Beberapa hari lalu saya sudah menuliskan pengalaman menjadi relawan Faculty of Social Work, Flinders University. Di hari ketiga kegiatan tersebut, saat menuju tempat acara saya melewati gereja Katedral yang ada di jantung kota Adelaide. Disamping gereja ada patung seorang perempuan yang sedang menggandeng dua orang anak. Nama perempuan dalam patung tadi adalah Mary Mackillop. Biarawati yang wafat tahun 1909 ini, beberapa bulan lalu mendapat gelar Saint dari Vatikan. Sejauh yang saya ketahui, beliau merupakan saint perempuan pertama dan satu-satunya yang ada di Adelaide ini.

Hal yang menarik bagi saya adalah bunga yang diletakkan dikaki patung Mary Mackillop. Ada serumpun bunga yang diletakkan di kakinya. Bagi saya ini bukan kebetulan. Pasti ada seseorang yang memang sengaja meletakkan bunga di situ. Pengalaman ini persis sama seperti saat saya berada di Bangkok. Hampir disetiap patung Buddha selalu di penuhi bunga. Ada bunga yang dikalungkan di leher patung Buddha itu, atau ada juga bunga yang diletakkan begitu saja didekat patung tadi. Persis seperti bunga yang saya lihat didekat kaki patung Marry Mackillop tadi.

Bunga juga diletakkan(dan dikalungkan) di patung Pridi Panombyoong (pendiri Universitas Thammasat) yang ada didepan kampus di Bangkok. Banyak mahasiswa yang datang kesana untuk berdo’a, terutama mendekati masa-masa ujian. Maka, saat melihat patung Marry Mackillop tadi saya berasumsi bahwa pengaruh Buddha juga terdapat dalam ritual pelaksanaan berdoa dalam agama Katolik.

Saat sampai di tempat acara, saya menceritakan hal ini pada teman India saya. Saya baru tahu jika dia beragama Katolik. Katanya, diagamanya, biasanya saat akan melaksanakan persembahyangan, pastor sering sekali membakar dupa dengan tujuan asap dupa tersebut membersihkan (mensucikan) ruangan tempat peribadatan yaitu gereja.

Mendengar penjelasan teman ini tadi, saya lalu teringat kunjungan saya ke Singapore bulan januaari tahun. Disana, saya melihat orang-orang Cina Singapore juga membakar hio (kayu kecil yang dibakar) saat mereka bersembahyang baik di dalam kuil Buddha maupun di depan kuil Hindu. Bagi saya, adalah sesuatu yang menarik saat mengetahui bagaimana komunitas Cina Singapore, juga bersembahyang di kuil Hindu tanpa ada keresahan dari komunitas Hindu saat pemeluk agama berbeda bersembahyang di kuil mereka.

Kembali ke cerita bunga di kaki Marry Mackillop tadi. Saat melihat bunga itu saya terfikir tentang adanya kesamaan dalam pelaksanaan ritual agama, meski mereka menggunakan nama agama yang berbeda. Dalam Islam, biasanya dikampung-kampung, komunitas tersebut masih menggunakan dukun kampung yang membakar kemenyan untuk mengusir roh-roh jahat. Menariknya, meski mereka beragama islam, tapi pembakaran kemenyan juga masih dilakukan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh agama Hindu (yang dulu dominan di Indonesia) juga masih bertahan dalam pelaksanaan ritual-ritual agama islam.

Begitu juga tentang penggunaan tatoo. Saat masih berada di Thailand, saya diundang oleh salah seorang teman Buddha saya untuk berkunjung ke kampungnya di Yala, salah satu provinsi di Thailand Selatan. Kampungnya mengadakan kenduri (selamatan, pesta) untuk menghormati leluhur mereka dengan berdo’a bersama yang dipimpin oleh beberapa Bikhsu. Dikampung itu, saya melihat bagaimana orang-orang tua disana masih menggunakan tatoo di lengan bahkan dibadan, terutama di dada. Menurut mereka, tatoo itu dirajah disitu untuk memberikan kekebalan bagi mereka. Melihat ini saya teringat bagaimana dulu sekali penggunaan tatoo masih sering kita lihat dipakai orang-orang tua kita.

Mengakhiri tulisan ini, saya hanya ingin berkata: betapa indahnya jika kita bisa saling menghargai agama berbeda, toh ternyata ada banyak kesamaan dalam semua agama tersebut.

Ahh..tiba-tiba saya menjadi begitu sendu 🙂