Amerika Serikat (AS) adalah bangsa yang besar. AS berkuasa atas ekonomi, ilmu pengetahuan, militer dan budaya. Apa yang baik bagi AS, maka akan baik pula bagi seluruh dunia. Entah itu dilakukan secara sukarela maupun dipaksa. Namun di balik segala kebesaran itu kita temukan pula berbagai kekonyolan-kekonyolan yang layaknya dilakukan oleh bangsa kelas teri.

Beberapa lalu serang profesor berkulit hitam, Henry Louis Gates pulang ke rumahnya sendiri. Ketika akan membuka pintu, ternyata kuncinya macet. Tentu saja dia berusaha masuk (ke rumahnya sendiri) dengan memaksa. Kemudian ada yang melapor ke polisi, bahwa seseorang (berkulit hitam) sedang berusaha mendobrak masuk ke sebuah rumah. Tak lama kemudian datanglah polisi konyol kulit putih bernama James Crowley yang tanpa ragu meringkus sang profesor kulit hitam yang sedang berusaha masuk ke rumahnya sendiri!

Peristiwa konyol ini kemudian membesar menjadi debat nasional. Kata kuncinya adalah 'racial profiling' , suatu penilaian terhadap sesuatu semata-mata berdasarkan rasnya. Untunglah ada Presiden Obama yang mampu secara elegan menyelesaikan masalah. Profesor kulit hitam dan polisi konyol kulit putih diundang ke gedung putih. Mereka bersantai bersama sambil minum bir. 'Beer Summit' begitu pers menjuluki rekonsiliasi dengan bir ala Presiden Obama. Si hitam dan si putih berbaikan kembali walaupun tetap ada perbedaan prinsip menanggapi kasus ini. Case closed.

Namun ternyata kekonyolan belum berhenti. Baru-baru ini kekonyolan menimpa bintang besar Bollywood yang terkenal di seluruh dunia, Shahrukh Khan. Dia diinterograsi hanya gara-gara namanya tidak bisa hilang dari daftar komputer sebagai orang berbahaya. Nama Shahrukh Khan adalah nama yang berhubungan dengan Islam dan sebagian orang Islam adalah teroris. Maka tak pelak lagi bintang setenar dan sekaya Shahrukh Khan, yang 100% tidak punya alasan jadi teroris dinterograsi panjang layaknya maling kelas teri.

Kata kunci dalam kasus Shahrukh Khan ini adalah Islamophobia. Ketakutan dan kebencian terhadap orang Islam. Shahrukh Khan adalah kasus yang paling baru. Sebelumnya ada deretan panjang dari tokoh-tokoh internasional yang memiliki nama Islam yang mengalami penghinaan yang sama. Dari India sendiri sudah cukup panjang, yaitu mantan presiden Abdul Kalam, artis Bollywood lain seperti Irfan Khan, Aamir Khan, dan Salman Khan. Menteri Luar Negeri Malaysia yang kemudian menjadi perdana menteri, Abdullah Ahmad Badawi, juga pernah dipermalukan oleh pihak imigrasi AS.

Kita tunggu saja apakah Presiden Obama akan melakukan “Non Alcohol Beer Summit II” untuk meredakan ketegangan dengan Muslim yang masuk ke AS.

* * *

Racial Profiling dan Islamophobia tentu saja ada benarnya. Mungkin saja benar, statistik akan menunjukkan prosentasi orang kulit hitam melakukan kejahatan lebih besar daripada orang kulit putih dan teroris yang paling berbahaya saat ini adalah beragama Islam. Maka sikap berjaga-jaga dan mencegah terjadinya kejahatan memang sudah selayaknya dilakukan.

Tapi tentu saja sebagai negara dengan peralatan canggih seperti AS tidak dibenarkan untuk berlaku sembarang bahkan kekonyolan.

Majalah Time sudah memasukkan Shahrukh Khan ke dalam daftar 50 orang paling berpengaruh. Sekitar tahun 2000 majalah Newsweek juga menulis Sharukh Khan adalah jawaban bangsa India terhadap Tom Cruise Amerika Serikat. Pihak imigrasi sebagai pihak yang berhubungan dengan dunia internasional seharusnya mengerti terhadap fakta ini.

Bangsa AS adalah bangsa pencipta google dan wikepedia. Mengapa pihak imigrasi itu tidak menggunakan saja fasilitas itu untuk menginterogasi Shahrukh Khan? Bahkan kalau ingin tahu lebih jelas foto Shahrukh Khan tinggal di – google images saja. Jika memang niat, pihak imigrasi AS sangat bisa mendata di dalam komputernya tokoh dunia maupun pejabat pemerintah yang beragama Islam, sehingga tidak perlu menghina mereka dengan interogasi konyol.

Tindakan bangsa AS selama ini sudah cukup bangsa menyinggung perasaan Muslim, maka sebaiknya tidak usah lagi ditambah dengan penghinaan terhadap tokoh Muslim.