Apakah benar kita bangsa dengan penduduk yang ramah tamah? Pertanyaan ini adalah yang sering saya pikirkan beberapa hari ini, karena dalam beberapa hari ini, muncul ke perbincangan tentang peristiwa-peristiwa lalu yang menunjukkan bahwa yang tampak justru bukan keramahtamahan.

Pertanyaan dan tulisan ini bukanlah sebagai kritikan kepada orang lain, tapi lebih bersifat kritikan bagi diri sendiri. Karena bangsa ini juga bangsa sendiri. Bisa artinya bahwa orang lain itu juga adalah sebagian dari diri saya sendiri. Semacam autorefleksi yang semoga bisa menciptakan autokoreksi.

Dari berbagi cerita dengan sahabat-sahabat secara langsung, juga lewat beberapa Notes, nyata memang cukup banyak kejadian yang memperlihatkan orang-orang suka menyerang orang lain. Menyerang, bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga secara fisik. 

Di televisi selalu muncul tayangan umpatan "Bangsat!", yang terjadi di gedung lembaga tinggi bahkan tertinggi, sebuah negara, Republik Indonesia. Bagaimana umpatan itu dilontarkan oleh yang katanya wakil rakyat dan konon terhormat kepada pemimpinnya?

Ada yang menyerang hanya karena meyakini dia saja yang benar, sementara yang lain adalah keliru atau sesat. Mungkin ada yang menyerang hanya karena yang lain dianggapnya 'kafir'. Mungkin ada yang menyerang hanya karena orang lain lebih maju dalam ekonomi dan sejenisnya. Yang paling menarik adalah menyerang hanya karena paham dan ideologi berbeda.

Makhluk Agresor atau Makhluk Mulia?

"Pada dasarnya manusia adalah makhluk agresor", setidaknya begitulah kata Konrad Lorenz (1903 – 1989), seorang etolog (etolog adalah cabang biologi yang khusus mempelajari tingkah laku binatang) yang meraih hadiah Nobel bidang Biologi pada tahun 1973. Dalam artikelnya, Al Andang di harian Suara Merdeka, 22 Maret 1991, berjudul Agresivitas Manusia dan Kendali Agama, menyampaikan, dalam pengamatan Lorenz terhadap binatang-binatang bertulang belakang, ia mengambil kesimpulan bahwa nafsu agresi atau kekerasan itu konstitutif dalam diri binatang dan manusia. Ia berani menarik analogi dari binatang bertulang belakang ke manusia karena ia memang penganut teori evolusi Darwin.

Lalu, apakah agresivitas manusia ini karena naluri semata atau naluri yang dipelihara oleh hal lain, atau memang itu bukan konstitutif seperti kata Konrad Lorenz? Apakah agresivitas itu karena hal lain misalnya pengajaran, doktrinasi, bahkan aturan-aturan yang memang berpotensi mengarah ke tindakan itu? Atau jangan-jangan agama juga berpeluang dan berpotensi mengarah ke sana. Memang banyak berpendapat, bukan agama yang mengajarkan kekerasan tapi oknum-oknum beragama dengan tafsir dan paham yang menciptakan dan melakukan kekerasan.

Apakah sudah akan menjadi kultur perseteruan antara arogansi mayoritas versusagresivitas minoritas? Walaupun mungkin itu (sedikit) naluri, tapi mengapa di belahan tertentu dunia ini, banyak manusia sudah tidak suka atau bahkan semakin meninggalkan aksi-aksi kekerasan dan sejenisnya ini? 

Banyak yang pantas kita renungkan mengenai hal ini. Dan mungkin akan sangat kompleks walaupun tidak sekompleks yang dibayangkan. 

Walaupun begitu, sambil merenung kejadian yang menimpa saudara-saudara dan menariknya, dilakukan oleh saudara-saudara juga, kita pantas bertanya ada apa dengan perkembangan dalam hal karakter individu yang akan menjadi karakter sebuah bangsa juga?

Saya mengamati semakin banyak paham-paham yang semakin tidak menghormati orang lain selain tentu saja ada perkembangan positif.

* * *

Di sisi lain, saya melihat tetangga saya yang baik hati, yang benar-benar memperhatikan saya lebih daripada tetangga yang umum. Banyak juga pejuang kemanusiaan dan keadilan di belahan bumi ini. Banyak juga para pemberani yang menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang tidak dikenalnya.

Juga para tokoh-tokoh besar yang ingin mencerdaskan dan menyadarkan semakin banyak manusia (siapa saja) dengan caranya sendiri. Juga para relawan kemanusiaan yang tiada taranya yang mengobarkan semangat mencintai manusia lewat persaudaraan, dialog, tukar pikiran, berbagi, bahkan memberikan sesuatu dari dirinya.

Lebih daripada tokoh-tokoh, sesungguhnya masih jauh lebih banyak lagi manusia yang berpikiran mulia dan mencoba menolong saudaranya yang terhimpit bahkan korban.

Sambil mengingat kebaikan banyak orang dengan aksi toleransi dengan berbagai macam cara mengindahkan dunia dan memanusiakan manusia ini, saya membaca kisah nyata ini pagi tadi,Menorah di Setiap Jendela *)

Suatu sore di bulan Desember, keluarga Schnitzer menyiapkan rumah mereka di Billings, Montana untuk Chanukah (Hari Raya Penahbisan kembali bait Allah oleh Yudas Makabeus tahun 164 SM yang dirayakan oleh orang Yahudi selama 8 hari, mulai tanggal 25 Kislev). Mereka menempelkan Menorah plastik berwarna kuning pada jendela kamar tidur Isaac yang baru berusia lima tahun. (Menorah adalah kaki dian bercabang tujuh di Bait Allah Yerusalem sebelum dirampas orang Romawi tahun 70 M).

Malam itu jendala tiba-tiba dipecahkan oleh sisa arang yagn dilemparkan anggota Neo-Nazi yang selama setahun terakhir terlalu meneror kelompok minoritas di Billings. Pagi berikutnya FBI menyarankan agar Tammie Schnitzer melepaskan semua tandaChanukah dari rumahnya. Namun Tammie berkeputusan, jika ia mundur dalam menghadapi terorisme, baik dia maupun keluarganya tidak akan pernah aman.

Keluarga Schnitzer memperbaiki jendela yang pecah itu dan membiarkan menorahtersebut berdiri. Tammie mengundang Majalah Billings' Gazette untuk melaporkan apa yang terjadi. Sehari setelah itu Marge MacDonald, Direktur Eksekutif Asosiasi Gereja-gereja Montana, membaca berita penyerangan di rumah Schnitzer tersebut. Lalu ia memutuskan untuk memasang menorah pada kaca jendelanya sebagai ungkapan solidaritas terhadap Schnitzer.

Marge memanggil imamnya dan pada hari Minggu itu dia mendesak kongregasinya untuk mengecat rumah mereka dengan gambar menorah. Mereka sekeluarga mewarnaimenorah-menorah tersebut lalu digantungkan di jendela-jendela rumah mereka.

Gagasan tersebut tersiar ke penjuru kota. Koalisi HAM kota Billings mulai membagikan gambar-gambar menorah dan berusaha untuk memenuhi permintaan segenap warganya yang manu mendukung tetangga Yahudi mereka. Perusahaan Dry Cleaningdan toko-toko sekitar menyebarkan kertas menorah yang disediakan oleh koalisi HAM itu. Sebuah toko bahkan meminta tambahan lagi setelah mereka kehabisan lima ratus kopi dalam sehari.

Majalah Billings' Gazette mempublikasikan sebuah gambar menorah berwarna sehalaman penuh dan mengajak 50.000 pelanggannya menggantungkan gambar tersebut pada jendela-jendela rumah mereka. Para mahasiswa semester akhir sebuah sekolah tinggi mendekorasi menorah dan menggantungkannya agar dapat dilihat oleh orang-orang yang lewat. Mereka diberi tahu untuk memindahkan meja mereka ke dekat jendela agar berjaga-jaga apabila ada serangan, namun mereka tidak peduli. Banyak gereja dan rumah-rumah orang Kristen yang menggantung menorah diserang oleh Neo-Nazi, namun masyarakat menolak untuk mundur.

Pada malam kedelapan, malam terakhir Chanukah, Tammie dan Brian Schnitzer mengelilingi kota Billings dengan kendaraan. Menorah terpajang di mana-mana. Kata Isaac, "Saya tidak menyangka bahwa ada begitu banyak orang Yahudi di sini." Ibunya menjawab, "Mereka tidak semuanya Yahudi. Namun, mereka adalah teman-teman kita."

Sejak saat itu serangan teroris terhadap kaum minoritas di Billings berakhir. Keluarga-keluarga Kristen tetap memasang menorah ketika Chanukah tiba, demi solidaritas mereka dengan umat Yahudi.

*)Cerita dari Don't Forgive Too Soon, Extending the Two Hands that Heal, karya Dennis Linn, Sheila Linn dan Matthew Linn