Tag

Kemarin, sebuah desakan kuat dan aneh menguasai diri menyuruh saya pergi mencari kesendirian dan menyepi di pegunungan di mount Humboldt – Spring Mountains National Recreation Area. Mungkin lantaran saya sedang  ingin jadi manusia post-modern. Jenuh dengan segala simbol dan atribut kehidupan metropolis ini, sayapun lalu metamophorsis menjadi temporary Moses. Nabi yang bersemedi dan bertapa mencari inspirasi sambil kongkow dengan Allah konon di gunung Sinai sana sekian ribu tahun yang lalu.

Memarkir mobil di mulut Mary Jean Falls Trailhead, saya baru sadar bahwa persiapan untuk hiking ternyata kurang lengkap. Saya tidak membawa ransel yg berisi minuman dan snack. Yang saya bawa cuma sebotol aqua kecil. Tapi melihat seorang pasangan tua yang baru turun hiking, sang kakek malah
tertatih tatih menggunakan tongkat-saya jadi merasa begitu optimis bisa menyelesaikan hiking trail pulang pergi merambah hutan pinus ini dalam 2 jam, sesuai dengan guide yang tertera di dinding informasi.

 20 menit pertama, semangat sang Musa palsu ini masih mengebu ngebu. Hiking trail ini kelihatan gampangan. Bayangan cemara dan angin segar sungguh membuat saya  tenang dan happy secara tidak wajar. Sinting memang lantaran dalam kesendirian begini saya begitu merasa tidak sendiri. Langit seperti kelambu biru yang dibentangkan. Beberapa chipmunk dan bajing berloncatan.Kesunyian yang cute seperti gelombang ombak tsunami yang menghantam saya secara tiba tiba. Tidak ada kicau burung, entah sedang berada dimana mereka. Bunyi bunyian yang paling mendominasi adalah langkah sepatu boot saya yang menjejak tanah. Sesekali dengungan lebah lebah centil menguntit saya di belakang. Di sebelah kiri  di kejauhan terpampang cadas granit Mount Charleston yang tingginya 3000 m lebih. Saya masih bermental sesuci nabi sebelum tikungan berikutnya yang tiba tiba memergoki saya 15 menit kemudian.

Tikungan itu berupa tanjakan curam ke arah kanan. Dari bawah sini kelihatan jelas bahwa hiking trail melingkar lingkar seperti ular maha panjang yang  sedang mencoba mencekik mount humboldt sampai mendekati titik nadir di atas sana. Saya terperangah seperti tidak percaya dan merasa dikibuli brosur soal jejak hiking ini. Sebab ini bukanah hiking tapi climbing. Tapi merasa terlanjur dan merasa telah menjadi Ibrahim atau Musa, saya niatkan dengan khusuk untuk mlanjutkan pertualangan ini sampai finish di air terjun Mary Jane tempat di mana Musa mendapatkan sepuluh perintah Allah. Lalu saya pun mulai mendaki. Langkah kaki saya mulai kehilangan konstan.

30 menit kemudian, kaki saya, a prophet from minang ini mulai merasakan sakit. Pinggang saya begitu pegal tapi yang lebih menyiksa adalah saya susah bernapas. Seperti terserang asthma, paru paru saya memompa mencari oksigen yang susah dihirup. Mungkin lantaran elevasi yang semakin tinggi lantaran saya  kini berada di ketinggian 7000 kaki. Cuma disebabkan keinginan badak ingin menemukan Tuhan saja yang membuat saya maju tak gentar, walaupun setiap melangkah, kaki saya gemetaran. Tarikan napas saya makin berat. Keringat mengucur lebih deras dari air keran buat wudhu di mesjid Istiqla.Tiap 5 menit saya berhenti istirahat. Saya merebahkan badan tanah atau berbaring senderan di batang pinus.
Beberapa hiker profesiona yang berpergokan saat mereka turun, say hi dan bertanya are you OK? Iam fine, jawab saya gengsi sambil menyembunyikan rasa sakit di seluruh badan.

Saya beranjak bangkit dan mencoba menghibur diri, Habe kamu masih belum terlalu tua, ayo bangun dan berjalanlah dengan gagah perkasa. Saya lalu mencoba mengingat soal teori mind over matter atau sebangsanya. Saya berusaha menyamakan diri dengan Lance Armstrong atau para olahragawan yang tidak muda lagi tapi tetap diakui sebagai pemenang. Tapi kelelahan yang brutal tidak bisa dijinakan cuma dengan segenap angan angan . Tubuh saya  terjerab 20 menit kemudian disebuah cekungan granit sekitar setengah mile dari garis finish di Mary Jane Falls. Dengan perasaan horror, saya melihat hiking trail ini naik curam sekitar 45 derajat ke arah air terjun yang mulai saya umpat sebagai air terjun sialan. Sekejab saya mengerti dengan kegusaran Musa saat omongan dia tidak dipercaya umatnya. Setelah begitu capeknya naik gunung seperti ini, tidak heran dia jadi begitu emosional.

Kaki saya seperti mogok bekerja. Napas saya turun naik seperti piston lokomotif berbahan bakar batu bara. Mata saya mulai berkunang kunang. Air di botol aqua telah kering. Saya tahu tuhan sedang mengirimkan satu dari malaikat maut untuk menjemput. Saya sadar bahwa umur saya yang selalu saya maklumatkan di forum bakalan tidak panjang, akan berakhir di sini. Prophecy sang Habe tepat sekali lagi.
Selamat tingga dunia. Selamat tinggal wahai para pembaca tulisan saya. Selamat tinggal Gembalanusa, maaf saya tidak sempat mengachangkan saudara. Tangan saya lalu bergerak seperti sedang mencari pulpen dan sepucuk kertas. Saya berilusi sedang membuat surat wasiat. Tanah di Bintaro itu rasanya memang lebih baik saya kasih buat mattkopling. Mobil Camry buat si Said. Dan HP murahan saya wariskan kepada si preman Kampung Rambutan bernama Sohib. Saya lalu meminta maaf buat orang orang yg pernah saya lukai perasaannya. Pada sekitar 2 lusin cewek yang  pernah dibikin brokenheart. Dan tidak lupa salam buat Dewandaru dan mas Iwan Piliang. Dan terakhir saya pesan buat OJ, plagiator manis dari KOKI untuk meneruskan cita cita dan perjuangan tulisan Habe dengan menulis karya orsinil bernapaskan GAS secara formal.

Seperti di buku ” into thin air ” saya adaah pendaki Everest yang mengakui dan secara gagah menerima kenyataan bahwa aja saya sudah begitu dekat. Biarkan para pendaki yang lebih kuat selamat meninggali saya sendirian. Saya titip salam buat keluarga di Jakarta, bahwa saya mencintai mereka. Dan menasehati bahwa jangan pelit pelit menjadi orang. Kelebihan rejeki, sudah mestinya dibagi bagi. Saya sempat mendoakan rejeki yang banyak buat si Said dan seluruh orang Indonesia. Saya tidak minta ampun kepada Allah lantaran tidak pernah merasa bersalah. Saya cuma minta agar dia tidak mengampuni para teroris arab atau yg  kearab araban yang berkali kali mencoba menghancurkan keharmoniasan tanah air saya. Saya berdoa agar IQ si Wiro naik beberapa point. Dan dokter Krumantir, berhenti mengkampanyekan penggunaan bahasa menado yang merusak cita rasa bahasa gas dan Indonesia. Kini tuhan…please cabut nyawa saya sekarang……silahkan..

Mata saya terpejam, saya siap berangkat menemui almarhum mama dan abang, begitu juga om dan para sepupu.Sesuatu yang dingin menerpa muka saya. Air dingin…hawa nafas hangat..ah..malaikat mautku I welcome you…lalu tiba tiba terdengar dari kejauhan..” Lassie, please stop it! ” saya buka mata, seekor anjing kecil  berhadapan muka muka 1 inch jauhnya.

Sungguh keterlaluan Tuhan memang. Setelah saya siap mati, yang dikirim dia cuma seekor anjing peneman hiking.Merasa malu diperolokan Allah, saya bangkit kembali dari kematian. Muka saya merah delima saat melintas pemilik lassie. Saya mulai mendaki kembali. Kini saya niat mati tepat di titik finish di Mary Jane Falls nanti. Ini tubuh saya dera tanpa rasa perikemanusiaan. Tiap langkah adalah siksaan yang diderita para budak belian. Tubuh saya terhuyung huyung ke depan. Saya mulai membenci hiking, Musa dan Ibrahim. Sungguh, cuma lantaran mukjizat saja saya akhirnya bisa sampai di final destinasi.

Air terjun Mary Jane! gemericik airnya jatuh dari tebing di atas sana. Dengan rasa horror saya menyaksikan sebuah  pemandangan yang membekas sampai saya mati beneran nanti. Bukan pemandangan fantastik yang membuat saya  berdoa lalu memuji muji yang maha kuasa. Tapi melihat sekelompok anak anak kecil ukuran sd dan tk yang bermain main dekat air  piknik bersama keluarganya di sana.

Saya protes tuhan lantaran meledek saya kalah kuat stamina sama anak anak bule kecil  di sana…sialan!

August 28, 2009