17 Agustus 2009 Hari-hari ini mata kita tertuju ke Manado, sejak Manado digunakan sebagai tempat untuk menajamkan pandangan kita Kembali Ke Kehidupan Kelautan. Manado sungguh membuat hati saya bangga karena saya amat mendambakan hal-hal mengenai kelautan yang ditonjolkan dengan mencolok.

Saya memang melihat bahwa ada rasa takut berlebihan dari ibu-ibu pada umumnya utamanya ibu-ibu Indonesia terhadap anak-anaknya kalau sudah menyangkut masalah keberadaan di dekat tempat yang berair, biarpun di kolam renang yang airnya tenang sekalipun. Hal ini malah tidak menjadi salah satu kegiatan yang dipilih oleh orang Indonesia pada umumnya untuk kesehariannya maupun untuk rekreasi. Hanya mereka yang langsung berhubungan dengan dunia tangkap  ikan dan kegiatan lain dipantai, yang tidak memandang laut sebagai hal yang perlu ditakuti. Benar sekali kita harus selalu berhati-hati dengan keseharian kita, karena penuh bahaya di manapun kita berada. Di dapur lebih mengerikan kalau dibandingkan dengan di dapur pada masa saya masih anak-anak. Sekarang ada gas elpiji dan ada radiasi dari alat-alat rumah tangga. Apalagi sepeda motor (di Jakarta saja ada lebih dari 4 juta buah), saya kira ini justru mesin pembunuh manusia yang paling kejam di Indonesia, meskipun sesungguhnya adalah sikap disiplin yang harus disalahkan yang paling utama.

Apa yang saya ungkapkan di sini adalah banyaknya bahaya yang melingkupi kehidupan manusia Indonesia. Jadi perlu disadarkan bahwa bahaya terbesar bukan tenggelam di air, apalagi air laut. Dengan mengupayakan agar mindset kita bisa berubah menjadi maritime minded, maka saya amat mengharapkan kehidupan akan bisa diarahkan ke laut, ke laut!  Bisa di lihat di dalam blog saya:

http://sehathealthy.blogspot.com/2009/08/data-data-maritim-kita.html.

Terlihat jelas sekali bahwa Panjang Coastline Indonesia adalah : 54,716 km. Ini baru coastline antara daratan dan air laut termasuk pelau-pulaunya. Bila kita mengamati coatline yang sesuai dengan daerah ekonomi maka panjangnya akan menjadi hampir dua kalinya, yakni hampir sekitar angka 90.000 kilometer. Itu adalah dua kali panjang ekuator yang hanya sekitar 42000 kilometer. Panjang pantai yang terpanjang di dunia adalah milik negara Kanada, yaitu 202.000 kilo meter, akan tetapi saya sekali sebagian besar tidak dapat digunakan sepanjang tahun karena banyak bulan dan sebaguian besar darinya ditutup oleh es dan salju. Pantai-pantai di indonesia dapat secara bebas dikunjungi sepanjang 24 jam ddalam satu tahun penuh, untuk segala upaya mencari nafkah halal. Bisa kita saksikan beberapa catatan yang pernah saya buat di bawah ini:

 1. Waktu RI diproklamasikan pada tahun 1945, luas laut kita adalah L Kilometer Persegi. Hari ini kita sudah sah memiliki ukuran laut yang luasnya sudah 60 (enam puluh) kali L Kilometer Persegi. Itu semua berkat Deklarasi Juanda pada tahun1957an dan diteruskan sampai Hukum Internasional mau mengakui bahwa Laut kita diakui oleh Dunia International dan PBB. Bukan saja Laut di dalam Zona Ekonomi kita itu milik kita, sampai dasar laut kita dan isi bumi yang berada di bawahnya adalah sah milik RI.

2. Belum cukup sampai di situ saja. Seluruh udara dan angkasa di atas  kepulauan kita adalah juga merupakan hak kita, sehingga pihak asing manapun harus mendapat ijin dari RI kalau melintasinya.

3. Ironisnya: Kita tidak memiliki peralatan yang cukup untuk menjaga milik kita itu: Lautan dan Udaranya.  Saya adalah seorang Naval Achitect – Arsitek Kapal, yang belajar di Jepang. Seumur hidup saya telah terpaksa tidak bisa berprestasi di bidang pembangunan kapal. Sebuah Industri Kapal bermodal luar biasa besar dan returnnya amat lama (slow yielding) dan biasanya dipelopori oleh pemerintahnya dan memerlukan proteksi. Perhitungan saya sekolah saya selesai pada tahun 1964 dan Industri Pabrik Baja Krakatau Steel telah siap untuk menunjang Industri Galangan Kapal. Ternyata politik lebih penting daripada industri berat seperti pabrik baja dan negara dikuasai oleh orang-orang yang daratan minded seperti telah disukseskan oleh segala tingkah dan perilaku para penguasanya, yang hanya mementingkan daratan saja, sesuai dengan tujuan penjajah belanda dalam upaya  mementingkan daratan saja, dan lautan dikuasai oleh VOC dan akhirnya KPM.

4. Saya bukan mengemukakan keluhan karena tidak kebagian rejeki dalam dunia Maritim, akan tetapi saya melihat apa yang dikemukakan tulisan yang disajikan Bung John Oei mengenai Jepang yang doyan ikan itu dari kacamata saya.. Jepang dan Taiwan, Pilipina serta Thailand dan mungkin Malaysia juga, amat menikmati semua KE-TIDAK-BERDAYA-AN RI dalam mengelola, menjaga dan memanfaatkan wilayah lautnya. Mereka berpesta pora dengan negara kita yang lemah karena korupsi, Angkatan Lautnya saja kalah dengan kelengkapan Angkatan Laut Singapura.

5. Sekarang RI harus sesegera mungkin, karena sudah terlalu lama sekali abai masalah Maritim, seharusnya mendorong semua lapisan masyarakatnya mencintai laut, memanfaatkan laut untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Pemerintah harus mendanai cara-cara mudah menyiapkan pangan dari laut. MIND SET kita harus berubah total.  Menanam padi bukannya jelek, tetap bisa ditingkatkan, tetapi Laut, sekali lagi LAUT, JANGAN SEKALI-KALI DILUPAKAN

6. Saya pernah menemukan bacaan di National Library, di Middle Road, di Singapura yang menyebutkan bahwa pernah ditemukan sebuah kapal dagang terbuat dari kayu jati, dan itu dikatakan sebagai kapal orang Jawa di China. Pedagang Jawa pernah sibuk berlayar ke China, sebelum Cheng Hoo datang ke Nusantara. Ada gambar relief di candi Borobudur yang menggambarkan sebuah kapal layar dan itu sebuah bukti bahwa kita sudah pernah menjadi bangsa pelaut sejak jaman dahulu kala.Bukan orang Bugis saja yang terkenal menjadi pelaut pada jaman dahulu kala, tetapi juga orang Madura dan juga orang JAWA.

7. Harapan saya: kita hentikan sebisa mungkin berbicara politik dan agama dengan kadar seperti sekarang ini. Manusia Indonesia sudah bosan dengan issue-issue seperti ini; kasihan mereka tidak ada yang mampu menolong, kecuali difasilitasi dan diberi penerangan yang cukup oleh pemerintah kita sendiri, mengenai hak-hak kita di Lautan yang telah sepenuhnya milik kita itu. Juga mengenai kemungkinan bisa menciptakan pekerjaan bagi berjuta-juta orang yang membutuhkannya. Bukankah beribadah itu bukan hanya dengan cara berdoa saja?? Mencari nafkah halal adalah wajib, bisa dengan bermartabat membayar pajak, untuk membayar para pegawainya yang disebut sebagai pegawai negeri dan alat-alat Negaranya. Mindset bahwa rakyat hanya budaknya pejabat harus dibalik dan jadikanlah rakyat itu menjadi majikan seperti seharusnya.  Mereka berpenghasilan sah dan halal adalah idaman yang layak. Banyak pemasukan pajak berarti akan bisa mencukupi hidupnya khalayak ramai dengan pantas dan berwibawa, termasuk para pegawai negeri dan lat-alat negaranya..

8. Kita bisa mendidik rakyat kita bekerja di industri dasar yang rakyat biasa bisa mengerjakannya, tanpa gangguan bunga uang di bank atau pergerakan modal di pasar bursa. Mereka bisa membuat diri mereka bukan saja nelayan mencari ikan, akan tetapi juga menjadi petani lautan. Membiakkan ganggang laut yang daunnya bisa dikonsumsi orang Jepang dan jangan lupa mutiarapun adalah produk hasil laut.

Mau tunggu apa lagi??  

Tidak bisa berenang??  

Itu bukan halangan. Belajar berenang kalau memang dirasa perlu!!

Takut mati terbenam?? Sama saja di darat juga bisa mati!! Saksikan bagaiman pada hari ini ditayangkan di media tentang rekor penyelaman yang terbanyak dan terlama dilakukan secara bersama-sama oleh lebih dari dua ribu orang penyelam di Malalayang, Sulawesi Utara. Rekor Guiness telah dipecahkan.

Saksikan:

[tube]WMcGiM5koyc[/tube]

Buatlah kapal sebanyak mungkin, jadi tidak selalu perlu dan bergantung kepada kemampuan berenang saja. Carilah pemimpin yang memiliki mental kelautan, bukan daratan saja. Sekali lagi daratan juga penting akan tetapi lautan jangan pernah ditinggalkan dan dilupakan.

SEKARANG INI: Pelayaran dan pengangkutan di Laut-Laut antar pulau dikuasai oleh kapal-kapal asing. Ikan-ikan kita dicuri oleh negara-negara tetangga kita, termasuk Jepang. Kalau kapal-kapal pencuri ini tertangkap lalu hilang beritanya, jangan heran. Anda bisa menduga sendiri apa yang terjadi. Padahal nilai pencuriannya mencapai bermiliar-miliar Dollar Amerika Serikat setiap tahunnya. Tiada hari tanpa pencurian.  Kalau saya makan sushi di Tokyo, sering saya tanyakan kepada penjualnya: Apakah ikan ini berasal dari negara saya?? Kalau saja dia menjawab iya, maka di dalam pikirannya dia itu merasa ikan telah masuk ke Jepang dengan legal dan didapat dengan memakai  pancing yang legal pula. Saat ini adalah sebuah kesempatan baik bila kita lakukan segala upaya untuk menujukan mindset kita ke arah kehidupan laut.

Bangunlah semangat kelautan di sekeliling anda, sekarang juga.

 

Anwari Doel Arnowo – 17 Agustus, 2009 – 22:15