Saat ini di Aceh negeri kelahiran saya begitu banyak masalah besar yang belum jelas penanganannya. Mulai dari APBD yang terserap kurang dari 50%, pemerintahan yang dijalankan tanpa arah yang jelas, korban tsunami yang masih belum mendapatkan rumah, banyaknya tapol yang belum dibebaskan, sampai amburadulnya penyediaan listrik oleh PLN.

Secara nasional, masalah juga tidak kurang parahnya. Belakangan ini, oleh pemerintah kita hampir tidak pernah disuguhi prestasi. Mulai dari persoalan Hukum sampai ekonomi, semuanya sangat memprihatinkan.

Dalam situasi seperti itu, tadi, di facebook seorang teman cyber saya yang sepertinya berprofesi sebagai wartawan menulis di statusnya "Numpang tanya, kelebihan bayar Rp100 kadang Rp500 di TELKOM dan PLN dari setiap pelanggan mengalir ke mana? Setiap bulan totalnya berapa, ya?"

Beberapa pembaca status itu yang sepertinya adalah teman-teman dari si pembuat status itu sendiri memberi komentar positif atas tulisan di status tersebut sehingga si pembuat status berpikir kalau apa yang dituliskannya itu adalah sesuatu yang menarik untuk diinvestigasi.

Saya yang merasa begitu banyak masalah kronis di negara ini dan secara khusus negeri kelahiran saya sendiri, merasa apa yang akan diinvestigasi oleh si pembuat status ini adalah hal yang tidak penting sama sekali.

Saya merasa investigasi yang akan dilakukan oleh teman cyber saya yang super idealis ini adalah seperti menawarkan pengobatan JERAWAT yang tumbuh di ujung bibir karena merusak penampilan kepada orang yang sedang menderita penyakit komplikasi jantung, ginjal dan darah tinggi. 

Maka secara spontan saya pun berkomentar "Nggak penting itu…"

Seorang komentator lain mengatakan "makanya biasakanlah kedisiplinan dan ketegasan kelebihan pembyran berp pun wlu cm 50 mntalah krn semua instalasi bgian pembyran ini tdk akan pernah mau klu tagihan pembyranya ini berkurang sesen pun jd km semua hrs bersikap dmkian seharusnya….". 

Pernyataan ini saya jawab dengan pernyataan "nggak penting itu kurasa, yang penting arus listrik jangan pernah putus, cape ngurusin yang kecil-kecil gini"

Si pembuat status ini rupanya tidak bisa menerima pernyataan saya di atas dan mengatakan "@ WWN: Tidak penting kalau dibandingkan 6,7 T. Tapi setiap tahun sepanjang zaman, berapa sdh yg terkumpul? Jadi penting juga Boss!"

Tidak peduli berapapun dana yang terkumpul dari aktivitas semacam itu. Dalam pandangan saya, saat negara ini dan terutama Aceh negeri saya mengalami berbagai masalah kronis seperti sekarang, mempermasalahkan soal remeh temeh seperti itu adalah sama sekali tidak perlu dan menghabiskan energi saja.

Saya merasa, ada skala prioritas dalam setiap penanganan. Adalah KONYOL kalau tidak bisa dikatakan mengalihkan isu. Ketika ada orang yang masih memikirkan JERAWAT, saat banyak energi yang dibutuhkan untuk mengobati komplikasi penyakit Jantung, Ginjal dan Darah Tinggi yang resikonya adalah MATI. 

Maka saya pun menjawab " Mungkin penting dan ada yang memperoleh manfaat dari itu, tapi hampir bisa dipastikan nggak ada yang benar-benar dirugikan dengan itu, pengaruhnya terhadap pengeluaran sama sekali nggak signifikan. Yang mempermasalahkan hal remeh-temeh begini di tengah tumpukan berbagai masalah besar hampir dipastikan cuma orang-orang nyinyir yang seolah nggak punya kerjaan lain.

Rupanya, KRITIK saya ini menyengat harga diri si tukang kritik ini, maka diapun membalas dengan sengit "@ WWN: Ini bukan masalah remeh-temen karena ada uang miliran rupiah di belakangnya. HANYA ORANG YANG DIUNTUNGKAN DARI PRAKTEK ITU YANG BILANG INI MASALAH REMEH TEMEH. Ini juga salah satu tumpukan masalah, Bos… Kalau Anda menyebut ini masalah remeh-temeh, pergi Anda tahu bahwa di beberapa negara, investigasi masalah ini juga sdh sering dilakukan. Mungkin buat Anda masalah uang ratusan juta kecil."

Ada dua ironi sekaligus dalam tanggapan si tukang kritik ini. Pertama, dengan mengatakan "HANYA ORANG YANG DIUNTUNGKAN DARI PRAKTEK ITU YANG BILANG INI MASALAH REMEH TEMEH", si tukang kritik ini jelas menunjukkan perilaku FASIS seperti yang biasa ditunjukkan oleh penguasa orde baru dulu. Saat itu rezim suka seenaknya memberi berbagai cap buruk dan melontarkan berbagai tuduhan ngawur tanpa bukti kepada siapapun yang berbeda pendapat dengan penguasa. Kedua, 
Pernyataan si tukang kritik ini menunjukkan masalah laten di negeri ini, dimana orang-orangnya sering merasa silau segala sesuatu yang berasal dari LUAR NEGERI, terutama barat. Di negeri ini segala sesuatu yang berasal dari BARAT terutama AMERIKA sering langsung ditelan bulat-bulat, tanpa terlebih dahulu didekonstruksi untu kemudian direkonstruksi agar sesuai dengan konteks permasalahan negeri ini. 

Maka menjawab tanggapan ini saya pun menyampaikan bahwa negeri ini memiliki masalah khasnya sendiri yang berbeda dengan permasalahan di Amerika, sambil tentu saja saya mengatakan bahwa apa yang dia tunjukkan dalam komentarnya di atas adalah perilaku FASIS.

Si tukang kritik yang merasa diri paling benar ini tentu saja tidak bisa menerima tanggapan saya, dia naik pitam…dalam tanggapannya selanjutnya, inisial saya tidak lagi dia sebut WWN tapi dia ubah menjadi WWF "@ WWF: Anda tentu tidak perlu menuduh orng yg mempertanyakan itu sebagai orang nyinyir kalo memang tdk diuntungkan dari praktek tsbt. Sekali lagi, bukan masalah remeh temeh dgn uang miliaran di tengah pelayanan buruk PLN spt skrng.Fasis adalah istilah yg nggak nyambung dalam masalah ini.Tq.", katanya.

Di negeri sinetron ini, dimana bungkus selalu lebih penting dibanding isi, keterus terangan seperti yang saya tunjukkan bukanlah suatu kelaziman. Di negeri yang mayoritas masyarakatnya menganut nilai sopan santun ala keraton Jawa yang penuh petita-petiti ini. Sebenar dan sejernih apapun sebuah pendapat, sulit untuk bisa diterima jika penyampaiannya dilakukan tanpa tedeng aling-aling. Sebaliknya, sekonyol dan secupet apapun sebuah pendapat, akan mendapat simpati jika si penyampai pendapat mengungkapkannya dengan gaya sopan santun tingkat tinggi, apalagi kalau penyampaian itu dibumbui dengan kesan sebagai orang yang teraniaya dan terzalimi. Tak pelak si penyampai pendapat ini pun akan kebanjiran simpati. Inilah sebabnya saat pemilihan presiden di negeri ini pemenangnya adalah SBY, bukan YUSUF KALLA.

Begitu pulalah yang terjadi dengan perdebatan saya dengan si tukang kritik ini, berbagai pernyataan saya yang terus terang tanpa tedeng aling-aling dianggap AROGAN, SOMBONG, TIDAK SOPAN dan berbagai cap buruk sejenis oleh si tukang kritik ini, pernyataannya ini pun segera diamini oleh teman-temannya. Sementara itu substansi dari pernyataan saya bahwa pembahasan yang dia bahas ini adalah urusan remeh temeh, sama sekali tidak bisa mereka patahkan. Karena kepepet si tukang kritik ini malah memaksa saya untuk belajar tentang etika ber-FB. (apakah pembaca catatan ini bisa menunjukkan kepada saya, lembaga khusus yang mengajarkan etika ber-FB?).

Dalam salah satu bab kitab Tao Te Ching yang berisi berbagai pemikirannya, Lao Tzu, seorang filsuf besar asal Cina mengatakan, "Mengakui salah saat berbuat salah adalah yang paling baik, sikap ngotot dan keras kepala saat berbuat salah hanya akan mempermalukan diri sendiri"

Begitulah yang dialami oleh si tukang kritik ini, saat kepepet ketika saya desak dia yang tetap mempertahankan pendapatnya bahwa mempermasalahkan uang receh saat pembayaran listrik dan telepon adalah hal yang penting untuk dipermasalahkan, dia mengatakan "Masalah besar terjadi justru dari akumulasi masalah kecil."

Tentu saja argumennya ini sangat lemah karena "Masalah besar terjadi dari akumulasi masalah kecil, seperti yang dia katakan itu hanya terjadi kalau masalahnya memang berkaitan dan sesuai konteks". Tapi kalau masalahnya tidak berhubungan, masalah kecil ya tetap jadi masalah kecil. Seperti "Penyakit JANTUNG dan GINJAL bukanlah merupakan akumulasi dari banyaknya JERAWAT".

Dalam perkembangan selanjutnya, si tukang kritik ini pun semakin menelanjangi dirinya sendiri dan semakin menegaskan kalau dirinya adalah pemuja negara sipilis AMERIKA. Dalam mempertahankan pendapatnya beberapa dia beberapa kali mengatakan bahwa masalah yang sama juga pernah diinvestigasi oleh Jurnalis Amerika yang pernah menjadi mentornya. Melalui berbagai pernyataannya ini saya melihat si tukang kritik ini seperti ingin meniru para ekonom american minded dulu yang mengadopsi bulat-bulat resep IMF yang dibuat ekonom Amerika yang sebenarnya dibuat dengan asumsi-asumsi yang sesuai dengan konteks di sana. Yang berhasil dengan sukses menghancur leburkan perekonomian negara ini.

Begitulah profil dari salah seorang tukang kritik di Aceh negeri saya.

Melihat perilaku yang dia tunjukkan, tidak heranlah saya kenapa ketika pemerintah dihujani kritik saat kinerjanya memburuk, banyak rakyat Aceh yang berkomentar, "Ah…paling yang mengkritik itu ribut karena nggak dapat jatah aja"

Wassalam

Win Wan Nur
http://www.winwannur.blog.com
http://www.winwannur.blogspot.com