Sample ImageAssalamualaikum…  Jangan kaget karena sejak dulu HH Samosir sudah diplesetkan oleh Mat Kopling menjadi Haji Humphrey Samosir. ๐Ÿ™„ ๐Ÿ˜† Sudah beberapa minggu ini saya berkelana di Afghanistan dan ditugaskan disini akibat dari proyek Mr Obama yaitu surge troops. Anehnya yang diperintahkan selalu US Marine yang maju duluan. Padahal medan tempur yang akan di garap adalah pegunungan dan semi gurun. Pendeknya didataran rendah berhawa dan bersuasana gurun, lalu kalau sudah sampai di dataran tinggi anda bisa melihat salju di hari yang sama.

 

Pasukan saya merupakan bagian dari Marine Expeditionary Brigade-Afghanistan yang mulai berdatangan memenuhi Camp Leatherneck dibawah komando Brig Gen. Larry Nicholson USMC, yang berada di propinsi Helmand. Republik Islam Afghanistan. Saya bertanggung jawab sebagai komandan pasukan pembuka bagi kontingen Marine Air-Ground Task Force yang berjumlah lebih besar yang akan dijadwalkan tiba dalam beberapa bulan ini.

Saya tidak akan membahas bagaimana tugas dan jangkauan target. Tetapi melulu yang saya ingin gambarkan adalah bahwa pendekatan kekeluargaan dan kebudayaan memudahkan interaksi awal. Inilah assets yang akan membangun kepercayaan secara mutual. Dan inilah senjata rahasia HH Samosir bertualang di pegunungan maupun gurun Afghanistan. ๐Ÿ˜†

Menyurut kebelakang sebentar, dulu saat pertama serbuan ke Afghanistan saya masih berpangkat Kapten. Semua yang saya kerjakan dan patokan saya adalah "to bring those ghosts down to their ashes". Masih beringas dan menganut sistem tumpas habis sampai ke sandal-sandalnya. Dengan beberapa kali deployment dan berinteraksi dengan masyarakat muslim sepanjang liku liku romantis "bermain catur" dan "petak umpet", dengan rendah hati saya dapat mengemukakan pendapat saya bahwa tidak semua muslimin di pedalaman, yang jauh dari berkah Tehnologi Informasi ultra modern, ternyata mereka tidak melulu jatuh pada stereotype bahwa muslimin garis keras dan kolot itu merupakan mahluk yang buas akibat pemahaman tertentu.

Saya tidak berusaha menegakkan benang basah, tetapi menyampaikan pandangan yang terkumpul dari pengalaman saya. Memang banyak kenyataan dari yang sudah banyak dimaklumi kita semua terjadi. Tetapi banyak pula kenyataan bahwa golongan golongan yang berhaluan dan memakai wajah manusiawi ini justru minoritas dikalangannya sendiri. Padahal kalau mereka mau bangkit, mereka adalah raksasa pembaharu yang justru akan melahirkan Renaisance Islamiah dimana Ukhuwah Islamiah akan dipandang sebagai produk kemanusiaan dan bukan sebaliknya oleh sementara kalangan berpengaruh.

Relasi antara kedua kutub yang berseberangan saat ini adalah akibat kurang pahamnya kedua belah pihak dalam mengantisipasi dan mengenyam persamaan yang ada. Sehingga mutualisme setidaknya mempunyai basic-ground yang seirama. Misalnya pandangan pihak non-muslim tentang Jihad sendiri yang justru memojokkan dan menyiram cuka bagi luka yang sudah ada. Padahal ada beda yang hakiki antara Jihad dan Qitaal.

Jihad adalah perjuangan yang berarti luas dan umum, baik kepada orang orang pelaku Bid'ah, kaum Khawaarij termasuk kaum Kafirun. ๐Ÿ˜† Tetapi tidak harus diartikan sebagai bunuh bunuhan, bisa saja dalam kaedah tukar pikiran, tukar argument dan sebagainya. Banyak dari kalangan meraka juga pemikir dan memiliki wawasan yang luas. Yang kalau kita mau mengerti mereka, mereka juga berusaha memahami posisi saya.
Lain halnya jika yang diadopsi adalah prinsip Qitaal dan disadur secara gross literal seperti yang tertera dalam beberapa ayat Surah At-Taubah. Itupun pelakunya biasanya melakukan transliteral antara terjemahan ayat ayat jenis tersebut kepada kelompok denominasi Islam tertentu.

Demikian juga pandangan mereka yang terbatas tentang cara pikir orang Batak.. eh maksudnya Barat ๐Ÿ˜ณ

Pandangan mereka ternyata berasal dari pemahaman yang terputus dari awal abad 12, dimana perkembangan runut pola pikir manusia di Barat sudah mengalami pasang surut. Kenyataannya standar yang mereka yakini terhadap barat adalah sejak jaman Seljuk ditambah romantisme cerita perang Salib. Simpul inilah yang perlu digetaskan dengan mengadakan pendekatan kebudayaan setidaknya dikalangan pemikir muslim. Bahwa dapat menerima apresiasi atas apa yang sudah dicapai kebudayaan lain tanpa melalui hingar bingar apologetics.

—- 00 —-

Suatu hari 1700 Zulu atau sekitar setengah duabelas siang waktu setempat, heli Chinook saya mendarat di antara tebing yang terjal disebuah pegunungan. Bukan mendarat… tetapi menempel setengah badan ke tebing terjal. Cockpit setengah badan kedepan tidak menempel tanah. Setelah loncat ketanah disertai beberapa marinir dari kompi HQ, yang bertidak selalu sekuriti bagi saya membuat perimeter, lalu dengan bergegas kami memasuki daerah perbukitan kapur yang tandus dan berdebu. Gerbang kota tidak lebih besar dari pintu garasi, tetapi lanjut kebawah hingga permukaan tanah berada lebih tinggi dari kepala kita. Lewat lorong lorong inilah akhirnya kita dapat memasuki sebuah desa terpencil. Diatap ada satu ruangan yang dipahat kedalam dinding tebing lebih tinggi sedikit dari atap rumah rumah adobo mereka. Belakangan saya tahu bahwa ruagan kecil inilah yang dipanjat tiap maghrib untuk melantunkan Adzan memanggil kaum muslimin di desa tersebut melakukan Shalat.

 

Secara cepat pleton inti ini merayap memasuki daerah yang berhalaman lebih luas di tengah kumpulan rumah tersebut. Seorang tetua adat dengan pakaian warna warni mencolok dan sorban disertai mote mote yang berwarna cemerlang memandang dengan sikap tegas. Dibelakangnya beberapa pria yang juga berjanggut tebal seperti Captain Haddock (serial Tintin) bersenjatakan Flintlock maupun mauser peninggalan perang dunia pertama yang di balut dengan kain warna warni, menyambut kami.

 

Kurang dari jarak 8 meter, tangan terkepal keatas memberi isyarat kepada kelompok saya untuk melakukan Security-Halt. Senjata saya M4 "Betty Sue" saya letakkan seolah asal asalan tersampir kedinding. Lalu pistol juga saya berikan ke anggota di belakang, hanya tinggal pisau K-Bar yang masih ada di sarungnya, terletak terbalik di dada kiri. Sadar bahwa mereka melihat bonggol pisau menyembul, dengan maju perlahan dihadapan mereka, sambil tersenuym saya sampaikan salam.

Assalamualaikum Sadiqi….

 

Dijawab: Mualaikumsalaam Rofiqi… welcome to our village fellow Commander !! English dengan langgam layaknya orang India. (Bah.. ternyata dia lulusan sekolah dasar di Peshawar Pakistan yang berbahasa Inggris)

 

Semper Fi,
HH (SAID) Samosir