Apa hubungannya si mbah Surip (almarhum) dengan flu? Mungkin tidak ada. Tapi waktu menulis ini saya memang sedang flu berat. Badan rasanya nggak enak banget.

Mantep memang flu ini.

Demamnya datang pergi tak pakai permisi, membuat sekujur tubuh saya terasa linu-linu. Bahkan sampai sampai gigi rasanya juga begitu. Belum kepala berat, rasa tak bertenaga, sampai perih di kerongkongan. Pokoknya, bener-bener mantep.

Sekilas sempat terpikir jangan-jangan ini flu burung atau babi? Ndak tahulah. Mungkin -dan semoga- hanya flu biasa. Atau paling parah mungkin hanya flu hongkong, atau flu bangkok. Itu juga kalau ada flu semacam itu.

Jangan salahkan saya kalau ndak tahu.

Bukannya ndak eling lan waspada. Lha pasalnya, meski flu babi dan flu burung sudah jadi penyakit yang dikategorikan keadaan berbahaya, tapi saya memang belum pernah mendengar atau membaca informasi dari pemerintah -dalam hal ini departemen kesehatan- apa bedanya simptom atau gejala-gejala yang membedakan flu babi, burung, atau influensa biasa.

Rasanya semua dihantem sama saja.

Kalau media massa cetak atau elektronik memberitakan kasus-kasus flu babi atau burung, gejala yang disebutkan rasanya kok sama-sama saja dengan flu biasa. Ya demam, sakit perih di kerongkongan, sendi terasa linu, lemas, tak bertenaga, hidung meler, batuk, kepala puyeng dan lain-lain sejenisnya.

Apakah memang begitu? Lalu bagaimana kita bisa mengenali flu yang kita derita? Bagaimana membedakan apakah yang kita derita itu flu babi, burung, hongkong, macao atau mungkin flu komodo? Bagaimana kalau terjadi seperti kasus staf Kedubes Pakistan yang berhari-hari menderita flu dengan gelaja seperti flu biasa saja, tapi lalu tiba-tiba "dut-mak-eot" dan lantas divonis menderita flu babi.

Apakah memang kita hanya bisa nunggu matinya saja? Kalau mati berarti flu babi atau burung, dan kalau tidak berarti flu biasa saja?

Lalu bagaimana kita bisa menempatkan kekhawatiran kita secara proporsional? Apa setiap kali terasa gelaja flu lalu kita harus segera ke Rumah Sakit untuk memeriksakan diri, siapa tahu yang kita derita itu flu babi atau burung?

Mangsalahnya siapa yang bayar? Karena meski sudah jadi "keadaan berbahaya" tapi apakah berobat ke rumah sakitnya yang dirujuk menangani kasus berbahaya itu jadi gratis untuk semua kalangan? Apa pemerintah menetapkan bahwa semua warga negara yang diduga menderita flu punya kewajiban untuk tidak menularkan, untuk masuk karantina dan sebagai kompensasinya semua warga negara itu jadi punya hak untuk dirawat di rumah sakit secara cuma-cuma?

Mantepnya sih begitu ya?

Di saat berjangkitnya satu penyakit yang berbahaya, mestinya Negara yang punya kewajiban menjaga kesehatan masyarakatnya, harus mengambil alih tanggung jawab kesehatan dari individu-individu masyarakatnya. Hanya dengan pengambilalihan itu maka negara bisa memaksa setiap warga negara yang menderita penyakit berbahaya untuk masuk karantina di rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani penyakit itu.

Kalau perlu, bikin PP yang memberikan ancaman pidana bagi warga negara yang tidak mau masuk karantina. Tapi timbal baliknya, ya pemerintah harus menjamin kalau masuk karantina, maka si individu ini jadi tanggung jawab penuh negara. Kalau perlu bukan cuma perobatannya gratis, selama masa karantina itu pada warga negara yang pola penghasilannya terpengaruh oleh proses karantina bisa diberikan kompensasi penghasilan. Kasarnya, kewajiban masuk karantina oleh warga negara akan diimbangi hak untuk tetap menerima penghasilan.

Kalau begitu mantep tho? Enak tho? Ampun pemerintah.

* * *

Memang beneran mantep flu ini.

Sewaktu flu babi mulai merebak beberapa bulan kemarin, sebetulnya saya sudah mulai bertanya-tanya, "Ada apa ya dengan flu?" Atau mungkin tepatnya : Ada apa ya dengan kita? Dengan dunia kita?

Influensa, sejak lama sudah jadi penyakit yang umum. Jaman dulu penyakit ini boleh dikatakan nggak dianggap di masyarakat. Bukan cuma karena terlalu sering berjangkit, tapi pengobatannya pun cukup pakai obat warung. Atau bahkan untuk sebagian masyarakat, menghadapi penyakit flu malah cukup pakai wedang jahe, menghirup uap air panas dalam baskom, atau tidur.

Jadi agak lucu bin ajaib buat saya, di masa kita punya berbagai virus penyakit yang lebih mengerikan seperti AIDS atau Ebola, eh ndilalah virus penyakit remeh macam influensa ini seperti berontak, mengaktualisasi dirinya dan memosisikan diri jadi lebih penting dari sebelumnya. Mengambil peran yang baru, dan memberi aksen baru dalam gerakannya dengan menjadi suatu penyakit yang mematikan bin menakutkan.

Where are you going sih flu?

Nggak ngerti juga mau kemana si flu ini. Seperti juga kita mungkin tidak bisa memetakan jawaban untuk pertanyaan ada apa sebenarnya dengan manusia jaman sekarang, kok sampai-sampai virus remeh macam flu itu perlu merevitalisasi, me-reaktualisasi dan me-reaksentuasi dirinya supaya lebih dianggep sama manusia?

Apakah ini ceritanya karena kita, manusia sedunia, sudah terlalu kabur dalam memandang kesehatan? Sudah terlalu bias memandang mahluk yang bernama virus, atau sudah terlalu kacau dalam mengelola kesehatan, terlalu mencampuradukkan kesehatan dengan kapitalisasi, komersialisasi? Sehingga revitalisasi, reaksentuasi dan re-re-an yang lain dari virus influensa itu hanya supaya kita kembali ingat bahwa yang sederhana-sederhana juga punya makna?

Bahwa virus remeh semacam flu juga bisa membunuh kita?

Mbuh.

* * *

Belum habis pikiran saya soal flu, tiba-tiba di henpun saya masuk satu pesen dari temen di Jakarta. Buru-buru saya panteng televisi untuk melihat berita yang dikabarkan via sms itu. Inalillahi. Mbah Surip, meninggal dunia di tengah-tengah ketenarannya (04/08/2009). Di penggalan akhir Inalillahi, tak urung sempat terucap : memang mantep ini mbah.

Lha, pasalnya satu hari sebelum ia meninggal saya baru saja menggunakan fenomena Mbah Surip sebagai contoh kasus untuk pendapat saya soal rejeki.

Dalam satu sesi ngobrol-ngobrol di lingkungan keluarga, saya katakan kalau mbah Surip ini contoh nyata rejeki yang seperti demam. Datang tanpa permisi. Tanpa di duga. Dan tanpa diatur-atur harus datang di usia segini atau segitu.

Akibatnya saya selalu berpegang pada prinsip dan berusaha menebarkan prinsip : nyari duit mah santai saja. Usaha perlu, tapi nggak usah ngotot. Karena dikejar sampai kemana juga, kalau memang belum rejekinya, ya nggak akan mampir. Sebaliknya, kalau memang sudah milik kita, rejeki pasti mampir juga akhirnya. Meski mungkin tidak sekarang, mungkin tidak di waktu kita masih muda, tapi pasti dia tetap akan mampir. Yang perlu kita lakukan akhirnya cuma mencoba untuk tetap siap jadi manusia yang bener, meski rejeki itu sedang dateng atau enggak.

Artinya, manajemen ikhlas jadi jauh lebih penting untuk didahulukan, ketimbang manajemen usaha, perusahaaan, menajamen konflik, atau manajemen artis sekalipun.

Nah, jadi mantep ketika kemarinnya saya ngomong begitu, ndilalah, besoknya si Mbah Surip meninggal. Terbayang yang kemarin mendengar ocehan saya, dengan meninggalnya si Mbah Surip mungkin akan mengajukan pertanyaan ; Kalau rejeki dateng lalu kita malah mati, lalu buat apaan?

Mantep tho?

* * *

Pikir punya pikir, Mbah Surip ini memang mantep. Persis seperti flu.

Melalui lirik yang itu-itu doang, lagu Tak Gendongnya si mbah begitu mudah berjangkit ke seluruh penjuru negeri ini. Dan seperti virus flu yang menjadi begitu ajaib di tengah-tengah perkembangan virus dahsyat yang lain, fenomena si mbah juga terasa sangat ajaib untuk ukuran dunia hiburan modern.

Lagu sudah direkam enam tahun lalu –atau bahkan kalau dihitung dari diperdengarkan lagu itu sudah berusia jauh lebih lama lagi, bisa belasan tahun– tiba-tiba meledak sekarang. menghasilkan duit yang katanya milyaran, mengangkat sosok si mbah ke puncak kesuksesan.

—————————————————————–
Catatan diskusi di Forum Apakabar

[tube]u55fa718OkQ[/tube]
 sebagian melodi lagunya sangat mirip dengan lagunya Billy Vaughan: Raunchy (Zhao Yun)

[tube]KRFBI-ISCEA[/tube]

 

————————————————————————

Dan persis seperti flu juga, sewaktu meninggalnya si mbah terjadi proses revitalisasi, reaktualisasi dan reaksentuasi dari sosok si mbah.

Televisi beruntun-runtun mengekspose sosok seniman yang dalam pandangan normal sehari-hari akan mudah kita sebut lebih mirip gembel ini. Lagu-lagunya dimaknai ulang. Lirik yang semula lebih terkesan iseng-jahil seperti "tak gendong, kemana-mana" dimaknai lagi lebih dalam. Saya baca satu stasiun televisi sampai membuat judul teks pada sebuah siaran beritanya "lagu-lagu mbah Surip mengandung pesan kemanusiaan". Sementara televisi yang lain mencoba mengurai "pesan filosofis" dari kepribadian dan jalan hidupnya.

Penampilannya, filosofi-filosofi yang terlihat tercermin dari dirinya diangkat satu demi satu. Mulai dari kesederhanaan, kejujuran, sampai semangat pantang menyerah, atau bahkan yang terkesan absurd seperti "tidak pernah merasa susah".

Dan seperti umumnya jagad dunia hiburan, beberapa reaksi balik juga muncul. Mungkin terlalu memegang teguh prinsip "berimbang" dalam dunia media massa, seiring berita-berita positif yang diangkat, berita negatif juga mulai merebak. Mulai dari kritik terhadap bad habbit si mbah minum kopi dan merokok tak putus, yang ditengarai sebagai penyebab kematiannya, mulai ada yang membicarakan kalau aransemen baru dari lagu Tak Gendongnya si mbah itu hasil menjiplak dari pemusik Amerika tahun 50-an.

Saya tak akan heran kalau berikutnya muncul gugatan-gugatan pada fenomena pengidolaan si mbah. Gugatan yang berupaya menghancurkan simbol-simbol yang sekarang ini hidup dalam sosok diri si mbah Surip. Tak mengherankan kalau nanti ada yang nyinyir mempertanyakan pantaskah si mbah dengan gaya hidup semrawutan itu jadi idola. Kalau nanti ada suara-suara prihatin akan pola masyarakat kita mengidolakan seseorang.

Mulai dari gugatan singkat macam "shalatkah dia?", "cukup Indonesiakah dia dengan dandanan Jamaikanya?", sampai menelusuri apakah si mbah yang usianya simpang siur, yang mengaku punya title kesarjanaannya hingga S2, yang mengaku pernah kerja di California sampai Kanada itu benar-benar prototipe orang yang pantas diidolakan. Atau apakah kesimpangsiuran dan kecenderungannya untuk ngomong melantur malah dimaknai sebaliknya. Bahkan mungkin persoalan apakah kesederhanaannya menunjukkan kombinasi semangat pantang menyerah dan keihlasan yang prima, atau hanya sikap hidup manusia yang ndak jelas tujuan hidupnya.

* * *

Tidak akan mengherankan, karena kita memang suka begitu.

Kita lebih suka mengoyak-ngoyak yang tampak di hadapan, di diri orang lain, ketimbang menohok diri sendiri. Lebih suka mengambil nilai yang tampak di permukaan, dan enggan menggali jauh ke dasar, ke dalam.

Atau seperti halnya virus penyakit sederhana seperti flu yang baru diperhatikan ketika ia menjadi jalan penjemput kematian, maka mata kita juga baru terbuka akan filosofi-filosofi sederhana yang tampil dari sosok si mbah Surip ketika sosoknya bersanding dengan kata kematian. Cukup pandaikah kita? Atau terlampau bodohkah kita?

Tapi kalaulah memang kita memang tampil sebagai si fulan yang bodoh, yang tidak bisa melihat secara benar sosok seseorang dan mengambil sosok yang tidak ideal sebagai idola, maka pertanyaan yang seharusnya dipertanyakan adalah pertanyaan yang menguliti diri kita sendiri. Mengapa kita begitu? Apakah kita memang terlalu bodoh? Terlalu bebal, sehingga perlu satu kata : kematian, maka kita baru bisa memaknai kembali sebuah kesederhanaan?

Apakah kita memang sudah begitu sakit, karena terlalu kerap menyaksikan fakta para pemimpin negara kita ternyata sosok kemayu tak tahu malu? Melihat ikon-ikon tokoh negara yang kita hormati ternyata pembunuh, korup, penipu, gila harta, tak bisa dipercaya? Apakah kita sudah terlalu bosan dengan sosok terhormat nan brengsek sehingga kita begitu gampang mengambil siapa saja untuk menjadi sosok idola baru?

Atau justru yang terjadi malah sebaliknya? Kita sekarang sudah terlampau bijaksana sehingga bisa mengambil siapa saja, manusia dalam bentuk apa saja, bisa menggali nilai-nilai dari sosok paling ancur untuk diabadikan dalam simbol-simbol yang kita tetapkan untuknya? Bijaksanakah itu? Atau hanya hasrat romantis yang mendorong kita untuk memaknai sosok seperti mbah Surip dengan penghargaan-penghargaan, dengan pengidolaan?

Karena di sisi lain, bukankah terasa absurd kalau persoalan seperti royalti dari almarhum Mbah Surip begitu dipersoalkan, sementara mbah Surip sendiri justru sejatinya meninggalkan semangat untuk berkarya dan menghibur orang lain tanpa pamrih? Sementara mbah Surip justru menyodorkan dirinya sebagai martir untuk sebuah contoh hidup bagaimana manusia menentang arus jaman, menganggap sepi industrialisasi, menggunakan kekayaan dan material hanya sebagai kendaraan dan bukan sebagai tujuan?

Tidakkah malu, apabila kita mengangkat fenomena filosofi Mbah Surip, sementara di saat yang sama kita menghinakan semangat-semangat kemanusiaannya ?

* * * *

Mbah Surip mungkin tidak ada hubungannya dengan flu. Tapi mungkin keduanya hadir di tengah-tengah kita, untuk menunjukkan satu pertanyaan.

Ada apa dengan kita? Mengapa kita seperti terlalu pintar sekaligus terlalu bodoh, sampai harus diingatkan kembali oleh yang sederhana-sederhana? Mengapa kita kemudian selalu mudah untuk melupakan yang sederhana, sehingga di satu titik yang sederhana-sederhana itu harus selalu menyeruak muncul, merevitalisasi, mengaktualisasi dirinya kembali dengan memberikan aksen yang baru?

Kapan majunya kita? Atau memang begitu sejatinya langkah kita? Berputar dalam Circle of Life, siklus yang tak berujung – berpangkal, dan kita sebagai individu-individu hanya bisa menapaki lingkaran setan untuk mencapai kematian? Karena toh nanti selalu ada individu baru yang melanjutkan putaran yang sudah kita lalui, meskipun mereka juga hanya melaluinya untuk mati?

Jadi Mbah Surip mungkin memang ada hubungannya dengan flu. Mungkin keduanya hadir di tengah-tengah kita, agar kita bisa menyikapinya dengan berpikir ulang, atau cuek bebek dan tertawa,

"Ha… haaaa… haa.."

Apapun, saya hanya ingin mengucap terimakasih dengan berkata ;
Mantep mbah.
I Love Your Flu.

Sentaby,
DBaonk

(http://dbaonkagain.multiply.com/journal … /Flu_Surip)