OOBE dan Mikraj / Tawajuh itu beda kalu dalam pengertian daku, pokoknya beda u know, ga bisa disamain. Aku jadi kuatir sendiri, jangan-jangan yang aku ajak omong kemarin tuh bukan Mas Leo yang lagi OOBE ?

In OOBE u can go to places like Borobudur, your friend's room or tiba-tiba kayak di suatu hutan. But kalu Mikraj itu adalah go inside, ga go outside.

J = Sama aja.

Yg namanya OOBE juga go inside. Inside pikiran kita sendiri. Istilahnya memang OOBE = Out of Body Experience, tapi sebenarnya kita tidak kemana-mana, not even keluar dari body kita sendiri.

Kita cuma masuk ke dalam pikiran kita sendiri saja, dan bisa merasakan bahwa ternyata kita piknik ke Borobudur, pedahal masih di ranjang juga. Bisa merasa jalan-jalan ke Baitullah di Yerusalem, pedahal Baitullah di Yerusalem sudah hancur lebur berantakan diporak-porandakan oleh orang Romawi, dan Allah Ta'alla tidak bisa berbuat apapun. Sampai sekarang tidak ada Baitullah di Yerusalem, yg ada cuma Masjidil Al Aqsa dan Masjid Umar di areal bekas Baitullah.

Yg disebut Baitullah dibuat oleh Sulaiman, Raja Israel, dan itu sudah hancur lebur sejak nenek moyang kita masih tinggal di daratan benua Asia dan belum hijrah ke kepulauan Indonesia. Baitullah terakhir dibangun oleh Raja Herodes, tetapi ini juga sudah hancur ketika pemberontakan Yahudi dipadamkan orang Romawi di tahun 70 Masehi. Baitullah dihancurkan oleh orang kafir dan Allah memble saja. Sejak saat itu tidak pernah ada Baitullah lagi di Yerusalem.

Allah itu aslinya Tuhan kepunyaan orang Yahudi, namanya Yehovah. Yehovah itu disembah-sembah oleh orang Yahudi, sekalian disuruh-suruh. Statusnya Tuhan as well as babu. Jadi Yehovah itu kelakuannya persis seperti anak kecil yg suka merajuk, harus dipuja-puji setinggi langit, udah gitu baru bisa disuruh-suruh bantuin orang yg memuja-muji dia.

Oh Yehovah, Engkau begitu baik, sekarang usirlah penjajah Romawi dari tanah Palestina. Tetapi ternyata Yehovah diam saja, sampai akhirnya dibajak oleh orang Arab dan diberi nama sebagai Allah. Dibajak tanpa bayar royalty gitu lho.

Dan tidak tanggung-tanggung dibajaknya. Semua nabi-nabi Yahudi ikut dibajak ke Arab, including Yesus, seorang Yahudi yg bahkan tidak diakui sebagai nabi oleh orang Yahudi sendiri tetapi ikut diboyong ke Arab sebagai hasil, maybe, dari perjalanan perdagangan ke Suriah.

Ada yg diperdagangkan, dalam hal ini agama-agama. Agama Yahudi diperdagangkan, agama Kristen juga. Dan ternyata ada pedagang Arab yg membeli agama Yahudi dan Kristen, dan akhirnya mengklaim memiliki hak franchise untuk mengedarkan agama yg "terakhir dan sempurna" (dalam tanda kutip).

T = Mengenai baptis, yang aku lihat adalah prosesi yang simple koq, ga wah menurutku. Terus kalu simbol itu diterjemahkan dalam laku perbuatan, bukankah itu yang namanya ritual ?

J = Kalau simbol diterjemahkan dalam laku perbuatan, namanya bukan ritual lagi melainkan laku perbuatan thok. Ritual adalah ritus atau upacara untuk menyampaikan makna melalui simbol. Misalnya, dimaknakan bahwa "dosa" (dalam tanda kutip) akan hilang lenyap secara free of charge ketika manusia menerima simbol baptis. Ritual fisiknya dicelupkan ke dalam air yg mengalir. Kalau orangnya ikut ritual fisik baptis dan bisa mengerti arti dari simbol baptis yg diterimanya, maka dosanya hilang. Perasaan bersalahnya karena always kawin dan tidak mau menikah akan hilang saat itu juga.

Kegunaan simbol yg telah dimengerti adalah dalam kehidupan sehari-hari. Karena orang itu sudah diampuni dosanya karena kebanyakan kawin dan tidak mau menikah, maka sekarang orang itu akan mengurangi frekwensi kawinnya. Dulu setiap malam minggu dia kawin tanpa nikah, and not always pake kondom which is very dangerous karena dia melakukannya dengan seorang anak laki-laki yg terkenal masih perjaka sampe sekarang. Setelah ikut ritual baptis, hal itu sekarang dilakukannya satu bulan satu kali saja, dan always bawa sarung untuk dikenakan kepada sang pacar gelap.

Dan everybody is happy with that arrangement, including the Allah yg juga cuma SIMBOL. Allah itu simbol dari kesadaran kita sendiri saja.

Kalau kesadaran kita ternyata merasa biasa-biasa saja, maka kita tidak memerlukan segala macam simbol pembersihan dosa berupa ritual baptis, potong kambing or even teriak-teriak allahuakbar. Berarti kita sudah tahu bahwa Allah adalah kesadaran di dalam diri kita sendiri saja, dan memang akbar atau besar sekali sehingga tidak bisa kita mengerti seluruhnya. We don't even understand how great our consciousness is. Kesadaran kita hanya muncul sedikit sekali ke atas permukaan, seperti pucuk gunung es. Dan memang pantas dibilang akbar walaupun tidak harus selalu diteriaki melalui takbir. Bisa sambil bisik-bisik kepada diri kita sendiri: allahuakbar. Yes, I am.

T = Menurutku simbol / gambar dan perbuatan berada di satu keping uang logam. Mereka sebenarnya saling melengkapi. Ada orang yang sudah bisa mengartikan simbol-simbol dengan baik dalam artian bahawa dia sudah bisa menterjemahkan simbol itu dengan sesuatu yang dimaksud saat seseorang itu melakukannya.

J = Ya benar.

Yg termasuk simbolik itu adalah syahadat dan sholat. Makanya sebagian kaum sufi yg sudah merasa makrifat tidak mau mengucapkan syahadat dan melakukan sholat. Syahadat dan sholat sudah menyatu dalam perbuatannya sehari-hari which is biasa-biasa saja. Bahkan dengan tidak perlu mengaku sebagai penganut agama. Kalau masih mengaku sebagai penganut agama, maka artinya orang itu belum memahami makna simbolik yg terkandung dalam ajaran-ajaran agama. Kalau sudah mengerti, maka dia justru tidak akan berbicara tentang agama. Dia tidak akan syiar agama. Dia tidak akan perduli agama mau bubar ataupun berkembang. Agama is nothing buat orang itu.

Agama is also nothing buat saya. Saya tidak perduli agama orang. Mau beragama kek, mau gak beragama kek tidak akan berpengaruh bagi saya karena saya tahu bahwa kesadaran yg ada di tiap manusia sama persis dengan kesadaran yg ada di saya. Saya tahu segala haram dan halal itu juga cuma simbolik. So, daging babi tetap saja halal buat saya, tidak ada bedanya dengan daging sapi. Saya tidak akan penuh takut seperti para ustad itu yg merasa dirinya sangat dimuliakan Allah karena tidak pernah makan daging babi as well as tidak pernah bersalaman dengan wanita yg bukan muhrimnya.

Menurut saya, ustad jenis begitu adalah mereka yg spiritualitasnya kelas bawah. Mereka masih belajar memahami arti simbol, memahami apa arti Allah, memahami bahwa ternyata Allah itu cuma medium agar kita bisa fokus ikhlas dan pasrah di kesadaran kita sendiri saja. Mereka masih belajar, tetapi sombongnya bukan main. Yg memaki saya adalah mereka dari kategori spiritualitas kelas bawah ini, dan itu memang bisa dimengerti karena mereka bingung kok tidak bisa mencapai Allah.

Tentu saja mereka tidak akan pernah menc

MUI akan rugi kalau banyak makanan yg beredar tidak dilengkapi dengan sertifikat halal yg dikeluarkannya. Dalam hal ini MUI bertindak sebagai agen tunggal dari Allah Ta'alla untuk menyatakan suatu makanan halal dan tidak mengandung babi.