Lu, sebuah kawasan di Cina, ribuan tahun silam kawasan ini merupakan sebuah negara kecil, sekarang dikenal dengan nama propinsi Shantung. Dikawasan inilah lahir seorang bijak bestari, tepatnya tahun 551SM, Confusius, begitulah namanya dikenal dan dihormati sampai hari ini.

 

Beliau termasuk salah satu pemikir paling berpengaruh didunia, banyak pesan-pesan bijak yang beliau pusakakan dan beliau tinggalkan. Confusius berasal dari keluarga sederhana, dan sangat dekat dengan lingkungan masyarakat miskin yang penuh penderitaan. Saat itu beliau sudah merasakan dan sudah prihatin melihat kondisi sosial masyarakat. Beliau merasakan susunan dunia sudah rusak, bayangkan tahun 551SM, kondisi ketidak adilan dunia sudah beliau rasakan, itulah , dan itu memang realitas yang sedang berlaku kini. Menurut beliau perubahan besar-besaran perlu dilakukan agar masyarakat tidak lagi menderita, perubahan besar-besaran tersebut menyangkut para penguasa, para tokoh dan para pemimpin yang tidak memerintah dengan jujur dan baik..!Menurut Confusius, para tokoh dan para pemimpin sudah bersikap seperti benalu.

Li, adalah salah satu ajaran moral dari Confusius, menurut beliau semua kegiatan manusia harus dilakukan berdasarkan Li atau aturan moral. Dengan Li, semua manusia akan ber-aktifitas dengan teratur dan tidak akan ada benturan kepentingan antara satu dengan yang lainnya. Li, adalah istilah Cina yang biasanya diterjemahkan sebagai "Ritus" atau ketentuan-ketentuan kepantasan. Ada juga diartikan sebagai berkorban, dan arti ini dalam bahasa cina modern masih tetap digunakan. Kemudian berkembang menjadi makna yang lebih luas dan kemudian mengacu kepada adab menyajikan korban, kemudian meliputi segala macam upacara serta basa-basi yang menjadi ciri khas perilaku aggota istana seorang penguasa.

Ajaran Confusius ini sudah sangat lama, sudah tua, karena sudah berusia ribuan tahun lampau, adakah pesan bijak beliau itu masih dipakai oleh para pemimpin sekarang..Khususnya pemimpin Indonesia..?!

Realita hari ini, dinegara ini, Indonesia, para pemimpin masih mempertontonkan aktivitas, saling debat, sindir menyindir, mempermasalahkan antara yang benar dan yang masih keliru. Ketika yang satu bicara seakan ada "kewajiban" bagi yang lain untuk mendebatnya, perdebatan itu berlangsung terus menerus, tak jarang bermuara menjadi saling hujat yang kemudian memperburuk keadaan. Bagi mereka perdebatan itu untuk "mendongkrak" populeritas didepan rakyat, didepan publik, sasarannya sudah jelas, ingin mendapatkan tempat tertentu, sehingga memberikan keuntungan bagi individu tersebut dikemudian hari. Yang menjadi persoalan adalah apakah substansi perdebatan itu benar-benar dibutuhkan atau tidak bukanbukanlah menjadi ukuran, tetapi kecendrungan yang terjadi adalah bagaimana mereka masuk kedalam perdebatan dan saling sindir..!!

Perdebatan dan saling sindir akan semakin hebat ketika terjadi benturan kepentingan, kejadian ini biasanya berlarut-larut, dan sisi buruk yang paling menonjol dari seorang figur "kepemimpinan" negeri ini adalah hanya bisa mempersiapkan diri untuk MENANG, dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk KALAH..! Lebih berjiwa besar seorang petinju diatas ring, upper-cut, job, pelipis berdarah-darah, mata bengkak, malah sekujur muka penuh lebam, kemudian terkapar KO dikanvas, setelah itu semua terjadi, keduanya saling pelukan, yang menang mencari yang kalah merangkul dan memeluk, yang kalahpun membalas dengan pelukan hangat mengakui keunggulan lawan, sangat berbeda dengan pemimpin disini yang tidak pernah mengakui keunggulan lawan, malah musuhan sampai lima tahun, itulah ciri khas sikap "pemimpin" yang kalah jauh dari sportivitas seorang pentinju, malang memang..!

Bagi Confusius tidak ada perdebatan, baginya tak ada sindir menyindir, sebab beliau sangat memahami bahwa setiap perseteruan dipastikan akan dibarengi dengan perdebatan kemudian bermuara kepada sikap saling sindir dan kemudian lagi mempermasalahkan perihal benar dan keliru. Akibatnya program mencerdaskan rakyat terlupakan, keinginan untuk menyejahterakan raktyat tinggal jauh dibelakang. Dialam demokrasi, saling debat biasa, tapi saling sindir bukan karakter pemimpin yang bijak.