Kalau saya ingat lagi semasa kecil, selalu muncul kerinduan. Rindu akan kampung halaman. Tentu bagi orang yang lahir dan dibesarkan di kota, bukan berarti tidak memiliki kampung halaman. Tempat kita dilahirkan atau dibesarkan kita anggap saja sebagai kampung halaman, walaupun mungkin kota, misalnya Jakarta Raya.

Tapi mengapa kita merindukan kampung atau kota halaman? Mengapa kita rindu masa-masa doeloe?

Saya menduga karena kita memiliki kenangan di sana. Tapi kenangan yang bagaimana? Apakah semua kenangan menimbulkan kerinduan bagi kita?

Saya masih ingat sewaktu sekolah dasar (SD), saya harus memakai sepatu karet warna hitam. Sewaktu sekolah menengah pertama (SMP), saya masih ingat akan seragam putih-biru dan putih abu-abu. Tidak seperti yang lain yang negeri, SMP saya dulu disebut bersubsidi, siswa harus memiliki dua seragam, putih-biru dan putih-abu-abu. Putih-abu-abu digunakan setiap Senin dan Rabu. 

Saya masih juga ingat bagaimana, kami setelah pulang sekolah harus membersihkan ruangan kelas sendiri dengan jadwal masing-masing. Saya juga masih ingat bagaimana guru mengganjar kami yang tidak disiplin, karena tiba terlambat atau tidak menyelesaikan pekerjaan rumah (PR).

Tulisan ini terbersit, setelah membaca cerita yang ditulisElie Wiesel. Elie Wiesel adalah salah satu yang lolos, korban kamp konsentrasi. Korban Holocaust, korban yang selamat dari kekejaman dan kebrutalan Nazi. Elie Wiesel menjadi pusat perhatian dunia ketika ia menuliskan pengalaman hidupnya dalam Night. 

Buku Night sangat tipis, pernah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Wiesel, seorang Yahudi Romania, yang hampir kehilangan iman dan kemanusiaannya kerena pengalamannya yang sangat pahit dan getir. Pengalaman hidupnya sangat memilukan.

Pada tahun 1986, Panitia Nobel memberikan penghormatan kepadanya Nobel Perdamaian, karena perjuangannya akan kemanusiaan dan harapannya, dan tentu karena cerita-ceritanya.

Yang juga membahagiakan kita umat manusia adalah karena Elie Wiesel, menceritakannya kepada Dunia, juga kepada kita. Sebuah pelajaran berharga, yang telah menghancurkan jutaan manusia yang tidak bersalah. Sepantasnya karena pengalaman sepahit itu, tidak ada lagi manusia yang mau mencoba mengulanginya.

Konon salah satu yang membuat bangsa Yahudi bertahan adalah karena komitmen mereka mendongeng, ketekunan mereka bercerita.

Apa hubungannya kerinduan kampung halaman dengan kisah Wiesel ini? Kisah, kenangan sangat membentuk seseorang, sangat menentukan dalam hidup seseorang.

Saya akan mengutip tulisan Wiesel yang sangat dalam. Elie Wiesel mengawali novelnya, The Gates to the Forest'. 

Begini kisahnya:

Ketika Rabi Israel Baal Shem-Tov yang hebat melihat kesialan mengancam orang Yahudi,ia terbiasa pergi ke bagian tertentu hutan untuk bermeditasi. Di sana, ia menyalakan api, memanjatkan doa khusus, dan mukjizat pun terwujud, dan kesialan pun terhindari.

Kemudian, ketika muridnya, Magid dari Mezritch yang ternama, karena suatu alasan yang sama mendapat kesempatan untuk memohon pengampunan dari sorga, ia pergi ke tempat yang sama di hutan dan berkata, 
"Tuhan alam semesta, dengarkanlah! 
Aku tidak tahu cara menyalakan api, 
tetapi aku masih bisa memanjatkan doa." 

Dan sekali lagi mukjizat pun terwujud.

Lama sesudahnya, Rabi Moshe-Leib dari Sasov, guna menyelamatkan bangsanya sekali lagi, pergi ke hutan dan berkata, 
"Aku tak tahu cara menyalakan api, 
aku tak tahu doa, 
tetapi aku tahu tempat ini, 
dan ini harus cukup." 

Usahanya memang cukup, dan mukjizat pun terwujud.

Kemudian, tibalah giliran Rabi Israel dari Rizhyn untuk menanggulangi kesialan. Sembari duduk di kursi berlengan, dengan kepala di kedua tangannya, ia bicara kepada Tuhan, 
"Aku tak bisa menyalakan api, 
dan aku tak tahu doanya; 
aku bahkan tak bisa menemukan tempat itu di hutan.
Yang bisa kulakukan adalah menceritakan kisah ini, 
dan ini harus cukup." 

Dan usahanya pun cukup.

Inilah kekuatan kisah, kehebatan cerita. Kita merindukan kampung halaman, karena kita memiliki kenangan. Kenangan itu menjadi kisah kita sekarang. Pengalaman kita membentuk jatidiri kita. Kisah yang diceritakan Wiesel menjadi ritual yang mengandung kerendahhatian, kepolosan, kejujuran dan ketekunan. Kampung atau kota halaman kita, bahkan segala tempat yang menyentuh kita, sejarah hidup kita, apalagi yang menjadi ritual kita, seharusnya membuat kita semakin manusia.

http://www.sarabronfman.com/wpnew/wp-content/uploads/2009/06/image-1.jpg