Tetapi, yang instant memang lebih laku. Apalagi jika merknya masyhur. Kreatifitas menjadi mandul, dan tidak be

rlaku di wilayah ini. Tangan-tangan manusia yang profan dipandang tidak layak, maka membiarkannya akan mencemari

kesakralan.Ada kecenderungan yang kuat dalam tubuh bangsa ini, dimana kreatifitas akal budi sebagai buah dari pencerahan —dikriminalkan dan pelakunya bisa diseret ke dalam bui.

Orang cenderung mengikuti kebiasaan umum. Sebisa mungkin ia akan berpikir, berucap dan berbuat mengikuti rambu jalan yang sudah dipajang di ruas jalan. Ke sanalah setiap orang hendak digiring, seperti yang sering diklaim para penjaga rambu itu sebagai garansi keselamatan. Sebab mereka merasa yang empunya peta, dan peta yang mereka miliki adalah paling sahih. Dan kita tahu pemilik peta ini banyak sekali dengan berbagai versi peta.

Barangkali peta yang kita punya tak selamanya akurat. Ia boleh jadi tepat di masa lalu, namun kini tidak lagi. Bumi banyak mengalami perubahan, tidak cuma gempa dan tsunami yang membuat tanah yang kita pijak ini bergeser. Tetapi kehidupan ini terus berubah.

Rambu-rambu jalan itu bergeser dari tempatnya, sebab itu peta mesti direvisi bila para pejalan inginkan selamat sampai tujuan. Kendati banyak gang dan jalan tikus untuk menuju tempat tertuju itu, namun banyak orang mengikuti jalanan besar, lebar dan serba cukup fasilitas. Orang berkata, jalan-jalan alternatif itu memusingkan, melelahkan dengan jalan berliku dan aral melintang. Hanya para pemberani yang mampu untuk itu.

Mulut seorang pengembara yang berbicara bijak seringkali tak dihiraukan orang. Sebab kebenaran omongannya acapkali memerahkan telinga. Telinga yang dimiliki oleh para pemalas, yang terus-menerus mempertahankan petanya yang usang. Kata-kata yang keluar dari mulut seorang Santo ketika menerangkan peta dianggap sebagai kemutlakan yang mengatasi realitas. Sepertinya kita lupa, bahwa seorang Santo pun dulu pernah berkata bahwa peta ini hanya cocok dan tepat untuk kota ini pada saat ini, besok-besok bila terjadi perubahan, kalianlah yang harus mengerahkan akal untuk merevisinya.

Tetapi, yang instant memang lebih laku. Apalagi jika merknya masyhur. Kreatifitas menjadi mandul, dan tidak berlaku di wilayah ini. Tangan-tangan manusia yang profan dipandang tidak layak, maka membiarkannya akan mencemari kesakralan.Ada kecenderungan yang kuat dalam tubuh bangsa ini, dimana kreatifitas akal sebagai buah dari pencerahan —dikriminalkan dan pelakunya bisa diseret ke dalam bui.

Diperkenalkan di Mesir pada abad ke-8, Hisba : instrument hukum yang kabur. Namun inilah fenomena dalam lakon kita saat ini. Hisba merupakan suatu perkara hukum yang diajukan seseorang secara sukarela dengan dalil (yang bagi saya sebetulnya dalih) untuk melindungi masyarakat dari seseorang yang perkataan atau perbuatannya dianggap membahayakan agama (Islam).

Juga fenomena menguatnya eksklusivisme yang dikaitkan dengan merk agama, seperti terminologi “Pengacara Muslim” —dimana orang lain tidak mau menamakan pengacara hindu budhis atau lainnya— amat memprihatinkan. Ini tegas dan jelas bahwa Hisba sedang dijejalkan kepada manusia Indonesia. Suatu scenario yang akan menjadi biang tragedi kemanusiaan bagi bangsa ini.

Adalah penulis sekuler Sayed El-Qimni, pengusaha telekomunikasi Naquib Sawiris, dan penulis feminis Nawal El-Saadawi adalah orang-orang terkenal yang pernah jadi target perkara hukum hisba.
Tulisan El-Qimni soal agama dan mitologi dianggap menghina Tuhan membuat merah kuping para pengacara konservatif dan agamawan. Mereka mengajukan El-Qimni perkara hisba yang mendesak pemerintah agar mencabut hadiah sastra untuknya dari pemerintah dan mencabut kewarganegaraannya.

Suatu hari, Sawiris mengkritik pasal-pasal dalam konstitusi yang menjadikan syariah (hukum Islam) sebagai dasar sistem hukum negara. Kontan kelakuannya ini membangkitkan kemarahan Pengacara Muslim Nizar Ghorab. Ghorab menuduh pengusaha Kristen itu menghina Islam di muka umum, dan menuntut agar dia dipenjara.

Lain halnya dengan El-Saadawi. Setelah dia mendirikan organisasi sipil yang mempromosikan pemisahan negara dan agama, maka Pengacara Muslim Nabih El-Wash mengajukan perkara hisba untuk melawannya. Lagi-lagi tuduhan sang pengacara adalah Saadawi telah menghina Islam dan menuntutnya agar dipenjara.

Itu bukanlah kali pertama El-Saadawi diobok-obok El-Wash. Sebelumnya, pengacara radikal ini mengajukan gugatan dalam upaya menceraikan-paksa El-Saadawi dan suaminya, Sherif Hetata, karena dia menganggap penulis sekuler itu menjadi atheis. El-Wash beralibi dan berdalil, Umat Muslim dilarang menikah dengan orang yang tak seiman. Malang benar nasib El-Saadawi, karena kritisnya terhadap agama, maka buku-bukunya dilarang dan kewarganegaraannya terancam dicabut.

El-Qimni, Sawiris, dan El-Saadawi, adalah sekelumit contoh dimana kejumudan dalam membaca peta berakhir pada tragedi kemanusiaan. Peta bukanlah untuk diagungkan, tapi anggaplah ia sebagai tuntunan dalam perjalanan. Peta yang sudah kadaluarsa meskipun dicetak dengan mewah, ia akan menyesatkan. Manusia sungguh membutuhkan peta-peta yang mutakhir.Pembungkaman sungguh mematikan kreatifitas, ia membunuh kemanusiaan.

Apa yang dilakukan para pengacara dalam kisah itu, seperti juga dalam kisah di Indonesia bukanlah karena dorongan agama. Ratusan, bahkan mungkin ribuan kasus Hisba terjadi di negeri-negeri mayoritas Islam ini lebih disebabkan karena mencari sensasi demi meraih popularitas, kekuasaan dan kekayaan dimana pemerintahan kita semakin melemah dan fasisme tengah menelikung di segala penjuru.

Banyak para radikal yang mencari nafkah di bidang hukum ini. Itulah mafia berjubah agama. Kasuskan seorang yang terkenal, maka terkenal pulalah mereka karena media meliputnya. Tak hanya para pesohor, demi derasnya fulus mengalir ke kantong pribadi, maka mereka akan mengajukan setiap orang yang berbeda keyakinan ke pengadilan. Pengacara Muslim, perangkat hukum Hisba yang kabur itu dan pemerintahan Islamo-Fasis tak pelak lagi merupakan kombinasi yang menguntungkan…[]

Arief Rahman
Desember 2009.

Jangan bungkam, meski hisba mengancam