Belakangan ini, melihat bobroknya pengelolaan negara ini. Ada banyak orang yang mulai kehilangan kesabaran terhadap demokrasi. Banyak yang mulai merindukan kembali sistem lama yang totaliter dan kekuasaan yang berada di satu tangan. entah itu sistemnya seperti yang lama atau yang berbau agama.

Memang selalu terjadi di manapun, setiap ada perubahan ada banyak orang yang merindukan suasana lama yang terlihat nyaman, yang terlihat adem-ayem karena memang tidak ada yang muncul ke permukaan. Beda ketika yang buruk-buruk mulai bebas diperbincangkan. Apalagi kalau yang terjadi seperti sekarang, yang buruk-buruk itu sama si Mahfud dibuka di depan umum. Kalo dulu mana bisa ya udah kapan-kapan di PKI-kan dia.

Situasi seperti yang kita alami ini selalu terjadi di negara manapun yang mengalami masa transisi dari sistem totaliter ke Demokrasi.

Ingat yang terjadi di Polandia dulu, sehabis gerakan Solidarnosc pimpinan Walesa berhasil nurunin Komunis dan memenangi hampir seluruh kursi parlemen di pemilu 1988 dan kemudian menaikkan Lech Walesa jadi presiden yang terjadi apa?…Persis seperti di sini. Segala keburukan menjulang dimana-mana, situasi ekonomi makin parah karena orang yang terbiasa hidup diatur dalam sistem komunis tiba-tiba harus menghadapi persaingan terbuka. Demokrasi dianggap gagal, orang-orang pun jadi frustasi dan merindukan suasana lama yang totaliter lagi.

Akibatnya pemilu berikutnya tahun 1993 orang-orang Ex-Partai Komunis dan kelompoknya lagi yang menang pemilu. Tahun 1995, Aleksander Kwasniewski, Bosnya nya Partai Kommunis menang pemilu presiden meng K.O Lech Walesa.

September 2001 pemilu DPR, Partai Komunis dan aliansi kiri memenangi 41% suara pemilih.

Setelah itu politik di sana berjalan lebih dinamis, dengan kemenangan partai konservatif. Dan sampai hari ini pun politik mereka nggak benar-benar stabil, karena nggak ada partai yang benar-benar dominan.

Tapi satu hal yang positif, perlahan-lahan perekonomian Polandia sekarang jadi jauh lebih baik dibanding sistem komunis dulu dan mereka pun jadi anggota Uni Eropa.

Tahun 2004 tingkat GDP Polandia mencapai 5.4% yang menjadikan ekonomi Polandia tumbuh jauh lebih cepat dibanding rata-rata ke 25 anggota Uni Eropa yang waktu itu cuma 1.6%.

Malah tahun ini, 20 tahun setelah gerakan Solidarnosc, Galangan kapal Gdansk tempat berawalnya gerakan Solidarnosc yang dipimpin Lech Walesa bermula hampir bagkrut, pegawainya yang dulu sampe 18.000 orang sekarang tinggal 2700. Tapi ekonomi Polandia betul-betul booming, tahun 2008 mereka jadi negara terkaya no 22 di dunia dengan nilai ekspor lebih dari 190 milyar dollar amerika, melebihi Australia dan India (baca http://edition.cnn.com/2009/BUSINESS/06/05/poland.economy/ )

Jadi kurasa psikologinya masyarakat di bekas negara totaliter menuju ke demokrasi memang seperti itu, dan itu yang sedang kita alami sekarang.

Coba saja kita lihat, yang terjadi Polandia itu terjadi juga di sini kan. Ingat pemilu kedua pasca reformasi, GOLKAR yang menang. Tapi setelah itu GOLKAR ditinggalkan orang juga kan!

Periode ketiga seperti di Polandia dulu, di sini terjadi koalisi kacau balau dan nggak ada satu partai pun yang benar-benar dominan.

Jadi saya lihat kita sekarang sebenarnya sedang menjalani proses yang sama dengan Polandia.

Bagi yang mempercayai klenik, bendera Polandia kan sama dengan bendera kita, cuma posisi putih dan merahnya aja yang kebalik. Jadi sepertinya Indonesia memang sedang menuju ke arah yang benar.

Tapi tidak semua juga berjalan begitu, kalau demokrasi yang sudah berjalan ini tidak bisa dikawal dan di jaga, bisa jadi nasib Indonesia akan sama dengan Uni Sovyet dan Yugoslavia.

Wassalam

Win Wan Nur

http://www.winwannur.blog.com
http://www.winwannur.blogspot.com