T = Wah, memang susah ya om jadi cuek bebek dengan orang-orang ? Emang beneran butuh pengalaman bertahun-tahun biar bisa kayak gitu ? Kasian sayanya donk om, keburu tuir.. He he..

J = Don't worry ! Pengalaman bertahun-tahun untuk menjadi diri sendiri cuma dibutuhkan oleh orang-orang yg ngotot dan ngoyo ingin masuk Sorga. Kalau kita menjadi diri sendiri saja dan enjoy everything, maka proses jatuh bangun to stay calm in the front of verbal abuses itu cuma akan makan waktu sebentar. Bisa cuma beberapa bulan saja.

For instance, selama beberapa bulan teman-teman anda akan kaget ketika jilbab anda dibuka. Pedahal itu kepala anda sendiri bukan ? Dan, seperti telah diduga, maka akan mulailah segala macam omongan jorok dikeluarkan oleh wanita-wanita yg masih berjilbab dan mengharap masuk Sorga. Tapi anda akan cuek saja dan bilang: Pakai jilbab panas !

Yg merasa panas mengenakan jilbab adalah anda sendiri, dan akhirnya anda memutuskan untuk melepaskan jilbab for good. Once and for all. Tetapi orang-orang itu tidak mau terima karena kenyamanan anda dengan diri anda sendiri "mengancam" (dalam tanda kutip).

Mengancam siapa ? Of course mengancam orang-orang yg masih berjilbab itu. Mereka itu kan berjilbab didasarkan kepada kepercayaan yg "dipaksakan" (dalam tanda kutip juga). Kenapa saya tulis dalam tanda kutip ? … Karena walaupun sebenarnya dipaksakan, tetapi akan diakui sebagai tidak dipaksakan. Seolah-olah itu asli dari kepercayaan yakin hakkul yakin. Teorinya seperti itu. Pedahal cuma tekanan teman-teman dekat yg kebetulan telah jatuh terjerambab dalam gaya pemikiran sempit.

Pemikiran sempit itu yg bilang bahwa wanita mukmin harus berjilbab. Plus tambahan bonus bahwa kalau berjilbab seumur hidup akan diterima oleh Allah SWT kalo mati nanti. Plus akan dapat berkat berbentuk suami sholeh. Plus ini dan plus itu. Persis janji janji MLM.

Agama itu seperti MLM.

Jilbab itu juga MLM. Jadi, orang pertama yg berjilbab berkatnya akan bertambah sesuai dengan berapa banyak wanita-wanita lain yg bisa mengikuti jejaknya berjilbab ria. Pedahal most of the women itu cuma ikut-ikutan saja. Karena lagi mode ya ikutlah. Dan itu tidak salah. Yg salah adalah memaksakan orang yg tidak mau berjilbab untuk memakai jilbab.

Jilbab itu pilihan. Mao dipakai bisa. Mao tidak dipakai juga bisa. Dan isi otak manusia tidak ditentukan oleh jilbab. Apalagi spiritualitasnya. Saya tahu bahwa banyak orang yg berjilbab memiliki spiritualitas sangat rendah. Saya juga tahu bahwa banyak orang yg tidak berjilbab memiliki spiritualitas sangat tinggi. Tinggi rendah spiritualitas itu ditentukan oleh cara pandang, cara berpikir, dan bukan oleh segala macam perangkat dan perilaku lahiriah seperti jilbab, jenggot, sembahyang, puasa, dsb…

Nah, kalau saya ngomong terus terang seperti ini tentang suatu hal semacam jilbab, maka so pasti akan banyak komentar. Saya ok saja karena berkomentar merupakan HAM Kebebasan Berbicara. Tetapi kita akan bisa melihat isi dari spiritualitas manusia yg berkomentar. Orang yg spiritualitasnya dewasa justru akan tertawa saja mendengar pendapat saya tentang jilbab.

Memang tidak ada apa-apanya. Kalau mau dipakai ya dipakailah, kalau tidak mau ya tidak usahlah. Itu komentar dari orang yg dewasa secara mental dan spiritual.

Tetapi orang yg mental dan spiritualitasnya kelas bawah akan memiliki alasan untuk mencaci maki saya. Lha ? … Iyalah. Bukankah mental dan spiritual mereka kelas rendah ? Kalau kelas rendah so pasti harus memaki-maki. Dan biasanya yg dijadikan alasan bahwa saya menghujat ajaran Allah.

Ajaran Allah ? Sejak kapan Allah ngajar ? … Yg maybe lebih gila lagi akan bilang bahwa saya menghujat agama Allah. Agama Allah ? Sejak kapan Allah punya agama ?

Tetapi inilah yg namanya masyarakat manusia. Jenjang kedewasaan mental dan spiritual kita memang berbeda-beda. Kita plural, majemuk. Dan itu sah saja, tidak ada salahnya. Tidak ada salahnya untuk bilang bahwa Allah menyuruh anda berjilbab. Dan tidak ada salahnya juga untuk bilang bahwa Allah menyuruh anda buang jilbab. Keduanya sah saja untuk dikatakan. Cuma perbedaan konsep bukan ?

Allah sendiri, as always, akan diam seribu bahasa karena Allah juga cuma konsep thok. Allah is a concept, jadi anda mau bilang apapun tentang Allah akan oke saja. So, bilang saja. As simple as that. And because kita bisa bilang apa saja about Allah, then ngapain diributin ya gak ? Everybody is entitled to his or her own pendapat. Tidak ada yg salah or yg benar melainkan pilihan. Kita mau pakai yg mana.

Kalau suka pakai jilbab ya pakailah. Kalau tidak suka ya tidak usah pakailah. Dan tidak perlu ribut kalau ada orang lain yg bilang bahwa jilbab bentuknya seperti kondom. I even think that jilbab is a symbol of condom yg digunakan oleh para pria supaya wanita yg dioho-oho tidak hamil. And because wanita tidak bisa pake kondom di tempat yg semestinya which is di penis (wanita have no penis, by the way), maka diciptakanlah jilbab untuk sedikit menghibur gundah gulana itu.

At least ada sesuatu yg dibungkus secara botak plontos dan bisa membawa rasa aman damai karena tidak akan bocor dan mengakibatkan kehamilan, atau masuk angin melalui kepala in case of jilbab. Tidak akan terinfeksi oleh berbagai aliran pemikiran orang lain, secara konkritnya, dan akan tetap terbungkus rapat dan rapi di bawah sarung. Sarung atas dan sarung bawah gunanya seperti itu, tidak lebih dan tidak kurang. Kondom is sarung bawah, jilbab is sarung atas. Keduanya membawa efek nikmat tanpa harus terkena resiko terkontaminasi.

Dengan kata lain, enaknya mau tetapi tidak enaknya ogah which is oke aja. Tidak salah bukan ? Nah,… kalau para pria hidung belang dan hidung totol-totol bisa mengenakan kondom when having sex with women, dan kalau para wanita yg hidungnya pakai bedak or not bisa mengenakan jilbab untuk menaikkan citra mereka sebagai wanita yg taat beribadah, at least theoretically, maka tentu saja anda juga akan bisa mengenakan apapun yg anda sukai.

Anda bisa pakai pakaian rok mini yg sekarang sedang in itu. I like this one best sebab kalau anda duduk dengan mengangkat kaki di depan saya, saya akan very easily melihat celana dalam anda. Bisa tebak-tebakan dengan saya what color your underwear is. Tentu saja saya akan selalu menang, wong saya bisa lihat kok. Anda bisa pula pakai baju dengan leher rendah sampai toket anda belahannya terlihat. Bisa pakai apapun. Dan semuanya itu halal bagi anda. Cuma berbagai konsep pilihan bukan ?

T = Dari om, aku belajar buat ngembangin empati, katanya biar bisa masuk ke "dunia" orang itu. Emang berhasil sih om, tapi koq malah kayak diinjek-injek ya ?

J = Empati artinya kita mengerti apa yg dirasakan oleh orang lain tanpa perlu bilang itu benar atau salah. Saya mengerti bahwa ada sebagian teman yg takut melepas jilbabnya dengan alasan teman-teman kantornya akan heboh. Saya mengerti itu, tetapi saya tidak perlu sampai harus tergopoh-gopoh ikut ngurusin dia sampe tidak bisa tidur dan tidak bisa memikirkan yg lain. Saya tidak perlu merasa harus ikut-ikutan pakai jilbab juga, walaupun bisa saja kalau saya mau.

Empati means understanding thok.

Dan itu tidak berarti bahwa kita harus ikut-ikutan orang lain. Saya empati sama orang yg puasa dengan alasan sedang mengumpulkan tabungan buat beli tiket masuk Sorga. Saya mengerti itu, tetapi saya bilang itu omong kosong belaka. Tetapi, pendapat saya tidak saya paksakan kepada orang lain. Itu yg namanya empati, understanding. Tetapi tentu saja saya akan tetap makan minum dan merokok di depan orang yg sedang berpuasa itu.

It's my life.

Kenapa orang lain yg puasa harus menyebabkan saya kerepotan, ya gak ? Pada pihak lain, orang berpuasa yg kampungan tetap akan minta untuk dihormati. Untungnya jenis seperti ini sudah jarang dijumpai di Jakarta, jadi sudah ada kemajuan. Pedahal jaman dulu waktu saya masih kecil, mereka yg puasa minta dihormati seolah-olah orang suci. Suci apanya ? Suci means tidak korupsi, tidak menjadi teroris, tidak bilang agamanya terakhir dan sempurna, tidak mengharamkan pluralisme. Kalau semuanya dilanggar maka artinya orangnya is biasa-biasa saja. No different than you and me. Yg puasa dia sendiri kenapa kita orang semuanya musti ikut repot, ya gak ?

T = Huuufh ! Jadi aku teriak-teriak ke Tuhan, yg kata om cuma buatan kita aja ?

J = Ya, Tuhan atawa yg lebih dikenal dengan nama Allah itu cuma buatan kita saja, konsep saja.

Anda boleh teriak-teriak kepada Allah, dan itu tidak dilarang. Mesjid di dekat rumah saya sehari lima kali berteriak-teriak kepada Allah dengan loudspeaker yg suaranya audzubillah. And as far as I know Allah belom pernah menyahut tuh. Not even menyahut bahkan satu kalipun. Makanya the mesjid berteriak-teriak terus sampe sekarang, entah sampai kapan.

T = Jadi kita minta tolong ke diri kita sendiri gitu om ?

J = Ya, kita minta tolong ke diri kita sendiri yg lebih "tinggi" (dalam tanda kutip).

Tuhan yg asli adanya di dalam kesadaran kita sendiri saja, dan itu tidak bisa diteriakin. Kita bisa ngomong bisik-bisik saja kayak orang pacaran. Yg mendengar kita sendiri saja. Kita yg berbicara dan kita yg mendengar. Ketika kita berbicara kepada diri kita sendiri, maka kita berbicara kepada Tuhan. Tuhan itu adanya di dalam kesadaran kita sendiri.

T = Lha, gimana caranya bisa ketolong kalo gitu ?

J = Bisa aja.

Anda bisa hidup sampai sekarang karena apa ? Karena Tuhan itu hidup bukan ? Dan hidupnya di mana ? Di dalam kesadaran anda sendiri saja bukan ? Tuhan itu tidak seperti yg di-dakwahkan oleh orang-orang agama, walaupun kalau mau ambil yg model begitu juga bisa saja.

Dakwah itu isinya paparan tentang konsep Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri. Tuhan sendiri adanya di dalam kesadaran tiap orang dari kita. Baik kita beragama maupun tidak. Baik kita beragama apapun.

Kita bisa bicara apapun dengan Tuhan, dan Tuhan of course akan menjawab. Menjawabnya juga melalui pikiran kita sendiri saja. Kita semua adalah Tuhan yg sedang belajar menjadi manusia.

+

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.

Kita semua adalah Tuhan yg sedang belajar menjadi manusia.