Ucapan selamat serta acungan dua jari jempol kedua tangan ke arah atas patut diberikan kepada tim antiteror Densus88. Dengan kerja kerasnya mengendus jaringan teroris Islam membuahkan hasil dilumpuhkannya dua orang di Jatiasih Bekasi dan seorang di Kedu Temanggung.

Apapun hasilnya apakah dia itu Noordin M Top atau bukan, bukanlah masalah.  Nenek moyang kita memiliki kearifan: sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Tinggal menunggu waktunya saja dan kesialanpun akan menghampirinya jika sudah sampai pada akhirnya.

Dari berita perburuan teroris ini ada tiga hal paling menarik yaitu:

1.Adanya keterlibatan anggota dari ormas Muhammadiyah didalam aksi melindungi teroris.
2.Terkuaknya adanya gen dari ras mongolid (jika info ini benar) terlibat dalam bom bunuh diri di JW Marriot.
3.Keterangan Kapolri di hadapan media massa yang menyebut-nyebut soal target teroris selanjutnya adalah rumah pribadi Presiden SBY.

Dari item 1 bukanlah sesuatu yang mengejutkan bilamana daerah nyaman bagi perlindungan Noordin M Top adalah daerah-daerah seperti Cilacap, Temanggung, Wonosobo yang pengaruh Muhammadiyahnya cukup kuat. Sedangkan para begundalnya banyak dideteksi berdiam di daerah-daerah seperti Surakarta, Kudus, Jepara dan pingiran Yogyakarta seperti Sleman dan Bantul.

Pertanyaannya mengapa ada anggota dari ormas Muhammadiyah yang memiliki pemikiran sama dengan pemikiran yang dibawa para teroris? Untuk itu Abdul Mutie Sekretaris PP Muhammadiyah di TVOne dapat menjelaskan secara gamblang. Maka tidak heran juga, apabila dalam kejadian terjadinya aksi-aksi terorisme mantan petinggi Muhammadiyah seperti Syafii Maarif ataupun Din Syamsudin pejabat sekarang sering mencla-mencle. Pernyataan ataupun statement yang dilontarkan terlihat tidak tegas dan mengawang-awang. Terorisme (baca terorisme oleh teroris Islam) dimaknai sebagai bagian dari reaksi atas aksi penindasan, ketidakadilan oleh pihak di luar Islam. Sedangkan mereka tidak melihat dengan cara berinstropeksi bahwasanya ada sesuatu hal salah dalam diri Islam sendiri. Sedangkan dari segi intlektualitas mereka tidak perlu diragukan keintlektualitasnya, tetapi pertanyaanya mengapa mereka tidak mampu untuk keluar dari kukungan dogmatis? Apakah takut dosa?

Abdul Mutie Sekretaris PP Muhammadiyah mendapat pertanyaan mengapa bomber trio tengulung bapaknya orang Muhammadiyah. Basyiir yang identik dengan memperjuangkan syariah Islam dan salah satu garis keras adalah dulunya juga aktivis Muhammadiyah. Sedangkan yang terkini rumah anggota Muhammadiyah yang bekas pensiunan PNS dan guru agama menjadi tempat persembunyian teroris.

Sebagaimana biasanya dan sudah menjadi seperti habit pada kelompok dan golongan ini, Abdul Mutie memberikan penjelasan dan keterangan seperti layaknya naik komedi putar. Mendengarkan penjelasn dan keterangan darinya terhadap aksi terorisme bukanlah dikutuk ataupun disalahkan malahan dikait-kaitkan dengan korupsi juga soal ketidakadilan hukum. Relevansinya dimana? Apakah dia mengangap bahwa yang mendengarkan itu tidak memiliki referensi berita lain daripada yang disiarkan oleh TVOne. Sedang di SCTV sehari sebelum rumah tempat persembunyian teroris di Kedu diserbu tim Densus88 antiteros. STCV mewawancari pemilik rumah yang bernama Muhjari yang berjengot layaknya sulur yang menjadi tempat bergelajutanya para bidadari.

Mengapa tidak tegas menyatakan bahwa sebagai ormas Muhammadiyah merasa gagal bilamana pada kenyataanya ada anggota dari Muhammadiyah terlibat langsung atau tidak langsung dalam aksi-aksi terorisme. Dan Muhammadiyah akan mengevaluasi kembali sejauhmana pendalaman agama dari para anggotanya untuk dilakukan pembinaan dan memagarinya lewat dakwah agar kembali ke jiwa Islam sebagai Ramatan Il Amin. Daripada muter-muter mencari alasan dari persoalan Palestina, korupsi dan putusan pengadilan yang tidak adil segala.

Hal itu tidak dilakukan bisa jadi disebabkan oleh karena memang pemikiran dari teroris Islam itu sejalan dengan pemikiran dari Muhamamdiyah. Para teroris Islam ini salah satu tujuannya adalah memurnikan ajaran Islam dan Muhammadiyah termasuk aliran didalamnya. Berbeda dengan NU yang menyerap unsur budaya pendahulunya seperti dalam soal sedekah bumi, ziarah kubur maka Muhammadiyah mengharamkan hal tersebut.

Dari item 2 adalah sesuatu hal baru dimana lazimnya para teroris adalah dari suku Jawa seperti trio tengulun, suku Sunda seperti Iman Samudra, dari suku di luar Jawa seperti Sumatera dan Sulawesi. Maka untuk kasus terbaru pemboman Hotel JW Marriot ada keterlibatan orang Tionghoa. Suatu kemajuan atau sebuah kemunduran bilamana Tionghoa yang adalah minoritas di Bangsa ini dan minoritas pula di agama Islam memberikan kontribusi jihader pembom bunuh diri. Adalah membuktikan rekrutmen dan kesamaan pemahamam terhadap ide-ide dari para teroris sudah merasuk ke berbagai golongan.

Untuk item 3 jari jempol tangan ke arah bawah patut diberikan kepada Kapolri yang membuat kinerja bawahanya seperti Densus88 anti teror sia-sia atau bahkan menjadi bahan tertawaan.

Sebagai seorang Kapolri dia sepertinya tidak bisa membedakan memberikan keterangan secara formal atau resmi dengan informal atau kalangan terbatas. Sangat disayangkan di konferensi press yang diadakan terkait dengan tindakan hukum kepada para teroris muncul kata-kata plintir. Dengan latar belakang keterangan bahwa penemuan bahan peledak di Jatiasih akan digunakan untuk meledakan rumah kediaman prinadi presiden SBY. Dengan alasan dan alibi yang diberikan karena jarak antara rumah tersebut dengan kediaman pribadi Presiden dapat ditempuh dalam waktu 12 menit dalam keadaan padat. Mengapa mesti menyiapkan jarak tempuh 12 menit bila dapat ditempuh dalam waktu 5 menit dengan membuat tempat yang lebih dekat pada sasaran? Sebab dengan jarak waktu yang lama kemungkinan dideteksi dan dilumpuhkan lebih terbuka lebar dibandingkan bilamana waktu nya makin pendek.

Paling konyolnya lagi Kapolri memberikan bukti-bukti berupa gambar mobil yang akan dirancang untuk melakukan bom mobil bunuh diri, serta photo-photo para pelaku teroris Islam. Tetapi klaim bahwa ada testimoni dari pelaku bom mobil bunuh diri dengan sasaran rumah pribadi SBY tidak dimunculkan sebagai bukti di konferensi press itu, hanya dikatakan dipengadilan semua akan terungkap Sehingga timbul pertanyaan bahwa hal itu (peledakan rumah pribadi presiden SBY) hanyalah rekayasa Kapolri untuk menutupi aib setelah tidak terbukti bahwa bom berkaitan dengan Pilpres. Apalagi ketika itu Presiden dengan yakinya mengatakan “..ini bukan issue, atau fitnah melainkan data intelejen…” serta memperlihatkan gambar dirinya sebagai sasaran.

Teroris itu bukan orang bodoh, target sasaran rumah pribadi Presiden SBY adalah hard target. Karena dengan mobil pickup bak terbuka maka ketika akan memasuki gerbang komplek tersebut pastilah sudah dibekuk. Apalagi jaraknya dikatakan 2 minggu dari tanggal 1 Agustus akan terjadi peledakan kembali. Dimana diselang waktu itu pengetatan pemeriksaan sangatlah ketat kecuali dilakukan 5-6 bulan setelah ledakan di JW Marriot dan Ritz Carlton. Pengetatan pemeriksaan pastilah sudah longgar tidak seketat lagi minggu-minggu setelah terjadinya ledakan.

Paling masuk akal sasaran soft target adalah sewaktu upacara kenegaraan 17 Agustus di Istana Negara. Apakah lazim ketika upacara hari kemerdekaan jalanan seputar Istana dikelilingi oleh kawat berduri dan dijaga oleh panser. Sedangkan hari itu adalah hari kemerdekaan dimana hari kebebasan dari penjajahan untuk menentukan masa depan sendiri.

Kecuali itu kehadiran para duta besar Negara sahabat termasuk didalamnya para dubes Negara kafir dan musuh mereka adalah sasaran sekali kayuh dua, tiga pulau terlampui. Dengan mengemudikan mobil pickup penuh bahan peledak sebesar 500 kg sebagaimana kete rangan polri maka peristiwa mengerikan pastilah terjadi. Sebagaimana bom truck bunuh diri di markas Marinir Amerika di Lebanon tidaklah bakal kalah kedasyahatanya. Syukurlah Densus88 anti teror berhasil melumpuhkan dan membekuk pelakunya serta mengamankan bahan-bahan bom. Tetapi sayangnya Kapolri membajaknya untuk membersihkan mukanya dari aib bom terkait dengan pilpres.