Keluar dari area persawahan, aku melintasi banyak desa-desa kecil khas Bali. Orang Bali selalu tinggal berkumpul di satu lokasi yang disebut desa ini, sementara lahan sisanya adalah persawahan dan kebun. Pemandangan di perkampungan di Bali juga benar-benar khas, tidak bisa kita temui di daerah manapun di Indonesia.

Rumah di desa-desa di Bali disebut 'Kuren'. Setiap 'kuren' di Bali dipagar tembok setinggi leher dengan meninggalkan satu pintu sempit untuk masuk. Ini untuk menghindari masuknya roh jahat dan kekuatan negatif yang disebut Buta Kala.

Supaya Buta Kala tidak masuk melalui gerbang tersebut. Di depan setiap pintu gerbang itu selalu kita temui sesajen kecil yang dibuat dari daun pisang atau daun kelapa berisi bunga, daun pandan yang dirajang dan makanan, bisa berupa ketan, nasi atau biskuit. Kadang ada juga berisi uang logam atau uang kertas seribuan. Ini dimaksudkan supaya Buta Kala merasa senang memakan sesajen itu dan kemudian pergi, tidak masuk ke rumah tersebut. Kadang, di belakang gerbang itu juga dibuat sebuah tembok penghalang yang didepannya ditempatkan sebuah patung dewa berkepala gajah bernama Ganesha, yang merupakan putra dari Syiwa dari Istrinya yang bernama Parwati. Ganesha ditempatkan di sana karena orang bali percaya Buta Kala yang berniat masuk ke rumah akan gentar melihat keberadaan Ganesha yang sakti. Tidak jarang pula di bagian atas gerbang itu dihiasi dengan lambang swatika, yang merupakan lambang dari 'dewata nawa sanga' yaitu sembilan dewa yang menjaga sembilan penjuru. Lambang yang pernah digunakan Hitler untuk lambang Nazi, partai fasis yang didirikannya, sehingga sampai sekarang tidak sedikit orang eropa yang berkunjung ke Bali yang merasa gentar melihat lambang tersebut yang ada di mana-mana.

Di kedua sisi pintu gerbang yang tertutup di bagian atasnya itu terdapat dua buah tempat sesajen yang disebut 'apit lawang', yang ditempatkan di sana sebagai tempat sesajen untuk para Dewa yang melindungi rumah ini.

Bagian dalam pagar setinggi leher itu disebut 'pekarangan'. Dalam 'pekarangan' ini terdapat bangunan-bangunan rumah Bali yang sangat berbeda dengan rumah-rumah yang ada di desa-desa di Indonesia pada umumnya. Jika rumah-rumah di Indonesia, seluruh aktifitas keluarga berlangsung di dalam satu bangunan tidak demikian halnya di Bali. Dalam 'pekarangan' rumah Bali terdapat beberapa bangunan yang memiliki masing-masing fungsi. Di sana ada 'Sanggah Kemulan' yang merupakan Pura keluarga sekaligus juga bangunan paling suci dalam pekarangan. Di dalam 'sanggah kemulan' ini terdapat beberapa 'sanggah' atau bangunan kecil tempat sesajen. sanggah utama adalah sanggah yang dibangun untuk tempat bersemayamnya roh nenek moyang dan anggota keluarga yang telah meninggal, sanggah ini berpintu tiga. Kemudian ada sanggah kecil berpintu dua yang dibuat untuk menghormati dua gunung suci yaitu gunung Agung dan pasangannya gunung Batur. Kemudian dalam 'sanggah kemulan' juga terdapat dua sanggah lain yang dinamakan 'Taksu' dan 'Ngrurah' yang merupakan sekretaris dan penerjemah para dewa.

Di sebelah kiri 'Sanggah Kemulan' terdapat bangunan yang disebut 'Meten', 'Meten' ini adalah bangunan tempat tidur kepala keluarga yang tinggal dalam pekarangan ini. Kemudian di sana terdapat bangunan lain berupa 'Bale', yaitu bangunan berisi ranjang tapi tidak berdinding, ini adalah tempat untuk anak-anak keluarga Bali tidur dan juga para tetamu yang berkunjung. Pada umumnya dalam rumah Bali ada tiga buah 'Bale', yaitu 'Bale Tiang Sanga', 'Bale Sakepat' dan 'Bale Sakenam'. Pada keluarga Bali dari kasta yang lebih tinggi, terdapat sebuah 'Bale Gede'.

Ditempat terpisah, terdapat bangunan 'Paon' (dapur), Lumbung, tempat menumbuk padi, tempat sampah dan kandang Babi.

Semua bangunan itu tidak ditempatkan dan dibuat dengan ukuran sembarangan, semua bangunan dalam pekarangan rumah Bali ditempatkan sesuai tingkat kesuciannya, sesuai dengan TRI HITA KARANA, tiga prinsip yang dianut oleh orang Bali, yaitu 'Parahiyangan', menghormati para Dewa, 'Pewawongan', menghormati Manusia dan 'pelemahan', menghormati alam.

Di desa-desa atau tepian sawah di Bali seringkali kita menemui pohon yang dilingkari dengan kain berwarna hitam putih seperti petak catur. Oleh orang Bali, pohon-pohon seperti itu dipercaya memiliki roh penghuni, sehingga tidak jarang di bawah pohon itu dibuat sebuah Pura kecil untuk menaruh sesajen. Apa yang mereka lakukan pada pohon-pohon itu adalah salah satu manifestasi dari 'pelemahan' yaitu sikap orang Bali yang menghormati alam.

Setiap arah di Bali memiliki kadar kesucian yang berbeda-beda, sebagaimana saya sebut dalam bagian kedua tulisan ini, kadar kesucian di Bali merujuk pada tinggi dan rendah, kesucian suatu arah juga demikian. Arah yang paling suci bagi orang Bali adalah arah yang merujuk kepada tempat yang tinggi, yaitu gunung. Arah ini disebut 'KAJA', sebaliknya arah yang paling tidak suci adalah arah yang menunjuk ke tempat yang rendah yaitu laut, arah ini disebut 'KELOD'.

'KAJA' dan 'KELOD' tidak sama bagi orang yang tinggal di Bali Selatan dan Bali Utara, bagi orang yang tinggal di Bali Selatan (mayoritas orang Bali tinggal di sini) 'KAJA' ada di utara, sedangkan bagi orang Bali Utara, 'KAJA' ada di Selatan. Sebagai pembagi Utara dan Selatan pulau adalah puncak gunung Agung.

Kemudian arah yang lain, Kangin adalah arah tempat terbitnya matahari, arah ini lebih suci ketimbang arah tenggelamnya matahari.

Arah inilah yang menjadi acuan dalam menempatkan bangunan dalam pekarangan rumah Bali. 'Sanggah Kemulan' yang merupakan bangunan paling suci selalu terletak di bagian yang paling suci, yaitu KAJA KANGIN, yaitu arah gunung dan terbitnya matahari, sebaliknya tempat sampah dan kandang Babi selalu diletakkan di arah yang paling tidak suci yaitu KELOD KAUH, yaitu arah laut dan tenggelamnya matahari.

Jadi kalau suatu saat anda berkunjung ke Bali dan saat mengemudi tiba-tiba kehilangan arah dan orientasi jalan, lihat saja letak 'Sanggah Kemulan'(Pura Keluarga) yang ada di setiap rumah Bali. Kalau anda berada di bagian selatan pulau, bangunan itu selalu terletak di utara. Tapi ini tidak berlaku jika anda bicara di wilayah kabupaten Tabanan, karena khusus untuk wilayah ini warga selalu menempatkan Sanggah Kemulan di bagian rumah yang menghadap jalan.

Dalam sebuah pekarangan rumah Bali tidak selalu hanya diisi oleh satu keluarga, kadang dalam satu pekarangan itu tinggal beberapa keluarga yang tiap kepala keuarganya adalah beberapa anak laki-laki yang sudah menikah yang terlahir dari orang tua yang sama.

Karena bagi orang Bali, rumah sebagaimana halnya semua objek di alam memiliki jiwa, maka mereka meyakini agar rumah ini nyaman ditempati,jiwa yang dimiliki oleh rumah yang akan ditempati harus dibuat harmonis dengan jiwa orang yang akan menempati. Agar jiwa rumah yang ditempati bisa harmonis dengan jiwa orang yang akan menempatinya, maka setiap ukuran dalam rumah di Bali dibuat sesuai dengan ukuran tubuh kepala keluarga yang akan menempati rumah itu. Itulah sebabnya setiap ukuran dalam rumah Bali tidak pernah sama, ini karena setiap ukuran dalam rumah Bali tidak diukur dengan satuan Centimeter atau Meter sebagaimana kita kenal. Setiap ukuran panjang,lebar dan tinggi dalam rumah Bali diukur dengan satuan 'Tampel' dan 'Tampak', yang merupakan ukuran panjang dan lebar, telapak kaki si kepala keluarga.

Yang menentukan semua itu dan yang menentukan di mana setiap bangunan diletakkan adalah seorang arsitek tradisional yang disebut UNDAGI, yang mendapatkan keahlian arsitekturnya secara turun-temurun.

Di rumah Bali tidak ada ruang makan, karena itulah dalam keluarga Bali tidak ada acara makan bersama sekeluarga di satu meja atau di tikar. Di Bali siapapun anggota keluarga yang merasa lapar dia langsung ke dapur untuk mengambil makanan lalu mencari tempat duduk di salah satu bangunan di Pekarangan, entah itu di lumbung atau di 'Bale'.

Secara umum bisa dikatakan bahwa rumah Bali juga tidak memiliki perabotan.

Di samping tidak adanya ruang makan, di rumah Bali juga tidak ada kamar mandi. Kegiatan mandi, mencuci dan mengambil air semua dilakukan di sungai.

Di sungai kita sering melihat orang Bali, laki perempuan, tua muda mandi di sungai yang sama. Kadang perempuan Bali yang mandi di sungai itu (terutama yang masih gadis) menutupi bagian atas tubuhnya dengan kain atau BH, tapi tidak sedikit pula yang membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka. Dalam perjalanan ini aku sering menemui laki-laki dan perempuan Bali yang sedang mencuci atau mandi di sungai yang ada di tepi jalan.

Kemudian ketika kita melintasi jalanan yang membelah desa-desa Bali, kita pasti sering melihat kurungan ayam berjejer di pinggir jalan, di depan pekarangan rumah-rumah Bali itu. Ayam-ayam dalam kurungan ini bukan untuk dijual, ayam-ayam tesebut adalah ayam-ayam jantan pilihan yang dipelihara dari sejak menetas sampai ayam itu mencapai umur kurang lebih satu tahun. Ayam-ayam ini dipelihara dengan sangat telaten dan dirawat dengan penuh ketelitian, setiap hari ayam ini dimandikan, dipijat dan diberi jamu agar otot-ototnya kuat sampai nanti sang ayam dianggap siap untuk diadu sampai mati dalam prosesi yang disebut 'Tajen'. Prosesi Tajen ini sendiri, mulai dari ayam dilepas sampai salah satunya terkapar atau mati, maksimal cuma memakan waktu 5 menit saja.

Prosesi ini dinamakan Tajen karena di kaki ayam-ayam yang diadu itu dipasangi taji, berupa pisau tajam kecil selebar jari kelingking. Pisau inilah yang membunuh ayam yang diadu tersebut dengan cepat. Jika dalam waktu 3 menit belum ada ayam yang mati, atau terkapar tak berdaya. Kedua ayam itu akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam kurungan dan kembali bertarung di sana, biasanya setelah diadu di dalam kurungan ini. Maksimal 2 menit salah satu dari kedua ayam itu akan mati. Daging ayam yang kalah ini biasanya sudah ditunggu para tukang Bakso yang dengan sabar menanti di pinggir jalan. Oleh tukang bakso, daging dari ayam yang dirawat dengan telaten mulai dari menetas hingga kurang lebih satu tahun ini akan menjadikannya sebagai bahan pelezat kuah bakso dagangan mereka esok hari.

Pada prinsipnya 'Tajen' yang menumpahkan darah ini adalah sebuah persembahan untuk Dewa, agar desa terhindar dari mara bahaya. Karena itulah biasanya najen dilakukan di Pura. Tapi belakangan, 'Tajen' ini disalahgunakan menjadi kegiatan berjudi yang berkembang menjadi kegemaran setiap laki-laki Bali. Tapi, sejak Made Mangku Pastika (sekarang Gubernur Bali) menjabat sebagai Kapolda, kegiatan 'Tajen' untuk berjudi ini secara resmi dilarang. Hanya karena ini sudah menjadi bagian dari keseharian orang Bali, sampai hari ini tetap saja kita dapat menemukan kegiatan 'Tajen'untuk kegiatan berjudi yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Bersambung…

Foto-foto yang berkaitan dengan tulisan ini dapat dilihat di http://www.facebook.com/album.php?page=1&aid=2046218&id=1524941840

http://www.winwannur.blog.com
http://www.winwannur.blogspot.com

Notes : Bagi pembaca tulisan ini yang berasal dari Bali, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika dalam tulisan ini, berkaitan dengan penjelasan tentang adat, budaya dan aturan agama Hindu Bali terdapat beberapa informasi yang tidak akurat atau salah.

Sebuah Pura dengan Meru Tumpang Tujuh dan Meru Tumpang sebelas di sebuah desa di Bali, sedang direnovasi.