Salah satu monyet sakti pengiring Rama bernama Anggada (istilah Bali). Kalau dijadikan bahasa Jawa, beberapa hurup vokal “a” berikutnya menjadi “o” maka “Anggada” menjadi “Anggodo”. Ada pula yg menyebutkan dengan nama Anggogodo. Ia adalah monyet yg sakti. Bahkan Sun Go Kong, Superman juga kalah. Apalagi Suparman tukang jengkol pasar Kenjer he..he bukan level deh. Wajar ia sakti, karena putra Subali yg juga luar biasa.

Walaupun ia sakti, yang namanya monyet, tetap saja monyet. Tabiat aslinya; serakah, licin, dan lihai, tidak hilang begitu saja. Mulutnya sdh berisi dua pisang, kedua pipinya kembung, tangannya masih masih berusaha ngambil lagi. Bila perlu kakinya juga ikut ngambil. Dan menghalalkan berbagai cara. Tetapi ada yg menarik adalah kecerdikannya. Coba saja kalau ia terjun ke dunia bisnis, pasti cepat sukses dan kaya. Karena kecerdikannya itu, rupanya Rama memilih Anggada sebagai utusan ke negeri Alengka, menghadap Rahwana agar mau mengembalikan Shinta.

Dengan kesaktian dan otaknya, ia mampu bertemu Rahwana, bahkan bikin kegaduhan di negeri Alengka. Popularitasnya menjadi mencuat. Hebat deh, bisa bikin konflik antar pejabat. Waktu menyeberang lautan menuju Alengka, dia menumpang penyu. Alasannya akan diberi upah tetapi upahnya di seberang. Sang penyupun mau menuruti. Tetapi sampai di pantai ia melompat.. sambil mengejek ia berkelakar, "ha..ha penyu begok, mau saja gua tipu." Sang penyupun kesal, "Dasar monyet, licik.. bedebah! suatu saat elo pasti mendapat ganjarannya. Bahkan cecak-pun akan mengalahkan kecerdikanmu".

Pulangnya ia mengumpulkan banyak buaya dekat laut. Bahwa semua buaya akan diberikan makanan. Untuk itu ia harus menghitung semua buaya. Disuruhnya semua buaya untuk berjejer sampai ke pantai seberang. Semua buaya berjejer rapi. Kemudian dia mulai menghitung, dengan melompat melangkah dari punggung buaya satu berikutnya, sambil menghitung. Akhirnya hitungan terakhir tidak sampai di sebarang. Jarak masih ada 10 meter ke pantai. Tetapi yg namanya monyet takut sama air. Akhirnya buaya terakhir disuruh menghantar dirinya ke seberang. Alasannya makanan mau diambilnya. Anggadapun mengunggang buaya ke pantai. Begitu sampai di pantai ia melompat. "Elo tunggu sabar dan tunggu. hadiah pasti datang." Kata Anggada sambil ngacir.Dalam hatinya ia berkata, “dasar buaya begok, mau saja gua tunggangin bahkan kekuatan taring yg Elo miliki tdk ada artinya”.

Tidak jauh dari pantai, sepasang mata mengawasi pemandangan dua mahluk tsb penuh dengan keheran-heranan. Seekor cecak merayap, penuh dengan tanda tanya di kepalanya. "Hmm.. kok aneh, buaya bisa menurut dan tunduk sama monyet?..he..he"

Anggada sedang di cafe, mikir; taktik, intrik, dan cara otak-atik.