(diedit oleh: Ahmad Yulden Erwin, Ketua Islamic Movement for Non-Violence) Mengawali tulisan ini, saya ingin mengutip Swami Anand Krishna, seorang spiritualis humanis, yang mengatakan bahwa rasa iri adalah sesuatu yang unik dalam diri manusia. Binatang-binatang tidak memilikinya. Energi yang disia-siakan itu hendaknya dialihkan dan digunakan untuk mengembangkan rasa iba.

Menarik sekali. Diakui atau tidak, bertahun-tahun lamanya, energi warga bangsa ini telah disia-siakan percuma. Melihat bangsa lain mumpuni menciptakan pesawat terbang, kita pun iri dan ikut-ikutan membuat pesawat terbang tanpa menyadari potensi bangsa kita sendiri, yaitu pertanian. Lalu apa hasilnya? Kita pun gagal. Hingga hari ini, kita masih mendengar kelangkaan pupuk dan sayuran kita diimpor dari luar.

Karena ketidaksadaran, didorong oleh rasa iri pula, kita membedakan antara pribumi dan nonpribumi. Kita lampiaskan rasa iri kita, dengan melakukan pembakaran, sweeping, penjarahan, perkosaan terhadap mereka yang kita anggap nonpribumi beberapa tahun silam. Didorong oleh rasa iri pula, para pemuka agama di negeri ini berlomba-lomba tarik-menarik umat sebanyak-banyaknya, menghasut massa dalam jubah agama sehingga pertikaian antar pemeluk agama dan kepercayaan bukanlah peristiwa langka. Demikianlah, energi bangsa kita disia-siakan untuk sesuatu yang tidak memberikan manfaat apapun, kecuali penderitaan berkepanjangan.

Sikap kita sudah semakin mengedepankan egoisme – meminjam istilah Swami Anand Krishna – “singularisme”, berarti mementingkan kelompok/golongan sendiri. Pluralisme yang ditawarkan sebagai solusi, nyatanya berbuntut bentrokan-bentrokan horisontal yang dramatis. Pluralisme adalah sebuah keniscayaan. Negeri ini memang plural, diakui atau tidak. Yang harus kita kedepankan saat ini bukanlah pluralisme maupun singularisme, melainkan nilai-nilai altruisme. Pluralitas sebagai realitas yang memang dikehendaki Keberadaan haruslah dimaknai sebagai kesediaan setiap individu untuk menghormati kehadiran orang lain agar dapat bersama hidup berdampingan menghuni bumi secara damai, berkarya, dan berkreasi untuk memperindah bumi ini. Dalam perspektif Islam, kebersamaan merupakan makna hidup yang sejati. Karena itu, setiap individu harus menjadikan orang lain tidak ubah dirinya sendiri. Melihat kesusahan dan penderitaan orang lain, maka muncullah rasa iba dan empati dalam diri kita.

Altruisme, dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah al-Itsar. Ini dimaknai bahwa kita memosisikan diri sebagai pelayan yang siap melayani orang lain atau masyarakat tanpa motif kepentingan pribadi. Bersedia melayani karena kita mencintai, karena kita mengasihi. Dalam semangat pelayanan ini, maka kita akan menemukan Tuhan.

Dalam konteks beribadah, maka bagi pelakunya bertumbuhkembang kesadaran internal yang inklusif dan berimplikasi dalam perilaku sosial, tidak sekadar ritual formalistik belaka. Puasa sebagai tradisi agama-agama yang memiliki makna universal, dalam tataran esoteris hendaknya mampu ditransformasikan dalam wujud kesalehan sosial. Mampukah puasa yang kita tunaikan di bulan Ramadhan membuat kita semakin peka terhadap sesama, terhadap persoalan-persoalan kemanusian di sekitar kita? Mohammad Arkoun mengingatkan kuatnya model “nalar teologis” dalam soal keagamaan., yang membuat para pelaku agama hanya memusatkan segala aktivitas dan persoalan apapun pada Tuhan, tanpa menghiraukan harkat dan martabat manusia dan problem kemanusiaan.

Demikianlah yang terjadi dengan kita. Inilah potret buram kita. Alih-alih puasa memunculkan rasa iba, yang terjadi justru kita semakin iri terhadap orang lain yang tidak berpuasa. Alih-alih mengurangi egoisme, Ramadhan dalam beberapa tahun terakhir justru menjadi saat makin bertambah suburnya egoisme mereka yang berpuasa. Seruan untuk menghormati Ramadhan dilancarkan dengan berbagai cara, bila perlu dengan kekerasan. Ulah kita ini justru menjauhkan kita dari tujuan berpuasa. Tidak terjadi transformasi apa-apa dari puasa kita, kecuali lapar dan dahaga. Kita malah semakin terobsesi dengan makanan.

Saya menjadi teringat akan visi Rasulullah Muhammad di masa lampau tentang ”banyaknya orang berpuasa yang hanya mendapat lapar dan dahaga” ternyata menemukan kebenarannya pada masa kini. Visi Rasulullah Muhammad yang melampaui ruang dan waktu ini, menjadi kritikan yang telak mengena kita yang hanya melulu formalistik, tanpa menyelami substansinya. Ironi memang, secara fisik kita nampak seperti orang yang saleh karena berpuasa, orang yang sedang melakukan altruisme, namun dengan melakukan kekerasan terhadap orang lain yang tidak berpuasa, mengobrak-abrik pub, diskotik, dan warung makan jelaslah bahwa kita sesungguhnya sudah menyimpang dari semangat altruisme itu sendiri, semangat mengasihi sesama.

Puasa jika dilakoni dengan penuh ketulusan dan kesungguhan, tanpa harapan pahala dan surga, maka akan mampu menguak rahasia alam. Di “alam puasa” yang tanpa pamrih ini, maka kita menemukan Kasih, menemukan Allah. Lalu altruistik pun menjadi sikap keseharian kita. Kita akan berkarya dengan semangat melayani tanpa pamrih. Iming-iming surgawi dan duniawi pun tak akan lagi mengikat kita. Altruisme yang kita terapkan sudah cukup membahagiakan kita. Di dalam al-Quran, difirmankan : …dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kebahagiaan. (QS. Al-Hajj, 22: 77).

Mari kita belajar dari perjuangan para pahlawan. Mereka berkarya dan berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan dipicu oleh kecintaan terhadap Ibu Pertiwi. Kecintaan mereka terhadap Ibu Pertiwi begitu besar sehingga siap mengorbankan diri mereka sendiri tanpa motif kepentingan pribadi ataupun ingin dikenang sejarah. Mereka berkarya mempersembahkan kemerdekaan kepada anak cucu dan generasi mendatang., tanpa mengharapkan imbalan materi maupun penghargaan. Berkarya, berjuang tanpa pamrih demi Ibu Pertiwi, demi generasi mendatang, itulah kebahagiaan mereka. Itulah Kebahagiaan sejati, itulah puncak altruisme.

Jika kita menyadari hal ini, maka momen Hari Pahlawan yang kita peringati setiap 10 November akan menjadi sangat bermanfaat sekali bagi peningkatan kesadaran kita sebagai anak kandung Ibu Pertiwi. Jika peringatan Hari Pahlawan ini dihayati, maka muncullah kecintaan kepada Ibu Pertiwi, dan altruisme akan mengejawantah dalam kehidupan kita. Namun, apa yang terjadi? Hari Pahlawan lagi-lagi sekadar ritual seremonial, tanpa berupaya menghayati kedalamannya. Kita betul-betul sudah melupakan pahlawan kita sendiri. Kita telah mengkhianati kepercayaan mereka atas kemerdekaaan yang sepatutnya kita pelihara dan mengisinya dengan semangat altruisme. Pembukaaan UUD 1945 mulai diotak atik. Pancasila dicampakkan. Undang-undang dan berbagai peraturan (perda) daerah berbau syariat yang jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila subur bermunculan.

Di daerah yang mayoritas Islam, maka diberlakukan perda syariat Islam. Bagaimana jika daerah-daerah lainpun yang beragama non-Islam ingin memberlakukan syariat agamanya? Bagaimana jika Bali ingin menerapkan syariat Hindu ? Bagaimana jika Papua ingin menerapkan syariat Kristen ? Bagaimana jika orang yang tinggal di Aceh adalah seorang Muslim, dalam kasus waris misalnya ingin berhukum pada hukum nasional bukan pada syariat Islam? Jika hukum sudah ambigu begini, peraturan daerah sudah berseberangan dengan hukum nasional, maka tinggal tunggu hari bahwa NKRI akan segera bubar.

Antusiasme para pejabat kita, para pakar hukum kita, para ulama kita yang getol memproduksi undang-undang dan perda-perda berbau syariat, membuktikan singularisme mereka. Antusiasme mereka sekadar luapan egoisme yang tidak peka terhadap permasalahan-permasalahan krusial yang tengah dihadapi bangsa ini. Altruisme masih menjadi sesuatu yang mengawang-awang bagi mereka. Altruisme menjadi pernik yang sulit dipahami dengan kesadaran rendah yang kini mereka miliki.

Menyedihkan sekali memang. Di negeri ini sulit sekali ditemukan politisi yang memiliki altruisme yang tinggi dan ajek. Beberapa waktu silam, simaklah pandangan sebagian politisi DPR yang seenaknya menyatakan tragedi banjir lumpur panas Porong sebagai “peristiwa alam” dan bukan karena kesalahan manusia. Politisi semacam ini jelas miskin altruisme. Kemanusiaan di dalam diri mereka belum cukup berkembang. Altruisme yang tumpul, apalagi dimiliki oleh mereka yang mengendalikan kekuasaan, jelas akan mengorbankan kepentingan bangsa dan negara. Privatisasi air, penggelapan aset-aset negara, pencurian kayu ilegal merupakan sederet contoh betapa para penguasa negeri ini miskin altruisme, kalau boleh dibilang cacat altruisme.

Di ranah hukum kita lihat, baru-baru ini telah disahkan dan diberlakukan Undang-undang Pornografi. Keputusan gegabah ini, yang barangkali karena tekanan politik dari para politisi penganut Wahabisme dan Talibanisme, jelas berasal dari pikiran yang berpijak pada singularisme, berkacamata kuda terhadap pluralisme, apalagi altruisme. Kita tidak membutuhkan pemimpin yang berkacamata kuda dan miskin altruisme karena akan makin celakalah nasib bangsa dan negara kita dibuatnya. Undang-undang Pornografi telah dijadikan “politik dagang sapi” oleh para politisi di DPR. Meski Undang-undang Pornografi ini telah ditolak pada beberapa wilayah di Indonesia, namun tetap disahkan juga oleh mayoritas fraksi di DPR. Mereka yang telah menyetujui pemberlakukan undang-undang ini jelas telah mengorbankan kepentingan bangsa dan negara, dan lebih mengutamakan kepentingan diri maupun golongannya saja.

Rasa iri yang melembaga dalam diri kita, jika tidak diolah, maka akan berubah bentuk menjadi egoisme dan ketamakan. Kehewanian di dalam diri kita tidak pernah mati, kendati ritual tekun kita tunaikan. Dasar hukum terkait perintah untuk menyembelih hewan kurban (udhiyyah atau dhahiyyah) ini sebenarnya telah disinggung Allah dalam firman-Nya, '”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar, 108: 2). Dan, dalam hadis Rasulullah SAW, “Siapa saja yang memiliki kelapangan rizki, tetapi tidak mau berkurban maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Ini berarti, siapa saja yang mampu, mempunyai kelebihan harta pada saat itu, amat dianjurkan untuk berkurban.

Kurban mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang mempunyai sifat altruis, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Namun, pemahaman kita terhadap makna kurban sangatlah dangkal. Menyembelih ribuan kambing dan sapi sekalipun tidak akan membuat kehewanian kita mati. Egoisme dan kerakusan kita telah membuat kita enggan mengurusi “rumah sendiri”. Rasanya malas menyembelih hewan di dalam diri sendiri, maka mulailah menyembelih hewan-hewan di luar sana yang tidak bersalah.

Lalu transformasi atau perubahan diri apa yang diharapkan dari praktek ritual yang konyol semacam ini? Lagi-lagi, kita terjerembab dalam ritual yang tidak bermakna. Harta yang kita miliki, daripada untuk membeli hewan-hewan kurban lalu menyembelihnya, alangkah lebih baik disalurkan untuk kepentingan-kepentingan masyarakat yang mendesak, misalnya dipakai untuk merehab gedung sekolah yang hampir roboh. Ini juga membantu pemerintah, membantu masyarakat. Atau uangnya dibelikan bahan-bahan pokok kebutuhan rumahtangga yang bagi sebagian masyarakat harganya belum terjangkau. Itu akan lebih bermanfaat.

Sesungguhnya banyak sekali ibadah ritual dalam agama Islam yang bisa dijadikan anak tangga dalam perjalanan ruhani. Puasa, misalnya, yang kemudian dilanjutkan dengan berzakat, berhaji, dan berkurban. Ibadah ini sarat dengan nilai-nilai dasar yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pelakunya. Di dalam laku ibadah haji terdapat symbol-simbol yang semuanya mengarah pada pelembutan jiwa pelakunya dan pengembangan kasih.

Sebagai contoh, seperti yang diungkapkan oleh Ali Syariati, pada saat di padang Arafah (wukuf), semua orang berkumpul melepaskan atribut-atribut dan status sosial yang disandang. Semuanya dibungkus dengan kain putih yang sama dan di tempat yang sama pula berbaur satu sama lain melakukan penyembahan pada Allah Yang Maha Esa. Tidak ada perbedaan sama sekali. Yang ada, persamaan dari sisi kemanusiaan, persaudaraan, rasa solidaritas, dan kepekaan yang tinggi terhadap sesame manusia.

Rasulullah Muhammad pernah mengatakan bahwa “Tidak ada haji yang balasannya surga selain haji yang mabrur,” (HR Bukhari-Muslim). Akan tetapi, bukanlah surganya yang penting. Bagi pelaku haji yang masih mengharapkan kenikmatan surga, maka altruisme tidak terjadi. Bukankah altruisme berarti berkarya tanpa pamrih.

Haji mabrur berarti esensi haji telah menjadi gaya hidup kita. Keberangkatan kita ke Mekah pun tidak menjamin seseorang menjadi haji mabrur. Dalam suatu riwayat, pernah ada diceritakan bahwa ia yang tidak berhaji ke Mekkah pun, bisa menjadi haji mabrur lantaran dana hajinya dipergunakan untuk menolong tetangga yang saat itu sangat membutuhkan. Seseorang yang menerapkan altruisme, meskipun seseorang tidak berhaji, akan tetap memperoleh kebahagiaan. Itulah surga, layaknya haji mabrur. Sesungguhnya bangsa Indonesia sudah memiliki simbol-simbol untuk peningkatan kesadaran. Mirip simbol-simbol dalam ritual haji, bangsa kita pun sudah memilikinya. Kita tidak membutuhkan simbol-simbol dari luar. Yang terpenting saat ini adalah niat kita untuk menerapkan simbol-simbol sakral itu dalam ranah sosial kemanusiaan, dalam altruisme.

Sejak dahulu, bangsa Indonesia sebenarnya dikenal memegang teguh altruisme dalam semboyan-semboyan seperti gotong-royong, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, musyawarah untuk mufakat. Nilai-nilai inilah yang saat ini sepatutnya kita terus tumbuhkembangkan. Pelaksanan ritual haji yang memakan biaya besar dan hanya menguntungkan beberapa pihak sudah saatnya dibatasi, bila perlu ditiadakan. Warga kita seyogyanya lebih memfokuskan harta, energi, waktu, dan segenap potensinya bagi penyelesaian problem kebangsaan yang begitu mendesak. Jika masih ingin berhaji ke Tanah Suci, sebaiknya ditunda saja dulu. Apakah yang kita cari di Tanah Suci? Bukankah Allah ada di mana-mana?

Saya percaya bahwa dengan menerapkan altruisme, maka kita pun akan menemukan Tuhan, menemukan kebahagiaan, menemukan surga. Ketidakwarasan kita membuat kita terobsesi pergi ke Tanah Suci hingga puluhan kali. Apa sebenarnya yang kita kejar? Dengan bertindak demikian, sebenarnya kita hanya melarikan diri dari persoalan. Semacam eskapisme dari penderitaan. Di sana pun kita tetap gelisah, karena banyak meminta ini dan itu. Kita tidak berlaku sebagai “tamu” Allah, kita malah merepotkan “yang punya rumah”. Pelarian diri semacam itu bukanlah solusi yang cerdas. Marilah kita menyapa sesama di sekitar kita yang menderita kekurangan dan membutuhkan uluran tangan kita. Kembangkan nilai-nilai altruisme, kendalikan diri dari obsesi meraih pahala dan kapling surga dari ritual-ritual ibadah yang kita tunaikan. Jangan over dosis. Umrah, berhaji sampai belasan kali, apa gunanya jika jiwa kita kering kerontang? Jika pun beramal masih riya’ dan takabur?

Sepanjang sejarah kehidupan Rasulullah, beliau hanya sekali saja melakukan ibadah haji, yaitu haji Wada’ (haji perpisahan). Padahal, beliau memiliki kesempatan yang sangat luang. Setidaknya pasca Fathu Mekkah pada tahun ke-8 H. Namun, faktanya beliau tidak melakukannya secara rutin setiap tahun. Ini menyiratkan bahwa ibadah haji itu di ranah sosial jauh lebih urgensif dilakukan. Inilah haji mabrur, haji yang membawa para pelakunya mengamalkan prinsip-prinsip keagamaan yang lebih bisa membawa kemanfaatan bagi semuanya.

Saya menempatkan pertama-tama bahwa agama-agama, agama saya, agama anda, agama kita semua sebagai Sabda Alam yang mesti kita hayati secara terus-menerus, tidak berhenti di tempat. Kemandegan hanya membuat pelaku agama menjadi egois, sok tahu karena mengira telah sampai pada tujuan. Di dalam penemuan ilmiah fisika kuantum saja, bukankah alam ini bergerak terus, berekspansi terus? Jika berhenti menghayati, maka kita pastinya tertinggal jauh di belakang, tergilas roda sang kala. Menghayati juga bukan berarti stagnan dalam ritualisme yang membuat kita teralienasi dari pergaulan sosial yang humanis egalitarian. Penghayatan agama harus dibuktikan dengan empati dan rasa kemanusiaan kita terhadap sesama yang semakin berkembang meluas

Kemanusiaan yang saya maksud adalah altruisme, sebuah sikap yang mementingkan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi maupun golongan. Altruisme juga berarti bukan pemaksaan kehendak mayoritas terhadap minoritas. Altruisme berarti tidak menjadi penyebab minoritas mati kutu kehilangan hak-hak sipil dan tercerabut kemanusiaannya.

Lembaga-lembaga keagamaan yang bergandengan tangan dengan pemerintah sipil untuk mengontrol dan mengawasi keyakinan warganya, adalah musuh altruisme. Altruisme juga bukan upaya memonopoli kebenaran. Adalah sebuah dagelan yang tak lucu manakala ada “agama besar” yang secara legal formal menghakimi sebagai sesat terhadap kepercayaan dan keyakinan lokal yang berakar pada budaya. Agama yang lahir belakangan dari budaya di negeri orang, manalah mungkin bisa memahami keyakinan yang lahir dari budaya sendiri.

Dibutuhkan jiwa yang apresiatif dan keluasan visi untuk bisa memahami kebenaran-kebenaran lain. Sangat musykil mewujudkan nilai-nilai altruisme bila pikiran masih cupet dan arogan. Kecupetan berpikir semacam ini, yang hanya melihat dunia secara hitam-putih karena dikabuti ego adalah kebodohan (jahiliyyah). Istilah neti-neti (bukan ini, bukan itu) dalam falsafah Hindu membawa sikap keterbukaan pada perbedaan pemahaman.

Menyoal altruisme dalam perspektif Hindu, barangkali kita bisa menyitir pandangan Prof. Dr. IB Yudha Triguna. Guru Besar ini mengatakan, dalam tradisi di Bali ada istilah puputan atau perang habis-habisan. Ketika bicara atas agama dan kepentingan daerah, perang puputan itu harus diartikan secara kontekstual. Artinya, semua pihak harus perang terhadap kebodohan dan kemiskinan, semua pihak harus memerangi ego atau sifat keakuan. Sebab, munculnya berbagai problem sosial seperti kekerasan, bunuh diri, karena kita telah membiarkan sifat-sifat keakuan (ego) terlalu mengalahkan sifat-sifat altruisme (lawan dari egoisme).

Mahatma Gandhi tidak melawan Inggris demi kepentingan pribadi. Ia melawan imperialis dengan tanpa kekerasan untuk memperjuangkan hak-hak dan kepentingan umum serta memperoleh kemerdekaan negaranya. Hal yang sama dilakukan Krishna dalam kisah Mahabharata. Krishna meminta Arjuna menegakkan dharma, yaitu membebaskan rakyat dari penderitaan akibat kejahatan Kurawa. Sama sekali tidak ada muatan kepentingan pribadi.

Kembali soal beda pemahaman tadi. Bila kita menutup diri dan tidak mau melihat kebenaran dari sudut pandang yang berbeda, sesungguhnya kita sudah terjerumus dalam dualitas. Para sufi di Sindh (sekarang disebut Pakistan) menganggap dualitas atau dui sebagai induk kekafiran. Supaya terbebas dari dualitas semacam ini, maka menurut Naradha – seorang resi yang hidup ribuan tahun lalu – di India, setiap manusia mustilah Tad Virodhishu Udaasintaa Cha, yang kira-kira berarti bahwa seseorang harus bersikap “cuek” terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Cuek terhadap perbedaan, jelas sebetulnya kita melihat perbedaan itu, namun tidak terpengaruh atau tidak mempersoalkannya.

Cuek terhadap perbedaan dan tidak mempersoalkannya merupakan pengorbanan yang mampu mengikis egoisme. Cuek terhadap perbedaan mendukung tumbuhnya jiwa altruistik. Manakala kita mengorbankan egosentrisme dan tidak mempersoalkan perbedaan, maka sesungguhnya kita terbebaskan dari dualitas dan melihat kesatuan di mana-mana. Itulah substansi agama-agama.

Dangkalnya penghayatan agama menyebabkan pemuka-pemuka agama memosisikan diri sebagai “the guardian of the truth”, sehingga polahnya laksana qadi (hakim) dan polisi agama. Ribuan kali dengan spontan mereka melabeli orang lain yang berbeda paham dengan kata-kata kafir, sesat, munafik, fasik, dan lain-lain. Padahal – mungkin saja? – yang kafir, sesat, munafik, fasik itu sesungguhnya adalah mereka sendiri. Mau konsern terhadap perbedaan ataukah cuek terhadap perbedaan, sepenuhnya adalah pilihan kita sendiri.

Masih menurut Naradha, dengan melayani tanpa pamrih yang terus-menerus maka kita menemukan kebahagiaan atau kasih atau Tuhan dalam bahasa agama. Pelayanan tanpa pamrih (altruisme) tidak bisa dilakoni oleh kita yang ibadahnya saja masih harus dimotivasi oleh limpahan pahala dan hadiah surga. Yang beribadah karena takut dilempar ke keraknya neraka.

Selama ini, kesalahan kita memang menjadikan agama sebagai tujuan yang absolut. Kitab suci dipatok harga mati, nyaris tidak bisa tersentuh tangan-tangan yang hendak memaknainya kembali. Tuhan terlupakan sudah. Jika dirundung masalah, secara mekanis atau mengikuti trend kita pergi ke tempat-tempat suci dan berdagang dengan Tuhan di sana agar beroleh surga, beroleh pahala berlipat-lipat, enteng jodoh, banyak rezeki, murah jabatan, dan lain-lain. Kita selalu ingin menambah kepemilikan. Kita lupa meminta kepada-Nya untuk sesuatu yang jauh lebih berharga dari tetek bengek itu semua, yaitu kesadaran, pencerahan, dan jiwa yang bersih sehingga bisa melihat kesatuan di mana-mana, bisa melayani tanpa pamrih.

Tentu saja, dalam hal ini saya tidak menutup mata, bagi mereka yang menjalankan agama sekadar ritual formal dan bernafsu terhadap kenikmatan kelak yang eskatologis penuh bidadari bertelanjang dan arak, maka kesadaran, pencerahan, pelayanan tanpa pamrih secara terus-menerus (altruisme) merupakan lelucon belaka. Boleh dibilang nyaris utopis dan mengada-ada. Lagi-lagi, ini semua tergantung kesadaran kita masing-masing. Alam memberikan pilihan seluas-luasnya kepada manusia. Apakah kita memilih hidup berlimpah pahala dan berhadiah surga (?) ataukah memilih hidup dengan berkarya tanpa imbalan dan menyatu dengan Dia yang empunya surga? As simple as that, bukan ?

Altruisme juga menjadi inti dalam ajaran Katolik dan Kristen. Saya tertarik sekali dengan visi revolusioner Yesus dari Nazareth. Di dalam Injil Matius, Yesus mengatakan, “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga”. Mari kita mencoba menyelami ayat yang indah ini. Menurut Swami Anand Krishna, “miskin di hadapan Allah” tidak sama dengan “miskin” dalam pengertian kita sehari-hari. “Miskin di hadapan Allah” tidak berarti tidak memiliki harta atau tidak mampu, namun yang dimaksudkan adalah menyadari keterbatasannya di hadapan Allah Yang Tak Terbatas. Menyadari kekecilannya di hadapan Ia Yang Maha Besar.

Dengan kesadaran demikian, maka kita pun melepaskan rasa kepemilikan kita. Bukankah yang ada di alam raya ini semuanya milik-Nya ? Dengan kesadaran ini, kita belajar melepaskan arogansi kita. Saya kira, pemuka agama yang saling berlomba tarik-menarik umat dengan segala acara untuk memperbesar jamaahnya sangat bertolakbelakang dengan ayat ini. Pemuka agama semacam ini sedang menambah kepemilikan. Lalu, Kerajaan Sorga apa yang mereka bicarakan? Diri mereka pun masih miskin, masih butuh pengikut yang bejibun. Bukan altruisme yang termanifestasi, melainkan arogansi dan egosentrisme yang kian bereskalasi.

Saya amati, beberapa tahun belakangan ini, mimbar-mimbar keagamaan, baik itu di media elektronik maupun cetak, sudah bermetamorfosis menjadi semacam sales-sales yang sedang sibuk mempromosikan produknya dengan calon pembeli. Bila perlu main tipu-tipu sedikit asal laku. Seperti pedagang asongan yang sedikit memaksa menjajakan barang dagangannya ke setiap orang yang mereka jumpai di terminal. Tapi, anehnya, kita pun menjadi sangat antusias terhadap para “sales” agama itu. Walhasil, buku-buku agama pun beredar di pasaran dengan murah meriah, tapi dangkal isinya. Khotbah-khotbah sudah dicetak dan dibukukan, tinggal dihapalkan lalu disampaikan kepada jamaah tanpa penghayatan sama sekali.

Tidak heran jika orang-orang yang menghadiri majelis-majelis, mimbar-mimbar keagamaan mengantuk. Para jemaah yang di dalam gedung mengantuk, tapi orang-orang yang di luar gedung menjadi jengkel karena pengeras suara yang amat bising di telinga. Dengan alasan dakwah atau misi, kita menghalalkan apa saja, termasuk mengganggu tetangga dengan pengeras suara yang menggelegar. Saya seringkali menyimak, banyak juga tokoh-tokoh agama yang dalam ceramah dan khotbahnya justru mengedepankan sentiment berbau SARA terhadap keyakinan lain. Mereka mengajak berdoa sambil menangis histeris mendoakan agar musuh-musuh agamanya celaka. Tangisan yang dibuat-buat. Air mata bawang. Inikah religiusitas? Inikah altruisme?

Masih menurut Yesus, dalam ayat selanjutnya, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan”. Kemurahan hati bisa kita wujudkan dengan berbagi rasa kepada orang lain, dengan berbela rasa kepada sesama. Kemurahan hati akan mengembangkan jiwa altruistik. Murah hati berarti kita peduli kepada orang lain. Jika keagamaan kita masih dangkal, sehingga jiwa pun penuh amarah dan kebencian, maka itu pulalah yang akan dibagikan kepada orang lain. Berbagi kemarahan dan kebencian kepada orang lain jelas bukan altruisme. Altruisme adalah berbagi kesehatan, keceriaan, kesadaran kepada orang lain. Jika yang kita tanamkan kemurahan, maka kemurahan pulalah yang akan kita peroleh. Jika kebencian yang kita sebarkan, maka kebencian pula yang kita terima. Hukum alamnya memang demikian. Tidak bisa salah.

Yesus pernah mengatakan, “Jangan melupakan kemuliaan diri dan berpaling pada berhala yang tidak akan mendengarkan suaramu’. Konsep-konsep agama yang dogmatis, tertutup dan kaku yang kita puja selama ini telah menjelma menjadi berhala yang tidak memiliki kuasa apapun. Melupakan budaya sendiri, budaya Nusantara, berarti kita melupakan kemuliaan diri. Kemuliaan diri berarti keilahian diri kita sendiri.

Jika kita sudah melupakan keilahian diri, maka sesungguhnya kita telah menduakan Tuhan dan terjerembab dalam kuasa kegelapan. Maka, saya sangat berharap, marilah kita bangkit. Kembalilah kepada Jatidiri kita sebagai bangsa Indonesia. Kembali kepada budaya asal. Jangan sampai kemanusiaan dan kemuliaan kita tercerabut karena melupakan budaya kita sendiri. Bukankah hanya hewan yang tidak memiliki budaya?

Jika di muka kita sudah membahas altruisme dalam pandangan Islam, Hindu dan Kristen maka tibalah kita meninjau altruisme dalam pandangan agama Buddha. Dalam tradisi buddhis dikenal 10 Paramita atau Kebaikan-kebaikan Utama. Di antaranya adalah dana yang berarti bukan sekadar amal saleh, namun amal saleh yang dilakukan tanpa harapan akan imbalan. Jika kita mengharapkan surga saat beramal atau berderma, maka itu bukanlah dana. Karena kita masih mengharapkan imbalan surga. Jika seorang calon anggota legeslatif ber-dana punia menyumbang pembangunan tempat ibadah hanya karena ingin terpilih dan dipilih lagi, maka jelas itu pun bukanlah dana.

Menurut Swami Anand Krishna, bila kita memberi dengan “alasan”, atau “karena sesuatu”, maka itu semua bukanlah dana. Dana berarti tangan kanan memberi tanpa diketahui oleh tangan kiri. Dana berarti memberi dan melupakan. Dana juga berarti mengingat setiap kebaikan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita. Dana berarti memberi atau berbagi tanpa harapan imbalan. Oleh karena itu, dana haruslah disertai oleh nishkama. Nishkama berarti berkarya tanpa pamrih. Nishkama juga berarti ia yang tidak terjamah oleh kama, oleh keinginan. Nishkama berarti tindakan langsung tanpa jeda untuk berpikir. Demikian menurut Swami Anand Krishna.

Sedari kecil, kita nyaris dicekoki pemahaman agama yang melulu mengedepankan untung-rugi, reward and punishment. Sejak kecil kita sudah dididik agar wajib beribadah supaya masuk surga. Sejak kecil kita dididik berjiwa pamrih. Pendidikan yang salah ini akhirnya terbawa hingga kita menjadi dewasa.

Sejak mencalonkan diri sebagai kepala daerah, bahkan jauh-jauh hari, banyak para calon itu yang mempersiapkan berbagai strategi menggaet massa agar memilih mereka. Saat tiba musim kampanye, ramai-ramai mereka pun seolah ber-dana punia, padahal target sebenarnya hanyalah mendapatkan imbalan suara yang meroket. Urusan kantor dipindahkan ke lapangan golf. Lobi-lobi “jahat” di lapangan pun dilakukan. Hasilnya beragam agenda yang merugikan bangsa dan negara pun tercipta. Karuan saja, setelah terpilih, tiap hari yang terpikir oleh sang penguasa itu hanyalah cara mendapatkan uang agar kembali modal. Selebihnya digunakan untuk senang-senang. Di mana janjimu ketika berkampanye teriak-teriak di gelanggang olahraga dan stadium-stadium, wahai para penguasa?

Iklan-iklan politik mereka memang mewabah dan membanjiri media-media massa kita. Rupanya antara rakyat dan calon pemimpinnya sudah tidak perlu lagi ada dialog secara lebih dekat tentang visi dan misi bila si calon kelak terpilih. Kampanye mereka menyambangi rumah-rumah kita setiap saat. Tanpa disadari, memori kita pun penuh rekaman wajah-wajah mereka. Apa yang mereka tawarkan dalam kampanye memang make sense. Celaka, jika tanpa kesadaran akhirnya kita memilih mereka.

Maka, perlu kecermatan dan kewaspadaan dalam menyikapi arus informasi yang kita terima. Perlu adanya filter dalam diri kita, yaitu kesadaran sehingga pilihan kita tepat. Kita harus mencermati calon-calon pemimpin kita sejak semula. Apakah selama ini pandangan-pandangan mereka menyokong altruisme atau tidak? Apakah perilaku keagamaan mereka sesuai dengan budaya Nusantara atau tidak? Ini bisa menjadi tolok ukur kita, jangan sampai salah pilih.

Ketika Front Pembela Islam (FPI) berhasrat ingin mendirikan partai, maka menurut opini saya, silahkan saja. Sekalian kita ingin tahu, benarkah mereka yang selama ini gembar-gembor “membela” Islam itu akan dipilih oleh umat Islam, jika mereka mendirikan partai? Saya hanya berandai-andai, mudahan-mudahan Kebenaran segera menemukan jalannya, dan menunjukkannya pada kita semua bahwa arogansi dan kekerasan adalah noda pada wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Atisha, salah seorang Guru Spiritual Buddhis dari Tibet yang hidup beberapa abad lalu, pernah mengajarkan bahwa apapun yang kita lakukan, tujuannya hanya satu: memperoleh kebahagiaan. Itulah tujuan kita bersama, tujuan setiap umat manusia. Dan, cara terbaik untuk mencapai tujuan itu adalah dengan altruisme, dengan berbagi kebahagiaan kepada sesama – tanpa pilih kasih, tanpa membedakan status sosial, suku, dan agama. Semua manusia bersaudara, karena kita berasal dari satu bumi dan hidup di bawah kolong langit yang sama. “One earth, one sky, one humankind!”[]