Bulan Februari lalu di Medan, saat melakukan cek kesehatan untuk mengurus visa ke Australia, saya sempatkan diri untuk berkunjung ke toko Buku Gramedia yang ada dimall dekat klinik tempat saya melakukan cek kesehatan. Di toko buku itu mata saya terpaku pada satu buku yang judulnya Three Cups of Tea. Gambar pada sampul buku itu menunjukkan seorang laki-laki bule bersama beberapa anak laki-laki dan anak-anak perempuan berjilbab yang begitu bersahaja. Karena ingin tahu lebih banyak maka buku itu menjadi salah satu buku yang saya beli. Dan ternyata, saya tidak menyesal membeli buku itu.

Banyak hal menarik yang bisa dibaca dari buku yang diterbitkan Hikmah Memoar ini. Buku ini mengisahkan tentang perjuangan seorang pendaki gunung berkebangsaan Amerika, Greg Mortenson, untuk mendirikan sekolah di pelosok Pakistan. Greg tersesat saat mendaki gunung K2, gunung tertinggi kedua didunia. Dia ditemukan oleh salah seorang penduduk desa Korphe, desa terpencil yang malah sama sekali tidak ada di peta. Saat didesa tersebut sambil menunggu kekuatannya pulih kembali sebelum pulang ke Amerika, Greg tinggal bersama Haji Ali dan menyaksikan bagaimana anak-anak disana bersekolah. Jangan bayangkan mereka duduk diatas bangku dan mempunyai meja. Tidak.Sama sekali tidak. Anak-anak itu duduk melingkar di tanah yang dingin beku. Melihat itu Greg berkata pada Haji Ali “aku berjanji akan datang lagi kesini dan membangun sekolah untuk mereka”. Haji Ali hanya tersenyum dan berkata ‘kamu adalah orang kesekian yang mengatakan hal yang sama. Nyatanya mereka tidak pernah datang lagi’. Ucapan Haji Ali itulah yang membulatkan tekad Greg untuk bisa kembali ke desa tersebut, dan dia berhasil. Bersama-sama dengan Central Asia Institute yang dia pimpin, kini Greg berhasil mendirikan 55 sekolah di Pakistan dan Afghanistan,khusus untuk anak-anak perempuan.

Berikut ini beberapa nukilan dari buku tersebut yang menurut saya sangat menarik.

Salah satu kepedulian yang beliau tunjukkan adalah membangun sekolah bagi anak-anak perempuan, meski sebuah Fatwa sudah dikeluarkan oleh salah seorang mullah di Pakistan yang mengatakan bahwa haram hukumnya menyekolahkan anak perempuan. Namun Greg tidak peduli. Menurutnya “ kalau Anda mendidik anak laki-laki, begitu selesai sekolah mereka cenderung untuk pergi meninggalkan kampong dan mencari pekerjaan dikota” Jelas Mortenson. Tetapi, gadis-gadis tetap tinggal dirumah, menjadi pemimpin ditengah masyarakatnya dan menyebarkan pengetahuan mereka. Kalau anda benar-benar ingin mengubah suatu budaya dan pola fikir, memberdayakan kaum perempuan, memperbaiki tingkat kesehatan dan higienitas, serta menurunkan angka kematian bayi, maka jawabannya adalah mendidik anak-anak gadis” (hal 390).

Dalam salah satu pidatonya dalam fundraising, Mortenson mengutip apa yang dikatakan oleh Bunda Theresa. Katanya “ Apa yang kita coba lakukan mungkin saja hanya berupa tetesan air dalam samudra. Namun samudra takkan lengkap tanpa tetesan yang satu itu”.
(hal 424).

“sebagai daerah yang tidak stabil secara politis, pedalaman Pakistan adalah tempat tumbuh dan berkembangnya para teroris yang menyebarkan paham anti Amerika. Pemuda-pemuda buta huruf kerap sekali akhirnya terdampar dikamp-kamp pelatihan (teroris). Saat kita menaikkan tingkat melek huruf, kita juga sekaligus meredakan ketegangan dalam jumlah besar” kata Terry Richard, wartawan Oregonian (hal 426).

“lebih dari 10.000 orang Afghanistan, kebanyakan terdiri dari perempuan dan anak-anak, melarikan diri keutara, menghindari kedatangan pasukan Taliban, hingga keluar kedaerah Tajikistan. Disebuah pulau ditengah Sungai Amu Darya, para pengungsi ini mengeduk Lumpur untuk membuat perlindungan dan perlahan mereka mulai kelaparan, menyantap rerumputan yang tumbuh ditepian sungai karena putus asa.
Sementara mereka semakin sakit dan akhirnya tewas, prajurit Taliban menembaki mereka untuk sekedar hiburan, meluncurkan granat yang dipicu roket hingga akhirnya meledak diantara pengungsi yan ketakutan setengah mati. Saat mereka mencoba lari ke Tajikistan, dengan mengayuh balok-balok kayu menyeberangi sungai, mereka ditembakki oleh pasukan Rusia yang menjaga perbatasan, dan bertekad takkan membiarkan kerusuhan yang semakin berkembang di Afghanistan untuk melimpah ke “pekarangan belakang” mereka. Anak-anak tak berdosa itu, membeku dalam udara dingin, tak punya kesempatan untuk tumbuh besar, tak berdaya diluar sana, diantara dua kelompok bersenjata, sekarat karena disentri gara-gara minum air sungai, atau kelaparan sampai mati.(hal.447)

“masa kejayaan aritmatika dan puisi telah berlalu. Sekarang ini, saudara-saudaraku, ambillah pelajaran dari Kalshnikov dan granat dengan pemicu roket” (Grafiti yang ditulis dengan cat semprot didinding halaman dalam sekolah Korphe) (hal 450).

“Wahabi adalah cabang konservativ dan fundamentalis dari Islam Sunni serta merupakan agama Negara resmi para penguasa Sunni serta merupakan agama resmi para penguasa Saudi Arabia. Banyak orang Saudi yang menganut aliran ini menganggap istilah itu berbau penghinaan, dan lebih suka menyebut diri mereka Al-Muwahiddun, atau “penganut monotheisme”.akan tetapi,di Pakistan dan dinegara-negara miskin lain tempat pengaruh wahabi cukup terasa, sebutan “wahabi” itu sudah terlanjur melekat.
“Wahabi” diambil dari kata Al_Wahab, bahasa Arab yang berarti maha Pemberi, satu dari sembilan puluh sembilan nama Allah. Dan pemberian yang murah hati inilah –dana tunai yang tampaknya tak terbatas yang diselundupkan pada kaki-tangan wahabi ke Pakistan, baik dalam koper maupun melalui system transfer yang tak dapat dilacak. jumlah teramat besar kekayaan hasil minyak yang mengalir masuk dari kawasan teluk itu ditujukan pada incubator ektrimisme religius yang paling berbahaya di Pakistan-madrasah-madrasah

Wahabi.
Mustahil menentukan angka yang pasti dalam kegiatan yang sifatnya rahasia ini;tetapi satu dari sedikit laporan langka dalam media massa Saudi yang sensornya sangat ketat menyebutkan tentang perubahan besar yang dibawa oleh “uang minyak” terhadap murid-murid miskin Pakistan.
Bulan Desember 2000, Koran Saudi,Ain Al Yaqeen, melaporkan bahwa satu dari empat organisasi utama penyebar ajaran Wahabi, yaiu yayasan Al-Haramain, telah membangun “1.100 mesjid, sekolah dan Islamic Center”di Pakistan serta Negara-negara Islam lainnya, dan membayar gaji tiga ribu orang pendakwah ditahun sebelumnya. (Hal 453)

Ain Al Yaqeen melaporkan bahwa yang paling aktif antara keempat group tersebut, adalah International Islamic relief Organization (Organisasi Bantuan Islam International), yang kelak akan dituding Komisi 11/9 sebagai organisasi pendukung Taliban dan al-Qaeda, dalam periode yang sama telah menyelesaikan pembangunan 3.800 mesjid, menghabiskan 45 juta dolar untuk “pendidikan Islam” dan mempekerjakan enam ribu guru, kebanyakan di Pakistan.

“Tahun 2001, proyek Central Asian Institute (CAI) tersebar di Pakistan Utara, mulai dari sekolah-sekolah yang kami bangun disepanjang Garis Kontrol ditimur, sampai barat, kebeberapa proyek baru yang kami kerjakan disepanjang perbatasan Afghanistan” ujar Mortenson. “tetapi dana kami sangat kecil bila dibandingkan dengan wahabi. Setiap kali aku datang mengecek salah satu proyek kami, didekat situ sepertinya selalu sudah ada sepuluh madrasah Wahabi yang muncul hanya dalam waktu semalam”.

Sistem pendidikan Pakistan yang lemah membuat berkembangnya doktrin Wahabi ini sekedar masalah ekonomi saja. Sebagian kecil anak-anak orang kaya Pakistan bersekolah di sekolah swasta elit yang mahal, warisan system colonial Inggris. Namun, seperti yang sudah diketahui Mortenson, sebagain besar rakyat negeri itu nyaris tak terlayani oleh sekolah-sekolah negeri Pakistan yang pendanaannya sama sekali tak layak. Target dari system madrasah ini adalah siswa miskin yang gagal dirangkul oleh sistm public. Dengan menawarkan sekolah asrama gratis, membangun sekolah diwilayah tempat tak ada sekolah lain yang berdiri,madrasah-madrasah ini menyediakan satu-satunya kesempatan bagi jutaan orangtua Pakistan untuk memberikan penddikan kepada anak-anak mereka.

“aku tidak ingin memberi kesan bahwa semua Wahabi itu buruk”ujar Mortenson.”banyak sekolah dan masjid mereka yang melakukan pekerjaan mulia, menolong masyarakat miskin Pakistan.tetapi sebagian dari sekolah itu tampaknya didirikan hanya untuk mengajarkan jihad yang militant”.

Hingga 2001, penelitian Bank Dunia memperkirakan ada 20.000 madrasah yang mengajar sekitar 2.000.000 siswa Pakistan dengan “kurikulum berbasis Islam”. Wartawan yang berbasis di Lahore,Ahmed Rashid,yang barangkali merupakan tokoh paling otoritatif mengenai kaitan antara pendidikan madrasah dengan bangkitnya ektrimisme Islam, memperkirakan bahwa lebih dari 80.000 siswa madrasah ini menjadi prajurit baru Taliban. Tak semua madrasah menjadi tempat penggodokan ektrimisme. Namun, Bank Dunia menyimpulkan bahwa 15 hingga 20 persen siswa madrasah menerima latihan militer,disertai kurikulum yang menekankan jihad serta kebencian terhadap orang Barat dengan mengorbankan materi-materi seperti matematika,ilmu pengetahuan alam dan sastra.

Rashid memaparkan pengalamannya berada dimadrasah Wahabi Peshawar,dalam buku best-seller-nya,Taliban. Para siswa melewatkan waktu dengan mempelajari “Al-Qur’an,hadist dan dasar-dasar hukum Islam yang ditafsirkan oleh guru-guru mereka yang nyaris buta huruf”,tulisnya.”baik para guru maupun murid tak punya latar belakang formal yang cukup dalam bidang matematika,ilmu alam,sejarah atau geografi”.

Murid-murid madrasah ini adalah mereka yang “tak memiliki akar dan gelisah,pengangguran serta secara ekonomi kekurangan,dan sangat sedikit atau bahkan sama sekali tak memiliki pengetahuan umum,”simpul Rashid. “mereka menyukai perang karena perang adalah satu-satunya lapangan pekerjaan yang sesuai untuk mereka. Kepercayaan mereka yang sederhana terhadap suatu bentuk Islam puritan dan fanatic yang dijejalkan pada mereka oleh mullah-mullah desa sederhana adalah satu-satunya keyakinan yang dapat mereka pegang dan memberi sedikit makna dalam hidup mereka.

Madrasah yang paling terkenal dan memiliki 3000 murid, madrasah Darul Ulum Haqqania di kota Attock,dekat Peshawar,mendapat julukan “universitas jihad”,karena lulusannya mencakup pemimpin tertinggi Taliban,si ulama misterius bermata satu Mullah Omar,dan sebagian besar pimpinan puncaknya(453-456).

Apa yang dilakukan oleh Greg ini mengingatkan saya pada Butet Manurung lewat program SOKOLA RIMBA yang dia lakukan untuk orang-orang suku anak dalam di pedalaman Sumatera Selatan sana. Butet mendidik mereka membaca dan berhitung. Tujuannya hanya satu, biar orang-orang pedalaman itu tidak dibodoh-bodohi oleh orang kota. Begitu juga usaha-usaha yang dilakukan oleh seorang Kyai disalah satu mesjid di Jawa Timur. Beliau “memanusiakan” kembali anak-anak pelacur dengan mengajak mereka mengaji dipesantren yang beliau dirikan dikomunitas pelacur tersebut dan mengikutkan anak-anak itu dalam kegiatan 17 Agustusan dilingkungan mereka.

Menariknya, Greg (yang dinominasikan sebagai penerima Nobel perdamaian tahun 2006 tapi kalah oleh Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank asal Bangladesh) dan Butet adalah orang-orang dari kelas menengah keatas. Greg adalah anak seorang dokter yang sempat mengabdikan dirinya di Afrika, sedangkan Butet adalah anak seorang diplomat yang malah tidak ingin mengikuti jejak ayahnya. Sedangkan Kyai yang di Jawa Timur, saya kekurangan informasi karena info ini juga saya dapatkan dari hasil obrolan dengan seorang dosen IAIN jurusan Community Development,Surabaya.

Bagi saya ketiga mereka ini adalah orang-orang yang mengikuti jejak Mahadma Gandhi, Bunda Theresa ataupun Aung San Suu Kyi yang telah menemukan jalannya seperti apa yang dikatakan oleh Joseph Campbel dalam bukunya “hero with a thousand face”. Campbel menamakan jalan itu dengan “The Call”; panggilan untuk melakukan perjalanan ataupun petualangan. Baik petualangan phisik maupun petualangan spiritual.

Semoga kita juga mendengarkan “The Call” seperti mereka.. Amin