Dalam meminta, dalam memohon, dalam berdoa atau ketika disuruh memilih, banyak orang ingin dimudahkan. Diberi keringanan.Dibantu dalam bamyak hal.Tidak perlu memahami,betapa upaya yang pahit dan sulit, jika berhasil terasa manis. Bahwa kehidupan itu memerlukan proses, sehingga kelak semua diyakini tidaklah ada sesuatu yang serta merta.

Karena itulah kita biasa-biasa saja, kalau melihat seseorang berhasil menyogok untuk mendapatkan jabatan tertentu, ditakuti karena berteman dengan orang yang punya kekuasaan, dihormati karena dekat dengan penguasa. Sebab nilai hidup bagi sebagian orang, ternyata adalah kemudahan yang didapat ditengah orang melakukannya dengan benar tapi banyak dipersulit atau memakan waktu dan energi yang lama. Kehormatan semu yang memerlukan kerja keras dan etika, dijadikan penguat eksistensi.

Sia-sia bercerita tentang para tokoh bangsa,atau dunia yang meraih kesuksesan dengan kerja keras sebagai tauladan kepada mereka yang berfikir ingin gampang dan serba dipermudah. Karena akan dijawab , :"itu kan dulu.."!!atau ,:"jangan idealislah"..! Dan karena itulah bisa pula dipahami,saat ini banyak orang mengalami depresi, kekosongan spritual, dan menjadi srigala bagi sesama, ketika nafsu ingin enak menguasai diri.

Mentalitas ingin enak (mau enak sendiri), tanpa kontrol nilai salah satu perilaku buruk yang tertera jelas dalam kehidupan sosial kita. Banyak peraturan dan pelanggaran etika, hukum dan norma dalam masyarakat yang terjadi. Semua itu jelas karena nafsu ingin enak. Mereka bisa saja dari kalangan pemimpin, ulama, tokoh adat, kaum intelektual, pegawai rendahan, dan masyarakat banyak sekalipun.

Sebenarnya disadari atau tidak, secara sungguh-sungguh, banyak orang abai berfikir tentang etos bekerja, kerja keras, berpikir keras, dan pentingnya empati serta kejujuran dalam hidup. Hanya sedikit orang yang mampu menempa dirinya menjadi orang yang kuat, untuk menghadapi tantangan hidup sekeras apapun.

Memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, menanamkan nilai empati, sesuatu yang nyaris mustahil dijadikan pedoman ideal bagi banyak orang saat ini.Apalagi kecendrungan hedonis saat ini menyungkup akal sehat, mengukur diri dengan rasa senang, orang mengukur seberapa senangnya dia, bukan seberapa bermaknanya ia menjalani hidup. Ditoko-toko buku kita dapati buku-buku yang memotivasi bagaimana menjadi orang berbahagia, kaya raya tanpa modal, ongkang-ongkang kaki bisa sukses, uang anda bekerja untuk anda, utang pangkal kaya dan berjibun lagi ajakan-ajakan untuk memasuki kawasan tanpa kerja keras bisa kaya raya termasuk didunia internet, betapa ajakan-ajakan(baca:iklan sejenis) yang mengelabui otak waras menjadi tidak waras. Anehnya buku-buku yang menawarkan mimpi serta ajakan-ajakan yang merusak akal ini juga iklan-iklannya sangat digandrungi. Lalu buku tersebut dipesan, muncul dari kesadaran ada segmen menarik bahwa orang ingin meraih kebahagiaan atau kesuksesan dengan cara mudah cukup banyak di Indonesia.Buku tersebut laku, malah cetak ulang, walau akhirnya pembaca buku tersebut tetap miskin dan melarat karena tidak menyadari ada keseriusan atau kerja keras yang fokus dan mendalam untuk meraih apa yang disebut "kesenangan dan kesuksesan hakiki".

Yang ingin disampaikan disini sebetulnya adalah sebuah kesimpulan untuk menegaskan bahwa dalam banyak hal, orang ingin meraih dan mendapatkan sesuatu, selalu ingin dengan mudah. Selalu ingin ditolong. Mentang-mentang ada tenaga honor dikantor, sihonorer dibiarkan mengerjakan banyak hal, termasuk pekerjaan yang semestinya harus dikerkan sendiri, tidak malu kalau gajinya lebih besar dari tenaga honor, sementara porsi kerja dan tanggung jawab kecil, dan itupun dilimpahkan kepada tenaga honor yang untuk ongkosnya saja susah. Nanti kalau kerjanya dipuji atasan, dia pula yang mengaku, dan memang begitu enaknya.

Ketika mendapat masalah, atau musibah, atau goncangan tertentu, yang bersangkutan justeru tidak membaca kelemahan diri. Malah mencari apa yang paling "instant" solusinya. Ketika pada saat itu disarankan untuk berdoa, dan minta pertolongan pada Tuhan, maka doanya selalu minta diringankan,minta cepat-cepat masalah berlalu, bukannya bagaimana menemukan kekuatan cara menghadapi masalah itu dengan pertolongan-Nya.

Dalam sebuah bukunya, berjudul, "Mencari Tuhan", Karen Amstrong menulis,:" Jangan meminta beban yang ringan pada Tuhan, mintalah bahu yang kuat". ungkapan ini mempunyai pesan filosofis dan kuat. Didalamnya ada energi positif, kesungguhan, kerja keras dan komitmen yang menjadikan diri atau bangsa yang tangguh. Kita selalu minta beban diringankan, sehingga selalu berada dalam kondisi menderita, mengalami tekanan berat atau merasa selalu mendapatkan cobaan beruntun. Kalau kita mau memahami dengan sungguh-sungguh apa yang diungkapan Karen Amstrong tersebut sebagai manusia atau bangsa kita dituntut menjadi rakyat yang kuat juga untuk mendapatkan pemimpin yang kuat. Sebab kalau rakyat memiliki bahu yang kuat , kokoh siap memikul beban dan tantangan seberat apapun, maka dipastikan bisa menciptakan realitas kehidupan yang lebih baik. Karena itu patut kita mengucapkan, Tuhan..jangan ringankan bebanku, perkuatlah bahuku, biar tak lemah memikul beban, dengan demikian aku terhindar dari sikap mental yang mau serba enteng.