Pernah sebel sama seseorang? Atau banyak orang? Sama keadaan, sama hujan, sama dompet yang tebel dengan kwitansi dan surat tilang atau sama semut rangrang  Apapun – kalau sampiyan manusia normal pasti pernah sebal.

Sebetulnya cara paling gampang mengatasi rasa sebal adalah dengan mengambil paku dua inchi dan martil lalu benamkan setengah badan paku itu di tengah jidat anda. Ditanggung rasa sebal akan sirna seiring perubahan anda dari manusia jadi sebatang wortel. Frontal lobes rusak, anda jadi vegetable. Sayangnya, kita selalu terlalu penakut untuk memilih cara mudah nan destruktif seperti itu. Atau dalam bahasa yang lebih mengibur, kita katakan bahwa kita sebagai manusia terlalu berharga untuk jadi sebongkah sayur kol.

***

Saya semalam merasa sebal. Ada deh urusannya. Jangan terlalu mau tahu, karena itu juga sifat menyebalkan. Yang jelas pagi ini sebal yang tersisa dipicu kembali karena ban sepeda motor saya kempes. Cukup? Belum. Karena tiga bengkel tambal ban terdekat ternyata masih tutup. Jadi saya terpaksa pergi ke tambal ban yang lebih jauh, di pinggir jalan besar, di tukang tambal ban yang saya tidak kenal. Dan saya menyerahkan diri seperti perawan belia yang siap digagahi oleh pria yang mungkin bermental bangsat macam si tukang sodomi.

Yang melayani seorang pemuda tanggung. Dari tampangnya dan rona kepet di matanya, kelihatan dia belum lama bangun, dan memang waktu saya tiba dia belum lagi selesai beberes membuka kios. Ndilalahnya, kedatangan saya tidak lantas mengubah raut wajahnya jadi bahagia. Mungkin dia juga sebal karena ada orang-bengkring-bertampang-masam-bocor-ban-nggak-tahu-waktu lalu setelah parkir motor malah ngeluarin duit seratus ribuan dan bertanya seakan nggak ada otaknya, "Ada kembalinya nggak bang?"

Jelas saja nggak ada. Jadi saya kudu jalan kaki ke pompa bensin terdekat dan mengiba-iba minta tulung sama petugas pom bensin yang lagi sibuk melayani antrian panjang kendaraan mereka yang ingin bergegas berangkat kerja di pagi hari.

Mantap kan.

Entah ada berapa juta orang yang sebal pagi ini. Hitler mah nggak usah dihitung karena dia sudah mati lama. Noordin juga. Walau saya nggak tahu apakah dengan dubur corongnya dia akan merasa sebal atau tidak waktu ditanya malaikat di alam kubur sana. Wallahualam. Sebagai muslim kita berharap yang terbaik saja ketika orang sudah meregang nyawa. Mudah-mudahan malaikatnya lupa.

Sebal memang seperti panu yang mudah nepa alias menular.
Dan sebal seperti rantai yang liat dan lekatnya melebihi jaring si bocah laba-laba gendeng peter parker.

Anda sebal dengan temen kantor yang belegug, lalu anda jadi masam, tanpa sadar anda juga mulai jadi orang menyebalkan dengan wajah kecut. Keluar kantor pengen cari angin segar, ketemu tukang parkir, itu tukang parkir ngedumel, "Pagi-pagi wajah sudah ditekuk. Dia kagak tau gue belum sarapan".

Si tukang parkir juga jadi sebal. Jadi sewaktu markirin boss anda, dia melakukannya dengan setengah hati. Boss anda juga jadi sebal karena parkir hampir nabrak. Lalu boss anda jadi ngedumel, seluruh isi kantor jadi sebal. Dan anda sepulang dari kios teh botol di sebelah kantor, masuk, lalu belaga curhat tentang teman yang menyebalkan tadi sama temen anda yang lain, tanpa anda tahu kalau ia yang baru dateng sudah kena semprot boss yang lagi nyap-nyap.

Temen anda jadi dua kali lipet lebih sebel. Mana bos dateng-dateng maen semprot, ini ada si pendul belaga curhat yang nggak penting. Lu rasain gempa di padang sana. Biar nyaho.

Itu orang Sumatera kalau denger jadi meradang. Orang lagi kesusahan, kok malah dibawa-bawa urusan kantor yang sepele. Satu Padang dan Sumatera Barat jadi ngamuk. Menuntut memisahkan diri dari Indonesia. Dan Presiden beserta kambrat-kambratnya jadi sebel juga.

Perlu saya lanjutkan sampai perang dunia ke tiga?

Ndak perlu. Karena kalau anda sudah cukup sebal dengan gaya cerita bertele-tele ini, anda pasti bisa menangkap maksudnya. Cuma gara-gara anda sebel sama temen kantor, dunia bisa memulai lagi peradaban dari kapak batu dan sarkofagus.

Dan sekali lagi. Sebal itu seperti rantai yang liat dan lekatnya melebihi jaring si bocah laba-laba gendeng peter parker, dan seperti panu yang gampang pindah kulit tanpa harus berhubungan seksual.

And you know how to break those kind of chain?
Bagaimana memutus rantai sebal?

Cara termudah mestinya dengan satu senyuman.
Bukankah kalau sampiyan lagi sebal, curhat atau ngadu sama dukun santet itu sebenarnya sampiyan lakukan dalam rangka mencari cara untuk menghibur diri sampiyan sendiri? Untuk membuat anda tersenyum lagih? Sukur-sukur anda bisa tertawa lagih? Untuk menemukan lagi kehalusan budi anda yang terkubur kapak perang bermerk sebal?

Lalu kenapa tidak memulainya dengan membuat orang tersenyum?

Karena begitu kata kamus baonk, maka begitulah yang saya coba lakukan hari ini.
Bukan. Sebetulnya begitulah yang selalu saya coba lakukan dan yakini. Cara termudah memutus rantai sebal adalah dengan membuat orang lain bahagia.*)

Tidak perlu juga harus membahagiakan orang yang membuat anda sebal. Biasanya malah ngelunjak. Atau lebih biasanya lagi kita ndak bisa ikhlas membahagiakan mereka. Jadinya malah berbuat sesuatu dengan niat setengah, yang akhirnya jadi percunah. Dan melunturkan keyakinan anda pada kamus baonk. Dan berdoalah anda bukan seburuk-buruknya mahluk. *dua kalimat terakhir itu sebaiknya dibaca terpisah karena tidak ada hubungannya percaya pada kamus baonk dengan seburuk-buruknya mahluk.*

* * *

Jadi selesainya tambalan ban itu, saya kasih selembar duit. Saya tahan syahwat basa-basi yang bergejolak dan tidak bertanya, "berapa ongkosnya." Nanti kalau dia jawab melebihi tarif yang umum, dia bisa meradang. Kok dia yang meradang? Tentu saja karena saya gampar.

Jadi saya biarkan dia terbengong, dan akhirnya tersenyum riang. Raut wajahnya jadi cerah. Sambutan wa'alaikumsalamnya jadi ramah. Terimakasih-nya jadi berulang-ulang. Dan saya memutuskan segera menyingkir sebelum dia mengambil pisau dan memaksa mengangkat saya menjalani upacara saudara sedarah.

Yang penting dia tersenyum dan begitupula hati saya.

Alhamdulillah.

Tapi jangan takut. Saya belum cukup gila untuk mengecup pipinya dan berbisik mesra di telinganya, "When I See You Smile, I Can Face The World."

Tidak. Saya bukan orang serakah.
Karena seperti saya, anda selalu butuh cara memutus rantai sebal.
Jadi saya sisakan pipi tukang tambal ban itu untuk sampiyan saja.

Sentaby,
dbaonk

*) Kalau anda ingin tahu bagaimana cara saya "mengubah sebal menjadi tawa" sila google tulisan yang saya tulisa bertahun lalu. Judulnya "Bersyukur & Berteman" (dbaonk.wordpress). Itu tulisan yang bagus. Maksudnya bagus kalau dibaca, diprint, difotokopi, disebarkan sampai ke tanjung harapan, karena saya akan tambah terkenal sebagai tukang ngarang yang gemar mengada-ada.