Kenapa di bulan puasa anggaran belanja keluarga justru tidak pernah "berpuasa"?

Pertanyaan yang memikat, tapi tidak pernah dipertanyakan.
Tulisan ini, mungkin tidak mampu memberikan jawaban kebenaran.
Anda, bisa mencernanya, menyetujuinya, atau mencari jawaban anda sendiri.

Tapi paling tidak, dengan membaca paragraf awal saja, anda sudah ikut bertanya.
Dan untuk itu, ucapan selamat adalah kata yang patut diucapkan.
Karena mungkin setelah membaca ini, anda akan cukup enggan untuk mengucapkan : selamat datang bulan ramadhan.

:wink:

* * *

Sejak remaja saya meyakini kalau Islam, seharusnya lebih dekat dengan kiri ketimbang kanan.

Hanya karena dikotomi "kanan" dan "kiri" lebih dimaknai sebagai dikotomi agama dan non agama, maka kita lebih akrab dengan pemahaman Islam itu kanan dan bukan kiri.

Pasti masih cukup lekat dalam ingatan kita, bagaimana dua dasawarsa ke belakang media massa sering menyelipkan istilah "revolusioner kanan" atau "revolusioner kiri" untuk membedakan aliran mana yang bergerak dalam peristiwa-peristiwa di berbagai belahan dunia.

Tetapi kalau kita benar-benar mencoba menyelami, sebetulnya kita bisa menemukan banyak hal dalam ideologi Islam yang lebih dekat dengan ideologi sosialis, ketimbang kapitalis. Muhammad Hatta misalnya, adalah salah satu putra bangsa ini yang pernah menyuarakan kesadaran akan hal itu ketika menyandingkan kata islam dengan sosialis.

Lalu bagaimana kaitannya dengan ramadhan? Tulisan saya sebelumnya telah menyampaikan pada anda bagaimana pengistimewaan ramadhan yang kita lakukan, bisa dimaknai sebagai suatu pemberhalaan.

Pertanyaan selanjutnya tentu saja, mengapa? Mengapa kita sampai jatuh memberhalakan ramadhan?

Kita tidak perlu mencari jawabannya terlalu jauh, karena jawabannya ada di sekitar kita. Ya, karena agama, bagaimana cara manusia beragama, terletak di tangan kita. Agama tidak pernah hidup dalam komunitas hewan yang tak mampu membentuk peradaban.

* * *

Beberapa tahun ke belakang, pernah ada polemik yang melibatkan seorang budayawan kita, ketika ada wacana untuk membidahkan beduk masjid. Sang budayawan, yang juga pemuka sebuah pengajian, dengan gigih membela penggunaan beduk, dengan mengajukan sisi-sisi bagaimana dalam keber-Islaman masyarakat Tradisional kita, beduk telah menemukan posisinya sebagai sarana untuk memperkuat ibadah, dan bukan merusaknya.

Pola pandang semacam itu benar pada masanya. Adalah benar memandang keber-islaman masyarakat dengan memotret kehidupan beragama masyarakat tradisionil, ketika masyarakat kita memang masih hidup dengan pola bermasyarakat tradisional.

Tetapi ketika jaman berganti, ketika masyarakat kita sudah beranjak dari pola agraris tradisional menjadi masayarakat industrialis, ketika petani sudah jamak menggunakan blackberry, maka kita tahu, pola masyarakat dalam menyikapi sebuah beduk juga akan berbeda. Dan sebuah beduk akhirnya akan menempati posisi yang berbeda, digunakan secara berbeda, dan membawa efek-efek yang berbeda.

Seperti beduk, demikian pula halnya yang terjadi dengan pengistimewaan bulan ramadhan.

Di masa masyarakat kita masih tradisionil, pengistimewaan bulan ramadhan tidak akan bersentuhan dengan mahluk yang bernama Industri. Ramadhan dan segala pernak-perniknya tidak pernah dijadikan alat untuk mencapai keuntungan. Tuhan, tidak pernah berdagang di bulan ramadhan. Artinya, melembagakan "keistimewaan bulan ramadhan" tidak akan dilakukan untuk landas alasan apapun selain untuk mendorong ummat lebih mendekatkan dirinya dengan citra Tuhan. Berpuasa, menahan diri, meningkatkan ritual beragama, didorong dengan konsepsi kalau bulan ramadhan itu begitu istimewa, semata-mata agar masyarakat mau menggunakan satu bulan sebagai jalan pembuka untuk mendekatkan diri dengan pencipta-Nya. Jalan pembuka, karena jalan sesungguhnya berada di sebelas bulan lainnya.

Begitupun, pengistimewaan bulan ramadhan tidak lantas dilakukan dengan terlampau berlebihan.
Almarhum ayah saya dulu kerap bercerita, semasa kecilnya ramadhan tidak pernah menjadi pesta. Tidak ada penganan berlebihan. Tidak ada keriaan yang didengungkan berulang-ulang. bulan puasa justru menjadi bulan untuk "menutup" diri. Dan masih menurut cerita ayah saya, semasa kecilnya ummat muslim lebih menjadikan hari raya sebagai momen untuk berpesta, justru di hari Idul Adha. Karena Idul Adha memang ada sarananya untuk itu. Haji-haji mengeluarkan kurban dan membaginya untuk masyarakat di sekitarnya.

Sekarang, pola itu menjadi berbeda. Mungkin karena masyarakat kita sudah terlampau banyak orang yang cukup kaya, sehingga mereka bisa berkurban dua kali dalam setahun. Tetapi mungkin pula karena sebab sederhana : masyarakat kita memang sudah berubah seiring perkembangan peradabannya. Bila dahulu tradisionil, sekarang menjadi modern. Bila dulu agraris, sekarang menjadi indutrialis. Bila dulu sosial, sekarang menjadi komersial.

Bukankah ciri seperti itu memang jelas terlihat di depan mata kita?

* * *

Bahkan dalam keadaan bencana, banjir besar di kota besar seperti Jakarta misalnya. Kita melihat bagaimana bencana menjadi kesempatan untuk sebagian orang mengais rejeki. Mengkomersialkan sesuatu yang seharusnya lebih menjadi suatu pertolongan sosial.

Dan kita sekarang memang memandang hal seperti itu sebagai suatu kewajaran. Bahkan pemuka agamapun dalam siaran-siaran televisi sering memandang fenomena itu sebagai sebuah "berkah". Menjadi sebuah berkah ketika bencana ternyata masih "berguna" mendatangkan rejeki bagi sebagian orang.

Absurd. Tidak masuk akal. Tetapi bisa dijelaskan ketika kita menyadari bahwa memang kehidupan masyarakat kita yang membentuk itu.

Dan seperti beduk, seperti berkah dalam bencana, demikian pula halnya dengan ramadhan dalam kekinian kita.

Ramadhan menjadi istimewa, karena memang harus diistimewakan. Ia harus diistimewakan, karena bulan ini menjadi alat untuk dikomersialkan.

Karena di bulan ini baju islami menjadi laku, nada dering islami menjadi laku, ayat suci menjadi laku, korma menjadi laku, album religi menjadi laku. Pernak-pernik ramadhan seperti penganan pembuka puasa menjadi kebutuhan yang diakomodasi dengan baik oleh setiap orang yang bernaluri dagang. Berbuka dengan yang manis, dan nabi muncul dalam kemasan sirup marjan. Menjaga aktifitas tetap lancar dalam berpuasa, maka kemasan suplemen muncul dalam kemasan bernuansa Islam. Obat nyeri lambung menjadi ikon bagi sarana membantu kelancaran ibadah.

Bukan hanya kaum pedagang yang turut serta melembagakan keistimewaan bulan ini. Bahkan ulama pun menjadi ujung tombak, memainkan peran karena mereka juga menjadikan ramadhan sebagai mata pencaharian. Contoh Nabi yang menyelenggarakan sebagian malam tarawihnya disudut-sudut tiang rumahnya, menjadi dilupakan karena ulama menghabiskan setiap malamnya dengan pengajian di televisi, di komunitas ini, di masjid besar anu, di gedung megah, di hotel bintang, di istana, atau di istora. Ulama jadi kebanjiran order.

Ramadhan menjadi istimewa, dan harus diistimewakan karena ia memang menjadi barang dagangan.
Ramadhan disambut dengan sukacita, karena ia menjadi jalan pembuka untuk lebih menumpuk kekayaan material bagi para pedagang di luar sana.
Harga selalu melonjak di saat ramadhan, karena hukum sederhana suplly dan demand yang berbicara. Demand harus terus diarahkan menjadi meningkat di bulan ramadhan, dengan cara mengistimewakan momennya.

Dan keluarga-keluarga yang selalu terbebani dengan anggaran belanja yang meningkat di saat bulan dimana seharusnya mereka "berpusa" dalam seluruh pengertiannya, selalu larut dengan euphoria keistimewaan bulan ramdahan.

Dan kita malah berkata, "Baguslah itu! Masyarakat jadi semakin islami di bulan ramadhan, karena segala pernak pernik kehidupan jadi berwarna islam. Dan karena itulah ramadhan harus terus diistimewakan!"

Kita mungkin lupa, Tuhan tidak pernah memperdagangkan ramadhan.
Tuhan tidak pernah mengutip royalti untuk kitab suci.
Dan Nabi tidak pernah menjadi debt collcetor, yang menagih hutang demi hutang kita pada Tuhan untuk ajaran hidup yang diberikan-Nya.

Dalam konteks itu, Islam sesungguhnya tidak pernah berdekatan dengan kanan.

Dan ketika ramadhan menjadi istimewa karena pola komersialisasi yang menghidupi masyarakat kita, maka saat itulah kita menjadi pelaksana perselingkuhan antara kiri dan kanan.