"Oi, monyet!" 
Yang disapa tenang-tenang saja tanpa ekspresi apa pun. Hanya sahutan angin semilir yang mengalir menyusupi dedauan hijau yang bergoyang sunyi. Berulang-ulang kali temanku menggaungkan kalimat sama yang berintonasi sama dan bahkan kian mendekat dia sampai jarak serentangan tangan, tapi tetap saja yang dipermainkan itu menunjukkan raut wajah yang tak berubah. Teduh amat wajah sabarnya menyiratkan kearifan yang tinggi bagai Sang Buddha. 

Tak paham dia akan bahasa kami? Memang, tak paham dia. Tiap gerakan yang kami buat hanya akan diikuti oleh tenang matanya saja sembari duduk membisu diam begitu saja tanpa bergerak. Sudah terbiasa begitu dia menjalani penghidupan sebagaimana yang diinginkannya, termasuk hidup bertelanjang siang malam. Namun, mata yang tenang itu akan membulat kelihatan membesar manakala pisang didekatkan sebiji kepadanya.  

Ya, pisang adalah makanan yang amat didoyaninya yang akan membuat matanya berbinar-binar dan jakunnya turun naik tak beraturan bagai banyak pejantan manusia yang melihat paha gadis perawan yang tersingkap oleh angin. Itu sama halnya dengan menawarkan ikan kepada kucing atau rumput muda kepada kuda.  

"Kasih saja kulitnya!" ujar Kalonok.  

"Tak akan dimakannya," kataku.  

"Coba saja dulu."   

"Percuma. Kita sendiri tak mau memakannya, apalagi dia."

"Agaknya dia merasa dirinya seorang bangsawan."  

"Ya. Mungkin perasaan begitu sudah terpatri di dinding hatinya."  

"Dan, mungkin kita dianggapnya warga negara kelas dua."  

Boleh jadi apa yang diutarakan Kanolok benar adanya bahwa monyet jantan ini menganggap dirinya lebih tinggi kedudukannya dan peradabannya daripada kami. Kalau begitu keadaannya, pastilah orang yang dianggapnya lebih tinggi kedudukannya daripada dirinya sendiri adalah sang majikan yang selalu diiringinya ke mana-mana. Dia selalu mempersembahkan penghormatan yang tertinggi terhadap sang majikan dan segera mengikuti apa yang dititahkan kepadanya. Kalau di alam bebas raja monyet punya wilayah sendiri bersama kelompoknya, mungkin monyet ini merasa bahwa segenap dusun yang didatanginya adalah teritorinya.   

Sang majikan monyet ini adalah pamanku sendiri yang bermukim di dusun lain di pinggir rimba Sumatra yang lengang. Seringkali dia bepergian diiringi sang monyet dari satu dusun ke dusun, termasuk dusunku, beberapa kali dalam seminggu apabila tak ada pekerjaan yang mesti dilakukan di sawah atau ladang. Kendati boleh jadi sang monyet menganggap perjalanan itu sebagai darmawisata, namun tujuannya ke sana ke mari bukanlah jalan-jalan melainkan melakukan perjalanan bisnis, yaitu memberikan jasa kepada mereka yang ingin biji kelapanya diturunkan. Tapi, bukan pamanku yang memanjati pohon kelapa, melainkan sang monyet yang disuruh memetiki dan menjatuhkannya ke atas Bumi. Sang monyet itu betul-betul terlatih, sangat piawai dan sekaligus setia sekali kepada sang majikannya.  

Sang monyet adalah pemanjat dan pelompat yang ulung. Tak pernah gamang dia merangkaki batang kelapa jangkung yang mampu melambung 20 meter tingginya itu sehingga melahirkan decak kekaguman dari mulut banyak orang dan mungkin juga cecak. Seperti cecak, dia selalu menempelkan kedua bijinya ke batang pohon yang jangkung itu manakala ambil rehat waktu memanjat.

Pada dasarnya dia merayapi batang kelapa tanpa rehat dan sebentar saja sudah bertengger dia di ketinggian dengan tali yang menggantung di lehernya. Betul-betul cerdas dia. Buah kelapa yang sudah ranum dipilihnya sendiri, digigit, diputar, dan diluruhkan ke bawah. Manakala ragu memilih buah kelapa yang berderet di sebelah kiri kanannya, dia akan minta pendapat sang majikan dengan melongok ke bawah. Sang majikan cukup menggoyangkan tali ke kiri atau kanan bagai bermain layang-layang saja sebagai aba-aba untuk menetapkan buah mana yang harus diambilnya. Tatkala salah dia memegang biji kelapa, sang majikan akan memberi sinyal lagi dengan menggoyangkan talinya. Giginya betul-betul alot mengerkah tampuk kelapa yang keras tersebut. Tak tahu aku adakah terbayang dalam benak sang monyet menurunkan biji laki-laki yang merupakan sarang tempat kelahiran manusia-manusia baru di Bumi yang sudah rusak ini.  

Lantaran bergigi yang tajam dan alot, hampir tak ada anak kecil atau bahkan orang dewasa berani duduk dekat-dekat padanya. Kendati tak pernah dia menggigit orang, taringnya yang runcing tersebut cukup kuat memperingatkan kepada orang-orang bahwa gigitannya pada jangat manusia akan meninggalkan bekas yang dalam.  

Seandainya seorang anak yang tak disukai dan duduk dekatnya, segera saja dia menyentuh atau memegang bagian badan anak tersebut agar berlalu pergi menjauh. Bagaimanapun juga, keberadaan taring yang menghiasi mulutnya merupakan senjata ampuh untuk membuat anak-anak menjauh darinya. Lagi pula kelihatannya dia tak begitu tenteram atau tak suka kalau ada anak-anak terlalu dekat darinya. Atau, dia merasa statusnya lebih tinggi daripada manusia, kecuali sang majikan yang selalu bersamanya dan boleh jadi dianggapnya sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang hidup di atas bumi ini yang menentukan perjalanan hidupnya, termasuk mendapatkan makanan yang sedap darinya.  

"Selalu mengangkang saja monyet ini duduk," kata Siih.  

"Tak punya rasa malu dia," tambah Irin.  

"Nampaknya telanjang lebih enak baginya."  

Kami sendiri merasakan betapa hidup telanjang lebih enak, setidak-tidaknya sampai kami berusia 3 tahun. Jangat kami cukup tebal bila bersentuhan dengan daun atau ranting pepohonan manakala menyelinapi hutan rimba mencari buah atau mengumpulkan kayu api, jadi tak memerlukan pakaian. Tentu saja, ketidaksediaan pakaian waktu kecil itu juga merupakan merupakan alasan yang kuat. Yang menguntungkan tanpa pakaian adalah bisa begitu saja terbang melompat ke dalam sungai tempat mandi tanpa harus disibukkan dengan penanggalan pakaian sebelumnya. Pun, tak perlu takut pakaian menjadi kuyup atau kotor apabila masuk ke dalam sawah yang berluluk. Begitu praktisnya. Hanya saja tidaklah menyenangkan kalau penis-penis kecil kami digigiti semut merah yang tak ramah. Pada waktu sama, sang monyet pun menikmati hari-harinya sampai akhir hayatnya yang terbebas dari belenggu pakaian yang tak praktis tersebut.  

Bersebab di dusun kami uang tak begitu dipakai, ekonomi barter mengambil tempat dalam dunia jual-beli dan jasa. Mekanisme yang sama juga berlaku waktu minta servis seperti yang dijajakan oleh pamanku yang menawarkan jasa monyetnya. Jadi, selepas monyet selesai melepaskan kelapa dari tandannya, paman akan menerima beberapa biji kelapa dan monyet menerima beberapa biji pisang yang segera dilahapnya dengan wajah yang berseri-seri. Adanya reward sehabis kerja membuatnya kelihatan bergairah sekali apabila disuruh memanjat kelapa.

Tentu saja monyet yang sudah dilatih berbulan-bulan dan mengerti bahasa isyarat yang mendapatkan ijazah dari tuannya untuk bisa merayapi batang pohon. Lumrah saja kalau monyet yang berpengalaman dangkal pun terkadang masih kelihatan bingung menerjemahkan perintah yang diberikan kepadanya. Tak syak lagi, seekor monyet liar yang kebetulan sedang melintasi dusun kami akan ogah disuruh-suruh menurunkan kelapa kendati diiming-iming pisang segar sekalipun.  

Ketika rehat selepas melaksanakan tugasnya, sang monyet seringkali disuruh pamanku duduk di atas pundaknya sembari mencari kutu rambutnya. Nampaknya dia sangat brilian dan sigap menangkap kutu yang segera saja dilahapnya. Ada seorang teman yang punya nyali yang besar dan pernah minta kepada pamanku agar sang monyet juga mencari kutu yang banyak berpatrolan dalam rambutnya. Sang monyet segera saja mau mencarikan kutunya itu atas perintah pamanku.  

Selama kutunya dicari oleh sang monyet, dia merasa geli dan tertawa cengengesan yang membuat sang monyet yang duduk di atas pundaknya ikut bergoyang-goyang. Kalau saja sang majikan tak berada di dekatnya, boleh jadi digamparnya temanku itu agar diam tak bergerak sementara dia menunaikan tugasnya. Tak pernah sekali pun punya nyali aku minta kepada paman agar memperkerjakan monyet tersebut membersihkan kutu dari kepalaku.  

Pada zaman yang sama ada seekor monyet yang dilatih dan dimanfaatkan dengan tujuan yang sama oleh seseorang yang bermukim sekitar 200 m dari rumahku. Suatu hari terjadi kehebohan. Sang monyet melepaskan talinya tatkala sang majikan dan keluarganya berladang. Kami ketakutan setengah mati kalau-kalau sang monyet itu berkehendak mencobakan taringnya ke jangat kami.  

Tak ada yang tahu apakah dia melakukan pemberontakan atau main-main saja. Tapi, dia tidak mau melarikan diri balik ke dalam rimba, melainkan duduk-duduk bersandar berleha-leha saja di dahan pohon yang tinggi yang berdiri di belakang rumahnya. Sang majikan yang pulang dari ladang menawarkannya sebuah pisang agar dia turun dari atas pohon itu dan begitu saja dia menuruti perintah sang majikannya. Kepercayaan yang tinggi sang monyet terhadap sang majikan membuatnya begitu saja tunduk pada titah sang majikan.  

Dari segi biologi yang beralasan ilmiah, manusia seketurunan Habe dan monyet berasal dari nenek moyang yang sama. Sudahlah pasti Tuhan Arab sang pencipta agama semitik, mencak-mencak menolak mentah-mentah teori ilmiah yang menggoyahkan landasan prestisenya ini.  

Nampaknya monyet memiliki hati yang lebih bersih daripada manusia. Perbedaan lain, misalnya, manusia seringkali melukai hati seseorang dengan lidahnya dan membenci seseorang dari dalam jiwanya tanpa alasan yang jelas. Manusia juga adalah binatang yang mempunyai kemampuan khusus untuk memanfaatkan kelemahan orang/binatang yang lain.  

Sesudah berusia lanjut, pamanku tak lagi mempekerjakan monyet untuk menurunkan kelapa dusun kami. Anak atau orang kampung yang lain tak ada yang mewarisi pekerjaan tersebut. Dengan sendirinya, pengetahuan melatih seekor monyet menjadi pemanen kelapa lenyap ditelan zaman dan hanya meninggalkan jejak sejarah di sanai. Dewasa ini anak laki-laki yang menggantikan posisi sang monyet cukup terampil menurunkan biji kelapa dari pokoknya, tapi jelas mereka tak bisa bergerak sigap seperti sang monyet. Aku adalah salah seorang saksi terakhir yang masih hidup yang mengetahui betapa monyet pernah berkiprah menggerakkan perekonomian dan melahirkan peradaban baru di dusun kami yang sunyi itu.

Jasad pamanku dan monyetnya berbaring dalam tanah yang segar. Arwahnya entah berkirap ke mana. Barangkali pamanku dan monyetnya + Tuhannya lagi menikmati makan buah kuldi di surga sana.