"Jing, bisa keluar? Kalau bisa ke sini, tolong bawain Jangkrik Dua ya."

Rasanya sudah lama sekali tak mendengar istilah Jangkrik itu digunakan, sampai semalam pesan pendek itu nongol di layar HP saya.

Nomor pengirimnya sih ndak jelas. Pasti HP pinjeman. Tapi dari istilah jangkrik dan identitas yang ditulis di akhir sms, saya tahu itu dari temen lama saya.
Sebut saja namanya Djenggo.

Sebetulnya agak bimbang juga. Masalahnya tanggung bulan seperti ini, isi dompet rasanya tinggal selembar, dan hari gene Jangkrik 2 rasanya nggak mungkin kalau seharga 2 ribu perak.

Tapi namanya juga jangkrik…

* * *

Djenggo teman satu almamater dengan saya. Hanya dia dari akademi akuntansi.
Setelah bertahun-tahun tak kedengeran kabarnya, Mei 2006 yang lalu saya menjumpai dia di sebuah Mall di Bogor ketika sedang belanja bulanan bersama anak-istri.

Saya sih ndak begitu heran ketika mendapati Djenggo sekarang bekerja jadi security (satpam) sebuah toko peralatan rumah tangga di mall itu. Soalnya sejak jaman kuliah, rasanya Djenggo memang lebih fasih menggunakan otot ketimbang kepalanya.

Jadi kalau anak akuntansi lain begitu mementingkan prinsip balanced, si Djenggo mah sepertinya cuma ngerti prinsip balanced dalam bentuk mata bayar mata, gigi bayar gigi.

Yah, jujurnya anak Kemayoran ini dulunya memang tergolong manusia petongkrongan yang pasang tatto JAGAL BESI di lengannya.
Alhamdulillah, lantaran sekarang sudah beranak tiga, tattonya pun sudah berubah menjadi JAGALah keBErSIhan.

* * *

Tapi si Djenggo salah satu teman baik saya di kampus dulu. Di luar bahasa b***gsat dan panggilan 'nj*ng' yang senantiasa meluncur, ada kehalusan budi yang saya tangkap dalam dirinya, dan membuat saya suka berteman dengannya.

Setia kawan, itu sih sudah pasti. Sekali saya pernah membantunya waktu ia tak diijinkan ikut ujian akhir gara-gara alasan administratif, (yang mana itu berarti seluruh mata kuliahnya akan mendapat nilai E – alias tak lulus- dan berarti pula uang bayaran SPPnya terbuang percuma).

Setelah kasak-kusuk menembus birokrasi kampus dan diwarnai tepuk-tepuk meja sedikit, akhirnya ia berhasil diijinkan mengikuti ujian. Memang hasilnya nasakom, tapi paling tidak tiga atau empat mata kuliah masih bisa lulus.

Gara-gara bantuan yang cuma sekali itu, si Djenggo berkali-kali pasang badan waktu saya ketemu perkara-perkara yang tak bisa diselesaikan dengan tepuk-tepuk meja.

Gebleknya, tanpa diminta, dan tanpa setahu saya. Jadi saya yang terheran-heran kenapa bocah yang kemarin sudah ngelus-ngelus botol di hadapan saya, tiba-tiba esok harinya sudah ngangguk-ngangguk ngasi salam sambil senyum asem, atau bahkan menjabat tangan saya erat-erat.

* * *

Sejak pertemuan pertama Mei yang lalu, beberapa kali saya ketemu lagi. Tapi karena selalu bersama anak-istri, paling hanya sepuluh lima belas menit saya mampir ke tempat ia berjaga dan ngobrol sedikit-sedikit. Jadi di luar perkembangan ia sudah menikah, pindah rumah ke citeureup, dan sudah beranak tiga (anaknya yang ketiga baru lahir dua bulan lalu), saya tak pernah tahu kondisi si Djenggo sekarang sebenarnya.

Sampai tadi malam.

* * *

"Masih maen jangkrik lu jing…"

Si Djenggo cuma nyengir lebar. Perawakannya yang gempal berotot, dengan bobot nyampe 80 kg itu jadi lucu dalam kombinasi seragam security, dan cengiran lebarannya. Basa-basi dan ha-ha-hi sebentar, lalu satu-satu meluncur ceritanya.

Bagaimana kerjanya jadi satpam toko itu hanya dibayar 750 ribu per bulan. Tanpa uang makan, tanpa tambahan transport. Bagaimana jam kerjanya 12 jam perhari (start jam delapan berakhir jam sepuluh malam).

Bagaimana kalau lembur untuk rekap stock yang mulai dari sepuluh malam sampai pagi cuma dikasih 10 ribu tanpa uang makan atau tambahan apapun.

Bagaimana ongkos transportasi dari rumah ke tempat kerjanya minimal 4000 sekali jalan (8000 pp). Bagaimana sisa pendapatannya yang kurang lebih 500 ribu untuk biaya hidup (makan) 4 orang anggota keluarganya selama sebulan kini harus pula dikurangi karena ia harus mencicil hutang biaya persalinan anaknya yang ketiga.

Dan sebagainya. Dan seterusnya.

* * *

Memang cerita seperti itu seperti cerita basi. Sudah terlalu banyak kita dengar, atau bahkan mungkin kita alami sendiri.

Seperti pula ceritanya kemudian, kalau hari itu, uangnya tinggal delapan ribu, sementara beras habis sejak kemarinnya, sehingga pagi hari itu empat ribu digunakan untuk beli beras, dua ribu ditinggalkan pada sang istri untuk membeli lauk, dan dua ribu sisanya digunakan untuk ongkos pergi ke tempat kerja.

Supaya suasana ndak seperti liputan pengajian di tivi yang penuh tangisan, saya juga sesekali nyeletuk dengan nada gak peduli setan sama ceritanya.

"Kasian amat lu jing."
"Kok belom mampus juga lu?"
"Lagian dari dulu lu masih goblok aja…"
"Pantes idup lu susah, masih doyan nembak kondektur aja sih lu."

Tapi tetap saja, ada rasa mau pingsan ketika ia sampai pada bagian cerita…

"Untung anak gue nggak rewel kalau dikasih makan nasi pake garem…"

Tapi nggak gagah pisan kalau saya harus pingsan di hadapan si Djenggo.
Jadi saya mendesis saja dengan nada sedingin batu es, dan bergaya ala mafia kapiran.

"Gue denger lagi anak lu makan garem gua gamparin lo.
Jadi bapak tanggung jawab. Usaha kek… Paling enggak SMS.
Ngejangkrik. Kan nomor ada. Bloon dipiara…"

* * *

Karena maksud hati pingin bawa si Djenggo ke rumah, siapa tahu ada secangkir dua cangkir beras dan sesendok minyak yang bisa dibawain, saya putuskan nunggu si Djenggo sampai jam kerjanya berakhir.

Gile, jadi satpam itu ternyata berat.
Baru sejam lebih sedikit berdiri, kaki saya udah mulai pegel, dan bokong jadi pengen nyari kursi.
Padahal jam kerjanya masih tersisa sekitar satu setengah jam lagi.

Jadi malu ati juga, karena kebayang belum dua minggu lalu, di mall yang sama saya sempet adu urat sama seorang satpam toko buku yang meminta saya membuka jaket dan menitipkannya di tempat penitipan.

Lantaran kadung sebel lihat muka asem, dan cara memintanya yang (menurut saya) ndak enak didenger, saya ngotot gak mau buka jaket. Demi perngototan saya ajukan saja perjanjian, kalau saat saya keluar saya bersedia diperiksa, kalau takut saya nyolong buku.

Sewaktu sang satpam akhirnya mengijinkan dengan tampang yang dua kali lebih asem, saya tak beranjak dari hadapannya dengan tatapan langsung ke wajahnya yang bernada, "Kenapa? Gak Suka? Ayo gampar-gamparan." Sampai akhirnya si satpam yang lebih dulu melengos meninggalkan saya.

* * *

"Terus seharian lu udah makan?"

Karena ia menggeleng, saya kompori saja untuk minta teman securiti lain jaga posnya, lalu ia saya gelandang ke satu lantai di atas.

"Ada nasi goreng goceng kan? Makan dulu 'jing. Ntar keburu tutup."

Di atas, Djenggo makan dengan kecepatan melebihi kecepatan suara.

"Sory, gua makan kayak setan…"

Baru sedetik kemudian ia sadar tak ada pesanan hidangan yang datang untuk saya.
Saya memang ga lapar. Lagian duitnya mending buat jangkrik kan?

"Lha, lu ga makan?"
"Gak. Liat muke lu gue malah pengen muntah."

* * *

Sebenernya sambil ngeliatin dia makan saya kepikiran sama satpam toko buku itu.

Kalau tak melihat sisi dalam, memang wajar juga kalau kita nuntut satpam berlaku manis dan sopan.
Kalau mau memperingatkan, mbok ya intonasi suaranya jangan bernada menghardik yang bisa bikin orang esmosi. Tapi kalau dipikir kemungkinan si satpam seperti kasusnya si Djenggo, mungkin tuntutan itu akan berubah total.

Sudah capeknya bediri sekian jam, dengan kantong bener-bener lempeng (lurus), perut laper belom makan seharian, sambil pula mikirin, "dengan dua ribu perak, anak-bini gue di rumah makan apa ye.."

Lalu masih ditambah pula sepanjang hari melihat citra keadilan sosial yang sangat mulia, ketika ratusan pengunjung lalu lalang sambil ngemut eskrim atau ngeganyem crepes, hilir mudik bawa trolly berisi belanjaan yang nilainya bisa lima kali lipat gaji sebulan, bocah-bocah di bawah umur yang petakilan lari sana-lari sini sambil melambai-lambaikan duit gocapan seakan ga ada harganya, pasangan muda-mudi yang wakuncar jalan-jalan sore sambil buang-buang duit ortu yang mungkin lagi setengah pingsan bediri ngejagain toko, yang pemilik usahanya ngebayar 10 jam lembur cuma 10 rebu perak.

Sudah gitu masih juga ada pengunjung twengil yang belaga beli buku tebel-tebel, padahal ga bisa baca kalimat sederhana dalam pengumuman di atas tempat penitipan : "Jaket dan Tas Harap Dititipkan"

*sigh*

* * *

Saat berikutnya mengunjungi toko buku itu, mungkin saya akan menjabat tangan si satpam. Berucap dalam hati saja seutas kata sory.

Atau paling tidak kalau lain kali ada satpam menegur dengan wajah masam, saya tepuk bahunya dengan bersahabat, sambil senyum dan berkata,
"Terimakasih sudah mengingatkan."

Dan mensikapi wajah masamnya dengan empati,
"Bapak kelihatan lelah sekali. Sudah makan?".

Atau lebih baik lagi (kalau punya) selipin duit goceng atau cebanan.
"Ganjel perut dulu pak…"

Bisa?
Belum tentu. Tapi semoga saja muka lecek si Djenggo bisa mengingatkan saya.

* * *

Maksud hati sebenarnya pengen nutupi kenyataan isi dompet saya sudah ludes berubah jadi jangkrik piaraan si Djenggo.
Tapi akhirnya ketauan juga waktu di gerbang keluar parkir saya sadar kali ini saya yang sudah ndak punya duit sepeser juga.

"Bayar jing. Tiga rebu…"
"Heh? Kok gue yang bayar?"
"Duit gue kan lu piara semua. Dompet tinggal SIM sama KTP noh."
"B***gsat. Sok kaya sih lo."

Digituin, bisa apa lagi selain cuma bales pake nyengir doang.

* * *

Saya nggak mau bilang dari orang kecil kita belajar hal-hal besar.
Saya lebih suka bilang, dari orang kecil kita belajar banyak hal kecil.
Karena seringkali hal itu begitu kecil, sehingga malah luput dari tatapan kita.

Dan sebenarnya sungguh menyenangkan kalau kita memiliki kemampuan agar bisa memberi kesempatan sosok orang kecil untuk menjadi besar.

Semoga anda bisa.
Karena sayangnya saya belum.
Tapi sedikitnya saya mencoba.

Di akhir perjalanan, di muka rumah kampung seukuran tipe 21-nya. Saya jabat erat tangan si Djenggo yang kerepotan dengan kantong kresek di tangannya, sambil menawarkan satu kesempatan untuknya.

"Jing, ada yang bikin macet negosiasi di Bali. Kalo dikasih duit, lu mau beresin?"

Dia menjawab antusias.

"Siapa?"

"George Bush"

Lumayan, tawa dan salam "Setan-loe" dari si Djenggo bisa menghangatkan perjalanan pulang di malam yang dingin itu.
Tapi somehow, hati saya masih terus mengigil.

Sentaby,
DBaonk