Seminggu yang lalu, aku, anak dan istriku refreshing ke Gramedia Matraman. Hari itu kami menginap di rumah mertuaku di Kayu Putih, di seputaran jalan Pramuka. Rencananya hari itu aku bersama keluarga dan adik-adik istriku akan jalan-jalan ke Mall of Indonesia (MOi), Mall baru di daerah Kelapa Gading yang sebelumnya sudah memiliki Artha Gading dan Mall Kelapa Gading.

Tapi karena untuk pergi beramai-ramai seperti itu agak ribet urusannya, menunggu si ini mandi, nunggu si itu berdandan. Daripada nunggu nggak kepuguhan, aku sekeluarga memanggil taksi dan berangkat ke Gramedia Matraman. Di sana kami menemui banyak orang tua seperti kami yang mengajak anak-anaknya. Ada juga beberapa anak muda yang tampaknya mahasiswa, tapi jumlahnya sedikit sekali. Hampir tidak ada anak SMA dan SMP. 

Rupanya urusan mandi dan dandan berdandan adik-adik kami membutuhkan waktu cukup lama, sampai azan zuhur kami masih di Gramedia. 

Ketika mereka akhirnya siap, adik bungsu istriku yang duduk di kelas I SMA menelepon dan menanyakan kami mau dijemput di mana, istriku menjawab kalau kami ada di Gramedia Matraman.

"dimana itu kak?", tanya adik bungsu kami ini. Istriku pun menjelaskan dengan detail lokasi dan cara menuju ke toko buku yang berjarak sekitar sepuluh menit perjalanan dengan mobil dari rumah mertuaku ini.

Selesai menjemput kami mobil yang dikemudikan adik bungsu kami ini langsung menuju MOi, berbeda dengan Gramedia Matraman yang begitu asing baginya, padahal gedung itu sudah ada di sana jauh sebelum adik bungsu kami ini dilahirkan. Di Moi, pusat perbelanjaan yang masih sangat baru yang di beberapa bagian bahkan masih dalam tahap pengerjaan ini, adik kami ini tampak sangat familiar dengan setiap sudut pusat perbelanjaan ini.

Jika di Gramedia Matraman, susana begitu gersang tanpa kehadiran segarnya penampilan dan semangat muda para remaja. Di MOi, aku menyaksikan pemandangan yang begitu segar. Berbagai type remaja dengan berbagai penampilan ada di sana, mulai dari yang imut-imut bercelana mini nyaris menyentuh pangkal paha dan dengan polosnya memamerkan keindahan pusarnya sampai remaja berjilbab longgar ala akhwat PKS ada di sana.

Waktu kontrasnya pemandangan di MOi dan Gramedia ini kutanyakan kepada adik kami itu, "yaah…nongkrong di toko buku, cupu banget, nggak gaul, nggak gaya", katanya.

Adik yang lain yang ikut bersama kami, seorang mahasiswi tahun pertama. Penampilannya selalu modis dan koleksi baju yang dia kenakan tidak pernah ketinggalan zaman. 

Dulu sewaktu masih SMP adik ini memiliki penampilan yang sangat berbeda dengan sekarang.

Waktu itu, dia ini seorang kutu buku, memakai kacamata tebal dengan model rambut yang tidak macam-macam. Rok sekolah yang dia pakai panjang sampai menutupi lutut. Di sekolah prestasi akademiknya sangat baik, dia selalu mendapat peringkat pertama di kelas bahkan di sekolahnya, waktu itu dia sangat gemar membaca. Tapi untuk mendapatkan semua itu dia terpaksa harus rela mendapat cap CUPU dari teman-temannya. Dia dianggap "nggak gaul", tidak ada satupun cowok yang tertarik mendekatinya. Dia juga merasa sangat tertekan, karena seperti tersisih dari pergaulan sosial ABG seusianya. Meskipun prestasinya di sekolah sangat bisa dibanggakan, tapi adik kami ini sangat tidak bahagia.

Lelah tersisih seperti itu, masuk SMA adik ini bertekad mengubah penampilannya, tidak lagi cupu seperti waktu SMP. Kacamata tebalnya dia buang, diganti dengan lensa kontak berwarna biru lembut. Rambutnya yang panjang dan biasanya diikat ke belakang, sekarang dia potong dengan model terbaru yang terlihat modis.

Seragam sekolah yang dia pakai tidak dengan ukuran standar, kemeja sekolahnya dikecilkan sehingga mencetak bentuk badan, rok sekolahnya juga dia pendekkan sampai di atas lutut. Dia juga berusaha diet untuk menurunkan berat badannya yang agak kelebihan, tapi tidak pernah berhasil sampai kemudian dia memakai kawat gigi dan dengan itu, berat badannya benar-benar turun.

Dengan penampilan baru seperti itu, adik kami ini pun segera diterima di kalangan anak gaul di SMA yang baru dia masuki. Dan segera saja adik kami ini pun larut dalam budaya konsumtif ala anak-anak gaul seusianya. Dia tidak lagi merasa nyaman dengan handphone-nya yang lama, dia pun menggantinya dengan Nokia seri terbaru yang ada di pasaran. Saat Blackberry keluar, dia pun segera mengganti HP-nya dengan Blackberry. 

Oleh mertua saya, adik kami ini dimasukkan kursus Bahasa Inggris di EF yang menjadikan Cinta Laura sebagai Brand Ambassadornya. Tidak lama kursus di sana, untuk mengisi liburan sekolah, EF menyelenggarakan program "Home Stay" di Amerika dengan biaya Rp. 100 juta per anaknya, maksudnya untuk memperlancar bahasa Inggris siswa-siswa yang kursus di sana, adik kami ini pun segera mendaftar ikut program itu dan waktu liburan tiba langsung terbang ke Amerika. 

Sepulang dari Amerika, meskipun bahasa Inggrisnya tidak terlalu signifikan perkembangannya, adik kami ini pun segera menjadi jauh lebih populer dibanding sebelumnya. Apalagi sebelum ke Amerika pun adik kami ini sudah tampak begitu hebat di mata teman-temannya karena hampir setiap liburan dia mengunjungi kami yang saat itu tinggal di Bali. Tempat liburan yang terlihat begitu istimewa di mata anak-anak gaul Jakarta.

Berada dalam lingkungan seperti itu, penampilan menjadi jauh lebih penting dari apapun juga, kalau dia ketinggalan dia akan tersisih. Adik kami yang semasa SMP ini tidak pernah macam-macam dan membeli barang hanya sesuai kebutuhan sekarang berubah menjadi sangat konsumtif.

Ini terjadi karena tema percakapan antara adik kami ini dengan teman-teman barunya memang tidak jauh-jauh dari urusan penampilan dan belanja. entah itu baju gaya terbaru, sepatu model terbaru, model rambut terbaru dan sejenisnya. Sejak diterima di lingkungan ini adik kami ini pun mulai akrab dengan kosmetik pemutih warna kulit, suntik vitamin C dan berbagai jenis aktivitas untuk mempercantik diri.

Dengan itu dia pun semakin diterima di lingkungan barunya.

Perubahan lain yang sangat mencolok pada diri adik kami ini adalah; jika dulu tidak seorang pun cowok yang mau mendekatinya, sekarang begitu banyak cowok yang antri untuk berusaha mendapat perhatian adik kami yangh populer ini. Karena pergaulan yang sudah berubah ini, type cowok yang diharapkan adik kami ini untuk menjadi pacarnya pun berubah. 

Di kalangan teman-teman se geng-annya. Tentu saja pembicaraan tentang cowok adalah salah satu tema favorit.

Dalam lingkungan remaja konsumtif seperti itu, tentu saja type cowok ideal bukanlah cowok yang pintar, alim atau pengertian. Tapi cowok keren di mata mereka adalah cowok konsumtif, makin konsumptif cowok itu, makin keren pula mereka terlihat di mata gadis-gadis muda se geng-an adik kami ini . Maka ketika berbicara tentang cowok, mereka akan membicarakan cowok itu naik mobil apa, velg mobilnya racing apa enggak, 19 inchi apa enggak, mobilnya modifikasi apa enggak, dan sejenisnya. Dan ajaibnya, cowok-cowok sejenis ini lah yang antri mencoba menarik perhatian adik kami yang semasa SMP sangat tidka populer dan bahkan cowok biasa-biasa pun tidak tertarik mendekatinya.

Sekarang, cowok yang naik mobil sekelas panther tahun 2002 apalagi taft atau rocky, apalagi naik MOTOR sama sekali tidak masuk perhitungan adik kami ini. Sampai hari ini adik kami ini merasa tidak nyaman kalau berpergian naik mobil sejenis itu, daripada naik panther atau rocky, dibadningkan itu, dia lebih memilih naik taksi, bahkan Bajaj.

Cowok-cowok ABG yang konsumtif itu tentu masih belum bisa membiayai sendiri selera konsumtifnya, tapi orang tua merekalah yang membiayai segala 'kebutuhan' mereka. Maka ketika menilai keren atau tidaknya seorang cowok, adik kami ini dan teman-temannya melihat pekerjaan orang tua si cowok itu apa. Pegawai negeri, jels tidak masuk hitungan. Cowok itu terlihat keren kalau bapaknya adalah pengusaha, pejabat dengan jabatan basah di satu instansi dan yang paling keren di atas semuanya adalah anak dari anggota DPR.

Dulu saya tidak mengerti kenapa anak anggota DPR malah terlihat lebih keren dibanding anak pengusaha. Tapi belakangan dengan banyaknya anggota DPR yang ditangkap KPK, saya jadi mengerti, status sebagai anggota DPR ini rupanya cukup basah juga. Saya lebih mengerti lagi katika menonton Mata Najwa di Metro TV dan dalam acara itu Ali Muchtar Ngabalin, mantan anggota DPR RI periode lalu, menjelaskan betapa besarnya kuasa DPR atas anggaran, betapa banyak pejabat-pejabat daerah yang datang melobi ke Jakarta agar anggaran untuk daerah mereka digolkan. 

Untuk mencapai maksudnya para pejabat daerah yang khusus datang ke Jakarta untuk melobi anggaran itu tidak segan menggelontorkan sejumlah besar uang yang diminta anggota DPR tersbut. "Kalau kita mau, sebagai anggota DPR, gampang sekali bagi kita kalau sekedar untuk mendapatkan uang 20 juta sehari", Begitu kata Ali Muchtar Ngabalin untuk menggambarkan betapa 'basah'nya kursi DPR RI itu.

Dengan apa yang digambarkan oleh Ali Mochtar Ngabalin itu, sayapun segera paham kenapa di kalangan remaja gaul nan konsumtif seumuran adik kami ini, anak dari seorang anggota DPR terlihat begitu istimewa.

Beberapa gelintir orang mampu menjaga prestasi sekolah seiring dengan penampilan. Tapi adik kami ini bukanlah termasuk ke dalam kategori yang beberapa gelintir itu. Sejak pergaulannya berubah bersama teman-temannya yang baru, prestasi sekolah adik kami yang dulunya sangat pintar ini terjun bebas. Saat akan naik ke kelas tiga, dia bahkan tidak naik kelas. Waktu itu guru wali kelasnya memanggilnya dan kalau adik kami ini ingin naik kelas, guru wali kelasnya ini secara terang-terangan menyebutkan nominal sejumlah uang di kisaran bilangan jutaan. Saya sangat bisa memaklumi permintaan guru kelas adik kami ini, karena sebagai warga Jakarta, tentu anak-anak dari guru kelas adik kami ini juga butuh Blackberry agar bisa diterima di lingkungan pergaulannya, agar tidak tersisih dan dianggap cupu.

Dulu saat masih di SMP adik, kami ini selalu paling nyambung kalau berbicara dengan kami, dia sangat mengerti setiap perubahan sosial, soal budaya dan lain sebagainya. Maklum dia memang suka membaca. Sekarang, global warming saja seperti apa dia tidak paham.

Lalu dengan itu semua menyesalkah adik kami ini?. Sama sekali tidak, prestasi sekolahnya boleh terjun bebas, pengetahuan umumnya boleh tak bisa dibanggakan. Tapi di lingkungannya dia sangat dikagumi, dia menjadi incaran cowok-cowok gaul nan keren. Rasa percaya dirinya naik berlipat-lipat, jika dulu saat prestasi sekolahnya membanggakan dia yang begitu ingin diajak berteman tapi orang-orang seperti sengaja menjauhinya. Sekarang justru sebaliknya, orang-orang, baik cewek apalagi cowok merasa bangga kenal apalagi berteman dekat dengannya.

Meskipun prestasi sekolahnya hancur lebur, kami bisa menyaksikan sendiri kalau sekarang adik kami ini merasa sangat bahagia.

Begitulah ketika perilaku konsumtif dijadikan DEWA.

Wassalam

Win Wan Nur
http://www.winwannur.blog.com
http://www.winwannur.blogspot.com