Tag

 Anda para pecinta Jazz di Indonesia akan saya buat manyun sekali lagi. Dan akan saya buat iri 2 kali lantaran Jummat kemarin saya nonton konser Jazz di Aliante Stasion gratis lagi.Enaknya  Lokasi hotel dan Casino itu cuma sekitar 3 km dari rumah jadi dengan entengnya saya nyetir ke sana.

 

Sadar bahwa harga soft drink itu ngga murah di dalam sana, saya menyelundupkan satu kaleng coke dingin ( ingat teori menjadi kaya  by Habe no. 12 )Dengan menggunakan sweater ringan dan celana pendek berkantong dalam saya masuk ke Konser yang diadakan di pool area yang rimbun dan asri. Magrib telah berlalu, malam mulai menggelap. Konser dimulai jam 8 malam. Manusia bertebaran di mana mana. Warna kulit mereka warna warni. Lebih dari 70 persen penonton yang berjumlah sekitar 2000 an adalah orang hitam.

 Tapi jelas kelas hitam ini adalah hitam intelek dan rapih. Mereka datang dengan baju terbaik. Perempuannya seksi dan wangi. Penonton duduk bertebaran dimana saja. Di beach chair, di bangku taman, di bawah patio bebas sesukanya. Mengikuti sebagian orang yang  justru duduk dipinggiran kolam renang sambil memasukan kakinya ke air, sayapun duduk ikut ikutan. Hmm rasanya memang nyaman.

Band yang manggung saya tidak hapal lantaran tidak kenal. Kalau tidak salah namanya KD Band. Grup band yang disponsori oleh radio jazz bernama Oasis ini memiliki krew orang putih semua dengan mayoritas penonton yang menikmatinya adalah orang hitam. Saya duduk sambil memainkan kaki di air kolam renang dengan riang menikmati lantunan band ini dan happy melihat keharmonisan yang memikat ini. Pak item dan bu item menari nari mengikuti irama musik. Satu dua latino dan cokin American juga bergoyang goyang dengan enerjiknya.

KD Band sebenarnya adalah band yang sangat moody. Kadang dalam satu lagu, band ini tampil piawai dan cemerlang. Tapi lagu setelah itu mereka memainkan blues yang mematikan suasana. Kadang gitarisnya bermain sejago West Montgomery. Tapi lain waktu dia bermain seperti band orkes kawinan di Kebayoran lama. Tapi lantaran gratis so what gitu lho? Tidak seperti waktu nonton  trio saxpack kemarin itu yang mengesankan lantaran salah satunya adalah lantaran si konak Steve Cole, pemain sax di band ini amat pasif, mukanya lebih mirip guru fisika saya di SMA yang doyan mencecar saya pas lagi ulangan lantaran tau kalau saya tukang contek. Tapi di beberapa lagu pak guru ini memang secara ajaib kadang tiba tiba mampu memberikan bunyi bunyian indah yang tidak kalah bagus dibandingkan dengan pesulap Jazz seperti Kim Waters atau Boney James.

 Ketika ritme musik semakin hot dan banyak orang semakin banyak yang goyang, saya bangkit dari pinggiran kolam dan asik menyaksikan orang berjogetan. Salah satu yang menarik adalah pasangan hitam putih di pinggiran panggung yang menari secara romantis dan menyejukan mata. Pasangan tua itu dansa dengan wajah secerah dan sehappy anak muda yang baru pacaran pertama kali. Saya jepret mereka berkali kali dan saya sungguh ikutan happy.

 

 

 

 

 Bagi anda yang belum atau tidak kenal dengan musik jazz, biarkan saya berikan sedikit tuntunan dalam memperkenalkan Jazz. Jazz itu adalah musik yang sarat dengan improvisasi. Masing masing alat musik seperti piano, saxophone, gitar atau bass walaupun secara harmonis terdengar kompak berbarengan dalam sebuah lagu masing masing memiliki karakter dan punya daya cerita sendiri sendiri. Contohnya anda silahkan mendengar lagu Fiona's Song nya Brian Simpson di bawah ini, anda dengar dengan cermat dentingan si Brian lalu kemudian dengar desahan sax Dave Koz dan tidak lupa cermati ungkapan si bassist Wayman Tisdale yang fantastik. Jika anda masih belum bisa, coba putar ulang dan dengarkan kembali. Saya yakin apresiasi musik anda bakalan dalam dan bertambah. Dan anda suatu saat  akan mengerti apa maksud saya soal musik Jazz

 

 

 

 

 

 

 
[tube]1kPPA-VfXm8[/tube]

Smooth jazz membuat orang gembira dan happy. Seakan hidup ini tidak memiliki persoalan lagi. Seakan si Said dengan bahagianya bisa menyetir mobil colt dieselnya di Jawa sana dengan hati lapang menikmati hidup yang tidak panjang. Bekerja mencari nafkah yang halal untuk istri dan anak anaknya. Saya percaya musik Jazz akan membuat Said sadar akan kefanatikannya yang salah pada Prabowo, tukang culik mahasiswa yang perlu diadili itu. Dan jika Tuhan itu memang ada dan maha intelek, Tuhan tidak akan mungkin mengidolakan musik gambus buat penduduk surga. Tuhan pasti memilih jazz..

Di konser malam itu saya berpikir betapa malangnya pecinta Jazz di Indonesia yang saya turut merasa prihatin lantaran harga nonton konsernya yang mahal mahal. Dan alangkah beruntungnya saya, yang selain mampu nonton konser bayar, di sini dibanjiri oleh konser free sana sini. Dulu di Los Angeles saya nonton Dave Koz di Playboy Jazz & Food Festival di Westwood cuma membayar $ 6. Lalu menonton Spryrogyra gratis di downtown Las Vegas. Jakjazz di Jakarta juga kabarnya karcisnya juga cuma sanggup dibeli di kalangan menengah ke bawah. Kasihan aja deh loe para penggila Jazz di Indo..

 Bukan cuma jazz yang saya nikmati malam itu tapi juga hmmm para waiternya yang aduhai seperti bidadari penghuni Playboy Mansion di Beverly Hills sana. Kurang jelas apakah lantaran mood yang bagus atau lantaran ingin mengintipi lekukan tubuh si waiter yang membuat saya memesan segelas Margarita. Saya jadi beneran lupa akan prinsip dan teori menjadi kaya lantaran godaan ini. Dear Great God, kok bisa bisanya menciptakan mahluk begitu komplit yang hadir di malam dengan suasana so Jazzy seperti ini. Minuman beralkohol itu tidak saya teguk banyak dan saya habiskan. Si waiter sibuk berkeliaran memberikan pesanan minuman di kerumunan penonton. Cara dia berjalan sungguh anggun nian. Cara dia melenggok seperti improviasi piano dari Dave Grusin di lagu Mountain's Dance. Seperdelapan mabuk saya lalu berdiri lalu memberikan toast ke pada orang hitam di sebelah. Duduk memasukan kaki ke air kolam renang kembali, saya bilang ke si hitam, for jazz and for that cute waitress! and toast dia tertawa ngakak segugukan lantaran rupanya seperti saya dia juga memperhatikan dan berpikiran soal waiter yang sama. Bagi anda pecinta musik dangdut dan pop cengeng di Indonesia, menceritakan soal sepele begini saja buat anda sudah cukup untuk membuat anda stop berkubangan dengan barang basi. Mari naikan tingkat apresiasi. Belajar mencintai hidup, belajar menyukai Jazz..

July 27, 2009