Pemboman Mega Kuningan ‘pasti’ bukan bermotive politik dalam negeri sebagaimana yang disangka oleh SBY di hari pemboman. Polisi sudah menyatakan bom diledakkan dengan cara bunuh diri, sehingga besar kemungkinan pemboman dilakukan oleh kelompok yang dulu juga telah melakukan beberapa pemboman bunuh diri di Indonesia. Atau paling tidak dilakukan oleh kelompok yang telah mewarisi ‘pikiran’ kelompok yang dulu telah melakukan beberapa pemboman bunuh diri.

Sebagaimana yang telah disebut oleh Fadli Zon di sebuah stasiun TV, SBY ternyata seorang yang cengeng, karena mengira semua kekerasan, kekisruhan, kegaduhan di negeri ini ditujukan kepada dirinya. Cukup memprihatinkan jika seorang kepala negara tidak dapat bertindak sebagaimana yang diharapkan rakyatnya, yaitu kuat dan memberi kekuatan.

Bom bunuh diri sudah berlangsung sejak tahun 2002 di Bali, yaitu sejak Megawati menjadi presiden. Nampaknya pemerintah hanya percaya kepada kekuatan intelejen dan kepolisian untuk mencegah kegiatan terorisme. Padahal di seluruh dunia, bahkan di negara maju sekali pun, kegiatan terorisme nyaris tidak bisa dideteksi, karena terorisme adalah kegiatan rahasia. Indonesia meskipun tidak berada dalam situasi konflik seperti di Timur Tengah, namun bom bunuh diri begitu sering terjadi. Ini disebabkan oleh apa yang disebut oleh mantan Komandan Densus 88, Suryadharma Salim sebagai “habitat yang tepat” bagi terorisme seperti yang dikelola oleh Osama Bin Ladin atau Nurdin M. Top. Apalagi organisasi Nurdin M Top dan teman-temannya bukan organisasi taman kanak-kanak. Nurdin M Top adalah orang yang cerdas (sekaligus psikopat) dan tahu Indonesia adalah habitat yang tepat untuk bersembunyi dan beroperasi.

Mungkin kah pemerintah akan segera melaksanakan sebuah program nasional yang lebih tepat dalam memerangi terorisme ini, seperti yang sudah dilakukan Jusuf Kala di pesantren-pesantren beberapa waktu lalu untuk memerangi “ideologi Nurdin M. Top”? Program ini seharusnya menjadi program nasional yang serius sejak bom-bom meledak di Indonesia, terutama sejak bagaimana Imam Samudra dan teman-temannya mengoceh tentang cara berpikir sinting mereka. Densus 88 dan Kepolisian tentu telah bekerja dengan maksimal, bahkan saya memuji mereka telah bekerja dengan sangat baik.

Habitat yang tepat sebagaimana disebut oleh Surya itu yang menyebabkan Nurdin hingga kini belum juga tertangkap. Terlalu banyak pendukung Nurdin di Indonesia yang siap membantu dan menyembunyikannya. Itu sebabnya, pemerintah perlu melaksanakan sebuah program nasional untuk memerangi terorisme ini secara ideologis. Saya yakin jika dibuat sebuah survey pada kelompok masyarakat tertentu, akan ditemukan kesimpulan yang mengejutkan tentang apa yang dilakukan Nurdin dan teman-temannya bisa dibenarkan bagi kelompok masyarakat tertentu. Cara berpikir seperti itu lah yang seharusnya menjadi prioritas utama bagi pemerintah untuk menjadi program nasional. Nurdin bisa saja mati hari ini atau besok, sebagaimana DR Azhari telah mati beberapa waktu lalu, namun cara berpikirnya telah ditularkan, begitu juga keahlian-keahlian terornya. Nurdin tanpa dukungan akan sulit bersembunyi dan berkomunikasi dan tentu sulit juga untuk menjalankan aksi terornya. Mungkin prioritas pertama yang bisa dibuat oleh pemerintah adalah membuat sebuah propaganda tandingan (penyadaran) melalui televisi tentang kesalahan berpikir gerakan Nurdin dan teman-temannya. 

Jojo Rahardjo