Di Desa Pasir Putih, Kecamatan Kuala Kuayan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Tahun 1989.

Tengah malam sekitar pukul 12:30, saya dibangunkan oleh salah seorang anggota seksi keamanan di camp. Saya lihat dia disertai oleh seorang yang belum saya kenal. Agak berjarak sedikit jauh di latar belakang juga ada sekumpulan anggota keamanan lain. Saya merasakan bahwa ini penting, karena mereka pasti tidak akan berani membangunkan saya hanya untuk keperluan yang sepele.

“Ada apa?”

“Siap Pak, ini ada seorang penduduk di sebelah utara Camp kita minta infus”

“Kamu siapa dan untuk apa infus?” kata saya terhadap pelaku  penyebab gangguan tidur saya ini.

“Ulun (saya dalam bahasa Banjar bentuk hormat) perlu infus!” katanya singkat

“Kamu sakit apa?”

“Yang sakit saudara saya”

“Dari mana kamu tau kalau infus diperlukan untuk dia, apa kamu dokter, apa kamu Mantri Kesehatan, apa kamu mengerti untuk apa sebenarnya infus itu?”

“Bukan dokter, mantri, saya minta infus, rupa saudara saya sudah kuning!” katanya terbata-bata ..

“Saya lihat kamu tegang betul, kalau saya tidak mau memberi, kamu mau marah ya?”

“Iya, saya mau infus”

“Kalau kamu masukkan cairan infus, saudaramu makin memburuk kesehatannya, siapa tanggung jawab, bagaimana kalau mati?? Kamu mau bertanggung jawab?. Saya cuma bisa kasih dua botol saja, kamu lapor pak Kepala Dusun, kamu bilang apa yang saya katakan kepada kamu. Secepatnya besok kamu bawa si sakit, naik speedboat ke kota Sampit, di sana ada dokter. Sekarang kamu bersama pak SatPam ini, juga bersama Mantri Kesehatan dari sini, pergi ke si sakit, karena Mantri nanti yang pasang infusnya. INGAT tanggung jawab ada padamu, kami tidak bisa bertanggung jawab”

“Ulun terima kasih Bapaaa.., bessaar terima kasih ..” Dia berjalan mundur sambil membungkuk-bungkuk, dikawani oleh petugas perusahaan, dan saya sampai hari ini tidak pernah bertemu lagi dengan dia.

Memang saya dengar kemudian bahwa saudaranya itu akhirnya memang meninggal dunia di kota Sampit, saya memang tidak mendalami masalah ini lebih jauh.

Mengapa saya tulis hal ini karena terbukti bahwa orang suku Dayak itu berusaha bertindak benar dalam suasana panik luar biasa. Tetapi beberapa orang dari suku Dayak ini, entah terpengaruh siapa, selalu ingin meminta diberi obat, apapun obatnya, kalau dia melihat kami membawa obat-obatan. Salah seorang bernama Banteng juga minta aspirin, padahal dia terlihat sehat seperti nama yang diusungnya

Bertindak benar?

Tahun ini di Jakarta.

Bila masuk dan dirawat di rumah sakit atas anjuran Dokter, begitu pasien dibaringkan di tempat tidur kamar perawatan, sudah merupakan kebiasaan, botol infus sudah disediakan. Seperti standard saja. Ini bukti kepintaran orang suku Dayak yang setengah memaksa saya meminta infus tadi, di tengah hutan Kalimantan Tengah, dua puluh tahun yang lalu.  Kadang-kadang memang terasa menggelikan

Bagian yang terjadi di Jakarta yang ini, baik juga diceritakan. Saya mengunjungi teman saya yang juga seorang dokter umum, sedang dirawat di Rumah Sakit Tjipto Mangoenkoesoemo  (RSTM bukan RSCM).

Sewaktu kita sedang berbincang-bincang,  seorang paramedik dan seorang laki-laki lain masuk membawa sebuah kotak besar isi botol-botol infus.

Terlihat doker yang pasien, teman saya ini, ingin menolak, tetapi karena mempertimbangkan saya bukan orang yang dikehendaki untuk diajak ikut mendengar apa yang ingin dilakukannya, dia menahan diri dan diam saja.

Tetapi saya kenal dia sebagai seorang dokter yang selalu serba sederhana dan jujur hati, sejak saya kenal dia belajar di negara Jepang, lima puluh tahun yang lalu saya buka percakapan berikut.

“Doo sita nano ka? – Ada apa sih?” kata saya berbahasa Jepang

“Hazukashiina koto da naa .. – memalukan” jawabnya.

Akhirnya karena ada istri masing-masing kita lanjutkan dalam bahasa Indonesia saja, karena kurang sopan berbicara bahasa asing di depan orang lain yang idak mengerti bahasanya. Dia cerita bahwa dia masih ada persediaan enam botol infus di dalam kamarnya dan sekarang sudah ditambah lagi dengan dua lusin botol.

“Buat apa?” Saya belum menjawab apa-apa dia sudah mengejutkan saya: “ kan kata dokter yang merawat saya, besok pagi saya sudah boleh pulang.” BUSET’ kata saya dalam hati, bagaimana jalannya administrasi urusan pemasokan infus ini. Pasien yang dokter ini menambahkan pula: “ … korupsi di mana-mana …”

Saya mendengar dari orang lain, bahwa hanya kurang empat  kilometer dari RSTM, ada pasar pramuka, di Jalan Pramuka dekat lintas kereta api, di mana dahulu banyak dijual satwa langka dan terkenal menjadi kumpulan kiosk-kiosk para penjual obat-obatan manusia. Infus yang berlebih ini, juga obat-obatan lain, akhirnya sampai di sini. Anda bisa menghitung sendiri jumlah angka Rupiah yang akan menunjukkan pengeluaran belanja obat yang diberikan kepada pasien, yang berlebih, karena sesungguhnya pasien tidak lagi memerlukannya. Secara akunting akan tidak terlihat ada pemborosan, apa lagi korupsi. Akunting tidak bisa menunjukkan berapa persisnya obat yang berlebih seperti halnya infus itu!!

Di Surabaya, seorang cucu keponakan bercerita bahwa adalah praktek biasa kalau ada resep yang ditulis berlebih untuk keperluan pasien yang dirawat inap, apalagi yang ditanggung ASKES atau asuransi lain, untuk diambil kelebihan obatnya dan dijual kepada pasien lain atau didagangkan di kiosk-kiosk sejenis lain. Kalaupun perbuatan mengambil obat berlebih tadi, sengaja dengan tujuan untuk menolong pasien yang lain, yang tergolong tidak mampu, maka tetap saja perbuatan seperti itu adalah perbuatan salah. Melanggar undang-undang, melanggar etik kedokteran dan juga melanggar susila.

WAH, selain kaget terpaksa rasa muak mencuat juga…

KPK sih tidak sampai ke sana …

Anwari Doel nArnowo – 18 Juli, 2009