Konfrontasi positif dengan Malaysia bukan saja perlu, namun sudah menjadi kebutuhan bangsa ini untuk menajamkan kemampuan dan daya saing. Banyak bukti menunjukkan konfrontasi positif dengan negara tetangga dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Singapura dan Malaysia adalah musuh bebuyutan. Singapura lebih dahulu maju. Ini berkat kepemimpinan brilyan Lee Kuan Yew. Dia berhasil menjadikan Singapura menjadi pusat ekonomi di Asia Tenggara, walaupun tidak memiliki satu sumber alampun, kecuali letak strategis. Suatu pencapaian yang fantastis.

Malaysia merasa tertinggal dan ini sangat mengganggu harga diri, karena Singapura dulunya adalah bagian Malaysia. Apalagi ada sentimen etnis di situ. Singapura didominasi etnis Cina, Malaysia didominasi etnis Melayu. Keadaan Malaysia berubah, setelah muncul pemimpin bervisi, yaitu: Mahathir Mohamad. Dia membangkitkan kesadaran bangsanya untuk maju dan sejahtera. Visi Mahathir ditambah lagi dengan konfrontasi positif dengan Singapura, akhirnya mampu membawa Malaysia ke taraf yang lebih baik. Walaupun belum dapat mengungguli semua bidang, namun Malaysia saat ini sudah dapat menegakkan kepalanya di hadapan Singapura.

Kedua negara ini, Singapura dan Malaysia masih terus menerus berkonfrontasi positif untuk saling memajukan bangsanya, membuat berbagai pencapaian, tanpa harus melakukan perang bodoh yang menyengsarakan rakyat.

Di tempat lain ada juga contoh serupa. Korea Selatan dan Jepang adalah juga musuh bebuyutan. Korea Selatan sangat memusuhi Jepang, karena Jepang pernah menjajah mereka. Kebencian itu juga disalurkan secara positif dengan bekerja keras penuh kesungguhan untuk mengalahkan Jepang. Apapun yang diproduksi Jepang selalu dikuntit habis-habisan oleh Korea Selatan. Mobil, produk audio visual, handphone, peralatan rumah tangga adalah medan “konfrontasi positif” Jepang dengan Korea Selatan. Dan sekarang prestasi Samsung sudah berhasil melampaui Sony.

Tidak hanya soal itu, bahkan untuk penyelenggaraan Piala Dunia sepakbola tahun 2002 lalu, Korea Selatan juga tidak mau kalah dengan Jepang untuk menjadi tuan rumah. Sehingga diputuskan mereka menjadi tuan rumah bersama. Dengan pencapaian semua itu, akhirnya Korea Selatan sekarang sudah sanggup menegakkan kepala saat berhadapan dengan Jepang.

Begitu juga yang terjadi antara RRC dengan Taiwan. Kedua negara memang saling membenci satu sama lain. Tapi kebencian itu disalurkan dengan saling mempertontonkan kekuatannya pada hal-hal positif, seperti pertumbuhan ekonomi, kemajuan industri dan pencapaian teknologi. Sehingga hasil akhirnya, kedua negara tersebut sama-sama maju.

Memang ada contoh jelek reaksi bersaing antar bangsa, yaitu: reaksi Pakistan dalam perseteruannya dengan India. Pakistan hanya fokus pada satu hal saja untuk menghadapi India, yaitu teknologi militer. Pakistan berhasil mengimbangi prestasi bom nuklir India. Pakistan sama sekali tak pernah berpikir menyaingi Banglore. Reaksi negatif ini membuat kemajuan yang dicapai sama sekali tidak berpengaruh terhadap kesejahteraan Pakistan.

***

Kasus perseteruan Indonesia dengan Malaysia dalam memperebutkan blok Ambalat harus diambil hikmahnya oleh pemimpin-pemimpin Indonesia. Blessing in disguise. Reaksi kita harus positif. Tentu saja penggunaan kekuatan militer pun tidak boleh dikesampingkan. Namun lebih jauh dari itu, kita harus bisa ber”konfrontasi positif” dengan Malaysia. Kita harus bertekad untuk habis-habisan meraih kemajuan bangsa.

Reaksi primitif seperti demonstrasi anti Malaysia dan kesiapan warga sipil untuk perang sebaiknya diganti saja dengan hal yang lebih bermanfaat. Slogan “Ganyang  Malaysia” diganti saja dengan “Lebih Hebat Dari Malaysia”. Kita memang harus lebih hebat dari Malaysia di bidang pertumbuhan ekonomi, pencapaian teknologi, kemajuan industri, administrasi pemerintahan, pendidikan, kesehatan dan terutama, kesejahteraan rakyat.

Memang untuk mencapai Indonesia yang lebih baik itu, kita butuh pemimpin cerdas, bervisi dan dapat memberikan teladan. Di sinilah mungkin letak masalah utama bangsa Indonesia.

Akhirnya, mudah-mudahan perseteruan kita dengan Malaysia saat ini mendatangkan hikmah bagi bangsa Indonesia. Kita baru-baru ini dipersatukan Tuhan dengan tragedi tsunami di Aceh. Kesatuan kita sebagai bangsa sangat terlihat jelas pada peristiwa itu. Kini Tuhan mengirimkan kita satu peristiwa lagi. Ini mungkin petunjuk, wangsit dari Tuhan Yang Maha Esa bagi bangsa Indonesia untuk melangkah ke depan menuju bangsa yang maju, bermartabat dan sejahtera. Biar kita bisa menegakkan kepala kembali.

*****