Setamat SMA tahun 1992, aku mengikuti bimbingan belajar di Bimafika sebagai persiapan untuk mengikuti UMPTN.

Dalam menyelenggarakan bimbingan belajar bagi para tamatan SMA ini, Bimafika menyewa ruang belajar milik MIN Banda Aceh yang terletak di kawasan Jambo Tape. Aku sendiri saat itu kost di Kampung Laksana, di sebuah rumah di Jalan Besi.

Untuk mengikuti kursus di Bimafika, setiap hari aku selalu berjalan kaki pulang pergi dari dan ke Kampung Laksana melewati jalan-jalan kecil dan jalan tikus di Kampung Keramat yang menghubungkannya dengan Jambo Tape.

Selain aku, bimbingan belajar yang diasuh oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai fakultas elit di Unsyiah ini juga diikuti oleh ratusan siswa tamatan SMA yang berasal dari berbagai penjuru Aceh. Mereka semua datang ke Bimafika dengan tujuan dan maksud yang sama, merebut satu kursi di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Salah satu dari sekian ratus siswa tamatan SMA yang mengikuti Bimbingan belajar di Bimafika ini bernama Lusi, seorang gadis muda asal Lhokseumawe, berkulit putih, berambut lurus dan panjang yang mengikuti bimbingan di ruangan kelas yang sama denganku.

Selama mengikuti bimbingan, Lusi meyewa sebuah kamar kost di Kampung Keramat yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat bimbingan. Seperti aku, Lusi yang rada tomboy inipun setiap hari berjalan kaki dari tempat kost-nya untuk menuju dan kembali dari Bimafika.

Karena untuk menuju Bimafika kami harus melewati jalan yang sama, hampir setiap hari aku bertemu Lusi dalam perjalanan ke tempat bimbingan. Kami selalu bertemu di persimpangan Jalan Kenari, aku datang dari arah timur dan Lusi datang dari arah utara. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Bimafika bersama-sama, menyusup melalui celah sempit di belakang mesjid milik YPAI, sebuah sekolah islam swasta yang terletak tepat di samping Bimafika. Melalui celah sempit di belakang tempat wudhuk mesjid ini kami masuk ke dalam lapangan sekolah YPAI yang memiliki ruangan belajar bertingkat dua yang terbuat dari bahan beton yang terlihat sudah sangat tua, dengan cat putih yang ditumbuhi jamur menghitam dimana-mana dan terkelupas di sana sini serta tiang-tiang beton bundar yang penuh coretan dan bopeng-bopeng karena kurang perawatan.

Dari lapangan yang tampak kurang terurus dengan rumput yang tumbuh tinggi itu kami masuk ke area Bimafika dengan cara sedikit menunduk melewati pagar kawat duri yang ditopang tiang besi profil yang berwarna coklat karena karat yang tampak seperti gapura kecil karena bagian atas dan bawah kawatnya sengaja dilonggarkan supaya mudah dilewati orang-orang yang menuju dan keluar dari Bimafika.

Ketika pulang dari Bimafika juga demikian, kami melewati jalan yang sama dan berpisah di persimpangan Jalan Kenari, Lusi berbelok ke Utara aku berjalan lurus menuju ke Timur. Dalam perjalanan pulang dan pergi itu kami selalu mengobrol. Yang kami obrolkan tidak jauh-jauh dari UMPTN yang bakal kami hadapi dan juga kekaguman kami terhadap tentor-tentor yang mengajar kami.

Saat itu MLM belum mewabah, Amway, Tianshi, K-Link atau CNI juga belum populer. Orang-orang pun belum mengenal Andrie Wongso, Tung Desem Waringin atau Robert T. Kiyosaki. Tapi saat itu tentor-tentor kami di Bimafika yang kuliah di Unsyiah, sudah memiliki kualitas yang sama dengan para motivator perusahaan MLM yang sekarang banyak kita temui dimana-mana yang suka mengutip kata-kata dari nama-nama yang saya sebutkan di atas.

Selain sebagai pengajar, di mataku para tentor itu adalah sumber inspirasi yang aku pandang dengan kekaguman tinggi. Kurang lebih seperti cara para downliner MLM melihat up-linenya. Di mataku para tentor itu nyaris seperti manusia setengah dewa.

Dari cara mereka bercerita, para tentor Bimafika membuat aku yakin bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan masa depan yang cerah adalah dengan diterima di perguruan tinggi negeri. Begitu dahsyatnya para tentor itu dalam memotivasiku, sehingga akupun rela belajar setengah mati agar bisa lulus di UMPTN nanti.

Pada waktu itu aku masih remaja tanggung yang cenderung rendah diri terhadap lawan jenis. Aku sulit sekali memulai percakapan dengan lawan jenis. Aku selalu tergagap jika berada dalam situasi semacam itu. Setiap kali aku akan memulai percakapan dengan seorang perempuan menarik, yang muncul di kepalaku selalu berbagai bentuk pandangan negatif terhadap diriku sendiri. Aku memandang rendah setiap sisi kualitas diri yang aku punyai, entah itu fisik, situasi finasial sampai latar belakang kesukuan.

Segi fisik misalnya, waktu itu sepertinya aku baru merasa percaya diri kalau aku memiliki wajah dan penampilan seganteng dan sekeren Thomas Jorghi yang oleh remaja angkatan sekarang lebih dikenal sebagai penyanyi dangdut dengan goyangan norak dan lirik lagu yang kampungan, tapi waktu itu merupakan model papan atas yang wajahnya kerap menghiasi sampul majalah remaja. Thomas Jorghi saat itu adalah ‘kata ganti’ untuk menyebut cowok ganteng, dia menjadi idola hampir semua remaja perempuan dan bikin iri semua remaja dan ABG laki-laki seangkatanku.

Aku juga sering minder terhadap teman-teman yang punya ‘kereta’ (sebutan untuk motor di Aceh) dan aku sering berpikir tanpa punya kereta tidak mungkin ada perempuan yang memandangku.

Statusku sebagai orang Gayo juga cukup membuat tertekan, sebagai suku minoritas dan sub-ordinat, seperti halnya orang Indonesia di Malaysia, suku Madura di Surabaya, suku Jawa di Jakarta atau suku Aceh di Medan. Di Banda Aceh, suku Gayo sering dijadikan bahan olok-olok dalam obrolan sehari-hari. Dengan latar belakang kesukuanku seringkali aku merasa bahwa tidak mungkin ada perempuan Aceh yang mau kudekati secara serius.

Begitulah, setiap kali aku bertemu perempuan yang menarik semua tekanan di atas membuat aku sulit sekali untuk memulai percakapan.

Ketika aku pertama kali mengenal Lusi juga demikian, aku sama sekali tidak berani mengajaknya bicara. Ketika kami pertama bertemu, dialah yang memulai percakapan. Tapi ketika aku sudah mulai berbicara dengannya, karakter pribadinya yang hangat dan ekstrovert, sikapnya yang ramah alami tanpa ada kesan dibuat-buat terhadap siapapun langsung membuat aku merasa nyaman berdekatan dengannya.

Lusi tidak secantik Wirna, teman sekelasku di 3 fisik 2 SMA Negeri 2 Banda Aceh yang di dalam kelas duduk tepat di depan bangkuku yang mungkin adalah perempuan paling cantik yang pernah kukenal sampai umurku yang ke- 18 saat itu, yang secara diam-diam disukai oleh semua murid laki-laki di kelasku termasuk aku sendiri. Tapi sampai hari ini tidak ada satupun dari semua laki-laki teman sekelasku itu yang punya nyali untuk menyatakan apa yang kami rasakan saat itu kepada Wirna (kecuali aku, setelah akhirnya kami bertemu di facebook beberapa hari yang lalu).

Tapi meskipun dia tidak secantik Wirna, segala kehangatan sikap yang kurasakan dari Lusi membuatnya tampak demikian menarik sebagai seorang perempuan. Seperti magnet yang menarik dengan kuat setiap besi yang didekatnya, Lusi pun demikian, karakternya yang hangat dan gembira membuat laki-laki normal mengenalnya merasa sulit untuk tidak mendekat.

Karena itulah setelah beberapa hari terus berdekatan dengannya, tanpa bisa aku hindari perasaan lain yang lebih intim dari sekedar pertemanan secara alami muncul dalam diriku. Tapi tentu saja perkembangan perasaan yang kualami itu tidak pernah berani kuungkapkan kepada Lusi. Perasaan itu tidak pernah berani aku ungkapkan karena perasaan rendah diri yang selalu menyergapku.

Aku tahu persis, sikap ramah, hangat dan bersahabat yang ditunjukkan Lusi kepadaku bukanlah sikap yang semata ditujukan untukku, tapi memang seperti itulah sikap standar Lusi terhadap siapapun yang dia kenal baik. Sikap yang tanpa pernah dia sadari telah menyentuh hidup banyak orang.

Beberapa kali aku ingin menanyakan nomer telpon Lusi di Lhokseumawe supaya kalau nanti setelah bimbingan kami tidak memiliki kesempatan untuk bertemu kembali, aku bisa tetap berhubungan dengan dia. Tapi lidahku terasa kelu setiap kali aku akan mengucapkan kata-kata itu, entah kenapa setiap kali aku akan minta nomer teleponnya, yang muncul di kepalaku selalu berbagai pandangan negatif terhadap diriku bercampur prasangka terhadap Lusi.

“Jangan-jangan nanti Lusi nyangkain aku mau PDKT kalo nanyain telpon, jangan-jangan nanti gara-gara itu dia nggak mau lagi ngobrol sama aku”, begitu suara yang muncul di kepalaku yang disusul dengan berbagai tekanan yang membuatku minder seperti yang aku gambarkan di atas “Mana pantas aku minta nomer telponnya, yang suka sama dia pasti banyak, apalagi aku orang Gayo mana mungkin dia mau memberikan nomer teleponnya”. Di samping itu, pakaian bermerek terkenal yang dikenakan Lusi, celana levi’s asli yang harganya setara tiga bulan uang kiriman bulananku juga cukup mengintimidasiku supaya tidak mendekat terlalu jauh, karena aku merasa di antara kami ada perbedaan yang cukup mencolok dalam hal status sosial.

Begitulah sampai waktu bimbingan di Bimafika berakhir, aku tidak pernah berani minta nomer telepon Lusi. Sampai akhirnya aku tinggal punya satu kesempatan lagi “Malam Perpisahan Bimafika”, yang diselenggarakan di Taman Budaya, dua hari menjelang UMPTN. Sebelum acara itu berlangsung, aku bertekad, apapun yang terjadi aku harus mendapatkan nomer teleponnya malam itu, aku bertekad mempersetankan segala macam gangguan yang hadir di kepalaku abibat dari adanya sikap minderku.

Malam itu di Taman Budaya diselenggarakan beragam acara kesenian yang diisi oleh anak-anak Bimafika sendiri beserta para tentor. Disamping itu juga diadakan berbagai acara pemilihan siswa ter dan juga putra dan putri persahabatan. Aku datang agak terlambat karena kesulitan mendapatkan angkutan sebab labi-labi (sebutan di Banda Aceh untuk angkutan minibus dalam kota) jurusan Ketapang, Ajun bahkan Lhok’nga yang ada di terminal labi-labi Diponegoro semuanya penuh dipadati anak-anak Bimafika yang akan menghadiri malam perpisahan di Taman Budaya yang terletak di Jalan Teuku Umar yang dilewati oleh labi-labi jurusan itu.

Ketika aku sampai di Taman Budaya, ruangan Taman Budaya sudah penuh terisi, meski acara belum dimulai. Yang pertama kali kucari tentu saja Lusi. Tapi aku tidak menemukannya sampai acarapun dimulai, dibuka dengan penampilan tentor matematika yang aku lupa namanya menyanyikan lagu barat yang aku lupa judulnya. Sementara mataku terus kuarahkan ke berbagai sisi untuk mencari keberadaan sosok Lusi yang belum juga aku temukan.

Kemudian satu persatu acara pemilihan siswa ‘ter’ mulai dari yang terbaik sampai yang terlucu yang nominasinya dibacakan oleh sepasang siswa Bimafika yang dipilih oleh para tentor.

Ketika tiba pengumuman salah satu siswa ‘ter’(aku lupa ‘ter’ apa) aku melihat Lusi, dia tampak berbeda dengan Lusi yang selama ini kukenal, dia mengenakan gaun warna merah yang membuatnya tampak anggun dan feminin. Berbeda sekali dengan Lusi yang kukenal sehari-hari mengenakan T-shirt yang dipadu dengan celana jeans serta tas punggung dengan jam besar di belakangnya. Penampilan Lusi yang paling kuingat adalah ketika dia memakai kaos kuning dan celana jeans Levi’s berwarna biru muda nyaris putih.

Lusi kulihat maju ke panggung dengan percaya diri berpasangan dengan salah satu siswa pria yang tidak kukenal membacakan nominasi untuk siswa ‘ter’. Melihat penampilan Lusi malam itu nyaliku untuk minta nomer teleponnya jadi menciut. Tapi aku tetap berniat untuk melakukannya, karena aku berpikir bisa jadi setelah malam ini aku tidak akan bertemu Lusi lagi.

Sepanjang malam itu aku menunggu kesempatan untuk bisa mendekati dia, mencari momen yang tepat. Tapi yang kulihat sejak turun dari panggung dan kemudian naik kembali ketika dia dinobatkan sebagai Putri perrsahabatan angkatan 1992 (sebuah gelar yang wajar mengingat karakter Lusi yang hangat terhadap siapapun). Lusi terus dikelilingi abang-abang tentor yang tampaknya juga menyukainya membuatku benar-benar kehilangan seluruh rasa percaya diriku untuk mendekat.

Sampai acara berakhir aku sama sekali tidak mendapatkan celah atau kesempatan untuk bertemu Lusi secara pribadi sampai kulihat dia keluar dari ruangan beramai-ramai dengan beberapa teman perempuannya dan beberapa tentor, mungkin mereka diantar pulang naik ‘kereta’ oleh abang-abang tentor yang merubunginya. Yang jelas setelah itu aku tidak melihatnya lagi.

Aku pulang naik labi-labi terakhir jurusan kota yang menunggu di seberang Taman Budaya di dekat Kherkoff (perkuburan belanda) yang kernetnya berteriak-teriak sambil melambaikan tangan kepada setiap orang yang keluar dari gedung Taman Budaya. Labi-labi itu membawaku ke terminal di jalan Diponegoro untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Laksana dengan labi-labi jurusan Darussalam.

Sepanjang jalan dalam labi-labi dan ketika berjalan kaki dari simpang Jalan Dharma sampai ke Jalan Besi, aku berharap bisa bertemu Lusi kembali entah besok pagi, atau dua hari kemudian saat UMPTN atau di terminal Bis Seutui saat kami pulang ke kampung masing-masing, atau ketika makan malam di terminal bis di Bireun. Tapi harapanku itu tidak terwujud.

Saat pengumuman UMPTN, selain namaku, nama Lusi adalah nama pertama yang ingin aku lihat ada di daftar nama Mahasiswa yang lulus di Unsyiah. Aku diterima di jurusan Teknik Sipil Unsyiah, tapi nama Lusi tidak aku temukan. Ketika tidak menemukan namanya dalam daftar nama mahasiswa yang lulus di Unsyiah, aku berharap namanya ada di daftar nama mahasiswa yang di terima di PTN lain, karena dengan begitu aku tetap akan bisa melacaknya. Tapi semua harapanku itu sia-sia, nama Lusi tidak berhasil aku temukan. Sehingga yang terjadi tepat seperti yang kuduga malam itu. Malam perpisahan Bimafika di Taman Budaya adalah kali terakhir aku melihat Lusi dan selanjutnya dia menghilang dan tidak akan pernah kutemui lagi.

Saat sudah kuliah, beberapa kali aku mencoba mencari informasi tentang keberadaannya melalui teman-temanku yang juga berasal dari Lhokseumawe, salah satunya temanku di Leuser yang juga teman satu timku waktu mendaki jalur selatan Leuser pada ahun 1994. Tapi aku juga tidak berhasil mendapatkan informasi apapun dari temanku ini, yang terjadi malah aku dijadikannya bahan ledekan karena menurutnya tidak pantas aku suka pada Lusi, padahal waktu itu kepada temanku ini aku cuma menanyakan kalau-kalau dia mengetahui informasi tentang Lusi. Aku sama sekali tidak pernah mengatakan pada temanku itu kalau aku suka pada Lusi.

Aku juga sempat mencari informasi ke tempat lain tapi hasilnya juga nihil. Mendapati kenyataan seperti itu akupun sadar dan mau tidak mau, ikhlas atau tidak ikhlas aku harus menerima kenyataan kalau kenangan singkat bersama Lusi, meskipun berkesan tapi tidak lebih hanya menjadi cerita sekilas lewat dalam sejarah hidupku.

[tube]VOe5jFUQHXI[/tube]

Bersambung ke bagian 2…