Pertengahan 1995, ketika aku semakin suntuk dengan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (FS-USU), aku bergaul dengan Kelompok Malam. Istilah kelompok malam diberikan bagi sekelompok mahasiswa yang tak suka kuliah dan lebih mementingkan menghabiskan waktu dengan bermabuk-mabukan selama 24 jam non stop di kampus. Meski tidak resmi diangkat sebagai ketua, Icad Maulana, mahasiswa diploma (bahasa Inggris) yang tak kunjung menyelesaikan kuliahnya dianggap sosok terpenting,

Icad bertubuh tinggi dan langsing; kulitnya hitam dan berkacamata tebal. Rambutnya gondrong dan selalu memakai celana jeans. Di lehernya tergantung kalung salib. Icad (berayah Melayu, beribu Cirebon) secara resmi beragama Islam, tetapi di Kelompok Malam siapa yang peduli faham apa pun yang ia anut. Icad sendiri selalu beranggapan, kalung salib yang tergantung di lehernya adalah salah satu karya seni terbaik manusia hingga ia merasa bangga mengenakannya. Setelah lama berteman dengannya, aku pun tahu  Icad pemabuk sejati. Demi mabuk ia telah menjual sedan yang dibelikan ayahnya. Tak lama sepeda motornya pun digadai. Kepadaku ia  bilang berencana untuk menjual komputer milik kakaknya.

Jika kalian bayangkan Icad mabuk di night club saban malam, kalian salah besar. Icad hanya pemabuk kampus plus donatur utama para pemabuk. Ia nonstop mabuk 24 jam. Jika untuk mabuk satu hari bersama puluhan teman bisa menghabiskan Rp500 ribu, tentu pikirkan sendiri berapa yang harus kami habiskan selama sebulan. Tentu saja sesekali waktu kami pergi ke night club atau tempat hiburan lainnya tetapi uang yang paling banyak kami habiskan jelas hanya untuk membeli beberapa vodka botol besar di kampus, meminumnya ramairamai; menelan belasan papan pil koplo juga  ramairamai; dan biasanya malam kami minum tuak tentu pula ramairamai. Tidak sedikit pun nilai positif yang bisa kalian ambil dari acara mabukmabukan kami yang mungkin bisa mengalahkan pemabuk paling dahsyat. Aku dan Icad bahkan pernah tidak sadar selama dua hari dua malam di Asrama Putra USU, lantaran kebanyakan makan pil koplo. Para mahasiswa di lantai kelima itu terpaksa menghancurkan daun pintu (yang kami kunci) untuk mengetahui apakah kami masih hidup dan mimpi indah atau sudah "tiada guna dikenangkan". Satu-satunya yang menarik dari pergaulan kami adalah lintas-sektor; dalam arti sebenarnya.

Di kalangan kami tidak ada yang namanya senior atau junior; lelaki atau perempuan; apalagi sekedar Islam atau Kristen. Tidak ada senior yang memerintahkan anggota kelompok malam dengan sesuka hatinya; tidak ada pula senior yang mengklaim lebih jenius daripada junior. Lalu tidak akan ada cerita tentang perempuan yang hanya duduk menemani para lelaki pemabuk karena kalau sudah mabuk lelaki atau perempuan sama saja ributnya. Doktrin agama dan kepercayaan, tentu saja tak pernah terlintas. Itulah prinsip yang tidak tertulis tetapi berjalan dengan begitu saja di kampus. Semua orang boleh bicara tentang apa saja di kelompok itu, selama tidak menganggap paling tahu. Begitupun jika membahas masalah kesenian hanya yang betulbetul berminat saja yang akan bicara. Sebagian besar anggota Kelompok Malam hanya akan diam saja mendengarkan apa yang dibicarakan.

Sebagai sosok yang paling banyak memiliki gagasan, Icad adalah salah satu dari orang yang banyak berbicara. Demikian pula aku. Bedanya, Icad sejak lama memang secara tidak resmi dianggap sebagai pemimpin, sedangkan aku lebih karena dikenal sebagai pekerja seni di kampus. Sejak mulai masuk kampus tahun 1991, aku memang telah terjun menjadi anggota teater; mengurus majalah dinding; menulis berpuluh karya sastra berupa naskah drama; cerpen atau puisi. Ketika kukenal Icad tidak pernah menghasilkan karya apa pun, tetapi dia memiliki semangat yang tak kunjung padam. Semangatnya itulah yang membuatku kemudian berdiskusi rutin tentang kesenian dengannya. Ia sangat tertarik. Ya, meski pemabuk, kami tentu tak mau jadi pecundang seumur hidup. Hingga beberapa bulan setelah aku bergabung dengan Kelompok Malam, kami mendirikan Teater V. Tentu ini pekerjaan berat. Orang-orang yang harus kulatih adalah para pemabuk sejati. Tak jarang jika sedang berlatih, mereka minta dispensasi untuk meminum alkohol atau mengisap ganja. Alasan mereka, agar bisa lebih konsentrasi. Hal yang tentu kutolak mentah-mentah.

Secara resmi kami mengumumkan Teater V berarti teater lima karena memang didirikan lima orang (aku, Icad, Moralta, Gunanta, dan Benyamin—tetapi kemudian anggotanya jadi puluhan karena seluruh anggota Kelompok Malam didaulat menjadi anggota V). "V" bisa juga berarti angka ke-lima romawi yang diartikan pancasila (lima dasar) dengan kebhinekannya karena kami memang beragam latar belakang. Begitupun arti sesungguhnya dari "V" adalah "Vodka" lantaran kami memang menyukai vodka. Itulah sebabnya "V" tidak dibaca "Lima" tetapi "Vie".

Saking sukanya kepada vodka, ketika melakukan pementasan perdana berjudul "Musyawarah Para Bajingan" (kuadaptasi dari sebuah cerpen) dalam satu adegannya, kami—para pemeran—tengah rapat sembari meminum minuman keras. Tidak ada penonton yang tahu bahwa minuman keras yang mereka pikir air putih dalam botol vodka itu sesungguhnya memang vodka yang asli tanpa campuran apa pun. Tentu saja dalam pementasan itu para pemerannya betul-betul mabuk. Aku bahkan harus berulangkali membisikkan dialog kepada Moralta Sembiring, yang hampir tidak bisa mengingat apa pun saking mabuknya.

Demikianlah … hari demi hari kami lewatkan dengan bermabukmabukan dan kadang mengadakan kegiatan kesenian. Tidak ada seorang pun  dari kami yang kuliah dengan baik. Aku, jika tidak cuti akademi, hanya akan masuk ketika ujian digelar—kecuali terhadap beberapa mata kuliah yang kuanggap dosennya memang betulbetul mengajar. Jika dosen tidak mengajar dengan baik, aku merasa, lebih baik aku saja yang mengajar para dosen itu. Waktu berlalu. Cerita tentang kalung salib yang dipakai Icad menyebar ke mana-mana hingga banyak dosen mengetahuinya. Pembantu Dekan (Pudek) III yang punya tugas mengurus seluruh mahasiswa sampai mendatangi Icad agar ia melepaskan kalung salib yang dikenakannya. Tentu saja Icad menolak dengan tegas. Bapak akan belikan kalung yang jauh lebih baik, Cad. Bapak ganti kalungmu dengan kalung  emas," janjinya "Tidak, Pak, apa yang salah dengan kalung salib?" Icad balik bertanya. "Tentu salah, Cad. Kau kan Islam, salib itu lambang pemeluk Kristen." "Itu kan menurut Bapak. Bagiku, ini hanya karya seni," kata Icad. Pudek III pun akhirnya menyerah kalah. Ia merasa tidak ada gunanya lagi menasehati Icad untuk kembali ke jalan yang—dianggapnya—lurus. Tentu saja sejak saat itu, Icad dianggap sebagai mahasiswa murtad.

Pertengahan 1996, ketika Icad telah dianggap sebagai mahasiswa murtad, Senin pagi kampus digegerkan kedatangan lelaki berjubah. Di tahun 1996 seorang yang memakai jubah diangap sebagai  "orang aneh" karena mengesankan sebagai sosok muslim yang militan. Tetapi yang lebih mengagetkan lagi, sosok berjubah dengan lobe putih di atas kepalanya adalah Icad Maulana. Ternyata Icad—yang hilang selama dua pecan—mengikuti sebuah pengajian di Jalan Gajah, Medan. Icad bilang pengajian yang diikutinya lebih mementingkan bagaimana mengikuti spiritual yang dijalankan Nabi Muhammad. Saking totalnya mengikuti pengajian itu Icad bahkan memakai dompet dari kain untuk menyimpan uangnya. Yang unik, di balik jubah panjang atau gamis yang ia kenakan, Icad tetap memakai kaus oblong dan celana jeans. Terlebih unik lagi, ia tetap memakai kalung salib. Tentu saja kalung salib itu tidak akan dipakai Icad ketika ia tengah berada di jalan Gajah. "Aku masih merasa resah," katanya ketika kutanya bagaimana jiwanya setelah digojlok dua pekan.

Kenangan lain yang menggelikan, ketika aku harus menemani Icad yang ditolak cintanya oleh seorang Boru Silalahi, kami menuju Medan Plaza. Itu adalah pusat pertokoan tertua di Medan. Begitu tiba di plaza, Icad yang bergamis memintaku menunggu karena ia ingin masik ke toilet sebentar. Keluar dari toilet. Icad telah menjadi seorang yang baru. Jubah telah masuk ke dalam tas kain yang disandangnya. Ia kini lelaki dengan oblong dan jeans lusuh. Kami kemudian masuk ke supermarket. Icad membeli beberapa botol vodka, lantas kami menuju kafé di lantai enam. Memesan jus jeruk dan panganan kecil kemudian menenggak vodka itu pelanpelan. Kami harus agak lebih hatihati agar para pengunjung lain tidak mengetahui kafe itu tengah dimanfaatkan dua pemabuk. Kemudian lelaki berkalung salib yang mulai mabuk itu menceritakan tentang cintanya yang ditolak seorang perempuan, lantaran ia hanyalah seorang pecundang. Aku mendengarkan saja setiap perkataannya hingga waktu melewati angka 22.00, saat pelayan dengan hati-hati meminta kami untuk meninggalkan kafe. Berjubah atau berkalung salib,

Icad sangat mencintai kehidupan. Ketika sepupu Moralta tewas ditikam dalam suatu perkelahian, ia menemani jenazah sejak mulai dibawa ke rumah duka (dari rumah sakit) hingga pemakamannya di pekuburan Nasrani. Aku yang juga datang saat pemakaman melihat Icad memakai pakaian hitam-hitam dan berkacamata hitam. Kami mengikuti ritual pemakaman hingga jenazah akhirnya ditinggalkan seluruh pelayat. Saat itu, Icad mengaku menangis. Ia pun berharap agar pertikaian dua pihak yang menyebabkan kematian itu tak lagi dilanjutkan. Harapan yang terpenuhi karena penganan kematian diserahkan kepada aparatur hukum.

Aku terakhir bertemu Icad di Taman Ismail Marzuki pertengahan 2008. Ia telah menjadi seorang seniman dalam arti kata sebenarnya. Icad kini berada di sebuah kabupaten terpencil di Kalimantan Barat. Ia aktif mengembangkan kesenian di kabupaten itu. Ia menikah dengan seorang aanggota DPRD. Seorang perempuan Dayak yang Nasrani. Anak satusatunya dinamai Bung. Ya, akan terlalu banyak cerita yang bisa kukenang dalam persahabatan kami yang ditemukan dalam sebuah kelompok kaum pecundang. Aku kembali teringat Icad ketika nama Tuhan tetap diangkat-angkat untuk mengesahkan berbagai kejahatan. Ketika Tuhan tetap dianggap sebagai sosok yang mencintai darah dan kematian. Aku tak pernah tahu apakah Icad masih percaya agama atau tidak. Yang aku tahu, seluruh jiwa raganya menghargai pluralisme dan sekulerisme. Aku juga tak tahu dari mana Icad yang tak pernah menyelesaikan diplomanya bisa memiliki keyakinan luar biasa dan sangat penting bagi peradaban. Yang aku tahu, seorang profesor sekalipun pun bisa tetap kukuh memegang keyakinannya walau itu sangat merusak; sangat antipluralisme; sangat antiperadaban.

Didik L. Pambudi