Kejadian orang hilang seringkali kita dengar dan kita baca, akan tetapi kalau seorang kakek yang sudah uzur, usianya hampir 84 tahun dan masih fit menyetir mobil sendiri, tiba-tiba mengalami disorientasi dan sampai menyasar kemana-mana, itu  agak aneh.

 

Selama ini pakde Ot (panggilan orang yang dituakan) sehat dan masih memberi kuliah bahasa Inggris di beberapa universitas swasta. Kegiatan memberi kuliah dijalankan dengan lancar selalu membawa kendaraan sendiri ke kampus.
Walaupun menyandang diabetes, tetapi keadaan umum pakde Ot prima, masih bisa membawa mobil dengan baik, melakukan latihan yoga dan meditasi secara teratur. Dalam latihan yoga, beliau masih dapat melakukan head stand, untuk seusia beliau luar biasa!

Awal ceritanya dari menyerahkan nilai ke administrasi universitas yang saat-saat itu sedang libur akhir tahun yang panjang.

Denpasar, Senin 22 Juni 2009
Pagi itu pakde Ot pamitan ke putranya untuk pergi ke kampus untuk menyerahkan nilai. Dengan mengendarai Suzuky Carry tanpa ada yang mendampingi meluncur menuju ke kampus, tidak terlalu jauh di pusat kota Denpasar dari rumahnya yang berada di perumahan dosen di Gianyar.

Kalau pergi ke kampus biasanya waktu makan siang sudah kembali, tetapi kali ini lain sampai jam 3 sore belum pulang. Putranya sudah mulai gelisah, celakanya hand phone pakde Ot tidak dibawa! Mau tidak mau putranya mencari beliau dengan motor. Pertama kali ke kampus, dicek memang benar daftar nilai sudah diterima malah pakde Ot cerita kalau minggu depannya mau ke Jawa Timur karena ada saudara yang mau mantu. Klop.

Setelah di kampus hasilnya nihil dikejar ke makam isterinya, yang telah meninggal 3 tahun yang lalu.  Memang pakde Ot sering, walaupun tidak sering sekali berziarah kemakam, kemungkinan kalau lagi timbul rasa rindunya.Di sana tidak diketemukan juga. Ditanyakan ke seorang sekitar yang sering tahu kalau pakde Ot berziarah, juga hasilnya negatif, tidak ada satupun orang di sekitar itu melihat pakde Ot.

Berkaitan dengan kondisi kesehatan pakde Ot, sehari  sebelumnya  badannya semua dingin dan kakinya lemas dan wajahnya nampak pucat, tetapi sesudah dihangatkan dan sedikit dimasase segar kembali. Pada pagi harinya sudah segar dan fit sehingga membawa mobil tidak menjadi masalah.

Pencarian dilanjutkan dengan menelusuri pantai baik di pantai Sanur maupun sekitar Kutha, siapa tahu pakde berekreasi ke sana untuk menghilangkan stress. Sesudah itu tempat keramaian, pusat-pusat perbelanjaan, di cek kerumah saudara dan teman-teman dekatnya tetapi tetap tidak ada tanda-tanda pernah dikunjungi . Dicek di rumah sakit Sanglah dari mulai di bagian gawat darurat sampai ke kamar mayat tidak ada. Di rumah sakit yang lain demikian juga.

Dicari seluruh Denpasar tidak ketemu juga, jam sudah menunjukkan jam 22.45, upaya terakhir, menghubungi stasion radio antara lain Menara FM untuk berita kehilangan seorang kakek diumumkan, melaporkan ke polisi dan mnta untuk disiarkan melalui radio panggil ke seluruh Bali . Untuk itu atas nama keluarga mengucapkan, terima kasih! Proses pencarian secara fisik sementara dihentikan tetapi telepon di rumah hampir tidak berhenti bicara kontak saudara teman dan yang lain. Mereka mengkhawatirkan terkena musibah kecelakaan atau menjadi korban perampokan, yang saat ini semakin marak.

Gianyar, Selasa 23 Juli 2009
Tiba-tiba pagi hari jam 06.00, mobli datang dibawa 3 orang polisi di dalam mobil dan dua orang polisi membawa mobil patrol polisi, Mitsibhusi Lancer. Bapak bapak polisi tadi ternyata dari Klungkung yang mendapat laoran penduduk kalau ada warga yang tersesat. Setelah diwawancari dan pakde Ot diminta memberikan identitasnya, dari ktp dan SIM didapat alamat dan nomer telepon ada di salah satu catatan yang dibawa. Bapak polisi berusaha menelepon ke rumah tetapi selalu sibuk, kemungkinan memamg telepon rumah bicara terus. Akhirnya bapak bapak Polisi berinisiatif mengantar pakde Ot ke rumah dengan sedikit gambling dan hasilnya positif. Salut untuk bapak bapak polisi Polsek Klungkung, keluarga sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya. Tindakan bijaksana bapak bapak ini menghilangkan stress seluruh keluarga dari Denpasar, Malang, Jember, Kediri sampai Jakarta!

Dari kelima bapak polisi tresebut, maaf, yang tercatat namanya hanya tiga,
Arsana
Rudianto
Gustiyas

Namun demikian, dengan segala hormat kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya, bapak bapak Polsek Klungkung mengingatkan kami ke julukan akrab polisi di Inggris ‘Bobby’, yang filososinya akrab menjadi sahabat dari masyarakat. Panggilan mereka Boby untuk menunjukakan polisi yang mengabdi menjadi bagian masyarakat.

Pakde Ot ada di dalm mobil Suzukinya! Masih agak bingung, bertanya-tanya.’.Aku ini dimana?’ Waktu dijawab kalau sekarang ini sudah kembali kerumah sendiri, masih bingung, merasa koq rumahnya begitu  kecil. Keadaan blank ini berlangsung beberapa jam…….Pakde Ot segera diminta untuk istirahat dan untungnya bisa segera tidur.

Baru setelah itu, pakde Ot bercerita secara runut, dari mulai menyerahkan nilai terus ke supermarket untuk membeli makanan kecil untuk cucunya yang akan datang ke Bali dari Malang. (Belanjaannya masih utuh di mobil!).
Waktu balik kerumah, rupanya di beberapa jalan banyak jalan yang ditutup disana sini karena ada upacara kemudian dialihkan ke jalan alternatif. Disini rupanya pakde Ot menjadi ‘confused’, bingung  tersesat sampai ke Klungkung yang berjarak sekitar 40 km dari Denpasar. Sepanjang hari dan malam tidak tidur dan tidak makan.  Selama perjalanan sampai sempat mengisi bensin tiga kali!

Dari segi kesehatan karena factor usia kejadian blank, lupa, memori terhapus. Ini merupakan proses ketuaan dansindroma penyakit ‘lupa’ ini dikenal sebagai ‘Alzheheimer, penyakit degenerative yang ireversibel. Secara anatomis, otak penderita terdapat bercak bercak utamanya dikedua bagian samping otak. Penyandang Alzheheimer mengalami kehilangan  memori mula mula apa yang baru dilakukan lama lama lupa terhadap lingkungan sampai yang sudah  lupa identitasnya sendiri. Sayang penyakit ini boleh dikatakan belum ada obatnya, yang ada sekarang ini adalah fungsinya adlah menghambat progres penyakitnya bukan mengurangi atau menghilangkan, karena proses yang terjadi di otak sifatnya permanen, ireversibel.

Beberapa tokoh yang mendapatkan penyakit degeneratif ini adalah Syah Iran Riza Pahlevi dan presiden Ronald Reagan.
Pakde Ot barangkali saat ini tidak menyandang penyakit akan tetapi kejadian ‘hilang’ nya cenderung merupakan salah satu gejala yang perlu dicurigai menuju ke arah sana. Walaupun secara umum kesehatan pakde Ot baik,  tetap bugar akan tetapi sekarang ini  kami tidak berani mengambil resiko, beliau tidak boleh membawa kendaraan sendiri dan kalau bepergian harus ditemani.

Mudah-mudahan cerita ini dapat memberikan inspirasi bagi mereka yang mempunyai anggota keluarga yang sudah sepuh, supaya lebih preventif terhadap terjadinya disorientasi seperti yang dialami pakde Ot.

6 Juli 2009