Tag

pagi di jakarta.jpg


Kristina, adik dari sobat lama ngambek lantaran semalam saya ketiduran tidak menemui dia dan teman temannya di night club bernama X2 di Plaza Senayan. Malam minggu itu saya lelah setelah menghantam begitu banyak jajanan di jalan Sabang. Dari nasi campur warteg Barokah sampai sate padang. Dari baso sapi sampai soto Betawi. Dari es teler sampai es kelapa muda. Akibatnya seperti beruang kekenyangan di musim dingin, saya berjalan balik ke kamar hotel Sari Pan Pacific untuk take a long nap yang berakhir dengan kelupaan bahwa saya sudah janjian sama mereka di itu club malam. Saya terbangun sekitar jam 5 pagi dan mencek bahwa saya mendapatkan setengah lusin sms dari Kristina yang ngomel ngomel bahwa Habe orangnya tidak asik dan melupakan janji. Saya balas bahwa selain ketiduran, umur saya tidak cocok untuk dugem di tempat anak ABG ngumpul seperti club malam begituan. Tidak bisa tidur kembali, saya terduduk menghadap jendela menikmati pemandangan Jakarta di minggu subuh hari.

Pagi begitu bening. Jalan Thamrin kelihatan lenggang. Gedung gedung jangkung seperti para raksasa keberatan badan yang masih terlelap dalam mimpi. Jakarta tidak menunjukan wajah garang sama sekali. Ibukota- seperti julukan salah satu syair lagu dangdut sebagai mahluk berprilaku kejam yang tidak adil bagai ibu tiri- justru sebaliknya di Minggu pagi seperti seorang ibu Teresa yang siap membantu orang orang miskin dan papa di Calcuta. Penasaran, saya bangkit dari kursi, keluar kamar lalu turun ke jalan.Tidak lama Jalan Thamrin yang tadinya sepi tiba tiba secara mendadak seperti kena banjir tsunami belasan bahkan mungkin puluhan ribu orang Jakarta yang naik sepeda menuju Jalan Sudirman berakhir di bunderan Senayan, untuk kemudian berbalik kembali ke arah ke arah tugu Monas kembali. Begitu seterusnya mereka bersepeda, berlari, berjalan kaki tepat di tengah jalan protokoler menguasai urat nadi Jakarta dari selama 4 jam dari jam 6 sampai 10 pagi. Para pengendara mobil dan bis, kecuali busway harus mengalah berdesak desakan menggunakan jalur lambat yang sempit. Para polisi di Minggu pagi di setiap perempatan dengan sigap mengendalikan lalu lintas dan selalu memenangkan para pecinta olah raga pagi. Sambil berjalan kaki ke arah Bunderan HI mengikuti irama mereka, saya merasa begitu bangga dan kagum dengan kreatifitas pemda DKI yang membiarkan penduduknya balas dendam pada lalu lintas dan macet Jakarta akibat ulah segala mobil, motor dan transportasi umumnya. Bisa dilihat betapa happy dan cerah wajah wajah mereka. Seragam mereka kebanyakan putih merah disponsori oleh Indosiar. Sepeda yang mereka pakai bermacam macam dengan berbagai bentuk. Satu dua kelompok menggunakan topi jambul dan topeng topeng kocak. Beberapa bocah kampung naik sepeda butut. Ratusan keluarga dari segala penjuru Jakarta datang dengan anak istri. Pasangan muda yang pacaran, berpacaran secara sehat dengan badan yang sehat , juga kemungkinan jiwa yang sehat.

pagi di jakarta 2.jpg

Di bunderan HI, segala pedagang asongan tumpah ruah. Seperti semut yang mengerubungi biang gula, begitulah para pecinta olah raga pagi meluangkan waktu untuk breakfast menyantap ketupat tahu, siomay,baso dan puluhan jenis makanan sambil duduk duduk sekitaran air mancur dan bercanda canda. Saya cemburu dengan mereka. Breakfast tadi di dalam hotel jelas tidak ada apa apanya, dibandingkan makan pagi di sini. Ketupat tahu itu begitu kelihatan lezat. Bubur ayamnya lebih menggairahkan dari yang di dalam hotel Sari Pacific. Rakyat awam Jakarta seperti menertawai hotel mewah Plaza Indonesia dan segala butik butik mahal ekslusif di dalamnya. Mereka kini adalah shang hyang penguasa Batavia walaupun cukup beberapa jam saja setiap minggunya.

Saya berjalan menuju Jalan Sudirman sambil jatuh cinta kembali pada Jakarta dan mungkin sekaligus pada Indonesia juga. Ada rasa hangat di dalam jiwa berada di tengah tengah mereka. Dan ada perasaan sedih betapa ketinggalannya diri dibandingkan puluhan ribu orang yang bangun di subuh hari untuk pesta merayakan hidup sehat dengan masal, jauh di Amerika bulan bulan ini saya setiap pagi saya didera musim dingin yang menggila. Air keran yang tumpah di halaman belakang mengkristal menjadi es. Suasana di dalam atau luar di subuh hari sepinya sama saja . Berjalan masuk ke segala Casino, yang nampak adalah segala penjudi dan koktel waitres berkostum mini. Tidak ada nilai plus di Las Vegas dibandingkan dengan Jakarta.

Berbelok kanan di Duku Atas ke arah Karet, Jakarta berubah wajahnya secara mendadak. Baru beberapa meter meniti sisi trotoar sepanjang Kali Malang, saya disodori oleh pemandangan beberapa gembel yang sedang sibuk mencari rejeki dengan mengkais kais sampah plastik dari aliran sungai yang butek menjijikan. Anak anak mereka bertampang kumal dan kusam. Kaos oblongnya bolong di belakang. Kaki mereka telanjang tanpa sepatu atau sendal. Jakarta dengan Jalan Thamrin dan Sudirman yang tadi nampak bersih dan cosmopolitan dalam hitungan beberapa menit menampakan sisi wajah yang lain.
Di sini , Jakarta yang sebelumnya berwajah bagai dewa Wisnu, sekarang lebih mirip dengan Batara Durga.

pagi di jakarta 3.jpg

Berbelok kanan ke jalan KH Mas Mansyur manusia manusia bertampang muram berseliweran. Seorang tukang cendol istirahat bersisian dengan pintu rel kereta. Wajahnya rada khawatir mungkin dia takut barang dagangannya tidak laku apalagi jika nanti hujan.Doa dia pasti adalah semoga siang nanti matahari bertambah terik membikin haus para manusia sekaligus para calon klien. Tidak beberapa lama 2 orang penarik gerobak memintas di depan gang Duku Pinggir 2. Otot badannya kekar. Potongan rambutnya abri. Di aspal beserakan kartu remi bekas para tukang ojek bermain judi. Saya masuk ke dalam gang Duku Pinggir 4, tempat dulu oom saya pernah menetap. Dulu, dulu sekali gang ini nampak besar dan apik. Rumah oom serasa sebesar istana. Sekarang gang itu adalah kawasan kumuh dimana rumah ke rumah jaraknya berdempetan. Seekor kucing pasar memintas di depan yayasan panti asuhan Putra Nusa.Betapa sumpek tampang kucing, juga kehidupan di sana.

Matahari Jakarta mulai membikin badan jadi gerah. Berkali kali saya mesti berhenti untuk menyiram tenggorokan dengan teh botol atau air aqua. Debu debu berterbangan. Kernet kopaja yang besupir batak bersaingan mencari nafkah dan uang dapur dengan para supir bemo dan bajaj dari Jawa. Deodoran antipespirant merek Gillette dari Amerika dibalik ketiak berjihad setengah mati melawan keringat dan bengisnya kelembaban udara. Pengendara mobil dan motor tidak perduli dengan yang namanya pejalan kaki yang mencoba menyebrang di zebra cross. Mereka menyetir tergesa gesa lantaran urusan penting jadi hendaknya para pejalan kaki memberikan mereka jalan jika tidak ingin cepat cepat pulang ke alam baka.Tugu metalik di kuburan karet berkilapan.Beberapa rombongan peziarah berpencaran di dalam. Mobil penghantar jenazah berderetan di parkiran. Ketika orang orang bersepeda masih merayakan sport dan bercanda canda di jalan Sudirman, di sini suasana justru dijajah suasana haru biru. Beberapa manusia bermata bengkak lantaran menangis semalaman. Bau tanah gembur dan wangi kembang mawar melati campur baur.Cukup ngeri memikirkan bahwa di sini, di lobang sempit ini pada akhirnya kita semua, kamu, saya dan anda bakalan berakhir nanti.

Saya tidak tahu harus bagaimana memandang Jakarta.Pertalian emosi dengan kota ini begitu kompleks.
Dalam satu hal saya jatuh cinta, dalam hal lainnya saya jijik dan ingin cerai talak empat dengannya. Semua koran di sini tidak enak dibaca. Semua acara tv lokal tidak ada yang memberikan stimulasi intelektual. Semua pembaca berita bermonolog dengan senyum monolog ,wajah monolog dan nada yang membuat pening kepala. Dan acara musik, band sekelas Karimata dan Bhaskara rasanya sudah lama punah. Yang tertinggal saat ini adalah sejumlah band kacangan dan penyanyi perempuan bertampang indo dengan lagu lagu yang membuat orang gagal hidup jadi ingin bunuh diri.

Jakarta di minggu pagi adalah Jakarta yang tidak saya kenal lagi

January 28, 2010

Habe