Seorang komponis dan profesor musik dari Jerman, Dieter Mack, bilang ke saya: I don't know what music is. I can make music, I can enjoy music. I can tell the difference between good and bad music, but I don't know what music is.

And that made me think.

Kalau seorang praktisi dan akademisi di bidang musik bisa berkata seperti itu, maka saya juga bisa bilang bahwa I don't know what consciousness is. Saya tidak tahu kesadaran itu apa. Yg saya bisa tahu bahwa saya sadar. Sadar karena memang sadar. Aware of being aware. Dari mana datangnya kesadaran itu dan akan ke mana perginya tidak saya pikirkan. Saya tidak tahu. Saya cuma bisa tahu bahwa saya sadar. Dan itu sudah cukup bagi saya.

Ada juga yg bilang bahwa saya Krislam (Kristen-Islam), but I don't care.

Saya tidak pegang satu agamapun karena saya tahu bahwa keduanya cuma bermain dengan imajinasi belaka yg bisa kita pakai sebagai referensi. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, masih banyak metode lainnya. Tidak pakai metode berupa agama juga tidak apa-apa. Agama cuma software saja, dan tubuh kita hardware-nya. Kesadaran kita melihat hasil kerja software itu di layar monitor. Kalau programnya ternyata berjalan jelek, maka yg jelek itu softwarenya (agamanya). Buang aja dan ganti software yg lain.

Tubuh kita (hardware) tetap, tidak error.

Terkadang kita harus update hardware juga, tambah memory, dsb. Dan itu dilakukan oleh kesadaran kita di luar segala software berupa agama.

Agama cuma software saja, bisa dipakai dan bisa dibuang. Versi software juga macam-macam. Ada software Islam primitif, Islam progresif, Islam liberal. Kristen juga begitu, versinya bervariasi. Harganya juga beda-beda.

+

AGAMA SEBAGAI FOLKLORE ATAU CERITA RAKYAT

T = Mas Leo,

Maaf kalo ini pertanyaan yang tak bermutu. Tapi ini yang bikin ngganjel otakku sapa tahu dengan pemaparan panjenengan ganjalan di otak ini bisa hilang heheheh… Kayaknya njenengan kok lebih free delam pembeberan tentang kesadaran.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa ada pemahaman tentang yang dinamakan sedulur papat limo pancer, ada lagi keblat papat limo pancer, kalo di agama Islam ada malaikat penunggu manusia, ada lagi nafsu empat: amarah, mutmainah, syufiah yg satu lupa hehehe… Kalo menurut pandangan Mas Leo tentang hal tersebut itu gimana, apa hanya sebatas teori buatan manusia saja atao memang ada dalam pandangan psikologi kesadaran Mas Leo, minta penjelasannya dong?

J = Sadulur papat limo pancer adalah empat elemen alam semesta: udara, air, api, dan tanah. Plus roh. Roh inilah yg saya sebut sebagai kesadaran dan melihat saja segalanya datang dan pergi. Elemen udara artinya pemikiran kita. Kita berpikir terus, tapi apakah kesadaran kita sama dengan pikiran kita? Tentu saja tidak. Ternyata kesadaran kita tetap ada walaupun kita tidak berpikir. Kita tetap sadar bahwa kita sadar.

Yg termasuk elemen udara adalah agama dan ilmu pengetahuan. Apakah kesadaran kita sama dengan agama kita? Jawabannya of course tidak. Agama ya agama, adanya di luar kesadaran kita, dan ternyata kesadaran kita independen dari agama. Kita mau pakai agama A bisa, mau pakai agama B juga bisa. Bisa Islam, bisa pula Kristen, bisa pula agama lainnya. Dan apakah kesadaran kita menjadi lain ketika kita beralih memeluk agama lain? Itu juga tidak.

Kesadaran kita ternyata independen dari agama.

Apakah ilmu pengetahuan bisa dipisahkan dari kesadaran kita? Bisa juga. Kita sadar bahwa kita sadar, bahkan tanpa perlu membawa-bawa ilmu pengetahuan.

Elemen air adalah emosi kita, perasaan-perasaan, hubungan antar manusia. Kita bisa bertanya apakah emosi kita sama dengan kesadaran kita? Ternyata tidak sama. Emosi datang dan pergi, dan ternyata kita tetap sadar juga. Sadar bisa melihat ketika kita marah dan ketika kita sedih. Hubungan antara manusia juga begitu. Ternyata walaupun kita putus cinta, itu tidak akan membawa masalah berlarut-larut karena kesadaran kita tetap ada. Kita sadar bahwa kita sadar.

Elemen api adalah tindakan fisik. Apakah kesadaran saya sama dengan jari-jari tangan saya yg mengetik? Kalau sama, berarti saya akan mengetik terus tanpa henti. Ternyata tidak sama. Ternyata kesadaran saya tetap ada walaupun saya berhenti mengetik.

Elemen tanah adalah tubuh fisik kita. Apakah kesadaran saya sama dengan kaki saya? Kalau kaki saya harus diamputasi, apakah kesadaran saya akan hilang? Enak aja! … Ternyata saya tetap saja sadar, bahkan setelah kaki saya dipotong. Apakah kesadaran saya sama dengan rasa lapar saya? Itu juga tidak. Ternyata rasa lapar, kenyang, haus,… birahi, dll.. yg berasal dari metabolisma dan pergerakan hormon di tubuh kita juga bukanlah kesadaran kita. Kita sadar bahwa kita sadar di luar semuanya itu.

Kita yg sadar inilah yg disebut roh. Pancer. Kesadaran. Itu pemahaman saya tentang sadulur papat limo pancer. Penjelasan saya mungkin beda dengan mereka yg berlatar-belakang kejawen. Mereka menggunakan berbagai macam trik masa lalu seperti berbagai jenis tapa atau meditasi. Saya bisa langsung memahami essensinya tanpa perlu mempraktekkan tapa yg aneh-aneh itu.

T = Bahkan di beberapa kepercayaan Jawa kalo kita ingin sukses harus pake minta bantuan sedulur papat itu, dan bahkan ada ritual puasa patigeni, terus ada yang puasa mutih tujuh hari, puasa nganyep, puasa ndak pake garam dan masih banyak lagi. Bagaimana menurut pandangan Mas Leo tentang hal itu semua?

J = Biasa saja.

Puasa artinya membulatkan niat pada titik kesadaran atau pancer. Mungkin manusia masa lalu tidak bisa seperti kita sekarang yg berpikir secara rasional dengan planning. Tidak tahu bagaimana bisa secara rasional mencapai apa yg dituju. Cara mereka membulatkan keinginan dirinya adalah dengan puasa. Macam-macam puasa itu menurut saya merupakan tapa atau meditasi juga. Seharusnya disebut tapa dan bukan puasa.

Tapa patigeni adalah mematikan semua perasaan di tubuh. Dan ternyata hal itu tidak bisa dilakukan. Ternyata kita masih saja bisa merasakan sensasi di tubuh fisik. Walaupun demikian, niat berpatigeni itupun sudah bisa menghantarkan kita untuk mengerti bahwa kesadaran kita ternyata tetap dan tidak tergantung dari sensasi tubuh. Sensasi fisik datang dan pergi, sedangkan kesadaran kita tetap. Dan itu yg dikultivasi ketika melakoni patigeni.

Ada lagi tapa kumkum, yaitu berusaha merasakan bahwa ternyata kesadaran kita tetap ada, mengambang, dan tidak terpengaruh oleh dinginnnya air. Air mengalir melewati tubuh kita yg terendam, tetapi ternyata kesadaran kita tetap.

Ada yg namanya tapa surya, jadi si pelaku akan dibungkus oleh kain hitam, dan ditaruh di bawah terik matahari. Akhirnya orangnya akan terpaksa diam saja. Diam saja dan mengamati kesadarannya yg ternyata tetap dan independen dari segalanya setelah orangnya dibungkus rapat seperti mayat dan dijemur di bawah matahari terik selama berjam-jam. Ketika dia diam kepanasan mengamati matahari dengan matanya yg tertutup, dia mungkin akan mengerti juga bahwa kesadaran di dirinya itu ternyata tetap saja… bahkan tidak terpengaruh oleh panasnya matahari.

T = Di tanah Jawa ada ilmu ketuhanan yang diturunkan tiap bulan tertentu (biasanya Suro untuk inti ketuhanan ), terus nurunin mantranya biasanya lewat jam 12 malam s/d sekitar jam tiga-an dini hari, menunggu istilah 'sa’at' katanya. Dan mantra itu bila dibaca ndak pas saatnya bisa cilaka yang membacanya, dan bahkan membaca mantranya itu meski pas 'saatnya' tapi di sembarang tempat membacanya yg dengar bisa celaka, wong telur yang diengkrami induknya bisa ndak netas lho, dan binatang yg mengandung bisa keguguran. Kalo dak liat isi mantranya sih mengarahkan kita tuk suwung lewang lewong ndak ada apa apa, yg ada ya ke sadar tok itu. Yg jadi aneh kok pake mantra terus pake ritual puasa segala ya? Kalo menurutku ritual puasa dan mantra ini hanya untuk lebih focus dalam visualisasi ke kesadaran tok itu, kalo menurut pandangan Mas Leo gimana ya?

J = Ritual mantra dan puasa itu cuma prasyarat yg dibuat-buat oleh manusianya saja. Kalau yg membuatnya merasa harus begitu cara memakainya, ya dipakailah cara itu. Keampuhannya akan tergantung dari seberapa besar pelakunya sendiri bisa kuat menjalankan apa yg disyaratkan itu. Yg bekerja itu bukanlah segala macam prasyarat dan mantera, melainkan kekuatan pikiran si manusia. Dengan kata lain, kesadaran manusialah yg membuat energi-energi itu bergerak. Kalau kita meniatkan sesuatu, dan kita percaya bahwa kita bisa melakukannya. Dan segala pra-kondisi telah terpenuhi, maka mau tidak mau akan jalanlah apa yg kita niatkan.

Tetapi kalau pra-kondisi tidak ada, orangnya bisa juga menjadi gila kalau masih tetap mau memaksakan diri memperoleh juga apa yg diinginkannya melalui cara-cara "klenik" (dalam tanda kutip).

Saya bilang segala prasyarat dan lakon ilmu-ilmu Jawa itu bersifat klenik karena didasarkan kepada "katanya" (dalam tanda kutip juga).

Katanya harus diturunkan di bulan Suro antara jam 12 malam sampai jam 3 pagi. Katanya tidak boleh dibaca sembarangan manteranya. Katanya harus puasa senin kemis. Katanya tidak boleh menyentuh perawan, kalo menyentuh janda boleh… Ada lagi yg katanya tidak boleh menyentuh wanita, kalo pria yg didandani sebagai wanita boleh. Ada yg bilang tidak boleh makan babi karena kalau makan babi bisa jadi babi juga, pedahal tidak bisa. Pedahal tetap manusia biasa saja.

Ilmu-ilmu yg dianeh-anehkan seperti itu mungkin berfaedah di masa lalu tetapi tidak ada gunanya lagi di jaman post modern ini. Sama saja seperti agama-agama yg mengajarkan bahwa kalau tidak sholat dan puasa maka tidak akan masuk Sorga melainkan harus siap-siap masuk Neraka. Semuanya itu takhayul belaka. Bisa bermanfaat bagi manusia masa lalu yg tidak menggunakan facebook, tetapi tentu saja akan menjadi bahan tertawaan manusia masa kini yg sudah tahu bahwa segala guru-guru klenik aliran Kejawen dan guru-guru agama aliran Islam atau Kristen cuma bekerja menggunakan kekuatan pikiran manusia saja. Yg didaya-gunakan itu pikiran murid-murid dari para "orang sakti" (dalam tanda kutip) itu.

Of course sakti dalam tanda kutip karena mereka juga manusia biasa saja. Dan mereka bisa mempertahankan sugesti yg ditanamkan kepada murid-murid mereka selama murid-murid itu mau mempercayainya. Kalau tidak mau percaya segala macam itu, tentu saja tidak akan ada pengaruhnya bagi kita. Ulama-ulama itu tidak memiliki pengaruh atas saya karena saya tidak percaya mereka. Orang-orang klenik juga begitu… – How could they influence me? … Bagaimana mereka bisa mempengaruhi saya kalau saya sendiri bisa berpikir? That's the keyword: berpikir.

Segala sesuatu yg aneh, baik dari agama maupun adat, cuma bisa dijalankan oleh mereka yg tidak berpikir. Kalau kita bisa berpikir dan memutuskan bahwa kita tidak mau yg model seperti itu, maka kita tidak akan terpengaruh. Kita tetap bisa meditasi tanpa perlu perduli dengan segala macam praktek pantangan, puasa, sembahyang, amalan,… dan sebagainya, yg cuma membuat orang menjadi takut berpikir. Kita bisa berpikir. Dan kita tidak perlu takut untuk membuang yg kita tidak suka. Kita pakai yg kita suka saja. Kita bahkan bisa membuat ritual kita sendiri saja, kalau mau.

T = Ada satu lagi, banyak di daerah saya itu orang pergi ke makam para orang ampuh katanya ngalab barokah, ada ke makam Bung Karno di Blitar, ada ke petilasan muksanya Sri Aji Joyo boyo di Kediri, dan makom makom lain yang dianggap orang sebagai orang yang linuwih dan sebagainya. Saya juga pernah ikutan tapi belum bisa ketemu sama yg 'mati', tapi ada yg sebagian orang waktu ziaroh itu bisa bertemu dan dialog sama orang ampuh yang sudah mati itu, dan kadang malah bilang wah orang ampuhnya ndak ada, akhirnya ziarohnya ndak jadi deh. Tentang hal ini bagaimana pendapat Mas Leo? Apa memang bisa kita dialog dengan yang sudah tiada, ajarin dong huakakakak?

J = Bisa aja kalo mao. Bilang aja anda dapet "bisikan" (dalam tanda kutip).

Bisikan ini sifatnya goib, jadi tidak ada yg bisa mendengar. Anda sendiri juga tidak bisa mendengarnya. Yg anda bisa rasakan cuma munculnya kelebatan pikiran di dalam kepala anda. Itu yg asli, namanya intuisi. Intuisi yg muncul bukanlah berasal dari orang yg sudah mati itu sebenarnya, melainkan dari diri anda sendiri saja. Seolah-olah anda menempatkan diri sebagai si orang yg telah mati itu.

Mereka yg dinabikan di dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam juga begitu cara kerjanya.

Jadi nabi-nabi Yahudi itu akan bilang bahwa Allah marah, atau Allah minta korban kambing, atau Allah ngamuk-ngamuk karena dibilang punya anak, pedahal belom pernah kawin. The question is, apakah benar para nabi itu mendengar Allah ngomong? Of course not, yg berpikir dan berbicara cuma manusia saja yg memposisikan dirinya seolah-olah tempat curhat. Tempat curhat bagi Allah. Pedahal yg disebut Allah itu cuma istilah yg dimunculkan oleh intuisi di kesadaran si nabi itu sendiri saja… Not even kesadaran dari manusianya, melainkan intuisi. Intuisi itu hasil dari kesadaran, dan bukan kesadaran itu sendiri. Kesadarannya sendiri tetap. Sadar bahwa dirinya sadar.

T = Ada pula keyakinan yg berkembang orang kalo dah sakti mandraguna itu dia sebenarnya tidak mati tapi muksa musno sirno sak ragane, bisa jadi sekehendak karepe atina bisa mancolo putro biso mancolo putri untuk memberi petunjuk kawulo sing ndak genah karuan polah tingkahe neng dunyo iki… (Seperti yg terdengar santer di daerah kami: Bung Karno di Blitar, Sri Aji Joyooyo di Kediri, Mahapatih Gajahmada, dan banyak lagi).

Ternyata Jawa saja banyak orang saktinya huakakakak… tapi kenapa sekarang jadi seperti ini ya hikss hiksssss… Wah enak ya jadi manusia yg abadi mukso sejati? Apakah ini semua hanya polah tingkah hasil pola pikir dan imaji serta belief system saja ato gimana?

J = Belief system saja, namanya kepercayaan rakyat, folklore.

Kepercayaan rakyat Jawa namanya folklore Jawa. Kepercayaan rakyat Timur Tengah, namanya folklore Timur Tengah. Agama-agama Timur Tengah itu bermula sebagai folklore, kepercayaan rakyat. Ada orang yg dinabikan, ada ucapan yg direkam, diedit, dan disebar-luaskan. Lalu dipercayai dan akhirnya dilembagakan. Kalau sudah dilembagakan artinya sudah ada organisasi terpusat dan cabang-cabangnya, lengkap dengan para imam dan syariat. Ada hukuman bagi rakyat yg tidak patuh, dan ada pula uang yg dikumpulkan bagi kepentingan organisasi dan pengurusnya. Kepercayaan rakyat Jawa masih berupa folklore, belum dilembagakan. Kepercayaan rakyat Yahudi sudah dilembagakan sejak sekitar 3,000 tahun yg lalu. Kalau sudah dilembagakan akhirnya disebut sebagai agama. Malah sudah ada turunannya juga berupa agama Kristen dan Islam.

Pedahal asalnya semuanya folklore belaka, kepercayaan rakyat Yahudi.