T = 64 tahun Indonesia merdeka koq malah ga punya wibawa ya ?

J = Indonesia tidak punya wibawa di mata dunia internasional karena satu dunia tahu bahwa orang Indonesia tidak menghargai bangsa sendiri. Yg dihargai itu segala sesuatu yg datangnya dari luar. Apa yg orang luar bilang bagus, orang Indonesia akan ikut-ikutan bilang bagus. Begitu pula kalau orang luar bilang jelek.

Jadi, Indonesia ini penuh dengan orang-orang yg saling berkompetisi memperkenalkan dan mempertahankan segala sesuatu yg berasal dari luar. Yg dari luar itu selalu bagus, dan yg dari dalam selalu jelek. Orang luar tidak bisa salah, dan yg bisa salah cuma orang kita sendiri, dan karena itu harus dimaki-maki. And that's exactly the reason kenapa Malaysia begitu rajin dicaci-maki oleh orang Indonesia. The reason is, Malaysia dianggap sebagai satu keturunan dengan kita. Jadi, pantas untuk dicaci-maki. Kalau yg satu keturunan dan beda negara saja sudah diperlakukan dengan begitu semena-mena, apalagi orang kita yg satu negara, ya gak ?

Menurut pengamatan saya, orang Indonesia itu paling suka menjatuhkan dan memaki orang Indonesia juga. Dimaki habis-habisan sampai akhirnya orang-orang dari luar Indonesia yg mengangkat dan menghargainya. Setelah dihargai oleh orang luar barulah Indonesia akan mengakuinya. Sungguh goblok bukan ?

And that's the reason makanya Indonesia tidak punya wibawa di dunia internasional. Orang-orang luar itu ternyata tidak sebodoh yg dikira oleh orang Indonesia. Saya pernah tinggal di LN, jadi bisa mengerti cara berpikir internasional. Tetapi orang lokal di Indonesia tidak mengerti. Mereka berbangga, berpikir bahwa satu dunia terkagum-kagum dengan keaneka-ragaman atawa pluralisme Indonesia.

Aneka ragam sih aneka ragam, tetapi aneka ragam yg tidak dihargai oleh bangsa sendiri melainkan oleh bangsa asing.

Yg menghargai keaneka-ragaman atau pluralisme Indonesia justru orang luar. Orang luar menghargai Bali barulah orang Indonesia menghargai Bali. Orang luar menghargai Papua barulah orang Indonesia menghargai Papua. Orang luar menghargai Timor barulah orang Indonesia menghargai Timor. Orang luar menghargai Dayak barulah orang Indonesia menghargai Dayak… Tetapi inipun belum tuntas. Kita menghargai bangsa sendiri cuma di mulut saja tetapi dalam praktek nol besar.

Sebagai suatu bangsa keturunan Melayu, kita cenderung untuk menjatuhkan sesama Melayu, baik yg berada di Indonesia maupun yg ada di Malaysia.

Orang Melayu di Malaysia juga begitu sifatnya, saling menjatuhkan dan menekan sesama Melayu juga. Warganegara Malaysia keturunan Melayu tidak bisa pindah agama dari Islam ke agama lain, for instance, sedangkan warganegara Malaysia keturunan Cina dan India bisa. Keturunan Melayu tidak bisa minum alkohol di tempat umum, pedahal keturunan Cina dan India bisa. Moreover, keturunan Melayu yg wanita ditekan habis untuk berjilbab or at least berkerudung, sedangkan wanita keturunan Cina dan India bebas memamerkan belahan toket mereka. Mao pamer belahan paha juga boleh, halal.

So, segala kekangan terhadap kemanusiaan di Malaysia yg kita cemooh habis-habisan dari Indonesia bukanlah dilakukan terhadap warganegara keturunan Cina dan India, melainkan terhadap keturunan Melayu. Melayu harus ditekan oleh Melayu juga supaya kepala-kepala suku Melayu bisa masuk Sorga setelah mati, as well as bisa kaya raya sebelum mati.

Itulah paradoks etnik Melayu, di Indonesia as well as di Malaysia.

Saya tahu kebusukan di Malaysia dari seorang teman saya, seorang wanita Malaysia keturunan Melayu yg menjadi professor di Kuala Lumpur. Dia heran mendengar saya menulis bahwa kita di Indonesia bisa saja berpindah agama. Ternyata di Malaysia hal itu tidak bisa dilakukan apabila anda keturunan Melayu. Kalau anda Melayu dan ingin ke luar dari Islam, maka anda harus ke luar negeri, menjadi pelarian. Kita di Indonesia masih lebih oke sedikit karena kita bisa ke luar dari Islam dan tetap tinggal di Indonesia,… walaupun tetap saja dicaci-maki oleh sanak keluarga dan handai taulan. Dimaki murtad.

Of course yg memaki murtad itu cuma manusia saja karena Allah tidak punya mulut untuk memaki-maki. Seperti telah sering saya tulis, Allah itu cuma kata benda abstrak yg mati. Yg hidup itu manusia, yaitu kita semua. Kita mau beragama ataupun tidak beragama tidak akan menjadi soal buat Allah karena dia itu cuma sebuah ilah. Ilah is berhala. Ingat kata-kata mutiara: tiada berhala selain berhala yg namanya Allah ? … Allah is ilah, berhala, dan berhala itu benda mati. Bisa berbentuk abstrak atau cuma konsep saja, bisa juga berbentuk patung.

Allah ini termasuk berhala dari jenis konsep.

Orang Indonesia sangat gemar menyembah berhala berbentuk konsep, baik yg namanya Allah maupun yg namanya "kebenaran" (dalam tanda kutip). Dan orang-orang di dunia internasional geleng-geleng kepala melihat betapa gobloknya orang kita. Mereka tahu bahwa kebenaran itu selalu relatif, tetapi orang Indonesia yg imbecile dan idiot (termasuk cukup banyak juga di sini)… selalu akan bilang bahwa kebenaran itu ada, dan mutlak, dan namanya adalah Allah. Pedahal, sang berhala yg bernama Allah itu termasuk one of the main problems sebenarnya.

Salah satu pembawa masalah terbesar karena orang tetap tidak mau mengerti juga, dipikirnya benar bahwa ada Allah di awang-awang. Bahwa benar kalau kita teriakin sampai serak sang Allah akan mendengar dan memberikan kita kredit sehingga tempat kita bergeser menjadi lebih oke di alam barzakh, dari layak menjadi lebih layak. Menjadi lebih layak di sisi Allah.

Pedahal segalanya cuma konsep. Allah itu kata benda abstrak, benda mati. Yg hidup itu kesadaran kita yg bisa membuat berbagai pemikiran yg kita anggap sebagai "kebenaran". Kebenaran dalam tanda kutip itu akan dijalani sejadi-jadinya sampai suatu saat orangnya akan sadar sendiri bahwa ternyata dia telah tertipu, telah menipu diri sendiri as well as telah menipu orang lain.

Sayangnya banyak juga korban yg jatuh selama proses tipu menipu itu terjadi. Dan dunia internasional mengamatinya. Goblok, kata mereka. Tetapi kita tetap saja tidak sadar sampai sekarang.

T = Indonesia memang saat ini masih masuk di jaman jahiliyah. Ciri-cirinya: Banyak manusia yang menyekutukan Tuhan, dalam artian masih banyak yang belum tahu tentang kebenaran Tuhan, alhasil mereka beribadah dengan menyekutukan Tuhan.

J = Ya, Tuhan disamakan dengan syariat haram dan halal.

Pedahal Tuhan yg asli tidak pernah memberikan syariat apapun. Tidak ada syarat bagi manusia untuk hidup. Manusia hidup karena memang hidup, hidup karena berhak hidup. Dan kita bisa hidup dengan cara apapun karena Tuhan yg asli selalu ada di dalam kesadaran kita.

Tetapi, seperti telah kita ketahui bersama, sebagian manusia yg memiliki nafsu angkara murka untuk memperhamba manusia lainnya akhirnya menciptakan berhala yg bernama Allah… Plus, lebih runyam lagi, dikhotbahkan bahwa Allah menuntut diberlakukannya syariat supaya manusia bisa masuk Sorga. Akhirnya manusia menyembah segala macam syariat dan konsep "kebenaran". Pedahal segalanya itu buatan saja, asalnya dari manusia yg memiliki nafsu angkara murka mengumpulkan kuasa dan harta di bumi ini, dan bukan berasal dari Tuhan yg asli.

T = Banyak manusia yang salah kaprah dalam mengartikan beribadah untuk Tuhan.

J = Ya, salah kaprah.

Mereka pikir Tuhan perlu disembah dengan cara jungkang jungking. Pedahal yg perlu disembah dengan cara itu cuma berhala saja. Berhala bisa berbentuk patung, dan cara menyembahnya dengan nunggang nungging. Saya pernah melihat orang nunggang nungging di depan patung di Kelenteng Sam Po Kong di Semarang. Saya melihatnya dengan penuh takjub sampai akhirnya muncul pencerahan seketika di dalam kepala saya. Saya akhirnya sadar bahwa patung yg ada di Kelenteng Sam Po Kong itu ternyata Allah.

Cara menyembahnya sama, dengan nunggang nungging. So, gak salah lagi the patung itu pastilah Allah. Allah ada di mana-mana bukan ? Karena Allah ada di mana-mana berarti Allah juga ada di patung-patung yg disembah dengan cara nunggang-nungging, termasuk yg ada di Kelenteng Sam Po Kong di Semarang. Tapi saya tidak ikut-ikutan nunggang nungging, that's not my type of worship. Saya ini sudah sohib-an sama Allah, dan saya tahu bahwa Allah yg asli tidak perlu disembah.

Kalau masih perlu disembah artinya konsep doang, baik yg abstrak maupun yg berbentuk patung.

T = Banyak manusia yang tidak jujur dan berbohong terutama terhadap Tuhannya.

J = Tuhan yg asli adalah kesadaran di dalam diri kita. Kita sadar bahwa kita sadar, dan itulah Tuhan yg asli. Tetapi banyak orang masih suka membohongi the Tuhan. Kita tidak mau mengakui bahwa kesadaran kita itu Tuhan. Kita merasa "tidak sadar" (dalam tanda kutip), pedahal kita selalu sadar. Kalau kita sadar dan tidak mengakuinya, namanya kita berbohong. Berbohong kepada Tuhan yg ada di dalam diri kita sendiri saja.

T = Banyak manusia yang tidak menghormati hak-hak Tuhan yang azazi.

J = Hak Tuhan yg azasi adalah untuk menjadi dirinya sendiri saja, dan menciptakan apapun yg ingin diciptakannya melalui pikiran. Kita tidak menghormati hak azasi Tuhan ketika kita bilang bahwa kita harus berpikir berlandaskan syariat. Syariat itu menginjak-injak hak azasi Tuhan. Syariat bilang bahwa Tuhan yg ada di dalam kesadaran kita harus masuk ke dalam kerangkeng dan tidak boleh ke luar. Tuhan kok harus dikerangkeng ?

Tetapi itulah yg namanya manusia yg belum tercerahkan, yg tidak bisa melihat bahwa Tuhan itu adalah kesadaran di dalam dirinya sendiri. Tuhan itu bebas, selalu bebas dan tidak terikat kepada apapun. Tuhan bebas untuk berpikir apapun, bebas untuk berkiprah apapun. Kalau kita mau menaruh Tuhan dalam kerangkeng syariat, maka segalanya akan menjadi amburadul. Terbalik-balik, jahiliyah.

T = Banyak manusia yang jadi pemimpin tapi mencemooh Tuhan di belakang

J = Ya, itu benar. Banyak pemimpin di Indonesia yg tahu bahwa Tuhan itu hidup di dalam kesadaran setiap orang dari kita. Tetapi para pemimpin ini berpura-pura tidak tahu, dan malahan menjerumuskan Tuhan-Tuhan lainnya untuk tidak percaya bahwa kesadaran di dalam diri mereka itu Tuhan. Pemimpin menyodorkan syariat untuk dijalankan oleh para Tuhan, dan setelah itu pemimpin yg sama akan terbahak-bahak kegelian. Mereka geli karena ternyata Tuhan-Tuhan yg lain itu gampang sekali dibohongi. Karena gampang dibohongi maka akhirnya dicemooh secara diam-diam.

Kita di Indonesia ini adalah Tuhan-Tuhan yg gampang dibohongi oleh para pemimpin kita sendiri yg diam-diam mencemooh kita.

T = Akibat manusia Indonesia tidak tulus kepada Tuhan maka cobaan-cobaan datang: Manusia Indonesia direndahkan dan dilecehkan oleh bangsa lain. Manusia Indonesia cuman jadi kasta rendah, budak, hamba sahaya bagi bangsa lain. Manusia Indonesia dipandang cuma hanya pinter diplomasi, berkonsep doank tapi ga ada kenyataannya, makanya segala omongannya akhirnya ga pernah digubris sama bangsa lain. And so on, and so forth… daftarnya panjang, butuh waktu 15 tahun untuk menjadikan Indonesia bangsa yang berwibawa, secara moral dan material, tapi tergantung pemimpinnya juga.

Wis ben rak wis, sing penting dakoe bisa kerja dan bisa makan dan jajan. Kecien deh guwe, ga ada yang dengerin… hwa hwa hwa…

J = Hwa…

+

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.

Salah satu simbol Tuhan or Allah yg berbentuk patung Laksamana Cheng Ho di Kelenteng Sam Po Kong, Semarang.