“According to the United Nations' Human Development Report (2005), the most atheistic societies—countries like Norway, Iceland, Australia, Canada, Sweden, Switzerland, Belgium, Japan, the Netherlands, Denmark, and the United Kingdom—are actually the healthiest, as indicated by measures of life expectancy, adult literacy, per-capita income, educational attainment, gender equality, homicide rate, and infant mortality.Conversely, the fifty nations now ranked lowest by the UN in terms of human development are unwaveringly religious” Sam Haris, The Myth of Secular Moral Chaos, june 4, 2007

Di atas merupakan petikan dari salah satu kalimat Sam Haris dalam artikelnya, “The Myth of Secular Moral Chaos.” Bukan isapan jempol belaka, gereja-gereja di Eropa dan masjid-masjid di berbagai belahan dunia perlahan ditinggalkan oleh para penganutnya. Ini pertanda bahwa ritual beserta segala macam pernak-pernik agama sudah tak mampu menjawab kebutuhan masyarakat di era pasca modern. Walaupun masih banyak masyarakat “malu-malu mau” meninggalkan agama mereka, tanpa disadari banyak dari mereka yang telah menjadi seorang agnostik maupun atheis.

Tuhan maha kuasa, justru membuat manusia semakin tak berdaya, menjadikannya lemah. Tuhan bagi masyarakat pasca modern, tak ubahnya sosok tiran pemaksa manusia dengan hukuman abadi, agar manusia mematuhi semua aturan keagamaan. Tuhan yang selalu mengotak-ngatik aturan kehidupan telah membatasi kreatifitas manusia.

Jean- Paul Sartre (1905-1980) telah lama menyampaikan bahwa, “sekiranya tuhan sungguh-sungguh ada, dia tetap perlu ditolak, sebab gagasan tuhan menafikan kebebasan kita. Agama tradisional menganjurkan kita mesti menyesuaikan diri dengan tuhan tentang kemanusiaan untuk menjadi manusia seutuhnya.” Lebih jauh lagi Friedrich Nietzsche (1882) telah memplokmirkan “tuhan telah mati”

Hilangnya keberadaan tuhan ini akan cukup melegakan. Manusia bisa menjadi lebih bebas mengekspresikan intelektual dan kreatifitasnya tanpa harus terikat oleh tuhan peneror masa kanak-kanak, beserta aturan agama yang semakin membosankan. Tanpa tuhan ini justru manusia dapat meningkatkan kualitas kehidupannya, seperti dalam petikan artikel Sam Haris di atas. Banyak intektual pandai dan hartawan adalah orang-orang agnostik maupun atheis, yang telah berhasil membunuh tuhan kecil dalam kehidupan mereka.

John Robinson, sejak lama menyadarinya, Uskup Wooleich ini, melalui bukunya Honest to God (1963), menyatakan bahwa dia tidak bisa lagi tunduk kepada tuhan personal lama yang berada “di luaran sana,” pernyataannya tentu menimbulkan kegemparan di Inggris.

Don cupitt, Dekan Emmanuel College, Cambrige juga menyadarinya bahwa penyebab agama ini tampak sempit karena ia telah memproyeksi tuhan kecil melalui dogma. Dogma merupakan “klaim kebenaran” yang tidak boleh dipertanyakan lagi. Seperti surga-neraka; penciptaan Adam sebagai manusia pertama, tidak boleh dipertanyakan. Ini menyebabkan kita tidak akan pernah memperoleh jawaban memuaskan selain bersifat absurd dan irasional, “kun fayakun/ abrakadavra !!

Dan juga kisah penciptaan alam semesta dalam enam masa, padahal menurut hukum fisika modern awal terjadinya alam semesta berawal dari proses dentuman besar. Ketika keseluruhan energi nol, karena energi gravitasi negatif, sementara energi kinestetik positif. Para fisikawan hanya mengetahui sebatas waktu planck, yakni 10 pangkat (-43) detik dan panjang diametral 10 pangkat (-33 cm). Sedangkan dalam kajian dogmatis keagamaan sama sekali tidak dapat memberikan penjelasan tentang enam masa dalam penciptaan semesta.

Kajian penciptaan enam masa ini, kemungkinan hanya hasil adaptasi dari kepecayaan bangsa Aria, yang menceritakan para dewa diperintahkan tuhan menciptakan dunia dalam tujuh tahap. Pertama mereka menciptakan langit, kemudian bumi, berikutnya air, setelah itu tanaman, banteng, manusia, dan terakhir api. Pada awalnya apa yang telah diciptakan para dewa itu diam tak bernyawa, baru setelah para dewa melakukan tiga pengurbanan – menghancurkan tanaman, membunuh banteng, dan manusia – barulah dunia menjadi bernyawa.

Dogma telah menciptakan tuhan kecil di dalam jantung agama-agama semitik/ Barat, yang perlahan akan membunuh agama-agama tersebut jika ia tidak lekas diamputasi. Namun, pemenggalan dogma dari keagamaan tidak akan pernah tercapai selagi, para pemuka agama, cendikiwan, dan orang-orang di dalamnya masih berambisi untuk menjadikannya kendaraan politik pemuas "ego" dari ambisi mereka.

Tuhan Besar Para Mistikus.

Para intelektual mistisme timur telah lama memahaminya. Konsep tentang Tuhan justru suatu saat akan menciptakan tuhan kecil. Maka dari itu, Lao Zi tidak pernah mengajarkan konsep ketuhanan, Tao yang dimaksud merupakan jalan kebenaran dari pengalaman hidup manusia. Kong Fu Cu juga tidak pernah mengajarkan konsep ketuhanan, selain seni moral sosial dan politik. Bahkan ia menganjurkan agar tidak mempercayai hal-hal yang belum pasti, “Dengarlah sebanyak mungkin, kesampingkanlah segala hal yang meragukan, dan berbicaralah dengan hati-hati mengenai selebihnya. Amatilah sebanyak mungkin, kesampingkan yang tidak jelas maknanya, dan bertindaklah dengan hati-hati mengenai selebihnya

Namun, kini anehnya ajaran Kong Hu Cu ini dijadikan agama oleh pengikutnya, dengan memberikannya gelar nabi, padahal Kong Hu Cu sama sekali tidak pernah dan tidak mau saat ditawarkan oleh pengikut setianya untuk menjadi nabi atau dewa.

Mungkin, dalil kenabian Kong Hu Cu ini didasarkan oleh para pengikutnya dari pernyataan Kong Hu Cu, “Jika alam ketuhanan telah berkehendak agar peradaban dibiarkan hancur, maka generasi-generasi di kemudian hari (seperti saya sendiri) tidak akan diizinkan untuk berpartisipasi di dalamnya. Tetapi karena alam ketuhanan tidak berkehendak membiarkan peradanan hancur, maka apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang K’Uang terhadap saya (Conficuius Untaian Ajaran, IX, 5/ Confucian Analect).

Alam ketuhanan maksud Kong Hu Cu adalah alam semesta, karena tuhan bagi orang timur adalah alam semesta, walaupun Kong Hu Cu juga mempercayai para roh yang telah mati. Saat itu Kong Hu Cu di serang dalam “perjalanan panjangnya” beliau mengatakan hal demikian, tidak lebih hanya ingin menentramkan hati para pengikutnya.

Di negeri India Buddha juga tidak pernah mengajarkan konsep ketuhanan, malah beliau menganjurkan untuk tidak percaya kepada makhluk-makhluk adikodrati. Buddha menganjurkan pengikutnya untuk membuktikan sendiri kebenaran tersebut melalui jalan eksperimentasi. Terekam dalam percakapannya dengan sang murid kesayangan, Sariputta. Setelah memberikan pengajaran Buddha bertanya kepada Sariputta, “Sariputta, apakah kau percaya pada apa yang berusan kuajarkan?” Sariputta menjawab, “tidak, saya tidak memempercayainya, karena saya belum mengalaminya” lalu Buddha berkata, “bagus! bagus! bagus!” Bahkan ajarannya sendiri tidak mesti dipercaya jika kita belum pernah mengalaminya. Inilah kekuatan yang dimaksud oleh Don cupitt, ingin menjadikan semacam Buddhisme – Kristen, dengan meletakan eksperimentasi di atas teologi.

Jalan eksperimentasi ini senada dengan prinsip/ langkah-langkah ilmiah/ sains. Ada tiga ikhtiar sainstifik. Pertama, instruksi teknis – praktik aktual, eksperimen, teladan, juklak/ juknis, tips/ trik, yang selalu bisa diekspresikan dalam bentuk, “kamu ingin tahu itu kerjakanlah ini.Kedua, “mengalami” yang tersingkap melalui praktik aktual tadi secara langsung, tanpa perantara. Ketiga, kofirmasi kolektif penyusunan data, bukti, yang dapat diuji ulang oleh siapa saja yang berkompeten.

Inilah yang menggugah seorang Albert Einstein, sampai mengeluarkan pernyataan, “Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan ilmu pengetahun modern maka itu adalah ajaran Buddha.

Selama, agama masih menekankan sisi dogmatis – suatu klaim kebenaran, tanpa boleh dipertanyakan kembali – bukan menekankan pada metode eskperimentasi, maka selamanya agama itu tidak akan pernah sejalan dengan sains. Mereka akan merasa terancam di setiap penemuan sains yang berseberangan dengan klaim dogma keagamaan.

Buddha, Lao Zi, dan Kong Hucu dapat dikatakan orang-orang agnostik di zamannya. Dalam konsep nirwana pun Buddha telah menyadari, suatu saat ini akan menjadi dogma sama seperti konsep surga-neraka pada agama-agama Barat. Tidak ada seorang pun dapat membuktikan apakah ada surga-neraka dan nirwana ada. Karena tidak ada orang yang pernah atau dapat ke sana, dalam fakta empirik selama ini. Kecuali dari cerita “katanya” tidak dapat dibuktikan oleh semua orang. Tidak seperti konsep reinkarnasi yang telah dibuktikan oleh para ilmuan, dan dapat kita buktikannya sendiri, baik melalui metode tradisional (meditasi) maupun modern (Hynotic Regression atau Past-Lives Therapy).

Mengatasi hal itu, dengan besar hati Buddha pun mengatakan, bahwa ia juga memungkinkan melakukan keliruan, “betapa sulitnya memperoleh pencerahan, betapa kecilnya lubang jarum yang harus dilaluinya untuk memperoleh kemenangan. Dan masih ada bahwa ia keliru

Kualitas tingkat spiritual tertinggi bukanlah diukur dari seberapa hebat ia menggambarkan konsep ketuhanan, melainkan ketika ia sudah tidak perduli lagi akan konsep ketuhanan tersebut. Kalau pun Tuhan ada, Ia ingin menjadikan kita tumbuh dewasa, tidak menjadi anak kecil yang terus “merengek” dan didikte untuk setiap langkahnya.

Sam Haris, The Myth of Secular Moral Chaos, june 4, 2007, Reposted from: http://www.secularhumanism.org/index.php?section=library&page=sharris_26_3

“Ketika ide-ide keagamaan kehilangan validitasnya, ide-ide itu akan memudar tanpa terasa; Jika pemikiran manusia tentang Tuhan tak lagi sesuai dengan kehidupan kita di zaman empirik ini, maka ide itu akan dicampakkan” ~ Karen Amrstrong