Tag

 Terkabulnya sebuah doa seseorang ke Tuhannya mungkin seperti  probabilitas menang main lotre.Tapi seperti dalam berjudi, jelas  banyak pemain yang kalah dari pada yang menang seperti lebih banyak doa yang tidak dikabulkan dari pada yang dikabulkan. Maka tidak heran jika doa Bonang seperti berjuta juta doa manusia lainnya sejauh ini tidak menampakan hasil yang real.

 

Sudah 3 hari geng nabi Bongkaran menunggu keputusan Bonang tentang sisa uang 26 juta yang mereka harapkan tidak berasal dari hasil merobinhoodkan orang kaya yang penuh resiko tapi  secara aman berasal dari Financial Aids from Nisye. Tiap hari mereka mendatangi rumah Bonang mencari kepastian. Hanya saja Bonang sudah 3 hari tidak kelihatan mukanya. Pulang sekolah dia tidak langsung ke rumah, dia justru ke Pejompongan untuk duduk sesorean dalam mesjid Al Abrarr kembali. Entah kenapa Bonang merasa betah duduk dan berdoa dalam mesjid itu. Tidak putus asa dan penuh kebebalan dia kembali berdoa pada Tuhannya secara bertubi tubi. Teror doa ini ternyata membuat sang Khalik di atas sana cukup terganggu. Doa doa Bonang semakin lama semakin bervariasi dari minta membebaskan Abung dan Adit, duit 26 juta,kawin dengan Nisye, memakmurkan seluruh keluarga miskin kampung Bongkaran dan Lontar,mobil angkot baru buat bapaknya,sepatu baru Addidas buat dirinya, sepeda baru buat Ucok adiknya, rejeki yang bagus buat teman satu gengnya, sampai permintaan yang amat mustahil yaitu membuat Mama Badaksono yang judes dan dulu pernah mengusir dia berbalik menyukai Bonang serta menerima batak kampung ini di keluarga elitnya.

Tuhan yang selama ini terkenal maha tidak perduli, kali ini merasa jatuh kasihan dan menjadi perduli pada kesulitan Bonang. Cuma sang kreator tentu dengan bijaksana tidak mengabulkan semua permintaan Bonang. Pemilik universe ini  jelas tidak mau disejajarkan dengan Santa Claus yang hanya sekedar tokoh fiktif yang terbiasa mengabulkan wishes anak anak nasrani setiap menjelang natalan. Allah,father in heaven, Odonai,Hare Khrisna,atau Kanjeng Gusti, Tuhan yang sama yang disembah oleh Musa,Paul, Ibrahim, Raam Pun Jabi dan orang  Jawa kejawen ini akhirnya memberikan ide dan jalan agar Bonang tidak malu hati meminta bantuan uang bukan dari Nisye sang kekasih tersayang.  Dengan halus Tuhan membuka ide buat Bonang ketika batak satu ini berulang ulang berdoa pada tuhan " bapak" yang ada di surga. Ya "bapak" kami yang ada di surga. Kabulkanlah ya " Bapak" kami yang ada di surga. Tiba tiba Bonang terlompat ketika dia mengucapkan kata " Bapak" untuk ke 37 kalinya.

 Kata " bapak" seakan muncul memberikan solusi buat dia. Sebuah kesadaran baru masuk ke otaknya.Oh my God! Tuhan Allah yang terganggu dengan sebutan bapak,memprotes Bonang " Katakanlah, memangnya sejak kapan aku jadi bapakmu nang? Sejak kapan kau ngaku ngaku jadi anakku Nang? Trus dari tuhan nyokap mana kamu dilahirkan Nang? Tidakah kamu melihat tanda tanda bahwa meminta bantuan uang  pada pemilik milyaran galaksi di mutiple universe adalah sebuah kenaifan? Katakanlah bahwa sesungguhnya bapak yang terbaik untuk meminta pertolongan adalah Bapak Badaksono pemilik konglomerasi yang aku beri rejeki tidak terhingga sebagai bahan cobaan iman  agar manusia mengerti.. "

Bonang begitu happy dan bergegas keluar dari mesjid  lalu berteriak Eureka! seperti Archimedes yang baru saja menemukan sebuah teori matematis dari bak mandi jaman dulu di Yunani. Dia selekasnya pergi ke Bendungan dan mampir di salon Jabrik ingin mewartakan kabar gembira si Memet, kawan karibnya. Tapi Memet tidak ada ditempat, dan Nuraini yang amit amit jabang bayi selalu Bonang hindari lantaran tukang ngerumpi justru memberikan sepucuk surat cinta Nisye yang terlambat sampai ke tangan sekitar tujuh hari. Bonang menggeram kesal menerima amplop surat yang sudah terbuka ngablak. Dia pelototi si Nuraeni yang grogi menghindar dan berdiri di pojokan. Setelah membaca surat itu wajah Bonang berubah senang dan menyapa Nuraeni dan dengan manisnya meminjam hand phone cewek bergaji kecil tapi bergengsi lebih gede dari ukuran dada Pamela Anderson ini. Dengan perasaan khawatir Nuraini meminjamkan ke Bonang dan berpesan" jangan lama lama ya Nang, pulsa Pro XL gua tinggal dikit, gua ngga ada duit untuk ngisi ulang " Bonang cuma membalas dengan senyum.Lalu dia mendial hp Nisye.

Nisye sungguh senang menerima telpon cowok pujaan. Mereka saling menanya kabar dan bertukaran rindu dan kangen kangenan. Mereka ketawa ketawa membuat suasana bumi yang penuh konflik ini berubah seperti Shangri La yang penuh kedamaian. Wajah Bonang seperti orang yang baru saja diterima Tuhan untuk masuk surga. Setelah 20 menit lebih justru Nuraini sebaliknya yang berwajah seperti calon penghuni neraka. Dia ketar ketir pulsanya abis dihajar si Bonang. Dia berikan sinyal agar Bonang segera menutup telpon dan udahan. Dia menyesal kenapa dengan bodohnya mau meminjamkan hp ke Bonang.

Bonang begitu fokus berbincang bincang dengan buah hatinya. Nisye mengajak Bonang  ketemuan di Plaza Semanggi Sabtu siang. Bonang menyetujui dan merekapun janjian. Setelah 35 menit Bonangpun mengkahiri obrolan penuh roman itu dengan " bye Nisye sayang ", yang membuat Nisye tertawa geli karena nada Bonang yang sangat nerveous. Bonang merasa malu dan bilang " iya deh kalau ngga mau disayangi, cukup aku panggil kamu Nisye aja " Nisye menjawab " sama kok saya juga sayang kamu "

Beberapa pelanggan salon yang mendengar kalimat itu langsung koor " Cieeeeee…romantis ni yee "
Nuraini kini merasa lega. Bonang telah menutup telpon, dia segera meminta kembali hp nya. Tapi belum semenit si Batak pede ini bukannya kasihan dan prihatin dia malah minta menelpon sekali lagi dan berjanji cukup 2 menit saja. Nuraini ingin menangis rasanya. Biaya nelpon si Bonang bisa seminggu gajinya, pikir dia.Siapa yang bayarin kontrakan kamar gue bulan depan abis ini?

Bonang membuka hati hati dompet bututnya. Dia men-dial nomor hp Bapak Badaksono dari membaca kartu nama. Perasaanya bercampur aduk. Tanpa backingan dari Allah, mana berani dia mengcall Pak Badak? Pak Badak menjawab telpon dengan sopan. Dia menanyakan kabar Bonang. Bonang menjawab baik baik saja. Lalu 3 menit kemudian Bonang dengan hati tafakur menjelaskan alasan kenapa dia menelpon Pak Badak. Pak Badak terdiam 20 detik. Lalu pengusaha kaya ini meminta Bonang datang ke kantornya besok sore untuk lebih menjelaskan lagi apa maksud Bonang yang sebenarnya. Kesopanan dan keramahan Pak Badak membuat Bonang tersentuh dan ingin menangis.Bonang berterima kasih lantaran pak konglomerat ini mau mendengarkan keluh kesah dan problem hidup orang rendahan seperti dia.Sedikit air mata mengambang di sudut matanya. Begitu telpon ditutup 15 menit kemudian, Bonang menyerahkan hpnya pada Nuraini. Dia kaget dan heran melihat Nuraini yang justru menangis tersedu sedu. Bonang menyapa dengan lembut " Nur, tidak usah ikutan terharu dengan problemku" kata dia pelan. Nuraini mendongkakan wajah degan sebal dan berkata dengan kesal disela sela tangisannya. "  Siapa yang terharu sama obrolan elu ? Gua nangis karena pulsa gua abis..dasar batak tidak berperikemanusiaan lu emang! "

July  23, 2009