T = Salam Bang Leo, Saya orang Bali yg tinggal di lingkungan adat yg kuat. Sudah sekitar lima tahun saya tidak sembahyang di pura ato "mrajan" karena bagi saya kebanyakan ritual-ritual Hindu Bali justru membodohi dan menyusahkan umatnya. Tapi saya tetap berpegang kepada beberapa ajaran Hindu yg masih relevan menurut saya.

J = Bukan hanya anda saja yg seperti itu. Saya juga sudah tidak pernah lagi ikut ritual keagamaan yg menurut saya isinya pembodohan massal saja. Orang-orang di dunia Barat banyak yg sudah meninggalkan ritual keagamaan, dan gedung-gedung gereja menjadi kosong. Gedung-gedung gereja yg indah dan berusia ratusan tahun itu cuma menjadi tujuan wisata bagi turis-turis dari Jepang, Taiwan, India, Cina, dll… , termasuk dari Indonesia. Kita bisa menyaksikan bahwa gedung-gedung gereja menjadi saksi bisu bahwa pernah ada manusia-manusia yg keracunan oleh pemikiran keagamaan dan menghasilkan berbagai karya seni yg begitu indah.

Memang karya seni yg luar biasa, lukisan-lukisan frescoes di dinding dan langit-langit yg memperlihatkan bagaimana Yesus dipuja-puji oleh para orang suci dan malaikat. Patung-patung para orang suci yg terbuat dari marmer. Pelukis dan pemahatnya juga tidak main-main. Leonardo da Vinci, Michael Angelo, dan banyak lagi artis kelas dunia lainnya. Ada juga gedung yg usianya sudah ribuan tahun, pernah digunakan sebagai kuil Romawi, lalu menjadi gereja Katolik, dan sekarang cukup menjadi atraksi pariwisata saja.

Eropa Barat merupakan bagian dunia yg paling maju, mereka merupakan bagian dari Christendom atau Dunia Kristen. Penduduknya dibesarkan dengan tradisi Kristen, baik dari aliran Katolik maupun Protestan. Tetapi kita lihat saja situasinya sekarang, setelah masyarakat menjadi maju, kaya raya, berpendidikan. Bukannya masyarakat menjadi semakin agamis, tetapi justru menjadi semakin sekuler. Semakin memisahkan dengan tegas antara urusan sekuler dengan urusan agama. Urusan agama adalah urusan pribadi, dan negara tidak mencampuri agama yg mau dianut ataupun tidak dianut oleh tiap orang. Tidak ada pemaksaan, dan itu ciri dari masyarakat maju.

Tetapi di masyarakat terbelakang, termasuk di Indonesia saat ini, yg terjadi adalah kebalikannya. Masyarakat akan memaksa para anggotanya untuk beragama. Biasanya paksaan halus dan kasar itu akan diikuti oleh berbagai khotbah tentang ajaran agama, tentang bagaimana kita akan memperoleh hadiah berupa Sorga dan hukuman berupa Neraka. Itu bagi mereka yg pemikirannya masih terbelakang dan berlatar belakang agama-agama Timur Tengah.

Gereja-gereja sudah kosong di Eropa Barat, tetapi di Indonesia justru sebaliknya. Setiap hari Minggu, gereja-gereja di Indonesia akan penuh dengan umat yg mengharapkan untuk masuk Surga. Semuanya bernyanyi dan berdoa memuja-muji Tuhan. Pedahal Tuhan yg dipuja-puji itu cuma bisa terlihat di lukisan-lukisan karya seni yg luar biasa indahnya di museum-museum di Eropa Barat. Gedung-gedung gereja di sana sudah menjadi semacam museum juga, dikunjungi oleh turis di hari Minggu, untuk melihat karya-karya seni yg ada di dalam gedung-gedung gereja itu, dan bukan untuk beribadah.

Agama cuma dipeluk oleh manusia yg masih memiliki sentimen primordial primiitif, masih merasa perlu untuk berpegangan kepada simbol-simbol yg diciptakan oleh mereka yg di-nabi-kan di masa lalu. Manusia yg sudah tercerahkan justru akan meninggalkan agama secara total. Yg berada di tengah adalah hibrida antara manusia tercerahkan dan manusia primitif. Kita di Indonesia memiliki manusia primitif dalam jumlah banyak sekali, ciri-cirinya sangart jelas, yaitu mereka akan beribadah sesuai agamanya masing-masing. Mereka benar-benar percaya bisa masuk Surga atau masuk Neraka.

Sebagian dari kita sudah menjadi hibrida antara manusia primitif dan manusia tercerahkan. Hibrida ini biasanya suka pura-pura relijius, memuja-muji kehebatan agamanya, walaupun sebenarnya dia itu sudah tidak percaya lagi. Tetapi karena diajarkan untuk memuji agamanya setinggi langit, ya dipujilah. Kalau agamanya Islam, maka Islam akan dipujinya habis-habisan. Kalau dia Kristen, maka Kristen akan disohorkannya. Yg ada di mulutnya adalah agama yg secara resmi dianutnya, walaupun sebenarnya dia sudah tidak percaya lagi.

Sebagian kecil dari kita sudah masuk menjadi species tercerahkan dengan bilang terus terang bahwa kita sudah tidak percaya lagi kepada agama. Agama itu diciptakan oleh manusia masa lalu agar bisa menggerakkan manusia-manusia lainnnya. Agama Hindu di India diciptakan agar para Brahmana dan Ksatria bisa mengatur masyarakat mereka menjadi tertib. Agama Buddha di Srilanka, Tibet dan Indocina dipegang karena para raja dan bhikku bisa bersepakat untuk menetapkan Buddhisme sebagai ideologi negara, dan itulah yg diajarkan kepada rakyat kebanyakan yg oho oho saja…

Rakyat kebanyakan, apalagi di masa lalu, selalu oho oho saja apabila dijejalkan ajaran agama. Mereka tidak memiliki alternatif. Tidak ada internet, tidak ada surat kabar, tidak ada TV. Yg ada cuma para pemuka agama dan kasta ksatria yg juga tidak ragu-ragu untuk menggunakan kekuatan fisik agar rakyat menurut. Eropa Barat juga seperti itu di masa lalu, tetapi industrialisasi dan abad pencerahan membawa terjungkalnya dinasti para raja dan ambruknya cengkeraman gereja-gereja. Walaupun Inggris masih memiliki gereja negara, tetapi sang gereja negara statusnya is kambing congek atawa seremonial belaka. Denmark masih memiliki gereja negara, dan nasibnya juga sama seperti Gereja Inggris which is none other than seremonial.

Seremoni itu upacara formal, dan bukan ritual. Ritualnya sendiri bisa diikuti sesekali saja seperti ketika ada orang yg ingin membaptis anaknya, atau ingin menikah di gereja, atau ingin dimakamkan dengan upacara gereja. But no more than that. Selebihnya merupakan urusan pribadi masing-masing. Mau percaya Yesus atau Buddha tidak akan menjadi masalah. Tidak ada pemaksaan untuk menghadiri ritual gereja karena masyarakat telah berobah, telah menjadi beradab, telah menjadi masyarakat industri maju, telah berpendidikan, telah teratur, telah menghormati HAM (Hak Azasi Manusia).

Masyarakat di negara-negara maju mengerti bahwa agama cuma menjadi pegangan bagi orang-orang yg masih terbelakang. Agama itu pegangan bagi mereka yg status sosial ekonominya rendah. Di India banyak orang yg status sosial ekonominya rendah, miskin sekali, dan mereka terjebak dalam ritual keagamaan yg penuh takhayul. Tetapi, India juga memiliki kelas menengah terbesar di seluruh dunia. Kelas menengah di India bahkan jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan kelas menengah di Amerika Serikat. Kelas menengah dalam hal pendidiikan dan penghasilan. Makanya tidak mengherankan bahwa kita sering menemukan orang India yg sekuler. Sangat sekuler dan tidak perduli sama sekali dengan ritual penuh takhayul yg dipraktekkan oleh banyak orang di India.

Orang India bisa saja memamerkan foto Sai Baba di rumah mereka, lengkap dikalungi dengan bunga. Bisa saja mereka mengucapkan 'namaste', tetapi dalam kehidupan sehari-hari sangatlah sekuler dan tidak memperdulikan ritual lagi. Sama seperti orang Inggris yg bisa mengucapkan 'God bless you' tanpa merasa perlu berjejal di gereja di hari Minggu. Mereka bisa menyanyikan 'God Save the Queen', lagu kebangsaan Inggris. Tapi apakah mereka benar percaya kepada God itu ? Tentu saja tidak. God itu cuma istilah saja, tradisi saja, dan tidak perlu disembah-sembah lagi dalam ritual yg menghabiskan waktu dan tenaga seperti yg masih dilakoni oleh banyak orang di Indonesia.

Indonesia masih terpuruk dalam cengkeraman pembodohan agama, dan satu dunia memakluminya. Indonesia masih terbelakang, kelas menengah masih relatif terbatas jumlahnya, dan mayoritas masih kelas bawah. Kelas bawah selalu memaksakan pendapatnya, selalu menciptakan huru hara karena mereka pikir langit akan runtuh kalau Allah Ta'alla tidak disembah. Pedahal yg mereka percayai itu cuma fatamorgana saja. Fatamorgana kelas bawah.

T = Kemarin-kemarin saya bisa agak cuek akan gunjingan, cemooh, dsb dari masyarakat sekitar akan ketidak-pernahnya saya ikut sembahyang, karena saya jarang di kampung dan tinggal di Denpasar. Tapi sekarang saya harus tinggal di kampung.

J = Alangkah malangnya nasib anda. Oh malangnya nasibku, hu hu hu…

T = Bagaimana cara saya menghadapi masyarakat sekitar saya yg merasa "terganggu" dengan kehadiran saya, hanya karena saya tidak sembahyang walau tanpa pernah mengganggu mereka. Terutama saya bingung akan sanksi-sanksi adat yg dikaitkan dengan agama. Kalau saya tidak pernah ke pura dan ikut gotong royong di pura saat odalan bsa dikenai sanksi adat. Sedangkan saya tidak mau memaksakan diri sembahyang demi penghargaan masyarakat sekitar. Saya minta pencerahan dari Bang Leo atas kendala di atas dan saya juga tidak ingin mengecewakan orang tua dan keluarga saya karena mereka sangat tergantung dengan hukum serta lembaga adat yg ada.

J = Bali has been changing. Telah banyak yg berubah di Bali sejak Belanda masuk ke Bali Selatan seratus tahun yg lalu. Perubahannya boleh bilang cepat sekali, tetapi tidak cukup cepat untuk mereka yg sudah bisa menangkap essensi dari pengajaran agama. Essensi dan bukan ritual.

Jaman dulu Belanda bahkan melarang misionaris Kristen untuk masuk ke Bali karena dilihat akan merusak tatanan adat yg begitu kaku di Bali. Tetapi gereja Katolik menyusup masuk, dan diam-diam merekrut banyak orang Bali menjadi penganut Katolik. Kalau sudah menjadi penganut Katolik akhirnya orang Bali akan bisa ke luar dari adat. Gereja menyediakan fasilitas untuk ke luar dari segalanya yg dianggap menyesakkan itu. Itu salah satu pilihan yg bisa diambil oleh orang Bali yg merasa adat banjar terlalu "tidak manusiawi" (dalam tanda kutip).

Bali harus seperti itu karena dituntut oleh situasi di masa lalu. Banjar harus independen mencukupi kebutuhan dirinya sendiri karena orang lain tidak bisa bantu. Bahkan raja-raja dan para pedanda tidak bisa membantu banjar. Banjar harus ditopang oleh para anggotanya, yaitu anda dan tetangga kiri kanan anda. Itu Bali masa lalu, dan kelihatan masih dipaksakan sampai sekarang. Tentu saja banyak hal yg dipaksakan itu bukanlah agama melainkan adat. Sama saja seperti di Kristen dan Islam, segala hal yg dipaksakan itu bukanlah kerohanian melainkan tradisi dan kebiasaan kemasyarakatan belaka. Dengan kata lain, segala sanksi itu sebenarnya berkaitan dengan tradisi gotong royong yg mutlak dilakukan di masa lalu tetapi tidak lagi terlalu relevan di masa sekarang ketika kita bisa membayar gantinya dengan uang.

Di Bali, apabila anda tidak ikut gotong royong, maka anda bisa membayar denda berupa uang. Setahu saya seperti itu. Karena anda hidup di lingkungan seperti itu, maka mau tidak mau anda harus membayar. Bayar saja. Dan jelaskan juga bahwa anda memiliki "panggilan" untuk tidak mengikuti segala ritual itu. Panggilan dalam tanda kutip itu adalah yg harus anda jelaskan satu persatu kepada orang-orang yg akan datang kepada anda.

Setahu saya orang Bali itu sangat curious, dan kalau anda mulai terkenal sebagai orang yg memiliki ilmu, maka mungkin anda tidak akan punya banyak waktu lagi untuk diri sendiri. Orang-orang akan datang berganti-ganti ke tempat anda untuk konsultasi. Dari masalah jodoh, santet, pelet, kesehatan, rejeki,… sampai ilmu kesaktian mandra guna akan ditanyakan kepada anda. So, you could become a no nonsense consultant to the people. Kalau anda mau, ambillah peran itu, yg sangat memungkinkan di Bali.

Di Jakarta dan tempat lain anda akan dianggap sebagai orang nyentrik, tetapi di tengah kampung di Bali anda akan bisa menjadi orang sakti. Anda tidak mempan guna-guna bukan ? Karena anda kebal, maka anda akan bisa membantu orang-orang yg histeris merasa dikirimi guna-guna. Caranya terserah kepada anda sendiri, tetapi saya melihat peran semacam itu yg bisa anda jalani di kampung anda, kalau mau.

Kalau anda dianggap sebagai orang "pintar", maka tidak akan ada yg berani mencemooh anda lagi. But you have to stand up. Tunjukkan bahwa anda memiliki panggilan untuk tidak ikut ritual, dan sebagai gantinya anda bisa memberikan pertolongan kepada banyak orang yg datang kepada anda. Saya percaya anda bisa menangkap apa yg saya maksudkan di sini. If you have that calling, just do it.