Jauh hari sudah saya perkirakan, keputusan pengadilan koroner  Singapura, 29 Juli 2009: David bunuh diri! Pernyataan sama sudah saya ungkap di program teve Kick Andy, maupun dalam beberapa wawancara di TV One. Pemerintah seharusnya ngeh dari awal. Hukum berkaca fakta nyata atau   hidangan dari  lantai persidangan? Barang bukti laptop, hand phone, milik david, yang bukan alat membunuh,  sedianya bisa dibawa pulang keluarga, 7 Agustus 2009, nyatanya  tidak. Tiada hashing data, tanda terima fisik tanpa  digital konten. Keluarga David  meminta tanda terima  digital konten, polisi Singapura  ulur-ulur?
 
RABU  malam, 5 Agustus 2009,  saya kembali duduk menatap patung Burung karya pelukis  Fernando Botero, pelukis terkenal asal Kolumbia, satu karyanya  sengaja dipajang  atas prakarsa  UOB, di pelataran menghadap bandar Boat Quay, Singapura itu. Perahu-perahu bermesin batere yang senyap berlayar tak  tampak lagi sekadar bawa turis mutar-mutar. 
 
Malam  larut.
 
Bulan penuh di atas kepala.
 
Malam itu saya berdiskusi dengan sosok akuntan yang bekerja di sebuah warehouse, anak Indonesia. Kami menjajaki kemungkinan mendirikan foundation, yang dapat  melakukan advokasi, memperjuangkan nasib anak Indonesia  bersekolah di luar negeri, khususnya Singapura. Latarnya selain kasus David Hartanto Widjaja, yang sudah diputus oleh pengadilan Singapura pada 29 Juli 2009 sebagai bunuh diri  – – kendati tiga ahli berlevel doktor di Indonesia mengatakan David dibunuh – –  masih ada kasus lain terhadap anak Indonesia di NTU, yang  belum mengemuka; pelecehan seks, penjualan tugas akhir S2 oleh profesor ke industri dan peracunan di Lab., Kimia. Dan jika terus saya memverifikasi, deretan perlakuan mencekam lain, terindikasi nyata tak basa-basi.
 
Sebelumnya, di malam  28 Juli 2009, malam menjelang  sidang keputusan kasus  David, saya pun berjumpa di sebuah cafe di tempat sama dengan anak Indonesia yang menjadi direktur untuk ASEAN, di perusahaan konsultan keuangan. Ia  fund manager.  Sosok anak muda lulusan Ohio State University, yang hidup mapan di Singapura,  prihatin mendalam akan apa yang terjadi.
 
“Anak-anak cerdas Indonesia diberi beasiswa, atau dimudahkan mendapatkan pinjaman dana  berkuliah.”
 
“Setelah tamat,  tiga tahun ia diwajibkan bekerja di perusahaan Singapura.”
 
“Dan biasanya, setelah tiga  tahun, karena mulai mapan, males pulang ke Indonesia.”
 
Begitu celotehan sosok yang pernah mengelola investasi dana BUMN Indonesia itu.
 
Malam itu saya  membayangkan wajah Ciputra dalam biografinya. Ia ketika  tamat ITB, Bandung, fresh graduate, sudah berpresentasi di depan Gubernur Ali Sadikin, kala itu. Anak muda, semangat muda, otak encer, energi besar, aset  unggul membangun bangsa.
 
Jika lulusan segar, anak-anak brilian yang semula diwajib-sekolahkan  di tanah air  – – bahkan dengan anggaran pendidikan ditambah melimpah – –  namun setelah tamat  sekolah menengah  dipungut negeri lain: Kami sepakat bahwa itu namanya bentuk lain dari out flow of national wealth, larinya kekayaan bangsa ke luar. Brain drain!
 
Istilah out flow of national wealth pernah diucapkan Prabowo Subianto, dalam masa kampanye Capres lalu, terhadap sumber daya alam,  bahwa jumlah ekspor pertahun yang tak sesuai dengan angka penerimaan devisa tertera,  nyata-nyata menggelembung membubung.
 
Jika di ranah Sumber Daya Manusia  (SDM) juga  Sumber Daya Alam (SDA), negara membiarkan, terus-menerus  terjadi total loose, jelas  segenap aset bangsa kian tergerus.
 
Dan naïf,  memang,  bila negara seakan alpa melalui pemimpin tertingginya hinga hari ini enggan bersuara terhadap kasus yang menimpa David Hartanto Widjaja, yang disosialisasikan oleh kampusnya di Nanyang  Technological University (NTU) menusuk professor, melukai nadi sendiri, lalu melompat bunuh diri. Tuduhan dengan kenyataan tanda tanya besar!
 
 
 
 
KARENANYA, begitu mendapat kabar dari seorang alumni NTU di Singapura pada 26 Agustus 2009 malam, Boediono, Wacapres SBY, tampil  dalam rangka penandatanganan kerjasama Rajaratnam, NTU,  Program S2  dan S3 dengan Indonesia,  di Kedubes RI Singapura, dada saya sesak.
 
Sakit di hati terasa menyembilu.
 
Agenda Boediono, pada Selasa, 28 Juli 2009,  memberikan lecture di hadapan Rajaratnam Program NTU, di Hotel Shangrilla, Singapura.
 
Bayangkan esoknya 29 Juli,  perkara kasus David diputuskan oleh pengadilan koroner Singapura. Fakta-fakta persidangan  macam yang tertuang dalam Sketsa XV.
 
Tega-teganya pejabat Indonesia demikian?
 
Begitu logika awal saya.
 
Dugaan saya kala itu, bahwa simbol negara sudah menjadi bagian public relation NTU.  Benar-benar top  itu NTU  mem-pas-kan sikon.
 
Maka sepanjang Senin, 27 Juli 2009 itu,  saya mencari akses kiri kanan, untuk “membatalkan” agenda Boediono itu. Namun apalah awak ini? Di benak saya selalu terbayang wajah Tjhay Lie Khiun, ibunda David, betapa kian tersayat hatinya mendengar  kenyataan itu.
 
Berbagai kawan saya hubungi lintas-berkas. Mulai dari Nana Krit, kawan di HIPMI, hingga sosok Nong Darol Mahmada, anggota TIM Sukses Boediono, yang kebetulan ada  di pertemanan Facebook saya.
 
Beberapa menit menjelang pukul  tujuh  di Selasa pagi, di saat hendak membuka pintu rumah  hendak menuju Bandara ke Singapura, telepon genggam saya bergetar.
 
“Hallo Mas Iwan, untuk membatalkan Pak Boediono tampil di forum Rajaratnam, NTU itu tentu tak mungkin.”
 
“Tetapi saya jamin Pak Boediono akan menyampaikan kalimat ini: Berbicara tentang studen asal Indonesia, kami mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya atas meningalnya David Hartanto Widjaja, mahasiswa asal Indonesia pada 2 Maret 2009 lalu di NTU.  Dan semoga pengadilan Singapura, dapat berjalan fair dalam memutuskan perkara tewasnya.”
 
Saya jawab bahwa hal  itu juga sudah oke, tetapi akan lebih oke, bila Boediono juga hadir di persidangan David, karena terbuka untuk umum, sebagai bentuk kepedulian?
 
“Saya akan coba kordinasikan,” ujar Djoko Suyanto, mantan Panglima TNI, yang saya kontak sejak Senin siang belum berbalas.
 
Begitu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, saya mendapatkan kabar kembali bahwa Boediono berkenan menerima keluarga David di Hotel Shngarilla. Pukul 14, waktu Singapura.
 
 
 
 
PUKUL 14. di Hotel Shangrilla Singapura.  Sesuai kordinasi dengan Rizal Malarangeng, protokol Boediono,  yang dapat menemui  Boediono, adalah keluarga, plus saya. Beberapa kawan wartawan  tidak diberi kesempatan masuk  ke salah satu ruangan kecil di balik ball room hotel itu..
 
Boediono berkemeja putih lengan panjang. Jasnya  disampirkan ke sandaran  kursi. Kami duduk di meja bundar melingkar: Boediono, Hartono Wijaja, ayah, Tjhay Lie Khiun, ibu, William Hartanto, kakak, Widjaja Kusuma, paman, saya, Rizal Malarangeng, Chatib Basri, Raden Pardede, Wardhana, Dubes RI  di Singapura.
 
“Saya berkenan menerima keluarga, sebagai bentuk simpatik dan duka mendalam, dalam kapasitas pribadi.”
 
“Tempo hari pernah juga ke Pak JK ya?” tanya Boedino.
 
“Iya Pak, kami  memang mangharap ada perhatian dari pemerintah.. Karena menurut lawyer bahwa kasus ini konpirasi dan politis, tentu tanpa maksud kami ingin merusak hubungan baik kedua negara,” jawab Hartono Widjaja.
 
“Saya akan coba kordinasi dengan Pak JK, apa yang sudah dilakukan?” ujar Boediono.
 
Tak dipungkiri siang itu menjadi ajang curhat keluarga. Dan memberi penghiburan terhadap keluarga. Apalagi kemudian usai pertemuan itu saya mendengar rekaman suara Boediono yang dilakukan  Novyanto, blogger, yang turut hadir dalam lecture Boediono di pagi harinya berisi alinea pidato awal macam yang disebutkan Djoko Suyanto.
 
Keesokan harinya sidang akhir  pembacaan keputusan perkara kematian David digelar. Sebagaimana sudah diperkirakan: Pengadilan memutuskan David bunuh diri. Bagian ini saya tak tuliskan lengkap, biarlah menjadi Sketsa tersendiri dan atau menjadi kelengkapan buku  ihwal  kasu David  yang sedang saya tulis.
 
Yang pasti di saat hakim Victor Yeo menyebut David bunuh diri di sekitar sekon di jam menunjukkan waktu mejelang pukul 16.30  waktu Singapura,  keluarga meninggalkan ruang sidang. Palu hakim belum diketukkan.  Ibu David menangis sejadi-jadi di luar pintu ruang sidang  Nomor 22 di lantai 3, Subordinat Court, itu.
 
Ia duduk terhempas di deretan kursi  yang berjejer di pintu masuk. Airmatanya mengalir deras. Saya duduk di kiri Tjhay Lie Khiun. Seketika  di wajah saya membayang raut bunda  sendiri yang telah berpulang pada November 2008 lalu. Saya genggam tangan kiri Thjay, meminta  ia bersabar, menahan tangis, agar David  tak kian sedih di alam sana.
 
Tangan dingin Thjay, seakan mengingtatkan saya agar segenap barang bukti terutama  laptop, hand phone,  agar kelak diminta dan disereah-terimakan  ke keluarga oleh polisi, agar  tidak diterimakan begitu saja. Mesti dihadiri oleh ahli forensik digital yang  paham akan digital konten, hashing data yang dicatat, saling diketahui oleh sesame ahli digital forensic Indonesia, agar jika dilakukan analisa digital fiorensik  di Indonesia, hasilnya sama? 
 
Terutama untuk  bahan persidangan yang menyebutkan di dalam laptopnya, David pada 25 Januari 2009,  dikatakan polisi Singapura mebuat surat yang menyatakan dia mau bunuh diri , ditulis pada pukul  12.54.
 
“Padahl tanggal dan jam segitu kami sedang makan sekeluarga di restoran Angke, Jakarta, dalam rangka imlek besoknya, “ ujar Hartono Widjaja.
 
Dikatakan juga oleh polisi di persidangan, David mengunjungi situs yang berisi konten tentang bunuh diri.
 
Atas hal di atas menjadi penting bahan dgital konten yang ada di laptop David untuk dianalisa ulang.
 
 
 
MAKA pada  5 Agustus 2009, bersama Hartono Widjaja,  Rubby Alamsyah, ahli digital  forensik satu-satunya yang kita punya, juga Nofyanto, blogger yang berinisiatif membuat www.remembrancedavid.com. Berempat kami ke Singapura. Mengingat pada 6 Agustus polisi Singapura – – sebagaimana dikabarkan oleh Yayan Mulayana, Sekretaris Pertama Kedubes RI di Singapura – – akan datang ke KBRI pukul 10 mengembalikan laptop.
 
Akan tetapi begitu kami mendarat, dapat lagi kabar bahwa pertemuan dengan polisi Singapura  ditunda 7 Agustus pukul 10.
 
“Kita harus siap dengan kondisi terjelek,” ujar Ruby
 
Di malam hari kami sudah mendiskusikan kemungkian terburuk itu, misalnya,  polisi tak membawa hashing data. Hashing data adalah berupa  32  angka, berupa digital finger print. Contoh jika seseorang mengetik di MS Words, mengubah koma saja, maka angka-angka digital itu akan bergerak. Dari situ oleh ahlinya akan ketahuan, jika setelah 2 Maret 2009, apakah laptop David ada tambahan isi, dan atau file lamanya sempat diutak-atik.
 
Untuk analisa awal itu, Ruby  membawa sekoper peralatan digital forensiknya, bersatndar internasional,  agar bisa mencocokkan  data penyidik  yang dijadikan barang bukti oleh polisi di persidangan. Ruby juga acap membantu pekerjaan polisi kita di tanah air.
 
Eh, polisi Singapura baru datang pukul 10.30 di  7 Agustus itu. Inspektur So, bersama  seorang Polwan, mengendarai mobil polisi berwarna putih.
 
Benar saja, mereka hanya membawa fisik barang-barang  David, tanpa  digital konten. Terjadi sialog panjang antara HartonoWidjaja, polisi dan Ruby Alamsyah. Cukup lama meyakinkan polisi.
 
“Inidemi kebaikan polisi Singapura, Keluarga dan kami di Kedutaan Besar RI, maka serah terima digital konten, juga diperlukan, “ ujar Rahmat, staf yang menagni IT KBRI.
 
Akhirnya sekitar pukul 12.30 kedua polisi itu mkeninggalkan KBRI, bejanji sebelum pukul 15.00 kembali lagi dengan membawa data digital untuk diserag terimakan ke keluarga david. Kami menunggu di KBRI. Hingga menjelang pukul 15., kami dikabri oleh Yayan Mulyana, bahwa polisi belum bisa datang kembali..
 
Dan pesawat kami pulang pukul 17. hari itu, sudah membuat langkah harus bersiap menuju Bandara Changi.
 
Begitulah,  bila dalam persidangan banyak hal seakan diatur searah, giliran orang Indonesia paham dan mengerti seluk beluk data komputer, sang Polisi Singapura,  berlagak polos seakan tak tahu-menahu.
 
Di saat mengakhiri  mengetik tulisan Sketsa XVI ini, OC. Kaligis, menelapon saya dari bandara. Ia baru saja mendarat dari Washington DC, menghadiri ulang tahun Presiden  Obama.
 
“Iwan kita banding saja kasus David itu. Saya juga ketemu temanmu di VOA, menyarankan agar terus mensosialisasikan masalah ini di online,” ujar Kaligis di ditelepon genggamnya. VOA yang dimaksud adalah Voice of America.
 
Seketika benak saya tertuju kepada laptop David, yang top habis di dalam persidangan lalu,  polisi tak menemukan tanggal di mana David mengunjungi situs berkonten bunuh diri.
 
“Tanpa tanggal, “ kata polisi Singapura.
 
Hingga diujung inilah top habis polisi Singapura.
 
Begitulah kisah tentang laptop yang “top” itu. ***