Tuesday, July 21st, 2009  Ada “kesepian” di sanubari pemimpin; urusan kejernihan hati dan isi kepala, urusan bertutur kata bermakna, urusan sportif membangun peradaban terlupakan, urusan kerelaan hati memberi kesempatan ke yang muda. Alam seakan menertawakan pemimpin lintas-lini; beragam perlakuan di bidang hukum, dan berbagai-bagai.Mulai dari mempengadilankan kanak-kanak, MOS mematikan, hingga kata-kata presiden yang tak pas. (karikatur SBY oleh Dendy Hendrias, www.karikaturdendy.com/)

SOSOK Chandra Tanzil – – tak berhubungan dengan Eddy Tanzil – – menang mendapatkan First Time Film Maker Award yang diadakan oleh Program Teve Discovery Channel, pada 2002 lalu, untuk sebuah usulannya membuat film dokumenter tentang kehidupan anak pekerja serabutan di Bandara Soekarno-Hatta.

Chandra melakukan riset.

“Saya menemukan Muhammad Bina, yang keluarganya terpinggirkan.”

“Dulu landas pacu bandara itu ada lahan tanah keluarga mereka.”

“Ketika digusur, warga dijanjikan pekerjaan”

“Tetapi banyak dari mereka yang SD pun tak tamat, sehingga tak bisa ditampung jadi karyawan Soekarano-Hatta.”

Para orang tua tercerabut dari lahan pertanian, tidak memiliki penghasilan tetap, membuat anak-anak usia sekolah, memanfaatkan bandara mencari sesuap nasi, membantu ekonomi keluarga dengan bekerja liar; menyemir sepatu, mencucikan mobil.

“Terjadi kompromi antara pihak keamanan bandara dengan anak-anak pekerja liar. Ada agenda bergiliran ditangkap setiap pekan,” tutur Chandra.

Itu artinya petugas seakan-akan bekerja, anak-anak tetap bisa berpenghasilan serabutan di saat tak ditahan. Dialog dan visual perihal ini, dituangkan Chandra dengan apik di Film dokumenternya berjudul Take Off.

Masih lekat di benak saya, sebuah Boeing 747-400 Garuda mengangkasa. Hari menjelang senja. Dari kejauhan Bina dibonceng sepeda ontel ayahnya, pulang. Seharian sang ayahmenawarkan diri menjadi pembersih taman, rumah-rumah mewah di seputar bandara. Sementara Bina bekerja serabutan seusai sekolah. Sebuah masalah ekonomi, tepatnya peradaban seakan belum usai.

Penuturan visual Chandra kembali mengental di benak saya. Dulu saya menulis sosoknya untuk majalah PANTAU. Naskah masalah di dokumenter Chandra, hingga hari ini seakan belum jua bersolusi

KOMPAS, Rabu 15 Juli 2009, halaman 1, menulis tentang peradilan anak. Sebanyak sepuluh anak yang sebagian besar masih duduk di bangku SD, usia 12-16 tahun, hari itu menanti persidangan atas diri mereka yang digelar di Pengadilan Negeri Tangerang, Senin, 13 Juli 2009. Di foto terlihat empat orang berseragam SD, putih merah. Wajah mereka ditutup topeng kertas, macam topeng yang suka dibagikan di saat anak-anak di perayaan ulang tahun.

Anak-anak itu pekerja serabutan di Bandara Soekarno-Hatta; pencuci mobil, penyemir sepatu. Mereka ditangkap polisi akibat main tebak-tebakan sisi koin dengan taruhan Rp 1.000. Akibat laku ini, mereka diinterogasi polisi, karena dianggap berjudi, lalu ditahan. Meraka dititipkan di LP Anak Pria Tangerang.

Mereka ketakutan.

Saya membayangkan Bina di dokumenter Chandra Tanzil kini mungkin sudah SMU. Namun adik-adik, kerabat masyarakat gusuran bandara, masih macam tujuh tahun lalu. Kali ini “azab” seakan bertambah, sekadar bermain – – yang kebetulan bertaruh – – telah membuat mereka masuk bui sebulan, di sidang di pengadilan.

Pengadilan Negeri Tangerang memang menangguhkan penahanan mereka. Namun petaka seakan belum akhir, mereka harus mengikuti persidangan.

“Apa anak saya nanti mau masuk penjara lagi? Katanya kena sepuluh tahun? Benar nggak itu?” ujar Ny. Romi, salah satu orangtua, sebagaimana saya kutip di Kompas.

Romi memang buta hukum. Juga orang tua lainnya. Ekonomi mereka tak kunjung berubah dibanding kisah di film Chandra Tanzil. “Bawa Rp 20.000 tidak cukup untuk ongkos angkot berdua,” ujarnya kepada Kompas.

Jauh dari kesulitan eokonomi, mencari uang buat makan sehari-hari, plus pula ke pengadilan, dan puncaknya: Anak-anak menjadi trauma dipenjarakan.

Dalam kenyataan demikianlah saya melihat sosok insan ke jagad yang diamanahkan menjadi pemimpin gagal. Baik dari level petugas penyidik, petugas kejaksaan, lebih jauhpemimpin yang memberi tauladan seakan tiada, dengan kerendahan hati berpikir mencari solusi agar peradaban lebih meningkat. Di lintas hukum kehidupan seakan menertawakan laku. Solusi terobosan ekonomi tak pernah nyata, masalah kepahitan hidup rakyat kebanyakan mendera-dera, macam di kawasan bandara di mana kita ada!

TEMPO Interaktif 15 Juli lalu menulis soal Roy Aditya Perkasa, 16 tahun, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 16 Surabaya tewas setelah mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) baru di sekolah, Rabu (15/7) sore.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Eko Suwanto mengatakan peristiwa ini terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, bersama ratusan siswa lain, Roy baru saja mengikuti acara orientasi sekolah. “MOS selesai jam satu siang saya sendiri yang menutup,” kata dia ditemui Tempo di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya.

Membaca penggalan kliping berita tadi, menjadi tanya, apa yang keliru.

Saya seakan mendapatkan jawabannya di atas Busway pada 20 Juli petang. Kala itu di menjelang halte Dukuh Atas, Jakarta Pusat, ada tiga taruna sekolah militer berpakaian seragam. Seorang seniornya berpakaian sipil yang duduk di dalam Busway, berambut cepat menegur. Dan ketiga siswa taruna itu serempak hormat.

Terjadi dialog singkat antara mereka. Dan perhatikan yang mengaku senior ini bertutur: ”Sampaikan pesan saya ya, bilang ya … SENIOR … pesan…”

Sengaja saya tulis kapital kata senior.

Ternyata pendidikan yang beginian, memang memberi harkat seakan lebih kepada diksi senior.

Kita sudah lama menyaksikan macam di STPDN, Jatinangor, Jabar, senior seanaknya memukuli yunior, bahkan ada yang sampai mati. Dalam khasanah kesenioran itulah, tampak, MOS tahun ini juga memakan nyawa: karena senior boleh sekenanya berbuat kepada yunior, memberi tempeleng, bertutur kata kasar, bahkan membogem tendangan. Pada kasus MOS di Surabaya, walau otopsi tak mengatakan kena pukulan, tetapi terbukti sang siswa mati kelelahan.

Entah untuk apa MOS itu diadakan dan diketahui oleh pihak sekolah. Khasanah yang demikianlah yang saya sebut sebagai laku uzur, ditambah dengan guru-guru berumur: masih memberikan kompromi kepada cara-cara penjajah mengenalkan lingkungan. Intelektualitas kecerdasan seakan dikantungi, hanya untuk sebuah apa yang disebut: MOS!

DI DALAM ranah umur itu pula kita melihat misalnya, bagaimana sosok Megawati Soekarnoputri di masa kampanye presiden lalu, merasa perlu menceritakan bagaimana ia dan cucunya datang ke Istana Negara pagi hari. “Nah cucu saya bangga itu diberi hormat oleh Paspamres,” tutur Megawati.

Sebuah kenangan bersama cucu memang mengasyikkan.

Menjadi tanya, apakah itu layak diucapkan di sebuah dialog televisi untuk publik, bila saya tak keliru, hal itu disampaikan di program teve Kick Andy.

Dan yang paling sakti, adalah urusan kapantasan dan kepatutan berikutnya yang paling gress. Presiden SBY bicara dengan simbol negara – – melalui podium – – menceritakan tentang data intelijen, menemukan foto wajahnya yang dijadikan sasaran tembak, dan seterusnya.

Dari dua contoh ini saya ingin menyebutkan, bahwa, umur memang mengubah segalanya, termasuk menyaring kebijakan.

Nah, keuzuran memang tak bisa ditawar-tawar. Karenanya saya membayangkan di usia 60 tahun kelak saya pensiun, lalu kini berusaha keras menabung, jadi bisa berkeliling-keliling saja, menyimak anak-anak muda baru tampil memimpin di berbagai lini, lebih-lebih memimpin negara dengan hati bersih dan pela jernih.

Bila kepemimpinan untuk alih generasi kita sandera, alam akan menertawakan. Apalagi alam Indonesia yang masih belum terurus mensejahterakan anak bangsa. Alam akan kian tak menerima melalui tawa.

Masih berminatkah memimpin kufur di umur uzur?***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com