Beberapa minggu lalu teman Jepang saya mengajak saya untuk ikut kegiatan menjadi relawan yang diadakan jurusannya. Teman saya itu sempat menjadi volunteer di Kamboja dan dulu lulusan Community Development di Jepang. Karena kami punya kesamaan (menyukai community development dan pernah berkunjung ke Kamboja) maka kami terbilang dekat. Mungkin karena kesamaan minta itu makanya dia mengundang saya ikut dalam kegiatan tersebut. Kegiatan yang akan kami adakan adalah bermain bersama anak-anak dan remaja pengungsi dari Sudan dan Afghanistan. Jurusan teman saya tadi adalah social work. Jurusannya bekerjasama dengan salah satu lembaga nirlaba di Adelaide ini membuat kegiatan tadi. Karena ingin tau bagaimana menjadi seorang volunteer dinegara ini, maka saya penuhi ajakan teman tadi.
Perlu diketahui bahwa pengertian relawan disini adalah mereka yang bekerja tanpa dibayar. Tidak dibayar dalam pengertian semua hal. Baik uang transpor maupun tidak dibayar makan (kecuali jika acara tersebut menyediakan makan maka si relawan akan diajak makan juga). 

Awalnya saya berfikir bahwa menjadi relawan ya..langsung saja nyemplung ke lapangan. Tapi ternyata tidak begitu. Saya harus mengurus clearance chek dari kepolisian (yang kemudian diurus oleh lembaga yang mengadakan kegiatan tadi). Clearance chek tadi semacam SKCK, kalau dibahasa Indonesiakan. Juga, saya harus mengikuti kepatutan bekerja dengan anak-anak. Kepatutan atau semacam sertifikasi ini harus dimiliki oleh setiap relawan, baik mereka yang akan bekerja bersama anak-anak atau mereka yang akan bekerja dengan orang tua. Teman Jepang saya tadi sudah mengikuti sertifikasi itu, karena disediakan oleh jurusannya. Sedangkan saya(karena bukan dari jurusan tadi) harus ikut sertifikasi itu jika ingin bisa berinteraksi dengan anak-anak. Tapi ternyata biayanya mahal sekali (jika dilihat dengan kaca mata orang Indonesia). Saya harus membayar sekitar $86 untuk satu sessi untuk mendapatkan sertifikat tadi. Jika diuangkan ke kurs Indonesia sekitar Rp.700.000. jadi, saya tangguhkan niat untuk mengikuti sertifikasi itu dengan konsekuensi saya tidak akan bisa dekat2 anak-anak tersebut. 

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 13-15 Januari 2010. Namun sebelumnya, kami sudah mengadakan pertemuan beberapa kali untuk membahas siapa melakukan apa, kegiatan2 apa yang akan dilakukan diacara tersebut dan siapa bertanggung jawab untuk apa. Juga meeting untuk mengurus police clearence seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Kami juga sudah menemukan orang2 profesional dibidangnya (seperti pelukis wajah, badut maupun pembuat kartu ucapan) untuk membantu kami diacara tersebut. Herannya, para profesional ini sama sekali tidak dibayar. Mereka melakukan kegiatan tadi betul2 sebagai volunteer. 

Saat breefing terakhir tentang model kegiatan yang akan dilakukan, ketua kelompok menyampaikan beberapa dress code (aturan berpakaian) yang harus diikuti oleh para relawan tersebut. Diantaranya adalah jangan memakai celana terlalu pendek bagi laki-laki dan perempuan dan khususnya bagi perempuan, jangan memakai tank top. Karena yang akan mengikuti kegiatan nanti adalah anak2 remaja (laki-laki dan perempuan), maka teman2 perempuan yang akan jadi relawan ini diminta untuk tidak menggunakan tank top, meski diperkirakan cuaca akan panas pada hari H..FYI, saat saya tulis catatan ini cuaca di Adelaide mencapai 39 derajat celcius. 3 hari kedepannya akan mencapai 41 derajat celcius. Jika cuaca akan menjadi lebih panas lagi maka kemungkinan acara tadi akan dibatalkan. 

Tank top dilarang bagi para relawan perempuan karena ini akan dianggap tidak menghormati “peraturan’ dalam agama islam bahwa perempuan harus berpakaian tertutup. Maka, teman2 bule itu diminta untuk menggunakan baju yang sopan, minimal menggunakan baju kaos yang berlengan. Tentu saja seruan ini tidak ditujukan kesaya, karena saya memang sudah betul2 menggunakan pakaian dalam kategori sopan (berjilbab). 

Saat itu saya sempat berfikir, betapa para relawan ini (yang sama sekali tidak dibayar) mau melakukan aturan yang menurut mereka pasti aneh. Kenapa? Karena dengan udara yang begitu panas, mereka biasanya sangat nyaman dengan menggunakan celana pendek dan baju tanpa lengan. Tapi supaya acara ini bisa sukses, mereka (mau tidak mau) harus mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan tadi. 
Saya berfikir, jika saya adalah salah satu kelompok mayoritas di Adelaide ini, pasti tidak akan saya indahkan peraturan yang nyeleneh itu. Bagaimana mungkin saya, yang terbiasa berbaju minimalis dicuaca yang sangat panas ini, harus menggunakan baju yang tertutup hanya untuk menghormati para pengungsi ini?? Sebagai mayoritas, tentunya saya akan menggunakan pakaian yang biasa saya pakai, yang nyaman untuk saya. Dan lagipula, bukankah mereka itu adalah pengungsi? Negara saya tidak mengundang mereka untuk datang ke negara kami (yang ternyata hanya membuat masalah dinegara kami). Masih untung saya mau bekerja volunteer yang tanpa bayaran untuk sekedar berbagi kebahagiaan dengan mereka, lalu mengapa saya harus mengikuti aturan mereka? (ck..ck..ck..aya..aya wae..*ngutip ucapan Pak wapres JK di acara republik mimpi di Metro TV*) 

Fikiran”nyeleneh” yang ada dikepala saya, saya sampaikan pada teman Jepang saya. Dan katanya, di Australia isu pengungsi dan rasism adalah isu yang sangat sensitif. Pemerintah berusaha untuk meminimalisir agar tidak terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Kata teman Jepang saya tadi, jika yang akan ditemui tadi adalah imigrant dari negara2 konflik di Amerika Selatan (misalnya Colombia,Equador atau Venezuela) mungkin peraturan tadi tidak akan seketat itu, karena ketiga negara tadi mempunyai budaya yang hampir sama dengan Australia. Tapi negara2 muslim kan mempunyai budaya berbeda, jadi pendekatannya juga harus berbeda. Begitu kata teman Jepang saya. 

Lembaga yang akan menghandle acara pertemuan mahasiswa dengan para pengungsi tadi juga memberitahu saya bahwa mereka juga mengajarkan hal2 yang berkenaan dengan budaya Islam pada pembuat kebijakan, pada volunteer dan staff agar mereka mengerti dan memahami apa yang boleh dan tidak boleh bagi kalangan pengungsi muslim. 

Dosen yang menghandle kegiatan ini sempat berbicara kepada saya dan berkata berterima kasih karena saya yang bukan mahasiswa jurusan tersebut tapi mau mengikuti kegiatan tersebut. saya bisa memahami mengapa beliau sempat berterima kasih, karena sama sekali tidak ada mahasiswa musliim yang ikut dalam kegiatan tersebut. Social work memang tidak populer bagi mahasiswa muslim bahkan mahasiswa Indonesia. Kebanyakan mereka memilih untuk mengambil jurusan pendidikan atau jurusan lainnya. 

Terlepas motif dan kepentingan yang diinginkan oleh para mahasiswa Australia tadi,saya jadi berfikir, betapa negeri ini begitu memahami mereka yang minoritas. Bahkan hal2 yang mungkin untuk mereka terasa menyiksa (memakai pakaian yang “sopan” meski di cuaca yang panas) tetap mereka lakukan, demi untuk menghormati orang lain. Semoga saya juga akan bisa seperti itu, menghormati mereka yang minoritas sehingga saya -yang merupakan kelompok mayoritas dinegara saya- tidak berbuat semena2 pada mereka yang minoritas.