KPU, institusi penyelenggara pemilu ini dituding tidak beres, tidak independen, terkesan memihak kepada salah satu calon presiden. Berawal dari ke-amburadulan pileg, diistilahkan Megawati sebagai pelaksanaan pemilu terburuk sepanjang sejarah RI. Kini dalam pilpres kejadian serupa tidak boleh terjadi, kata Mega/Prabowo, DPT-DPT bermasalah harus diclear-kan sebelum hari H, kalau tidak "tunda pemilu", Jk/Wiranto pun tak kalah sibuk, ini bukan soal menang dan kalah, bukan soal untuk kepentingan capres/cawapres, ini adalah untuk kepentingan hak-hak rakyat,demi menjaga kemurnian demokrasi, begitu pernyataannya.

KPU menerima protes itu, terakhir MK mengeluarkan keputusan, :"Masyarakat yang tidak terdaftar dalam DPT, diper-bolehkan ikut memilih dengan menggunakan KTP, dengan bersyarat tentunya. DPT adalah hak publik, kenapa tidak dibuka pada publik, Prabowo protes, dan setelah dibuka ternyata ada penggelembungan suara sebanyak "25 juta" suara, luar biasa memang..! Sebab banyak daftar pemilih ganda, malah ada yang namanya dan NIK-nya sama sampai 9 kali, ada apa..? Dalam DPT terlihat dengan jelas, ada nama anak-anak yang umurnya mulai 1 tahun,4 tahun, 7 tahun, sampai dengan 8 tahun, kejadian ini nyaris ada dalam setiap DPT.

Menilik kepada daftar tersebut, maka dapat dikatakan memang ada unsur kesengajaan disitu, masak anak umur satu tahun bisa tercantum dalam DPT..? atau apakah itu kesalahan tukang ketik yang meng-input berdasarkan draft yang ada..?! Kalau itu kesalahan tukang ketik, berarti yang ngetik SDM-nya rendah, sepatutnya harus ditanyakan kepada yang berkompeten, atau yang membuat draft atau daftar awal.Secara logika,sewaktu meng-input data kekomputer kan bisa dibaca umur para pemilih, dan kalau umurnya tidak masuk akal, tukang input harus menanyakan kepada anggota yang memberikan data. Namun semuanya tidak dilakukan, dan jadilah daftar itu sepertinya sengaja diamburadulkan.

Kondisi seperti inilah yang diklaim para surveyor "pesanan" bahwa SBY akan menang satu putaran, dengan perolehan suara 70%, hebat..! Kuat sekali dugaan bahwa hitungan yang dibuat bukan berdasarkan survey, tapi berdasarkan jumlah daftar pemilih yang dimanipulasi, seperti kejadian diatas. Kecurigaan yang muncul adalah KPU tidak independen, KPU bekerja hanya untuk kepentingan salah satu calon, buktinya DPT mempunyai banyak nama ganda, DPT sengaja memasukkan anak-anak dibawah umur agar kuota 70% terpenuhi.

Malah kondisi ini dikomentari oleh tim sukses SBY dengan plesetan jargon JK, yaitu:"pilpres kok ditunda, kan tidak sesuai dengan jargon lebih cepat lebih baik"..!berarti lebih cepat lebih baik tidak dipahami oleh tim sukses SBY, lain lagi dengan Andi Malaranggeng, :"biasalah, banyaknya protes-protes itu karena takut kalah", semakin "hebat" saja sikumis ini, selesai dengan pernyataan "rasis", tidak sadar diri, malah semakin ngelunjak..! Dan anehnya lagi, SBY kok tidak mempersoalkan DPT-DPT bermasalah ini. Mungkinkah KPU benar-benar curang..? mungkinkah KPU bekerja untuk SBY..? kenapa soal DPT ini JK/Mega protes, SBY diam saja..? Semuanya itu akan terjawab sebentar lagi.