Tag

Tulisan ini adalah pledoi pembelaan terhadap Ramadhan. Bulan ke 9 tahun Islam yang atmosphirnya terasa lebih nyaman diterima bagi 200 juta lebih muslim di Indonesia dari pada bulan bulan lainnya yang
rutin tanpa jiwa. Ramadhan yang  akhir akhir ini cenderung dicaci dan dimaki para sekularis radikal di situs ini dan beberapa forum sebagai bulan non produktif para pemalas yang menghabiskan waktu dengan segenap ritual keagamaan yang menggelikan.

Argumen di tulisan ini memang nampak aneh lahir dari pencaci maki " Islam " macam saya.  Anda yang mengikuti tulisan saya sekelebat, dengan cepat walaupun tidak akurat pastilah  menganggap saya sebagai gembong yang mencoba mengganyang Islam sampai tuntas. Bermimpi menghapus Islam dari bumi Indonesia. Tapi bagi anda yang mau sedikit meraba ke arah mana   niat saya selama diarahkan  dengan menulis begitu intens soal Islam di sini, anda bakalan mengerti bahwa saya adalah seorang  " nasionalis"
dalam soal keislaman. Saya adalah anti paham import jahat yang masuk ke dalam Islam tradisional di Indonesia yang saya percaya sampai saat ini adalah Islam terbaik, paling pluralis, paling toleran dan dinamis dibandingkan Islam di negara negara lain. Islam yang dibawa dan disebarkan via pedagang Gujarat dari India ke tanah air, adalah Islam yang sudah difilter sedemikian rupa sehingga lebih bening dan steril dari islam yang disebarkan langsung oleh orang arab dengan melalui invasi, perang dan pedang. Islam yang berbaur dengan budaya lokal membuat Islam di Indonesia mampu hidup berdampingan dengan agama minoritas lainnya dengan damai yang sayangnya dalam satu dekade terakhir, ketika virus wahabisme dan salafisme datang membonceng bagai benalu didukung oleh uang minyak lewat partai dan organisasi keagamaan yang sangat politis- membuat kebersamaan dan toleransi kita berkurang amat banyak. Islam tradisional di Indonesia  bisa dibilang sedang dalam ancaman yang amat berbahaya akibat paham paham import jahat.

Kenapa saya membela Ramadhan? Sebab Ramadhan di Indonesia berbeda dengan Ramadhan di negara negara arab sana. Bulan puasa di tanah air adalah unik. Ketika di Irak, Agfanistan dan Sudan setiap bulan puasa menandakan  awal  para fidayeen muncul untuk saling berjibaku berperang dan menumpahkan darah, di Indonesia orang islam berlomba lomba mencoba menaikan tingkatan spiritual mereka ke arah yang lebih bening lewat ritual seperti berpuasa dan ber taraweh. Ketika jihadist sadist di Aljazair datang menyerang suatu kampung yang dianggap pro pemerintah dan tidak islami, untuk memotongi leher mereka tiap awal Ramadhan tiba, di Indonesia  jutaan keluarga muslim sahur bersama, buka puasa dan sholat bersama sama dalam sebuah kebersamaan yang harmonis. Ketika ratusan jika bukan ribuan nyawa manusia hilang dibinasakan orang arab di Sudan sana dipenghujung Ramadhan, orang Islam di Indonesia mengkahiri puasa dengan pesta humanis yang cemerlang. Mereka mendermakan sebagian hartanya buat orang fakir baik muslim atau non muslim.

Saya Habe, bukanlah pengaggum Muhammad. Tapi seperti keburukan orang yang pantas kita laknat, kelebihan  ajaran Muhammad juga sudah sepantasnya  dikumandangkan. Ironisnya saya yang menentang begitu sebagian besar ayat dalam surah yang turun di Madinah, ayat yang mendorong soal puasa di bulan Ramadhan itu ada di Surah Al Baqarah ( 2: 185 ) yang turun ketika Muhammad tinggal di Madinah bukan saat dia masih tinggal di Mekah.

Ramadhan adalah bulan unik dan spesial. Sebuah tradisi manis yang perlu kita pertahankan dan praktekan lantaran begitu banyak hal hal yang baik yang lahir dari bulan puasa. Ramadhan yang membuat anda berkumpul lebih dekat dengan anggota keluarga. Lebih care pada orang miskin dan papa.
Lebih mengingatkan anda pada arti eksistensi hidup anda yang tidak panjang ini dengan ritual pendekatan pada sang illah, Ramadhan yang adalah modifikasi oleh Muhammad dari ritual Yom Kippur orang Yahudi di Madinah itu, adalah Ramadhan unik yang mesti dijaga kelestarian dan harkatnya dari badut badut tidak lucu yang mencari sensasi di situs ini dengan keantipatiannya yang  lebih menggelikan dari pada menyaksikan panggung srimulatan.

Dari kejauhan, saya Habe sekali lagi dengan penuh iri tapi tanpa niat jahat ingin mengucapkan selamat Ramadhan dan beribadah puasa buat anda yang tinggal di tanah air. Betapa beruntungnya anda bisa menikmati bulan puasa. Bangun di subuh buta dalam kondisi sengantuk ngantuknya untuk sahur, lalu
menjalani hari dengan perut kosong memerihkan untuk menunggu beduk magrib tiba, adalah seni dan irama hidup indah yang tidak saya temukan di negara maju ini.Mendengar azan magrib berkumandang. Duduk bersama keluarga di buka puasa, piring makanan yang estafet dari tangan ke tangan. Kolak pisang
sebagai pembukaan. Makan hidangan yang masih hangat di kehangatan kekeluargaan mustahil terjadi di negara materialistik seperti negara angkat saya di sini.

Dari beberapa catatan noktah yang hilang dari hidup saya yang tidak bakalan panjang ini.,Saya mengaku, yang paling disesali adalah kesadaran -begitu banyak  Ramadhan yang  tidak pernah saya nikmati lagi selama saya menjadi perantauan jauh di sini…

Selamat Ramadhan walaupun sedikit terlambat saudara-saudara..

August 24, 2009