Seorang karyawan kelihatan tekun sekali di depan komputer. Tangannya bergerak lincah menekan tuts keyboard laptopnya. Dia tampaknya sedang bekerja. Namun keanehan muncul kemudian. Berkali-kali dia senyum-senyum sendiri. Kalau saja dia senyum tidak di depan komputer, mungkin dia sudah layak dimasukkan ke rumah sakit Grogol. Namun tampaknya dia jauh dari kategori gila. Apakah gerangan yang dilakukannya?

Ya dia sedang main facebook!

Setiap bos dan manajer memang layak curiga dengan karyawan yang tampak tekun di depan komputer. Bisa jadi dia bukan sedang mengerjakan tugasnya, tapi sedang asyik membuat status atau mengomentari status orang lain. Dan setiap karyawan juga pantas curiga sama bosnya. Bos di ruangannya belum tentu memikirkan nasib perusahaan dan kenaikan gaji karyawan, bisa jadi dia sendiri sedang sibuk main facebook juga. Toh bos juga manusia, punya teman lama, punya kenangan masa lalu yang bisa dibangkitkan kembali dengan cepat melalui facebook.

Salah satu keunggulan facebook adalah kemudahan mencari teman di masa lalu. Sebagai manusia, entah mengapa kita merasakan sensasi bila tersentuh dengan masa lalu. Benar kata orang: The present is cruel, yesterday is poetic! Dan facebook berjasa betul dalam menyediakan fasilitas hubungan dengan masa lalu ini.

Handphone memang alat canggih, tapi itu tidak bisa dengan mudah menghubungkan kita dengan masa lalu. Begitu pula pencarian google, mailing list dan chatting adalah juga alat yang canggih, namun tetap saja masih belum dapat mengintegrasikan kita.

Facebook mendobrak semua masalah integrasi itu. Ketika account dibuka, maka segera kita masuk ke gerbang masa lalu, masa kini, bahkan mungkin masa depan. Akhirnya tiada hari tanpa facebook.

* * *

Tentu saja bermain facebook (saya pikir istilah bermain adalah kata yang tepat untuk facebook) di jam kerja tetap merupakan masalah etika kerja. Tujuan perusahaan mendatangkan kita di kantor adalah untuk bekerja. Dan waktu kita di kantor sebenarnya adalah  kontribusi kita kepada perusahaan. Dan diharapkan dengan waktu kerja tersebut, maka karyawan dapat berkontribusi 100% untuk kemajuan perusahaan.

Konsep yang berlaku umum sekarang adalah karyawan dibayar menurut waktu kerja. Dan jika orang bekerja di luar jam kerja, maka dia mendapat uang lembur. Maka dapat dibayangkan ketika kita menggunakan waktu kerja itu untuk bermain facebook. Perusahaan membayar orang yang sedang bermain yang hampir tidak berhubungan dengan kerja dan menambah nilai bagi perusahaan.

Ketika di masa lalu, ketika tidak ada komputer, tidak ada internet, tidak ada handphone, ketika orang tidak bisa 'get connected' dengan dunia luar sana, selain tempatnya berada saat ini, maka sistem ini bisa dilakukan. Perusahaan bisa yakin bahwa karyawan yang memakai fasilitas kantor adalah untuk kepentingan perusahaan.

Namun dengan kemajuan teknologi sekarang orang bisa terhubung di mana saja dan ke mana saja. Sambil duduk diam di depan komputer pun orang bisa 'ngobrol' dengan orang,  bahkan dengan orang yang tinggal di belahan dunia lain. Jadi ruang dan waktu menjadi relatif. Ini sudah jadi fenomena dunia yang susah dilawan.

Memang bisa saja melarang orang berinternet di kantor, tapi pastilah suasana kerja di situ terasa hambar. Dan terlebih lagi sekarang dengan menggunakan 'smartphone' maka larangan ini menjadi percuma saja.

Lantas apakah solusinya? Bisakah kita melarang hak asasi orang bermain facebook? Bisakah kita mecari solusi soal bermain facebook pada jam kerja ini?

* * *

Dengan kemajuan teknologi dan fenomena globasisasi saat ini, pada intinya pembayaran tenaga kerja berdasarkan waktu kerja sudah tidak relevan lagi. Pembayaran tenaga kerja harus berdasarkan output tenaga kerja yang bisa digunakan perusahaan.

Ada pemikiran Charles Handy, filsuf dari Irlandia yang sangat penting untuk memahami apa yang terjadi pada dunia kerja di masa yang akan datang. Dia termasuk peramal pertama yang menyatakan dunia kerja di masa yang akan datang akan cenderung pada outsourcing. Dan ramalan itu terbukti menjadi kenyataan.

Pemikiran Charles Handy sangat relevan untuk memecahkan masalah dunia kerja termasuk masalah facebook ini. Pemikirannya mencakup organisasi kerja (perusahaan) dan orang yang bekerja (karyawan).

Pada dunia organisasi dia mengusulkan organisasi yang berbentuk Shamrock, yaitu tanaman bunga yang berdaun tiga. Organisasi bisnis di masa mendatang terdiri dari tiga bagian, yaitu: (i) tenaga inti – yang berjumlah sedikit – yang menjalankan perusahaan, (ii) pekerjaan yang dikontrakkan ke pihak lain seperti jasa katering, penelitian & pengembangan, jasa IT, jasa pengiriman, (iii) tenaga kerja lepas yang dibayar sesuai keperluan. Dengan demikian pekerjaan tetap pada organisasi hanya pada tenaga inti, sedangkan untuk operasional perusahaan menggunakan tenaga kerja outsourcing dari luar.

Pada dunia tenaga kerja dia mengusulkan 'portfolio career' yaitu suatu pekerjaan paruh waktu pada banyak perusahaan. Dan dia menasehati tenaga kerja: “carilah pelanggan, bukan bos.” Tenaga kerja diharapkan fokus pada suatu keterampilan yang bisa ditawarkan kepada beberapa perusahaan. Dan tenaga kerja sudah tidak memiliki 1 bos lagi, tapi memiliki banyak   pelanggan sebagai pengganti 1 bos.

Statistik dunia kerja di negara maju menunjukkan kebenaran sebagian ramalan Charles Handy ini.

Jika semua ini sudah berjalan merata di seluruh dunia termasuk Indonesia, maka tidak ada lagi masalah dengan bermain facebook di jam kerja. Semua orang bebas melakukan apa saja dan kapan saja. Bahkan tidak ada lagi yang disebut dengan jam kerja. Semua orang akan berfokus pada hasil kerja yang dapat dikerjakan secara fleksibel baik secara tempat maupun waktu.