Tag

 ( catatan penulis : musim panas di Clark County membuat kreatifitas saya mandeg seperti otak semua kandidat capres di pemilu kemarin di Indonesia. Saya, Habe bukanlah orang yang kuat menahan beban temperatur cuaca yang tinggi. Tapi berhubung ada cukup banyak email yang memprotes meminta kelanjutan roman bongkaran, terpaksa..sekali lagi terpaksa saya menulis kembali walaupun sadar saya tidak akan pernah bisa membukukan cerita ini di Indonesia tanpa dituntut hukuman mati atau di tim mawarkan beberapa tokoh Brutus yang sampai sekarang masih memiliki money and power serta preman bayaran di Jakarta. Saya melanjutkan kisah pertualangan anak Bongkaran dengan kesadaran bahwa jika suatu saat saya didor dan dihilangkan, semua itu terjadi gara gara anda, para pembaca yang jelas harus bertanggung jawab sekaligus ikutan bersalah lantaran ikut ikutan menikmati cerita asal asalan ini..)

Nisye pergi ke Bendungan mencari Bonang. Tapi di emperan pasar sana dia kaget karena tidak menemui ibu atau Bonang sendiri yang biasanya jualan. Sebagai penggantinya ada beberapa uda padang yang tampangnya ketupat dari ketupat sate padang yang juga ikutan berjualan kolor, kaos kaki dan kaos oblong sepuluh ribu tiga. Lalu Nisye memutuskan ke salon Jabrik  untuk menitip surat cintanya buat Bonang lewat Memet. Sayangnya bencong pengusaha salon itu sedang tidak ada di tempat. Terpaksa Nisye menitipi surat lewat si Nuraini, sang asisten yang lima menit setelah Nisye keluar beranjak, langsung membuka dan membaca surat cinta itu sambil terkikik terkekek dan tertawa setengah modar.  Warning dari Bonang soal si Nuraini di surat pertama Bonang buat Nisye terbukti sudah. Tidak memakan waktu lama kelak gosip tentang Nisye dan Bonang mulai tumbuh secara ekponensial di Bendungan.

Dari Bendungan, Nisye merasa ragu ragu untuk meneruskan niatnya pergi ke arah Tanah Abang untuk sekedar lewat memintas kampung Lontar mengobati kangen dia akan Bonang. BMW Nisye akhirnya mengarah ke timur menuju Kebayoran. Nisye singgah ke rumah Tanti yang keluarganya di ruang tamu sedang sibuk dengan sejumlah pengacara dan detektif partikelir mencari tahu soal mati hidupnya Ardy yang diculik aparat tempo hari saat ada demo di Senayan. Ardy adalah anak laki laki satu satunya keluarga Sempakgusti, pengusaha wiraswasta asal Bali.

Nisye dan Tanti duduk di pojokan mendengarkan keseriusan pak Sempak yang berdialog dengan om Dildo Sitompul SH- Pengacara Batak tersohor di kalangan keluarga papan atas di Jakarta. Pak Sempak berniat serius untuk menuntut Suharto,Kapolri, Prabowo beserta kesatuan subsidi dari Kopasus bernama Tim Mawar ke pengadilan. Om Dildo menasehati pak Sempak untuk tidak terburu buru. Asisten dia yang juga berasal dari Medan, tante Vagi Nasution SH membantu menjelaskan bahwa jaring jaring pengadilan susah ditembus jika pak Sempak tidak memiliki backing orang kuat di belakang. Mendengar ini, wajah pak Sempak mendadak sedih tidak terkira. Dia seketika merintih rintih pedih seperti anak kecil memanggil nama anaknya berkali kali. Air mata orang dari pulau dewata ini turun berlinangan membuat Tanti dan Nisye menangis ikutan merasakan perih.

Problem di keluarga kaya dan miskin selalu ada di kehidupan yang tidak panjang ini. Barangkali dengan problem tuhan berusaha menunjukan bukti bahwa dia eksis lewat keadilan atau justru ketidak adilan yang semrawut seperti ini. Surat Bonang untuk Munir sampai sejauh ini tidak mendapatkan respon dan balasan. Mungkin suratnya belum sempat dibaca bang Munir yang sedang ditimbun begitu banyak masalah menghadapi raksasa keji dan tamak bernama rejim orde baru.Waktu pelan berlalu sudah 2 minggu Adit dan Abung nginap di sel Komdak. Geng nabi Bongkaran mendengar issu mereka akan segera diseret ke pengadilan dalam waktu dekat. Lim Auk Ah yang merasa sudah cukup berduit dengan desperate mencoba mendekati wilayah gelap dan remang remang birokrasi keadilan di Indonesia melalui beberapa anggota POLRI. Lim langsung lemas mengetahui bahwa harga kebebasan di tanah air lebih mahal dari harga cash rumah perumnas type 36/90 di Bekasi. Lim dengan setengah memohon mohon  meminta keringanan biaya pada Bapak Kolonel Kolusi Napitupulu, "Please pak, hentikan penyidangan Abung dan Aidit. Saya cuma punya uang Rp 14.500.750 saja pak. Kasihani orang seperti saya pak. Pak Kolusi tetap tidak bergeming, hati dia memang sudah mengeras seperti batu ginjal. Dia bilang, kau kan orang cina, network kau kan luas, uang 14 juta mana cukup untuk menghentikan penyidikan? Kau kira jaksa itu harganya murah? Kau urunanlah sama kau punya famili dan kroni bilang sama mereka harga mati untuk membebaskan kau punya teman itu cukup 40 juta rupiah saja. Sudah murah itu sebenarnya..

Lim yang sudah putus asa akhirnya mendatangi kawan kawannya di notulen rapat geng anak Bongkaran kembali. Dia menceritakan semua usahanya selama ini pada mereka, berapa uang yang dia punya, dan berapa uang yang pak Kolusi minta. Berto menghela napas panjang sebelum dia bilang, bahwa dia salah sangka lantaran selama ini menyangka Lim tidak perdulian dengan nasib Abung dan Adit, lalu dia mengusulkan pada Bonang untuk melanjutkan kembali aksi merobinhoodkan keluarga kikir dan tamak.

Kali ini kita satroni kampung Karet Tengsin yang premannya tidak segalak Kampung Kebon Pala, begitu usulnya. Parjo yang sudah kapok lantaran pengalaman buruk menyatakan keberatan. Tarjo meminta waktu untuk berpikir. Sedang Buyung bilang, dia akan ikut dengan suara mayoritas. Bonang ragu ragu. Bayangan Abung dan Adit yang sedang digebuki preman polisi membuatnya takut bahwa kejadian itu akan berulang menimpa teman atau dirinya sendiri nanti. Lim tidak memberikan opini sama sekali. Dia bilang bagaimana baiknya saja. Akhirnya votingpun dilakukan. Siapa yang setuju untuk merangsak warga kaya dan tamak di Karet Tengsin silahkan angkat tangan. Dari lima orang itu cuma tangan Berto yang satu satunya berdiri terangkat. Melihat ke kiri kanan, Berto nampak kecewa. Bonang berusaha menghibur. Tapi Berto justru menyalak. Dari mana kita bisa mendapatkan sisa uang 26 juta yang dibutuhkan huh? Dari mana? Lihat kenyataan sekeliling..kita ini berasal dari keluarga semi gembel. Jangankan 26 juta, celana dalam kau dan aku saja sudah setahun tidak pernah beli baru..

Bonang terhenyak dihempaskan kenyataan seperti ini. Dia menoleh ke Lim meminta pertolongan.

Lim cuma menggeleng lalu dia bilang, gimana kalau elu minta pertolongan sama Nisye nang? Cewek elu kan kokay. Dia kan jatuh cinta sama elu.. Bonang kaget dan bilang its impossible!  Mana mungkin aku mau memperalat pacar sendiri dan minta uang? Kau ini mikirnya keterlaluan. Buyung memotong, tidak ada salahnya Nang..uang yang diminta kan bukan untuk memperkaya diri dan foya foya..Lagian si Nisye juga dah kenal sama si Abung, Cmon nang, give us a break! Parjo tidak mau kalah menimpali, percuma nang pacaran sama anak orang kaya kalau ngga bisa minta tolong sama mereka. Tarjo makin memanas manasi, iya lagian buat orang jatuh cintrong apalah arti duit 26 juta, apalagi buat anak konglomerat?

Bonang menepak nepak kepalanya lantaran stress, dia kini mengaku pacaran sama orang berada itu memang tidak mudah. Gosip serta tuntutan sosial seperti ini membuat kepalanya mau pecah. Bonang menghadai dilema buah simalakama. Tidak meminta bantuan Nisye, berarti Abung dan Adit akan berakhir terpendam lama di Cipinang. Meminta bantuan Nisye, berarti dia tidak beda dengan segenap cowok matre yang doyan mencari tante tante kaya di Jakarta. Bonang lalu memutuskan untuk meminta waktu beberapa hari sebelum dia bisa memberikan jawaban atas permintaan yang rumit ini.

Rapat telah bubaran. Bonang kembali ke rumah dan masuk kamar untuk menyepi kembali mencari inspirasi. Tapi di dalam kamar otaknya malah merasa makin tumpul. Dia duduk di sisi pembaringan dan berusaha berdoa pada tuhan bokap, Jesus dan roh kudus. Tapi perasaan tidak nyaman tetap melekat di dadanya.Untuk pertama kalinya Bonang merasakan desakan ingin pergi ke gereja. Mungkin berdoa dalam gereja akan membuat tuhan lebih memberikan atensi daripada berdoa di dalam kamar butut ini, begitu pikir dia. Lalu dengan sekejab Bonang berjalan ke jalan raya, memberhentikan dan naik bemo ke Bendungan.  

Dia berhenti di depan gereja Anugrah di Pejompongan. Tapi sial, gerbang gereja Anugrah sedang tergembok hari ini. Bonang merasa down, sosok kristus dan sang tuhan bokap serasa sedang menjauhkan diri. Lalu tanpa pikir panjang dia berjalan ke arah Penjernihan. Tanpa sungkan dia masuki halaman mesjid Al Abrarr. Dia ikutan berwudhu lalu duduk di tikar ruangan sejuk dan sakral itu. Setelah merasa pas Bonangpun berdoa pada tuhanya dengan hati yang lapang. Bonang merasa Tuhan yang dia sembah dalam gereja sama saja dengan tuhan yang disembah lewat mesjid. Beberapa orang di pojokan kanan sedang sholat ashar berjamaah. Bonang duduk paling pojok belakang.Dia berdoa ,Ya tuhan kristus dan father in heaven berikan aku jalan agar bisa membantu Abung dan Adit. Berikan juga aku petunjuk agar bagaimana aku bisa menolak desakan teman teman yang resek yang nyuruh aku minta bantuan uang sama kekasih tersayang. Lalu terakhir Tuhan, kira kira bisa nggak sih aku kawin sama Nisye melihat kondisi keadaan keluargaku yang begitu bokek sekarang?

Seperti biasanya di langit sana Tuhan tetap hening dan diam. Yang justru berisik adalah ketawa si Nuraini barengan langganan di sebuah salon di Bendungan yang estafet sibuk terbahak bahak membaca surat Cinta Nisye untuk Bonang..

July 20, 2009