalau tidak salah di awal tahun, Sukarno mengundang saja dateng ke Istana Merdeka di Gambir sana, saja di suruh menunggu di teras belakang Istana, Sukarno tampaknja sedang menjelesaikan beberapa surat penting, Ia kemudian menemui saya, dengan hanja menggunakan kaus oblong putih dengan ikat pinggang couple warna krem terang dan celana pentalon coklat terang djuga, tanpa petji, kepalanja jang botak terlihat djelas, ia mengenakan katja mata batja-nja, Ia sapa aku “Dit, bagaimana kabarmu, ini hari sangat tjapek aku, itu Hatta dan orang-orang Islam drop-dropan Masjumi sudah ribut sadja masalah keberhasilan kau ini, aku nggak mau mereka djadi terpantjing bikin ribut, ini djuga aku
sudah dapet laporan bahwa Kolonel-Kolonel jang nggak puas sama Nas, sudah mulei itu mau bikin aksi ribut, aku khawatir mereka digunakan oleh Amerika Serikat buat bikin stroom ke aku, lha itu si Natsir dan Mitro kok ikut-ikutan gerak kesana,kalo suruh aku bilang ke Sjahrit Niet…lah Aku dari dulu nggak suka itu Sjahrir, ngene Dit, Kamu punja partei akan djadi kambing hitam mereka buat antem aku.

Lha apa kamu siap di belakang aku….aku sudah pikir masak-masak mau ganti ini sistem konstitusi jang sudah rusak, nanti aku djuga mau panggil itu orang NU djawa timur, dengan orang Nasionalis, kau tunggulah kabar dari aku” Sukarno terus bitjara termasuk ketidaksenangannja dengan Hatta dan Sjahrir djuga keengganannja meneruskan sistem demokrasi liberal, saya lupa apa yang di bitjarakan Sukarno, termasuk lawakan-lawakannja di tengah tjerita hanja sadja saya mulei berpikir bahwa sore itu gagasan Nasakom mulai di gagas Sukarno.

Bekerdja di tengah Rakjat menimbulkan kegairahan saya, saya djadi inget kerdja keras Mao di pedaleman Henan. Saya bekerdja keras untuk partei, untuk rakjat, untuk bangsa ini, saya perhatiken penderitaan rakjat semuanja saya kerdjaken, akhirnja simpulken kekuatan pokok kita ada pada buruh dan tani jang memang selalu di kerdjai oleh komprador-komprador kapitalis jang banjak dari mereka tjukong-tjukong jang di bekeng oleh perwira-perwira militer, itu kesimpulan pertama saya.

Saya djuga mulai perhatiken gedjala tumbuhnja sikap maen korupsi uang negara sikap nggak mau tahu terhadap masalah dalam negeri, sikap jang mau menang sendiri di kalangan partei, ini saya resapi saya renungkan. Suatu hari saya bertemu Pak Kurmaen, petani dari Tadjur Sukabumi, ia banjak memberi peladjaran saya bertjotjok tanam bunga di bawa saya ke daerah Puntjak, Tjipanas di deket Villa Kolonel Kawilarang (katanja sekarang djadi Restoran Rindu Alam), saya buka kebun bunga, disitu banjak pemuda rakjat saya suruh beladjar.

Pemberontakan PRRI/Permesta

Benar sadja peringatan Sukarno terhadapku, beberapa kolonel bordjuis membangkang terhadap pemerintahan pusat, mereka menuduh Sukarno mentjeng ke Komunis, lha ini sudah keterlaluan masakan kominis jang dianggap biang keladi karena PKI dianggap membawa-bawa Sukarno ke kalangan Kominis Internasional, tuduhan ini luar biasa kedji. Saja marah besar, lalu malam tanggal 4 Djanuari 1957 saja memanggil Njoto, Njono, dan MH Lukman saja kataken ini sudah tidak benar masakan Sukarno jang ingin mereka antem tapi malah PKI di djadikan sasaran mana benar ini uraiku kepada mereka, Njoto jang malem itu saja inget pakai badju tjoklat tentara dan berkatja mata bulat tebal malah mendukung langkah PRRI/Permesta alasannja apabila PRRI gagal maka Sukarno dapat didesak membubarken Masjumi dan PSI, karena dalam gerakan itu bertjokol pemimpin-pemimpin Masjumi dan PSI, sekarang tinggal PKI dan PNI sadja jang dapet membangun djembatan dengan Sukarno, dan tugas besar PKI adalah mendekat pada pemimpin-pemimpin Angkatan Darat terutama jang di djawa.

Dalem pada itu saja mulai mengaktifkan gerakan-gerakan pemuda, saja melihat masih banjak tugas besar nasional jang belum dibereskan, seperti perebutan kembali Irian Barat dan gerakan anti korupsi jang dilakukan kapitalis-kapitalis Birokrat. Saja pikir biar sadja TNI AD jang membereskan aksi sepihak PRRI di Sumatera toch jang berontak djuga kawan mereka, saja lihat ini Kolonel Achmad Jani, sedang naik daun, dia anak didik Jenderal Gatot Subroto, orangnja tjerdas saja denger djuga bisa berbitjara dalem banjak bahasa, Sukarno suka dengan dia, Saja bilang sama Njoto, ini Jani akan singkirkan Nasution.

Sementara Pasukan Jani berperang melawan PRRI, saja mulai melakukan konsentrasi terhadap arah perdjuangan partei, saya mulai melakukan penggiatan organisasi dan memasuki tahap gerakan pemahaman partei. Saya keliling Indonesia dari Atjeh sampe Maluku saya datangi, saya berbintjang dengan orang-orang daerah saya resapi penderitaannya, saya pahami keinginannya dan saya mendapat kesimpulan perdjuangan buruh dan tani musti disegerakan.

Tahun 1958, awal di depan Parlemen partein saya dihudjat terus oleh kelompok-kelompok Masjumi dan PSI dan saya diam sadja hanja pernah saya melakuken pembelaan di depan parlemen terhadap serangan Pak Udin Sjamsuddien jang seakan-akan menjamakan PRRI dengan Madiun Affair. Saya lihat kembali Jani cs sudah berhasil menangani PRRI/Permesta, sementara penumpasan gerombolan DI/TII lambat sekali dilakukan oleh kelompok Siliwangi, saya tidak tahu apakah ini disengadja oleh militer Siliwangi.Tapi saya mulia melihat Sukarno akan mendekat ke kelompok militer, saya putuskan untuk ikut dalem permainan Sukarno.

Sukarno, Militer dan PKI

Sedjak kegagalan gerakan kolonel-kolonel di Sumatera, Sukarno tanpaknya butuh perlindungan politik dari tentara, apalagi setelah ia berhasil menendang musuh-musuh politiknya keluar dari arena politik, musuh-musuh politik Sukarno yang ia kenal sedari muda seperti; Sjahrir, Hatta, Hamka, Natsir dll djuga dari kalangan generasi yang lebih muda seperti: Soemitro Djojohadikoesomo, Soedarpo, Djohan Sjahruzah, Yunan Nasution dan Isa Anshary,membuat Sukarno perlu membangun benteng politik baru. Nadhlatul Ulama yang bermusuhan dengan Masyumi rupanya tetap bersikap baik dengan Sukarno, apalagi Sukarno dilihat djuga bagian dari mereka, sama-sama berdarah Djawa Timur, PNI sudah djelas akan memihak Sukarno, dan kini sikap PKI harus memiliki kedjelasan, dari kedua partei itu djelas PKI adalah partei jang paling memiliki konsep dan punja pandangan eropa jang paling kuat sementara mereka berpaham Djawa sekali, apalagi TNI.

Akhirnja liwat keputusan kolektif PKI mendekat ke Sukarno, sayap saya menang untuk mendukung Sukarno, walaupun Sudismanm, habis-habisan menolak untuk merayap mendekati Bung Karno. Lama saja berpikir, saja perhatiken taktik Njoto agak ke Rusia-rusia-an, lalu saja beralih pada pandangan Sudisman jang lebih nasionalis, Sudisman ini kawan kominis tapi pikirannja terlalu Indonesia sekali,djauhlah dari pandangan Internasionalisme, saja merenung di ruang beladjar saja, pertanjaan besar saja apakah saja ikut dengan Sukarno…lalu saja akan djadi makanannja, saja tau percis watak Sukarno…tau percis.

Sukarno akan rela memakan teman seperdjoangan bila taktiknja memerlukan itu, tapi setjara pribadi ia tetep hangat, ia tiada kedjam, bila kita di antem Sukarno, maka pribadi kita tidak diantjem, saja tau ini djustru dari Hatta dan Hamka, Sukarno orangnja tidak tegaan sama temen, tapi kalo maen politiek wah profesioniil sekali dia. Apakah PKI hanja akan djadi mainan Sukarno? Itu pertanjaan besar saja.

Saya inget hari itu hari senin, saya lupa tanggal berapa tapi bulan february 1959, Saya dipanggil lagi ke Istana, Sukarno mengenakan pakaian netjisnja. Badju putih dengan banjak taburan bintang djasa, katja matanja tidak dilepas, ia masih membatja beberapa surat dan nampak menandatanganinja, saja mengenakan kemedja putih berbahan kasar, dia melihat saya dan menjapa “wah, dit sudah sampai kau…duduklah disana aku mau teken ini beberapa surat….” saya pun duduk dan setjara takzim memperhatikan Sukarno. “Dit, jij tahu bahwa ada kabar itu orang PSI di luaran mau bikin aksi sirkus lagi buat antem aku, lha kamu kok diem sadja Dit, mana lojaliteitmu buat aku…?” utjap Sukarno sambil terus membatja, matanja tidak lepas dari kertas-kertas jang akan di tandanganinja. “maksud Bapak bantu apa?” djawabku, tiba-tiba wadjah Sukarno mendongak ke atas matanja jang tadjem memandangku. “ Dit aku mau dukungan kamu, disini aku masih menang, di Djakarta aku pegang kekuasaan opini, tapi di luar negeri apa-apaan aku bukan siapa-siapa, apa itu Ike (maksudnya Dwight Eisenhower-Presiden USA,pen) mau denger aku, apa itu Nikita (Nikita Kruschev, pen) mau denger aku, Nehru sadja masih pandang remeh aku….aku mau kau lobby ke dunia internasional, bikinlah namaku harum, djangan kau ketinggalan sama aksi bikin djelek namaku oleh PSI, oleh itu si Mitro sardjana ekonoom tapi aksinja memaluken” aku langsung teringet wadjah Sumitro Djojohadikusumo, dengan tubuh kurusnja, terlihat sekali Sukarno tiada suka dengan dia…aku harus akui Mitro ini tjerdas sekali.

Sukarno berdiri dan mengambil sebuah bundel kertas di medja podjok, aku perhatiken kok tiada adjudan jang berdiri disekitar Presiden, hanja pak Boleng dan Pak Mi’un petugas istana jang suka anter minum dan makanan ketjil mereka duduk di ruang kanan. “Dit, nih aku sudah buat konsep Nasakom, Nationalisme, Agama dan Kominisme, jij [1]musti batja ini draftnja, nanti saja suruh si Seyuti bikin hard copynja, jij peladjari dulu, tapi tjobalah jij bangun kontak itu ke Kremlin dan Tjina-nja Mao, bilang aku akan mendukung aksi dia, aku sudah muak liat aksi Amerika,liat itu si Pahlawan D-Day (maksudnya Eisenhower-pen) edjek terus aku”sukarno menundjuk-nundjuk aku dan meneruskan kata-katanja “Dit, jij punja kerdja bagus,punja bikin partei heibat, buat iri itu matjan-matjan politiek, Nasution sadja sampai mengagumi kamu, baiknja kamu dan Nasution bertemu kita bertiga bitjara” Sukarno langsung duduk lagi dan menoleh ke arah Pak Boleng, “leng tolong ambil itu, obat ramuan tjina jang kemarin Bapak taruh di lemari dalem” Boleng mengangguk dan agak berdjalan tjepat menudju ruang dalem, aku masih membuka-buka halaman demi halaman kulihat sekilas dan wadjah Sukarno nampak lelah sekali, “Dit aku beri kamu itu obat dari Tjina, ini hadiah dari dokter Gouw, ia baru sadja tiba dari Tjina, itu obat bagus buat djaga kesehatan, Dit bagaimana kabar Tanti isterimu?” aku memandang ke arah beliau kuperhatikan wadjahnja jang terlihat letih, “baik Pak”djawabku. Sukarno memandang lurus ke arahku…dalem sekali, dia sepertinja mau nyondro (membatja pikiran dan raut wadjahku) aku diem sadja, dan pura-pura tidak memperhatikan tatapan Sukarno jang luar biasa tadjem.

“ Dit, jij orang haibat, jij bisa bangun jij punja partei sampe besar, maha besar, partei Jij adalah parteinja rakjat, bukan partei elite partei penguasa, jij bisa arahkan gelombang besar rakjat ke dalem tenaga kominis…..itu bagus…bagus, tapi jij djuga musti tahu, Islam dan Nasionalisme adalah kenjataan jang objektief djuga, jij tidak bisa serta merta memusuhi Islam dan kaum agama lainnja, jij djuga tidak bisa sikut-sikutan dengan itu PNI, jij akan berat nantinja…Dit, sudah kukataken, baiknja energi ini disatuken, digunakan dalem tenaganja rahayat, dalem djiwanja rahayat agar kita bisa mengumpulkan tenaga jang besar ini, untuk melandjutken revolusi, revolusi belum selesai Dit”tutur Sukarno.

Sedjak itu aku memahami ladju pikiran Sukarno, aku mau tidak mau harus bekerja sama dengan orang ini,karena bila tidak partaiku akan hancur untuk ketiga kalinya. Walaupun keputusanku bekerjasama dengan Sukarno dicibiri oleh banyak orang, banyak kawan dan banyak orang kominis di dunia Internasional bilang aku ini partei jang bisanja bergaul dengan kaum bordjuis, tapi aku mulai dengan sikap tegas taktik aku djalanken, strategi harus aku mulai…dengan mendekati Sukarno.

PKI Penuh Dibelakang Sukarno

Sukarno menawarkan konsep Nasakom padaku pada dasarnja aku menyetudjui, ini bagian dari strategi besarku, aku membiarkan revolusi bordjuis berdjalan dulu, een toch..aku pikir Sukarno sama sekali tidak punja watak kapitalis, walaupun tidak bisa dikatakan kominis, Sukarno petjinta kemewahan, petjinta seni tinggi, gaya hidupnja adalah gaya hidup kaum kraton, dia orang berselera tinggi. Pernah satu kali aku bertandang ke Istana Bogor, disana hadir isteri kedua Sukarno ibu Hartini, Ali Sastroamidjojo (ketua umum PNI), Djenderal Nasution dan Roeslan Abdulgani. Saja ditegur di depan mereka-mereka tentang ketidak rapihan pakaian saya oleh Bung Karno, saya inget utjapannja “ Hei, Dit jij pemimpin partei besar, masakan pake dasi sadja meleset, sini saja betulken” Sukarno mengangkat tangannya ke arah kerah dasiku dan membetulkan letak dasi, sedjak itu aku selalu berpenampilan rapih.

Saya pimpin PKI ini mendjadi partai jang penuh mendukung perdjuangan Sukarno. Pada 5 Juli 1959, Sukarno memberlakukan dekrit Presiden dan membubarkan konstituante, ini berarti pemberlakuan UUD 1945 kembali menggantikan UUD Sementara 1950, tertutup sudah ambisi membentuk negara Islam bagi kelompok Masyumi, apalagi banyak dari mereka tersingkir akibat terlibat gerakan PRRI/Permesta.Sukarno lalu mengumumkan berlakunya Nasakom, baginya semua kekuatan politik yang ada harus bersatu menjalankan revolusi, revolusinja Sukarno, dan saya putusken untuk ikut apa maunja Sukarno, PKI ada di belakang Sukarno.

Program utama Sukarno setelah berhasil membreidel musuh-musuh politiknja adalah membereskan masalah jang tertunda dari Konferensi Medja Bundar 1949, jaitu masalah Irian Barat, kemudian djuga Sukarno pernah setjara diem-diem mengumpulken beberapa orang intelidjennja untuk memperhatikan Malaya, Irian Barat djadi program pertama Sukarno, dan Malaya djadi program berikutnja. Saya ambil keputusan untuk memilih Malaya sebagai penggalangan pemuda rakjat, bukan masalah Irian Barat, pertimbangannya adalah Malaya adalah tempat yang tempat untuk menghadapi front Kapitalis Inggris dan Amerika Serikat, saya akan melihat ke depan bila Vietnam Selatan berhasil menahan serbuan Ho Chi Minh, maka konsentrasi AS adalah Djakarta. Dan bagi saya perebutan Irian Barat adalah konsumsi politiek Sukarno, sementara PKI berpusat pada Malaya.

Dalem pada itu, saya berusaha sepenuh tenaga untuk memperkuat secara keras garis-garis massa rakyat yang akan berhadapan dengan kaum kapitalis lokal. Pemuda rakyat saya djadiken barisan utama sebagai barisan pemuda pelopor, ke depan saya sudah berpikir untuk membentuk angkatan ke V, setelah angkatan darat, laut, udara dan kepolisian. Yaitu Tani dan Buruh dipersendjatai.Tapi program itu saya simpan dulu, saya masih akan berkonsentrasi pada perang sosial, front-front politik agraria saya akan tjoba untuk mengetes kekuatan PKI dalam menghadapi kelompok bordjuis, maka peristiwa-demi peristiwa terdjadi di lapangan, pertarungan politik antara PKI dan kelompok bordjuis, dikit demi dikit musuh saya djelas, perwira-perwira kapitalis dukungan Amerika Serikat !!!, dan mereka bertjokol di Angkatan Darat.

Penilaian saya terhadap Angkatan Darat semakin kuat menudju kesimpulan bahwa Angkatan Darat terlibat dalam gerakan-gerakan anti revolusioner Bung Karno, AD terlalu deket dengan Washington. Banjak Djenderal-Djenderal perang AD dikirim ke negara-negara kapitalis barat seperti: Inggris, Djerman Barat dan AS. Perwira-perwira itu terpengaruh pada gaya hidup dan pemikiran kapitalis, mereka mulai banjak memiliki usaha-usaha bisnis sendiri, pelan-pelan para perwira-perwira AD di daerah menjadi ‘warlord’ (tuan-tuan perang) yang menguasai kehidupan orang banjak. Inilah jang sering terdjadi konfliek antara PKI dan AD. PKI jang merupakan partei massa, sudah membuktiken diri mendjadi partei rakjat, milik rakjat. Sementara perwira-perwira AD menjusun sebuah garis komando dimana elite perwira bukan sadja pemimpin di lingkungan militer tetapi djuga pemimpin di dalam masjarakat. AD mulai bermain politiek di mana ruang gerak itu seharusnya di gerakan oleh partei politik bukan militer.Selain itu AD sudah bermain bisnis, sektor-sektor produktif di kuasai AD dari perkebunan karet, pabrik gula sampai minyak bumi di kuasai oleh perwira-perwira AD. Sementara rakjat tetap didjadikan barisan buruh
jang di peras tenaganja, barisan petani jang dirugikan dan dirampas tanahnja untuk kebun-kebun tebu.

Djika aku merenung dalam kesendirian bertanja apa arti tudjuan hidupku, aku merasaken sebuah gerakan dalem hatiku, sebuah senjawa jang selalu mentjampurken aku pada apa jang diderita dari kaum miskin, kaum tertindas. Seluruh hidupku aku abdiken pada partai ini, pada djiwa dari politieken komunis, aku merasa tudjuan masih pandjang…pandjang sekali. Aku bersjukur dalem-dalem atas berkembangnja parteiku ini, partei jang diisi anak-anak muda djebolan proklamasi 1945. Berani dan menantang djamannja. Hidupku kuisi sepenuhnja pada perdjuangan ini, dengan segala sumpah setiaku pada cita-cita Marxisme.

Bersambung