Kata Tuhan selalu mewarnai sejarah manusia, mungkin sejak manusia mulai mampu berfikir dan merefleksikan dirinya sendiri. Perjalanan panjang spesies homo sapiens menjadi manusia modern seperti sekarang ini adalah perjalanan berliku yang membutuhkan usaha keras manusia sendiri dan faktor keberuntungan kosmik. 'Tuhan' adalah salah satu proses alamiah sejarah homo sapiens yang sedikit banyak membantu membentuk konsep 'manusia' itu sendiri.

Mari kita beranjak dari sejarah manusia itu sendiri. Dimulai 3,5 milyar lalu ketika RNA pertama terbentuk yang kemudian berubah lebih kompleks menjadi double helix DNA. Kemampuan mengkopi diri ini menjadi cikal bakal kehidupan di muka bumi. Sampai 600 juta tahun lalu ketika spesies dinosaurus menapaki bumi dan berkuasa di muka selama lebih dari 540 juta tahun lamanya. Kejadian katastrofal jatuhnya sebuah meteor 60 juta tahun lalu di Semenanjung Yucatan Mexico membuat bumi menjadi neraka bagi spesies berukuran besar dan akhirnya mengakhiri dinasti dinosaurus, di saat yang sama memungkinkan mammalia yang berukuran lebih kecil menguasai bumi sampai sekarang ini.

Sampai kira-kira 7 juta tahun lalu hominid mulai berkembang dan mulai berjalan tegak di belahan dunia Afrika. Dalam kurun waktu 7 juta tahun inilah manusia modern memisahkan dirinya secara genetis dengan saudara-saudaranya simpanse, bonobo, makak, gorilla, dan great apes yang lain.

75.000 tahun lalu, Danau Toba (waktu itu masih berbentuk gunung) meletus dengan kekuatan ribuan kali letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Imbas yang diperoleh sama dengan jatuhnya meteor di Semenanjung Yucatan, menjadikan bumi seperti oven karena efek rumah kaca dari debu dan partikel yang bertebaran di atmosfir menghalangi sinar matahari untuk masuk dan mengiluminasi kehidupan bumi. Spesies homo sapiens mengalami masa paceklik panjang yang hampir menyebabkan kepunahan spesies manusia. Di masa itu, tidak lebih dari 5.000 nenek moyang kita selamat dan akhirnya menurunkan gen-nya kepada kita sampai saat ini. Ini yang menjelaskan kenapa betapapun berbedanya tampak luar manusia modern dari sisi warna kulit, rambut, ras, dan bentuk tubuh, secara genetika 6 milyar manusia lebih manusia yang ada sekarang ini hampir sama persis.

Garis spesies hominid cukup banyak dan beberapa diantaranya mampu bertahan hidup sehingga sampai 30.000 tahun lalu masih ada saudara sepupu manusia modern yaitu Homo Neanderthalensis yang banyak hidup di belahan dunia Eropa sampai ke Cina, dan tak lupa Homo Hobbit Floresiensis di Kepulauan Nusa Tenggara.

Kebudayaan manusia yang lebih kompleks ada belum terlalu lama, diperkirakan kira-kira selama 20.000 tahun terakhir dari 5 ribu juta (5 milyar) tahun umur bumi. Konsep Tuhan tumbuh juga dalam masa ini, spesies yang sebelumnya hanya sibuk dengan mempertahankan hidupnya dari ke hari, memulai mencari sandaran vertikal atas hal-hal yang tidak diketahuinya atau belum diketahuinya. Tentu pada mulanya hal-hal sederhana dalam alam yang mempesona manusia, seperti petir, badai, air terjun, api, dan sebagainya. Di masa seperti itu, banyak nenek moyang kita yang menyembah kejadian-kejadian alam itu karena mereka sama sekali tidak tahu mengapa hal itu ada dan terjadi. Mereka memberi atribut-atribut kehidupan (roh atau ruh, dan Tuhan) kepada kejadian setiap kejadian alam yang mempesona.

Lambat laun mereka mulai mengerti bahwa yang disembahnya adalah kejadian alam biasa. Maka merekapun mencari sandaran vertikal yang lebih kompleks dan sophisticated. Mulailah penyembahan-penyembahan benda kosmik seperti matahari, bulan, dan bintang. Ketiga benda kosmik ini cukup jauh letaknya dengan manusia sehingga mampu menjadi 'Tuhan Penutup Lubang' atas ketidak tahuan manusia kala itu. Kejadian-kejadian alam yang tidak bisa dimengerti, seperti turunnya hujan, terbentuknya sungai, terjadinya gunung dan lembah, dsb diatributkan ke Tuhan. Lubang pengetahuan (knowledge gap) yang tidak dimengerti akan diatributkan ke Tuhan.

Seiring bertambahnya kecerdasan manusia, Tuhan-tuhan benda kosmik ini menjadi tidak memuaskan. Semakin lama nenek moyang kita semakin tahu bahwa matahari, bulan, dan bintang juga adalah benda langit biasa. Maka terbentuklah kebutuhan untuk mencari 'Tuhan Penutup Lubang' yang lebih kompleks dan lebih jauh lagi dari manusia. Maka terciptalah Tuhan imanen dan Tuhan personal yang abstrak. Tuhan imanen dan personal ini menjadi manifestasi dari prinsip antroposentrisme manusia. Nenek moyang kita selalu merasa bahwa kehadirannya di bumi ini merupakan bagian dari rencana besar semesta. Tuhan didesain sedemikian rupa sehingga cocok dengan kebutuhan nenek moyang kita, baik itu secara an sich maupun fur sich. Idiom-idiom narsis seperti Imago Dei, Nur Muhammad, dan lain sebagainya adalah relik sejarah yang intinya memproklamirkan bahwa Tuhan secara dzat dan kehendak adalah dzat dan kehendak manusia itu sendiri.

Periode keberagamaan Jaman Kapak (kira-kira 600 SM) yang cukup radikal mengubah pola keber-Tuhanan yang sangat antroposentris menjadi lebih atheis dan rasional tetapi di saat yang sama menjadi semakin abstrak dengan tetap memegang fungsi sebagai 'Tuhan Penutup Lubang' . Sebelum Jaman Kapak, ada Agama Hindu yang menganut dualisme ke-Tuhanan yang cukup kompleks, Tuhan itu satu tetapi juga sangat banyak. Tuhan memanifestasikan dirinya dalam dewa-dewa yang tak terhitung jumlahnya, sehingga setiap manusia bisa memilih Tuhan seperti apa yang dia kehendaki dan dipuja. Secara salah banyak orang menganggap Hindu adalah agama politheis.

Dari tradisi dualisme keTuhanan, anak benua India melahirkan semangat reformasi atheisme dalam agama Buddha dan Jain. Tuhan dalam kedua konsep agama ini hanyalah hasil pikiran manusia, dan tidak berpengaruh dalam proses pencerahan dan pencarian kebahagiaan kemanusiaan. Di saat yang hampir bersamaan, benua Eropa melahirkan konsep keTuhanan rasional ala Yunani. Di dataran besar Asia (Cina) melahirkan Konfusianisme dan Taoisme yang semi atheis.

Dan akhirnya lahirlah konsep keberagamaan monotheis ala Timur Tengah yang termanifestasi dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Monotheisme ala Zoroaster yang masih sederhana, dikembangkan lagi dan diinstitusionalisasi lebih lanjut dalam era ini. Monotheis eksklusif Yahudi merupakan konsep beragama yang kalau dibandingkan dengan konsep Jaman Kapak bisa dibilang medioker. Selain Tuhannya yang cenderung macho, pro patriarki, anti kritik, dan sangat pencemburu dan pendendam, agama Yahudi adalah satu-satunya agama di dunia ini yang mengkhususkan diri pada satu ras atau golongan tertentu.

Agama eksklusif ini kemudian direformasi untuk menjadi lebih inklusif oleh Yesua (Yesus) dan di saat yang sama menjadikan Tuhannya lebih lunak dan penuh kasih. Sayangnya, ajaran ini dibajak 4 abad setelah Sang Yesus wafat oleh seorang Kaisar Romawi Konstantin yang ingin memanfaatkan agama sebagai instrumen politik untuk melanggengkan kekuasaannya. Di era itu juga konsep Trinitas dijadikan ajaran resmi dalam Konsili Nicaea II, ritual Hellenisme Yunani diambil alih dan dimodifikasi menjadi ritual Kristenitas, dipilihnya 4 gospel utama Mathius, Lukas, Yohanes, dan Markus dengan memusnahkan puluhan gospel yang lain yang untungnya ditemukan akhir-akhir ini di Nag Hammadi Mesir, dan yang tak kalah penting dijadikannya Kristen sebagai agama resmi Kerajaan.

Islam dihadirkan 3 abad kemudian di jazirah Arabia yang inti ajarannya merupakan reformasi dari agama Yahudi dan Kristen. Tuhannya tetap monotheis, dengan menghilangkan ambiguitas Trinitas, tetapi dalam banyak hal masih mempunyai Tuhan yang sama karakter dan ontologinya. Struktur ajarannya dimodifikasi Muhammad dan mirip dengan tradisi Manichaeisme dari Iran yang waktu itu masih banyak dipeluk di Iran, Afghanistan, Pakistan, sampai India. Muhammad berhasil menyebarkan ajarannya di semenanjung Arabia semasa hidupnya, namun setelah itu lagi-lagi dibajak oleh monarki Muawiyah, notabene musuh Muhammad pada permulaan perjuangannya mengajarkan Islam yang akhirnya berhasil menggunakan agama Muhammad untuk kepentingan politik kekuasaannya di masa setelah Muhammad wafat.

Agama monotheis ini sampai saat ini menjadi agama terbesar bumi yang kalau digabungkan dipeluk oleh dua pertiga manusia. Kemunduran secara teologis mungkin dibandingkan dengan konsep teologi agama jaman kapak, tetapi karena politik kekuasaan membantu agama monotheis ini (terutama Kristen dan Islam), maka penyebarannya menjadi efektif dan cepat. Apalagi Kristen dan Islam yang secara an sich inklusif dan mempunyai jiwa proselitas.

Setelah masa keberagamaan monotheis ini, masih saja muncul agama-agama baru seperti Sikh, Baha'i, Rastafari, Lia Eden, dsb yang sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Tetapi yang patut dilirik adalah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimungkinkan adanya pola keberagamaan baru yang dahulunya belum pernah ada secara jelas yaitu pola keberagamaan tengah-tengah. Pola keberagamaan yang sebenarnya kompromi atas agama konvensional yang dianggap tidak mampu menjelaskan keresahan jaman dan lubang pengetahuan yang ternyata masih lebar menganga.

Pola keberagamaan deis yang menganggap Tuhan itu ada, tetapi tidak mungkin Dia menurunkan agama. Pola ini muncul sebagai kritik atas polarisasi Kristen Katolik dan Protestan kala itu. Founding Fathers Amerika Serikat seperti George Washington, Thomas Paine, dan Thomas Jefferson adalah penganut Deis. Ada pula Agnostis yang menganggap bahwa ada 'sesuatu' yang mendesain alam semesta ini, tetapi tidak memutuskan apakah itu Tuhan, energi, atau apapun. Ilmuwan terutama dalam bidang astrofisik banyak yang berkeyakinan seperti ini, selain tentunya sebagian besar yang lain atheis. Ada pula yang menjadi pantheis seperti Albert Einstein dan Baruch Spinoza, yang menganggap bahwa Tuhan adalah semesta itu sendiri.

Sains sendiri dalam batas-batas yang ada sekarang ini belum mengijinkan seseorang untuk percaya Tuhan 100% ataupun tidak percaya Tuhan 100%.