Mark Twain mempopulerkan ucapan PM Inggris abad ke 19, Benjamin Disraeli: “There are three kinds of lies: lies, damned lies, and statistics."

Masalah Kemiskinan

Baru-baru ini Biro Pusat Statistik (BPS) mengumumkan penurunan angka kemiskinan menjadi 32,5 juta jiwa. Angka kemiskinan ini didapat dengan mengacu pada pendapatan di bawah Rp. 200.00 per bulan. Dan angka kemiskinan ini menurun dari periode sebelum. Apakah ini prestasi?

Pada waktu bersamaan BPS melaporkan, nilai tukar petani (NTP) nasional adalah 99,41. Ini menunjukkan total pengeluaran petani (baik berupa modal, pembelian bibit, maupun mencukupi kebutuhan hidupnya) lebih tinggi dibanding penghasilan yang diperolehnya dari penjualan produk-produk pertaniannya secara keseluruhan, baik padi, telur ayam, daging ayam, maupun daging kambing.

Kalau pemasukan tidak dapat menutupi pengeluaran, apakah ini tidak bisa disebut miskin?  Petani dengan kondisi ini berjumlah sekitar 41 juta orang dan kalau ditambah keluarga petani jumlah ini bisa mencapai 100 juta orang. Bandingkan dengan data 32.5 juta orang miskin tersebut.

Masalah Utang

Rasio utang Indonesia 32% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara rasio utang Jepang 217% dari PDB. Apakah Indonesia lebih baik daripada Jepang?

Perbandingan rasio ini menyesatkan. Yang terpenting dari PDB adalah berapa jumlah uang yang bisa ditarik untuk mendanai APBN dan kemudian bagaimana dana tersebut mampu membiayai kebutuhan suatu negara. Dan di sini ada perbedaan besar antara Indonesia dan Jepang.

Jepang sudah menjadi negara maju, sehingga permasalahan anggaran akan sangat berbeda dengan negara berkembang seperti Indonesia. Jepang walaupun utangnya besar, tidak terlalu dibebani oleh permasalahan mendasar seperti menanggulangi kemiskinan, memberikan air bersih kepada rakyat, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan termasuk pertahanan keamanan.

Sebaliknya Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang, masih membutuhkan peran pemerintahan dalam menyelesaikan berbagai persoalan mendasar. Hal yang paling penting dari masalah utang luar negeri ini adalah bebannya terhadap APBN. Apakah dengan cicilan utang sekarang ini, pemerintahan Indonesia masih bisa leluasa mengurus kesehatan, pendidikan, fasilitas air bersih rakyatnya? Apakah dengan anggaran yang ada sudah bisa membangun pertahanan negara yang kuat?

Terbukti sampai sekarang Indonesia masih bergulat pada persoalan mendasar seperti kemiskinan. Terbukti pemerintah tidak sanggup meremajakan alutsistanya. Sementara Jepang sudah tidak bergulat dengan masalah mendasar itu lagi. Jadi bagaimana bisa kita membandingkan utang kita dengan utang Jepang?

Masalah Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah Indonesia bangga dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika krisis hampir semua negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah adalah yang terbesar ketiga setelah Cina dan India. Apakah kita patut berbangga?

Kalau kita melihat mengapa banyak negara seperti Singapura dan Malaysia mengalami pertumbuhan negatif adalah karena struktur ekonomi mereka sangat tergantung ekspor. Ketika pasar dunia menurun, permintaan barang dan jasa menurun, otomatis omset mereka juga turun. Inilah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi mereka negatif.

Ketika suatu negara bisa ekspor, maka dapat dikatakan produk negara tersebut kompetitif yang mampu bersaing dengan produk negara lain. Apalagi negara seperti Malaysia dan Singapura itu sudah tidak tergantung lagi dengan ekspor komoditi. Produk mereka sudah bernilai tambah tinggi.

Jadi yang terpukul dengan krisis sekarang justru menunjukkan pertanda bagus bahwa mereka adalah produk yang tergantung pada permintaan pasar seluruh dunia. Dan ini sama sekali bukan menunjukkan kelemahan kinerja negara mereka. Krisis ini juga menerpa perusahaan hebat seperti Toyota. Ini bukan berarti ada masalah dengan kinerja Toyota, tapi ada masalah dengan pasar dunia.

Jadi kalau Indonesia tidak krisis, justru menunjukkan struktur ekonomi Indonesia bermasalah. Indonesia bisa tumbuh hanya karena pasar dalam negerinya yang besar. Ini sekaligus menunjukkan produk Indonesia hanya sebatas jago kandang dan belum layak untuk diekspor. Struktur seperti ini justru membahayakan. Ketika pasar bebas dilakukan, produk barang dan jasa yang kompetitif dari luar negeri bisa masuk dan menguasai pasar domestik.

Akhirnya, kita tetap harus melakukan kritik terhadap angka-angka. Angka yang bagus belumlah berarti mewakili realita yang bagus pula.